Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
The Golden Age of Islam
Bisnis
Juni 02, 2016
Ilmu Pengetahuan : Antara
Aspek kemajuan Peradaban Islam
dan Sumbangan Untuk Dunia[1]
Oleh : Bana Fatahillah
“
Pendahuluan
Sebelum islam
masuk, Jazirah Arab adalah sebuah bangsa dengan penduduk yang tidak mempunyai
landasan serta pijakan sebagai tujuan hidup mereka. semua tradisi yang mereka
lakukan sangatlah menunjukkan dengan ketidak adaannya ilmu pengetahuan pada
individu-individu mereka. maka pantas apabila mereka dahulu disebut dengan masa
Jahiliyyyah, yaitu masa kebodohan, dimana Islam belum masuk bagi mereka.
Diantara perbuatan mereka yang sangat membodohkan adalah hal kemusyrikan atau tidak percaya
kepada Allah SWT. Dalam buku “Kerugian Dunia Karena Kemunduran Umat Islam”,
Abul Hasan Ali an-Nadwy[2]
menjelaskan bahwa kemusyrikan jahiliyyah Arab pada masa itu merupakan hal yang
umum. Pada hakikatnya mereka percaya bahwa Allah itu Tuhan yang maha Agung,
pencipta dan penguasa Alam semesta. Jika mereka ditanya , “Siapakah yang
menjadikan langit dan Bumi ini?”, pasti mereka mengatakan, “Allah lah yang
menciptakannya”. Tetapi karena pola pikir jahiliyyah dan jauhnya dari masa
kenabian, menyebabkan mereka sukar untuk menerima ajaran Tauhid seperti yang
diajarkan oleh para nabi.[3]
Bangsa Arab
diselimuti oleh perbuatan-perbuatan biadab seperti minum-minuman keras,
berjudi, dan senang membunuh anak perempuan mereka yang dianggapnya akan
menyusahkan kehidupan ekonomi dalam suatu keluarga. Hal yang sudah menjadi
tradisi arab adalah cinta dan fanatismenya mereka terhadap suku atau
kabilahnya. Sehingga fanatisme ini sering kali menyebabkan terjadinya
peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada pada masa itu.
Menurut Abul Hasan, kerusakan masyarakat Arab pada saat itu
sangatlah parah dan tidak mungkin dapat dibasmi dengan sekedar memberi
penerangan dan sanksi keras saja. Hal ini haruslah dengan cara mengubah pola
pikir bangsa Arab, sudut pandang dan pemahaman masyarakat itu sendiri. Allah
pun berfirman “Ina Allaha laa yugoyyiruu maa bi qoumin hattaa yugoyyiru
bianfusihim” (Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum melainkan mereka
merubah keadaan mereka sendiri).
Maka Allah
mengutus Rasul ditengah-tengah orang yang tidak bisa baca tulis sebagai
petunjuk kepada seluruh Manusia. Nabi Muhammad sebagai cahaya ditengah kegelapan-kegelapan
yang ada telah membawa risalahnya untuk seluruh umat di Dunia. Wa maa
arsalnaaka illa rahmatan li al-‘alaamin. Kehadiran Islam ditangan Nabi
Muhammad inilah yang nantinya memutarbalikkan kehidupan Arab menjadi kehidupan
yang lebih maju. Yaitu kehidupan yang memiliki tujuan dan orientasi.
Ilmu Pengetahuan : antara Fardu a’in dan Fardlu Kifaayah
Sebelum masuk ke pembahasan kemajuan islam dengan peradaban ilmu
pengetahuan, saya kira hal terkait pembagian ilmu antara fardlu a’in dan kifayah
perlu dibahas. Ulama-ulama dahulu memang tidak pernah mendikotomikan ilmu-ilmu
pengetahuan yang ada, namun ada beberapa hal yang menjadikan suatu ilmu disebut
sebagai fardlu a’in atau kifayah. Sebagai contoh Imam Ghazali, ia menguasai
berbagai disiplin ilmu. Ia adalah ahli kalam dan filsafat.namun disamping itu,
ia juga memahami disiplin ilmu kedokteran, dan ilmu sains lainnya. Sama halnya
dengan Ibnu Sina yang menguasai ilmu kedokteran dan memahami aspek teologis
dalam ilmu filsafat.
Pembahasan ini muncul
karena banyak orang belum bisa menempatkan apa-apa yang lebih harus mereka
ketahui dari yang lainnya. Kita tidak usah meragukan kehebatan para ulama-ulama
pada zaman dahulu. Disamping menguasai
ilmu sains dan teknologi, mereka sudah sangat memahami ilmu aqidah atau
teologi. Bahkan hampir semuanya sudah menghafal al-Qur’an dan ribuan hadist
dimasa kecilnya. Dan mereka selalu menghubungkan semua ilmu pengetahuan yang
ada dengan keberadaan Allah SWT. Karena memang pada dasarnya tujuan daripada
ilmu pengetahuan adalah untuk lebih mengenal Allah (Ma’rifatullah). Maani
izdaada ‘ilman wa lam yazdad lahu hudan, lam yazdad mina Allahi illa bu’dan”.
Mohd Sani b Badron[4] dalam
tulisannya dengan judul “Konsep Dinamis Ilmu Fardu ‘Ain dan Ilmu Fardu Kifayah sebagai
Landasan Epistimologi Peradaban” yang dimuat di dalam buku “On Islamic
Civilization : menyaakan kembali Lentera Peradaban Islam yang sempat Padam”
menjelaskan beberapa hal terkait ilmu fardu ‘ain dan fardu kifayah.
Menurut Dosen IKIM
itu, Ilmu fardlu ‘ain mencakup tiga aspek. Pertama, Dimensi
mengenai I’tiqad atau lebih kita
kenal dengan ilmu Tauhid. Membenarkan segala apa yang shahih disampaikan oleh
Allah SWT kepada Rasul-Nya dengan Yaqin bukan dengan ragu (Shaak).
Kadar ilmu I’tiqad yang wajib dituntut adalah secukupnya untuk
menghilangkan kesangsian dan kekacauan aqidah yang boleh dialami.[5]
Kedua Dimensi ilmu sesuai keadaan yang ingin
dikuasainya. Sebagai contoh, apabila seseorang ingin mendalami ilmu tafsir
al-quran, maka ia wajib mendalami ilmu yang berkenaan dengan tafsir al-Qur’an.
Seperti bahasa Arab, Nahwu, Sorof, Balagoh, Hadist, Fiqih, Ushul fiqih dan
lainnya. Yang menjadikannya wajib untuk menyampaikan kepada ilmu tersebut.
Seseorang tidak boleh melaksanakan pernikahan, sebelum ia mempelajari hukum
hukum pertunangan pernikahan, melayani pasangan, beranak pinak dan lainnya[6].
Begitupun orang yang ingin melakukan perniagaan atau jual beli, harus
mengetahui hal-hal terkait dengan jual beli.
Ketiga, dimensi ilmu
yang berkenaan dengan masalah yang wajib ditinggalkan. Sebagai contoh, seorang
yang ingin melakukan perniagaan, ia haruslah tau apa apa saja yang mengantarkan
ia pada dosa dalam berniaga. Seperti dalam ibadah, seorang harus tau apa saja
yang mebuat suatu ibadah tidak diterima disisi Allah dan hal-hal yang merusak
ibadahnya, seperti riya, sombong, ujub, dan hasad. Ilmu untuk mengrtahui
hal-hal yang membuat suatu tidak boleh inilah yang wajib diketahui oleh seorang
muslim.
Sementara dalam ilmu yang dinilai fardu kifayah, menurut Imam
Ghazali, dinilai dari dua aspek. Pertama, pengkhususan dalam ilmu-ilmu
Shari’ah yang wajib dituntut karena ia menjadi perantara dalam menegakkan
urusan keagamaan masyarakat Dunia Islam. Seperti disiplin bahasa arab al-Quran,
ushul fiqih, fiqih jual beli,, perdagangan, ketatanegaraan, dan lainnya.[7] Dan
uuntuk ilmu perantara tersebut perlu dibedakan dengan wajib yang umum
atas setiap orang mukallaf, seperti rukun iman dan masalah-masalah asas pada
shari’ah islam.
Dalam al-Qur’an pun Allah berfirman : “Tidak sepatutnya bagi umat
mukminin itu pergi semuanya (ke medan juang). Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka
telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya”[8]
Yang kedua adalah Ilmu yang bukan shari’ah karena ia
tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan urusan duniawi masyarakat islam.
Dalam kewajiban ilmu fardu kifayah, kesatuan para mukallaf masyarakat
islam secara bersama memikul tanggung jawab kefarduan untuk menuntutnya. Yaitu,
jika sejumlah mukallafin ada yang menegakkan kewajiban itu maka
kefarduan itu telah terpenuhi dan gugurlah dosa bagi yang tidak mengerjakaanya.
Sebaliknya, jika tidak ada seorangpun yang menegakkan kewajiban ilmu fardu
kifayah tersebut, maka mukallaf masyarakat tersebut berdosa karena
meninggalkan kewajiban itu.[9]
Jika seandainya hanya ada seorang individu yang bisa menuntut ilmu
fardu kifayah tersebut karena ia memiliki kemampuan dan dana yang lebih, maka
ia wajib menuntut ilmu tersebut. Dan apabila ia meninggalkannya, maka dosalah
baginya karena meninggalkan kewajiban itu. Dan yang tidak berkewajiban,
haruslah mendukung dan membantu orang yang berkewajiban tersebut.
Ilmu Pengetahuan sebagai
asas kemajuan Peradaban Islam
Allah berfirman :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[10]
Begitu hebatnya
Allah SWT yang telah menurunkan wahyu pertamanya kepada Nabi Muhammad SAW
berupa ayat tentang menuntut ilmu. Kata “Iqro’” pada ayat pertama surat
al-‘Alaq bukan hanya berarti “bacalah”, melainkan Allah juga menyuruh Rasul dan
umatnya kelak agar melihat serta berfikir akan tanda-tanda yang ada, bukan
untuk menyembah kepada-Nya. Dalam surat Toha, Allah tidak menyuruh Nabi Musa
untuk beribadah terlebih dahulu. Naun Allah menyuruh untuk mengakui-Nya sebagai
Tuhan (Qul innanii ana Allahu). Baru setelah itu setelah mengetahui dan
mengakui Allah sebagai Tuhannya, Ia menyuruh untuk menyembah dengan mendirikan
sholat (wa aqim al-sholaata lidzikrii).
Kejadian turunnya
wahyu pertama adalah sebuah sejarah yang mana dapat dikatakan bahwa Islam tidak
pernah lepas dari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an pun sudah membuktikan dengan
mukjizatnya yang sangat besar dengan berbagai penemuan-penemuan yang belum
pernah ditemukan dan terungkap oleh manusia setelah beribu-ribu tahun. Seperti
terkait penciptaan Bumi dan Langit, Penciptaan Manusia dari setetes air mani,
dan lain sebagainya. Al-Qur’an telah berbicara hal ini jauh sebelum manusia
menemukan ini semua.
Prof.Dr.Raghib
As-Sirjani, penulis buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, mengatakan
bahwa bukan hanya pada permulaan mukjizat Kitab ini (Al-Qur’an) yang membahas
tentang ilmu. Bahkan, ini menjadi manhaj yang ditetapkan secara kekal, hingga
dalam satu surat pun tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan tentang ilmu,
baik secara langsung maupun tidak. Menurut beliau ada kurang lebih 779 kata
ilmu dalam al-Qur’an. Bukan hanya kata “ilmu” saja, namun kata-kata yang
berkaitan pun juga banyak, seperti akal, nazhar, hikmah, fiqih, dalil,
hujjah, ayat, bayyinah, dan sebagainya dari makna-makna yang berada dibawah
ruang lingkup makna ilmu dan mempelajari ilmu.[11]
Rasulullah pun
telah mendidika para sahabatnya untuk lebih mencintai akan ilmu. Kita pun
sangat tau dengan hadist Rasul yang berbunyi, “tolabu al-ilmi fariidhotun
‘alaa kulli muslimin” yang artinya menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi
seorang muslim. para sahabat Rasul dahulu, selain menaklukkan kota-kota besar
di dataran Asia, seperti ke Syam, Persia, Romawi, dan Baghdad, mereka juga disuruh untuk menimba ilmu-ilmu yang ada di
daerah tersebut.
Berbeda dengan
sejarah ilmu pengetahuan dalam islam, kristen memiliki sejarah yang sangat
tragis dalam menerima ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa gereja di abad
pertengahan sangatlah menentang dengan penemuan-penemuan ilmiah yang ditemukan
oleh ilmuwan barat pada saat itu. Copernicus, misalnya, pada tahun 1543 M
menyampaikan suatu penemuan ilmiah tentang Bumi yang berputar, bahwa Matahari adalah
pusat orbit alam semesta dan bukan bumi sebagaimana diyakini orang-orang pada
saat itu. Pihak Gereja secara tegas menolak penemuan ilmiah tersebut atas nama
pertimbangan (kebenaran) Inggris.[12]
Islam sangatlah
berbeda dengan kristen. Islam sangatlah menghormati peran akal pada manusia.
Allahpun menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal dengan tujuan agar
mereka semua berfikir (la’allahum yatafakkaruun). Walaupun dalam
menggunakan akal (rasio) kelak ada suatu pembatas yang membatasinya pada wilayah
keimanan. Ini tentu saja sangat bisa diterima oleh semua manusia yang mau
menerima kebenaran.
Sumbangan Peradaban Islam terhadap Dunia
Setelah majunya
perkembangan ilmu pengetahuan di masa Rasul dan para sahabat. Maka
generasi-generasi setelah sahabat (tabi’in) memulai merumuskan beberapa
disiplin ilmu pengetahuan dalam islam yang dikarenakan banyaknya orang yang
tidak tahu dan tidak dapat merujuk kembali lagi kepada Rasul. Berkembangnya
ilmu Nahwu, ushul fiqih, tafsir, ulumu al-qur’an, dan sebagainya menunjukkan
betapa pesatnya berkembangnya ilmu pengetahuan dalam tradisi keilmuan islam.
Selanjutnya,
dimasa tabi’u at’taabi’in munculah penemuan penemuan baru dalam bidang
sains dan teknologi. Setelah wafatnya keempat khulafaurrasyidin dan mulai
memasuki dinasti umayyah dan dinasti
Abasiyyah, umat muslim sudah mengeembangkan imu pengetahuan secara pesat, teruttama dalam bidang keilmuan sains dan teknologi.
Dan ketika itu Barat belum mempunyai hal apapun. Mereka masih dilanda oleh the
dark ages atau masa kegelapan.
Sebagai contoh,
dalam ilmu kedokteran, terdapat beberapa nama ilmuwan muslim yang sangat
terkenal yang telah menyumbangkan ilmunya untuk Dunia. Seperti Ibnu Sina dengan
buku nya “kitaabu al-Syifaa” yang sampai sekarang masih dikaji di Universitas
Oxford di Inggris. Diumurnya yang masih belasan taun, Ibnu Sina atau Avicena
sudah dipercaya dalam bidang kedokteran. Selanjutnya ada Az-Zahrawi. Orang yang
pertama menemukan teori pembedahan dengan menciptakan dan menggunakan suntik
dan alat bedah. Ia mendirikan tempat praktik dengan pemeriksaan statistik
tempat melipat (memberikan tanda) yang menyerupai tempat cermin muka teleskop
pada masa mendatang. Dia juga orang pertama yang menggunakan cermin muka
(teleskop ringan).[13]
Selanjutnya dalam
ilmu fisika ada al-Biruni, yang menetapkan berbagai macam berat dalam delapan
belas bentuk macam batu mulia, lalu membuat rumus atau kaidah yang menetapkan
bahwa berat bentuk tubuh sesuai dengan berat magnitude air yang hilang lenyap.
Lalu ada al-Khazani, yang telah menciptakan suatu inovasi, khususnya dalam ilmu
materi gerakan dan ilmu hedrostetika.[14]
Dalam iilu
matematika ada Al-Khawarizmi yang pertama kali menemukan ilmu al-jabar, yang
hingga kini kita pelajari di Sekolah-sekolah. Kitabnya yang terkenal adalah Al-Jabar
wa al-Muuqoobalah” sebuah buku induk yang berpengaruh sangat besar untuk
mempelajari perpindahan persamaan dan uraiannya. Kemudian ilmuwan muslim
pulalah yang menemukan angka nol yang mempunyai pengaruh dibidang al-jabbar.[15]
Tentu saja masih banyak
penemuan-penemuan ilmuwan muslim lainnya yang tidak bisa disebutkan satu
persatu disini. Seperti dalam bidang Astronomi, Geografi, Filsafat, Mesin,
Kapal terbang, dan teknologi lainnya, yang mana menunjukkan banyaknya sumbangan
yang telah diberikan oleh kaum muslimin terhadap Dunia ini, khususnya dalam
bidang keilmuan. Lebih lengkapnya mungkin bisa dibaca karya Prof.Dr.Raghib
As-Sirjani “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”.
Penutup
Bersyukurlah dan berbanggalah sebagai orang muslim dengan masa keemasan
sejarah yang dimiliki. Islam mengajak seluruh umatnya untuk terus menuntut ilmu
dan mengamalkannya. Tidak ada kata berhenti dalam menuntut ilmu. Karena rasul
pun mengatakan “utlubu al-ilma mina al-mahdi ila al-lahdi”. Islam
mempunyai zaman keemasan yang sangat cemerlang. Ini adalah tugas yang berat
bagi kita sekarang, yaitu melanjutkan masa keemasan itu hingga hadir pada saat
ini. Wallahu a’lam bi al-showab.
Depok, 31 Mei 2016
[1] Tulisan
ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis
Ilmiah ke-14 di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Jakarta.
(Depok, 30 Mei 20016)
[2] Sayyid
Abul Hasan Ali an-Nadwy adalah seorang alim yang mukmin dan seorang da’i yang
ikhlas. Beliau dilahirkan di India, di daerah bernama Rai Brailly yang terletak
70 Km dari kota Lucknow, sebuah Desa bernama takyah pada bulan Muharram 1332 H.
Seorang ulama yang banyak menguasai bidang ilmu. Diantaranya adalah Ilmu
bahasa, Nahju al-Balaaghoh, I’jaz, al-Hamaasah, Hadist, Tafsir dan
lainnya.
[3] Abul
Hasan Ali An-Nadwy, Maadza Khasira al-Aalamu bi al-Inhithaathi al-Muslimin, Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam,
(Surabaya :
[4] Anggota
Senior/Direktur Pusat Ekonomi dan Kajian Sosial, Institut Kefahaman Islam
Malaysia (IKIM).
[5] Laode M
Kamaluddin, et al., On Islamic Civilization : Menyalakan kembali Lentera
Peradaban Islam yang sempat Padam, (Semarang : 2010), hal.174
[6] Ibid,
hal.177
[7] Ibid,
hal.179
[8] QS
At-Taubah : 122
[9] Laode,
hal.180
[10] QS
al-Mujadalah : 11
[11] Raghib
As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, (Jakarta : 2012), hal.177
[12] Ibid,
hal.181
[13] Ibid,
hal.273
[14] Ibid,
hal.278
[15] Ibid,
hal. 346

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...