Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

The Golden Age of Islam


Ilmu Pengetahuan : Antara  Aspek kemajuan Peradaban Islam
dan Sumbangan Untuk Dunia[1]
Oleh : Bana Fatahillah
Pendahuluan
            Sebelum islam masuk, Jazirah Arab adalah sebuah bangsa dengan penduduk yang tidak mempunyai landasan serta pijakan sebagai tujuan hidup mereka. semua tradisi yang mereka lakukan sangatlah menunjukkan dengan ketidak adaannya ilmu pengetahuan pada individu-individu mereka. maka pantas apabila mereka dahulu disebut dengan masa Jahiliyyyah, yaitu masa kebodohan, dimana Islam belum masuk bagi mereka.  

            Diantara perbuatan mereka yang sangat membodohkan  adalah hal kemusyrikan atau tidak percaya kepada Allah SWT. Dalam buku “Kerugian Dunia Karena Kemunduran Umat Islam”, Abul Hasan Ali an-Nadwy[2] menjelaskan bahwa kemusyrikan jahiliyyah Arab pada masa itu merupakan hal yang umum. Pada hakikatnya mereka percaya bahwa Allah itu Tuhan yang maha Agung, pencipta dan penguasa Alam semesta. Jika mereka ditanya , “Siapakah yang menjadikan langit dan Bumi ini?”, pasti mereka mengatakan, “Allah lah yang menciptakannya”. Tetapi karena pola pikir jahiliyyah dan jauhnya dari masa kenabian, menyebabkan mereka sukar untuk menerima ajaran Tauhid seperti yang diajarkan oleh para nabi.[3]

            Bangsa Arab diselimuti oleh perbuatan-perbuatan biadab seperti minum-minuman keras, berjudi, dan senang membunuh anak perempuan mereka yang dianggapnya akan menyusahkan kehidupan ekonomi dalam suatu keluarga. Hal yang sudah menjadi tradisi arab adalah cinta dan fanatismenya mereka terhadap suku atau kabilahnya. Sehingga fanatisme ini sering kali menyebabkan terjadinya peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada pada masa itu.

Menurut Abul Hasan, kerusakan masyarakat Arab pada saat itu sangatlah parah dan tidak mungkin dapat dibasmi dengan sekedar memberi penerangan dan sanksi keras saja. Hal ini haruslah dengan cara mengubah pola pikir bangsa Arab, sudut pandang dan pemahaman masyarakat itu sendiri. Allah pun berfirman “Ina Allaha laa yugoyyiruu maa bi qoumin hattaa yugoyyiru bianfusihim” (Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum melainkan mereka merubah keadaan mereka sendiri).

            Maka Allah mengutus Rasul ditengah-tengah orang yang tidak bisa baca tulis sebagai petunjuk kepada seluruh Manusia. Nabi Muhammad sebagai cahaya ditengah kegelapan-kegelapan yang ada telah membawa risalahnya untuk seluruh umat di Dunia. Wa maa arsalnaaka illa rahmatan li al-‘alaamin. Kehadiran Islam ditangan Nabi Muhammad inilah yang nantinya memutarbalikkan kehidupan Arab menjadi kehidupan yang lebih maju. Yaitu kehidupan yang memiliki tujuan dan orientasi.

Ilmu Pengetahuan : antara Fardu a’in dan Fardlu Kifaayah
                        Sebelum masuk ke pembahasan kemajuan islam dengan peradaban ilmu pengetahuan, saya kira hal terkait pembagian ilmu antara fardlu a’in dan kifayah perlu dibahas. Ulama-ulama dahulu memang tidak pernah mendikotomikan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada, namun ada beberapa hal yang menjadikan suatu ilmu disebut sebagai fardlu a’in atau kifayah. Sebagai contoh Imam Ghazali, ia menguasai berbagai disiplin ilmu. Ia adalah ahli kalam dan filsafat.namun disamping itu, ia juga memahami disiplin ilmu kedokteran, dan ilmu sains lainnya. Sama halnya dengan Ibnu Sina yang menguasai ilmu kedokteran dan memahami aspek teologis dalam ilmu filsafat.

            Pembahasan ini muncul karena banyak orang belum bisa menempatkan apa-apa yang lebih harus mereka ketahui dari yang lainnya. Kita tidak usah meragukan kehebatan para ulama-ulama pada zaman dahulu. Disamping  menguasai ilmu sains dan teknologi, mereka sudah sangat memahami ilmu aqidah atau teologi. Bahkan hampir semuanya sudah menghafal al-Qur’an dan ribuan hadist dimasa kecilnya. Dan mereka selalu menghubungkan semua ilmu pengetahuan yang ada dengan keberadaan Allah SWT. Karena memang pada dasarnya tujuan daripada ilmu pengetahuan adalah untuk lebih mengenal Allah (Ma’rifatullah). Maani izdaada ‘ilman wa lam yazdad lahu hudan, lam yazdad mina Allahi illa bu’dan”

             Mohd Sani b Badron[4] dalam tulisannya dengan judul “Konsep Dinamis Ilmu Fardu ‘Ain dan Ilmu Fardu Kifayah sebagai Landasan Epistimologi Peradaban” yang dimuat di dalam buku “On Islamic Civilization : menyaakan kembali Lentera Peradaban Islam yang sempat Padam” menjelaskan beberapa hal terkait ilmu fardu ‘ain dan fardu kifayah.

            Menurut Dosen IKIM itu, Ilmu fardlu ‘ain mencakup tiga aspek. Pertama, Dimensi mengenai  I’tiqad atau lebih kita kenal dengan ilmu Tauhid. Membenarkan segala apa yang shahih disampaikan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya dengan Yaqin bukan dengan ragu (Shaak). Kadar ilmu I’tiqad yang wajib dituntut adalah secukupnya untuk menghilangkan kesangsian dan kekacauan aqidah yang boleh dialami.[5]

Kedua  Dimensi ilmu sesuai keadaan yang ingin dikuasainya. Sebagai contoh, apabila seseorang ingin mendalami ilmu tafsir al-quran, maka ia wajib mendalami ilmu yang berkenaan dengan tafsir al-Qur’an. Seperti bahasa Arab, Nahwu, Sorof, Balagoh, Hadist, Fiqih, Ushul fiqih dan lainnya. Yang menjadikannya wajib untuk menyampaikan kepada ilmu tersebut. Seseorang tidak boleh melaksanakan pernikahan, sebelum ia mempelajari hukum hukum pertunangan pernikahan, melayani pasangan, beranak pinak dan lainnya[6]. Begitupun orang yang ingin melakukan perniagaan atau jual beli, harus mengetahui hal-hal terkait dengan jual beli.

Ketiga, dimensi ilmu yang berkenaan dengan masalah yang wajib ditinggalkan. Sebagai contoh, seorang yang ingin melakukan perniagaan, ia haruslah tau apa apa saja yang mengantarkan ia pada dosa dalam berniaga. Seperti dalam ibadah, seorang harus tau apa saja yang mebuat suatu ibadah tidak diterima disisi Allah dan hal-hal yang merusak ibadahnya, seperti riya, sombong, ujub, dan hasad. Ilmu untuk mengrtahui hal-hal yang membuat suatu tidak boleh inilah yang wajib diketahui oleh seorang muslim.

Sementara dalam ilmu yang dinilai fardu kifayah, menurut Imam Ghazali, dinilai dari dua aspek. Pertama, pengkhususan dalam ilmu-ilmu Shari’ah yang wajib dituntut karena ia menjadi perantara dalam menegakkan urusan keagamaan masyarakat Dunia Islam. Seperti disiplin bahasa arab al-Quran, ushul fiqih, fiqih jual beli,, perdagangan, ketatanegaraan, dan lainnya.[7] Dan uuntuk ilmu perantara tersebut perlu dibedakan dengan wajib yang umum atas setiap orang mukallaf, seperti rukun iman dan masalah-masalah asas pada shari’ah islam.

Dalam al-Qur’an pun Allah berfirman : “Tidak sepatutnya bagi umat mukminin itu pergi semuanya (ke medan juang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya”[8]

Yang kedua adalah Ilmu yang bukan shari’ah karena ia tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan urusan duniawi masyarakat islam. Dalam kewajiban ilmu fardu kifayah, kesatuan para mukallaf masyarakat islam secara bersama memikul tanggung jawab kefarduan untuk menuntutnya. Yaitu, jika sejumlah mukallafin ada yang menegakkan kewajiban itu maka kefarduan itu telah terpenuhi dan gugurlah dosa bagi yang tidak mengerjakaanya. Sebaliknya, jika tidak ada seorangpun yang menegakkan kewajiban ilmu fardu kifayah tersebut, maka mukallaf masyarakat tersebut berdosa karena meninggalkan kewajiban itu.[9]

Jika seandainya hanya ada seorang individu yang bisa menuntut ilmu fardu kifayah tersebut karena ia memiliki kemampuan dan dana yang lebih, maka ia wajib menuntut ilmu tersebut. Dan apabila ia meninggalkannya, maka dosalah baginya karena meninggalkan kewajiban itu. Dan yang tidak berkewajiban, haruslah mendukung dan membantu orang yang berkewajiban tersebut.

 Ilmu Pengetahuan sebagai asas kemajuan Peradaban Islam
            Allah berfirman : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[10]

            Begitu hebatnya Allah SWT yang telah menurunkan wahyu pertamanya kepada Nabi Muhammad SAW berupa ayat tentang menuntut ilmu. Kata “Iqro’” pada ayat pertama surat al-‘Alaq bukan hanya berarti “bacalah”, melainkan Allah juga menyuruh Rasul dan umatnya kelak agar melihat serta berfikir akan tanda-tanda yang ada, bukan untuk menyembah kepada-Nya. Dalam surat Toha, Allah tidak menyuruh Nabi Musa untuk beribadah terlebih dahulu. Naun Allah menyuruh untuk mengakui-Nya sebagai Tuhan (Qul innanii ana Allahu). Baru setelah itu setelah mengetahui dan mengakui Allah sebagai Tuhannya, Ia menyuruh untuk menyembah dengan mendirikan sholat (wa aqim al-sholaata lidzikrii).

            Kejadian turunnya wahyu pertama adalah sebuah sejarah yang mana dapat dikatakan bahwa Islam tidak pernah lepas dari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an pun sudah membuktikan dengan mukjizatnya yang sangat besar dengan berbagai penemuan-penemuan yang belum pernah ditemukan dan terungkap oleh manusia setelah beribu-ribu tahun. Seperti terkait penciptaan Bumi dan Langit, Penciptaan Manusia dari setetes air mani, dan lain sebagainya. Al-Qur’an telah berbicara hal ini jauh sebelum manusia menemukan ini semua.

            Prof.Dr.Raghib As-Sirjani, penulis buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, mengatakan bahwa bukan hanya pada permulaan mukjizat Kitab ini (Al-Qur’an) yang membahas tentang ilmu. Bahkan, ini menjadi manhaj yang ditetapkan secara kekal, hingga dalam satu surat pun tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan tentang ilmu, baik secara langsung maupun tidak. Menurut beliau ada kurang lebih 779 kata ilmu dalam al-Qur’an. Bukan hanya kata “ilmu” saja, namun kata-kata yang berkaitan pun juga banyak, seperti akal, nazhar, hikmah, fiqih, dalil, hujjah, ayat, bayyinah, dan sebagainya dari makna-makna yang berada dibawah ruang lingkup makna ilmu dan mempelajari ilmu.[11]  

            Rasulullah pun telah mendidika para sahabatnya untuk lebih mencintai akan ilmu. Kita pun sangat tau dengan hadist Rasul yang berbunyi, “tolabu al-ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimin” yang artinya menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi seorang muslim. para sahabat Rasul dahulu, selain menaklukkan kota-kota besar di dataran Asia, seperti ke Syam, Persia, Romawi, dan Baghdad, mereka juga  disuruh untuk menimba ilmu-ilmu yang ada di daerah tersebut.

            Berbeda dengan sejarah ilmu pengetahuan dalam islam, kristen memiliki sejarah yang sangat tragis dalam menerima ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa gereja di abad pertengahan sangatlah menentang dengan penemuan-penemuan ilmiah yang ditemukan oleh ilmuwan barat pada saat itu. Copernicus, misalnya, pada tahun 1543 M menyampaikan suatu penemuan ilmiah tentang Bumi yang berputar, bahwa Matahari adalah pusat orbit alam semesta dan bukan bumi sebagaimana diyakini orang-orang pada saat itu. Pihak Gereja secara tegas menolak penemuan ilmiah tersebut atas nama pertimbangan (kebenaran) Inggris.[12]

            Islam sangatlah berbeda dengan kristen. Islam sangatlah menghormati peran akal pada manusia. Allahpun menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal dengan tujuan agar mereka semua berfikir (la’allahum yatafakkaruun). Walaupun dalam menggunakan akal (rasio) kelak ada suatu pembatas yang membatasinya pada wilayah keimanan. Ini tentu saja sangat bisa diterima oleh semua manusia yang mau menerima kebenaran.

Sumbangan Peradaban Islam terhadap Dunia
            Setelah majunya perkembangan ilmu pengetahuan di masa Rasul dan para sahabat. Maka generasi-generasi setelah sahabat (tabi’in) memulai merumuskan beberapa disiplin ilmu pengetahuan dalam islam yang dikarenakan banyaknya orang yang tidak tahu dan tidak dapat merujuk kembali lagi kepada Rasul. Berkembangnya ilmu Nahwu, ushul fiqih, tafsir, ulumu al-qur’an, dan sebagainya menunjukkan betapa pesatnya berkembangnya ilmu pengetahuan dalam tradisi keilmuan islam.

            Selanjutnya, dimasa tabi’u at’taabi’in munculah penemuan penemuan baru dalam bidang sains dan teknologi. Setelah wafatnya keempat khulafaurrasyidin dan mulai memasuki dinasti umayyah dan  dinasti Abasiyyah, umat muslim sudah mengeembangkan imu pengetahuan secara  pesat, teruttama  dalam bidang keilmuan sains dan teknologi. Dan ketika itu Barat belum mempunyai hal apapun. Mereka masih dilanda oleh the dark ages atau masa kegelapan.

            Sebagai contoh, dalam ilmu kedokteran, terdapat beberapa nama ilmuwan muslim yang sangat terkenal yang telah menyumbangkan ilmunya untuk Dunia. Seperti Ibnu Sina dengan buku nya “kitaabu al-Syifaa” yang sampai sekarang masih dikaji di Universitas Oxford di Inggris. Diumurnya yang masih belasan taun, Ibnu Sina atau Avicena sudah dipercaya dalam bidang kedokteran. Selanjutnya ada Az-Zahrawi. Orang yang pertama menemukan teori pembedahan dengan menciptakan dan menggunakan suntik dan alat bedah. Ia mendirikan tempat praktik dengan pemeriksaan statistik tempat melipat (memberikan tanda) yang menyerupai tempat cermin muka teleskop pada masa mendatang. Dia juga orang pertama yang menggunakan cermin muka (teleskop ringan).[13]

            Selanjutnya dalam ilmu fisika ada al-Biruni, yang menetapkan berbagai macam berat dalam delapan belas bentuk macam batu mulia, lalu membuat rumus atau kaidah yang menetapkan bahwa berat bentuk tubuh sesuai dengan berat magnitude air yang hilang lenyap. Lalu ada al-Khazani, yang telah menciptakan suatu inovasi, khususnya dalam ilmu materi gerakan dan ilmu hedrostetika.[14]

            Dalam iilu matematika ada Al-Khawarizmi yang pertama kali menemukan ilmu al-jabar, yang hingga kini kita pelajari di Sekolah-sekolah. Kitabnya yang terkenal adalah Al-Jabar wa al-Muuqoobalah” sebuah buku induk yang berpengaruh sangat besar untuk mempelajari perpindahan persamaan dan uraiannya. Kemudian ilmuwan muslim pulalah yang menemukan angka nol yang mempunyai pengaruh dibidang al-jabbar.[15]

            Tentu saja masih banyak penemuan-penemuan ilmuwan muslim lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini. Seperti dalam bidang Astronomi, Geografi, Filsafat, Mesin, Kapal terbang, dan teknologi lainnya, yang mana menunjukkan banyaknya sumbangan yang telah diberikan oleh kaum muslimin terhadap Dunia ini, khususnya dalam bidang keilmuan. Lebih lengkapnya mungkin bisa dibaca karya Prof.Dr.Raghib As-Sirjani “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”.

Penutup
            Bersyukurlah dan berbanggalah sebagai orang muslim dengan masa keemasan sejarah yang dimiliki. Islam mengajak seluruh umatnya untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Tidak ada kata berhenti dalam menuntut ilmu. Karena rasul pun mengatakan “utlubu al-ilma mina al-mahdi ila al-lahdi”. Islam mempunyai zaman keemasan yang sangat cemerlang. Ini adalah tugas yang berat bagi kita sekarang, yaitu melanjutkan masa keemasan itu hingga hadir pada saat ini. Wallahu a’lam bi al-showab.
                                                                                                            Depok, 31 Mei 2016



[1] Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis  Ilmiah ke-14 di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Jakarta. (Depok, 30 Mei 20016)
[2] Sayyid Abul Hasan Ali an-Nadwy adalah seorang alim yang mukmin dan seorang da’i yang ikhlas. Beliau dilahirkan di India, di daerah bernama Rai Brailly yang terletak 70 Km dari kota Lucknow, sebuah Desa bernama takyah pada bulan Muharram 1332 H. Seorang ulama yang banyak menguasai bidang ilmu. Diantaranya adalah Ilmu bahasa, Nahju al-Balaaghoh, I’jaz, al-Hamaasah, Hadist, Tafsir dan lainnya.
[3] Abul Hasan Ali An-Nadwy, Maadza Khasira al-Aalamu bi al-Inhithaathi al-Muslimin,  Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam, (Surabaya :
[4] Anggota Senior/Direktur Pusat Ekonomi dan Kajian Sosial, Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).
[5] Laode M Kamaluddin, et al., On Islamic Civilization : Menyalakan kembali Lentera Peradaban Islam yang sempat Padam, (Semarang : 2010), hal.174
[6] Ibid, hal.177
[7] Ibid, hal.179
[8] QS At-Taubah : 122
[9] Laode, hal.180
[10] QS al-Mujadalah : 11
[11] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, (Jakarta : 2012), hal.177
[12] Ibid, hal.181
[13] Ibid, hal.273
[14] Ibid, hal.278
[15] Ibid, hal. 346

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia