Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Abrahamic Faiths, Gerbang Menuju Kekufuran

Abrahamic Faiths, Gerbang Menuju Kekufuran



Oleh: Bana Fatahillah

Istilah the Abrahamic Faiths (agama-agama Ibrahim a.s) populer di tahun 1979. Tepatnya pasca diadakannya The Muslim-Jewwish-Christian Cconference (MJCC) atau Konferensi Muslim-Yahudi-Kristen yang diselenggarakan oleh American Academy of Religion (ARR) di kota New York. Konferensi ini hendak megupayakan satu komunikasi antara ilmuan-ilmuan Yahudi, Kristen dan Islam mengenai persoalan Agama.

Dalam diskursus Studi Agama, ideologi ini sejatinya hendak membangun paradigma kesatuan antar 3 agama. Mark Silk dalam tulisannya “Agama-Agama Abrahamik sebagai Konsep Modern” mengatakan bahwa konsep Abrahamic religions berakar pada teologi Kristen. Pada abad ke-19, para Teolog Protestan membangun gagasan 'Perjanjian Ibrahim' (Abrahamic Covenant) dalam mengembangkan ide tentang hubungan antara Yudaisme, Kristen, dan Islam.

Menurutnya, konsep agama-agama Ibrahim tidak menghalangi keistimewaan suatu agama atas agama lainnya. Ini justru memberikan cara yang efektif bagi para cendekiawan dan orang awam untuk mengeksplorasi landasan bersama dari ketiga agama tersebut.

Dengan alasan memiliki kesamaan, baik secara historis maupun ideologiS, maka Istilah Abrahamic Faiths pun oleh kalangan pluralis diklaim sejalan dengan istilah al-Qur’an yaitu Millah Ibrahim. Syamsuddin Arif dalam INSISTS Saturday Forum (INSAF) pada (27/7/2024) mengutip tulisan Azyumardi Azra dalam harian Republika:

“Saya melihat Abrahamic Faiths’ yang dalam al-Qur’an disebut sebagai millah Ibrahim memiliki banyak kesamaan dan afinitas; lebih dari itu ketiganya juga berbagi sejarah yang sama. Tetapi, tentu saja, masing-masing agama Nabi Ibrahim tersebut unik dalam dirinya sendiri. Lagi pula, para penganut ketiga agama itu ibarat kakak-adik, juga terlibat dalam persaingan, kecemburuan, konflik bahkan perang”

Bantahan dan Jawaban

Ideologi ini terkesan memukau saat hendak mendamaikan tiga agama. Namun jika diteliti dalam diskursus para pengusung Abrahamic Faiths, maka akan terlihat kekeliruan dan bahanya.

Dalam bukunya Al-Ibrāhimiyyah Baina Khidā’ Al-Musthalahāt wa Khuturat Al-Tawajjuhāt dijelaskan bahwa ideologi Abrahamic Faiths mengantarkan pada paham pluralisme, bahkan lebih dari itu akan mengantarkan pada kekufuran.

Pada awalnya ia mencoba menjatuhkan perbedaan fundamental (al-Fawāriq Al-Jauhariyyah) dalam setiap kepercayaan baik Yahudi, Kristen dan Islam. Kemudian mempertemukan poin-poin kesamaan yang ada antar ketiganya. Hingga pada akhirnya pengakuan atas kebenaran itu semua. Inilah paham pluralisme. (Lihat Al-Ibrahimiyyah, hal. 13-14)

Jika demikian adanya, maka agama tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Semua terkesan sama dan tidak ada lagi kebenaran mutlak bagi satu agama. Agama seperti pakaian yang seseorang bisa menggantinya kapanpun sesuai seleranya. Padahal Islam menyatakan bahwa mengakui ada tuhan selain Allah atau syirik adalah dosa terbesar, dan agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam (Qs. Ali Imran: 19)

Ideologi Abrahamic Faiths juga dapat mencabut keyakinan muslim bahwa Islamlah satu-satunya yang benar, dan al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang terselamatkan dari penyelewengan. Sebab secara tidak langsung Abrahamic Faiths menuntut pengakuan kebenaran dalam keyakinan lain. Lantas apa nilai dari kebenaran Islam? (Lihat Al-Ibrahimiyyah, hal. 57-59)

Statement yang menyatakan Abrahamic Faiths sebagai millah Ibrahim pun jelas keliru. Ibnu Katsir mengartikan Millah Ibrahim dalam surat An-Nisa 125 dengan “apa yang diyakini oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya hingga hari akhir”. Inilah ajaran tauhid.

Al-Qur’an pun menegaskan bahwa orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi Muhammad, dan orang-orang yang beriman. (Qs. Ali Imran: 68). Nabi Muhammad membawa ajaran Islam. Maka Islamlahs satu-satunya jalan untuk mengikuti Nabi Ibrahim.

Millah Ibrahim yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah ajaran tauhid, yang intinya adalah Islam. Ini bisa dilihat saat al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Ibrahim sebagai seorang Muslim, bukan Musyrik, Yahudi ataupun Nasrani. (Lihat Qs. Ali Imran: 67, Qs. Al-An’am: 161, Al-Nahl: 123). Ini tentu telah membatalkan klaim mereka bahwa agama-agama Ibrahim atau Abrahim Faith’s merupakan agama yang dibawa oleh Ibrahim.

Abrahamic Faith’s ini agaknya sudah tercium oleh Imam Qurthubi sejak 8 abad lalu. Ini bisa dilihat saat menafsirkan Firman Allah pada An-Nisa 150 “…Serta bermaksud mengambil jalan tengah antara itu (keimanan atau kekufuran)” ia mengatakan “yakni menjadikan antara iman dan kekufuran jalan, yang mana itu adalah agama baru antara Islam dan Yahudi”  

Pemuka agama dan sejumlah cendekiawan telah mengkritik ide ini. Salah satunya Grand Syekh Al-Azhar (GSA), Syekh Ahmad Muhammad At-Thayyib yang tegas menolak istilah Abrahim Faith’s pasca diresmikannya Rumah Keluarga Abraham (Abrahamic Family House) di Abu Dhabi.

Pada akhirnya, istilah Abrahamic Faiths (dalam bentuk jamak) yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai millah Ibrahim jelas keliru dan menyesatkan. Ia memberikan kesan seolah-olah ada banyak agama Ibrahim, padahal sejak awal Islam menyatakan bahwa yang dibawa Ibrahim adalah agama tauhid yaitu Islam. Wallahu a’lam bi al-Shawāb.

 


   Takbiran Tragis, Tradisi yang Kehilangan Esensi

Takbiran Tragis, Tradisi yang Kehilangan Esensi



Oleh: Bana Fatahillah

               Sebagus dan semeriah apapun hiasan rumah, pondasi adalah hal terpenting yang tidak boleh diabaikan. Ironinya hari ini tak sedikit yang “rumahnya” diterangi bermacam lampu, diperindah taman dan kolam, namun atap dan pondasinya bobrok.          

Dalam agama pun demikian. Rukun Islam dan Iman adalah pondasinya. Jangan sibuk memilih motif kerudung dan gamis, namun ragu dengan kenabian Muhammad Saw, bahkan keberadaan Allah Swt.

Itu kira-kira gambaran kecil dari pentingnya sebuah “esensi” atau “prinsip”, dan inilah yang hilang dari masyarakat kita hari ini.

Pawai Takbir

Tahun ini saya berlebaran di kampung istri, Kudus. Dari 3 hari menjelang lebaran hingga seminggu setelahnya. Saat malam Idulfitri saya menyaksikan sebuah parade takbiran. Satu tradisi unik yang baru saya saksikan selama hidup.

Setiap desa menyiapkan truk atau semacamnya untuk pawai takbiran bersama. Tiap rombongan akan mengelilingi desanya hingga larut malam. Uniknya, mobil itu tidak “kosongan” alias diberikan semacam “maskot” untuk menghiasi.

Setiap desa memiliki keunikan masing-masing. Desa Medini –rumah istri—menetapkan untuk tidak membuat replika makhluk hidup. Namun kreatifitas mereka tidak terhenti. Dibuatlah replika seperti pesawat, piala liga champions, monas dan lain sebagainya. Desa lainnya beragam, dari hewan seperti macan kaki dua, naga hingga gatotkaca raksasa.

Selain maskot, yang tak kalah penting adalah sound. Mereka menyiapkan sound yang harga sewanya jutaan rupiah. Menurut kabar yang saya dapat, desa Khutuk –salah satu Desa di kecamatan Undaan Kudus—adalah yang memprakarsai ide ini.

Dalam 3 tahun terakhir, Kutuk menjadi desa yang disorot karena meriahkan malam takbiran dengan adu sound. Biaya sewanya 15-50 juta yang ditanggung oelh para pemuda secara swadaya.

Ini bukan sound kaleng-kaleng. Mereka memesan sound horeg, sound system dengan getaran suara keras yang biasa dipakai untuk acara-acara besar. Siapapun akan bergetar dadanya, dan kebisingan jika mendengar, bahkan dari jarak 3-5 meter. Warga pun samapai pasang lakban di jendela rumah agar tak pecah.

Esensi yang Hilang

               Awalnya saya sangat meng-apresiasi acara tersebut. Selain karena hal baru, kreatifitas warga –khususnya anak muda—dalam membuat maskot harus diacungkan jempol. Namun setelah berjalan beberapa lama, saya –dalam bahasa anak jaman sekarang—harus julid.

               Pasalnya, esensi malam Idulfitri itu hilang. Lantunan takbir tidak menggema. Baik yang duduk di mobil bak, atau segerombolan yang ikut jalan di belakangnya, mereka “meneng-meneng wae”. Apa mereka serasa artis yang sedang ditonton?

Kalaupun ada –dan ini yang parah—itu merupakan takbiran yang di-remix dengan musik dj atau “jedag-jedug”. Bahkan tak sekali musik-musik dj keluar dari sound. Walhasil, muda-mudi dan anak-anak bukan bertakbir malah berjoget.

Ini yang membuat saya geleng-geleng kepala.

Peringatan ini juga datang dari khatib di masjid tempat kami shalat Id. Begitupun mbah kami yang turut mempertanyakan esensi dari tradisi ini.

Bahkan acara pawai itu menelan korban jiwa. Di desa Kutuk, satu orang tewas karena senjata tajam usai terjadi tawuran. “Ini yang terakhir, pasalnya ini ada yang kasihan, mahal, kok manfaatnya tidak sebanding, yang penting khidmat!” ujar Supardyono, pak Kades. https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6692554/viral-takbiran-pakai-sound-horeg-di-kutuk-kudus-kades-ini-terakhir

Inilah esensi yang hilang dari sebuah tradisi takbiran

Takbiran

               Perintah pembacaan Takbir ini bisa dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Begitupun hadis Nabi Muhammad Saw:

زيــنوا أعيادَكُــمْ بالتــكبير

“Hiasilah hari id Kalian dengan takbir”

Dari sini mayoritas ulama bahwa bertakbir hukumnya sunnah. Bahkan ada yang mengatakan wajib, yaitu Imam Dawud Al-Zahiriy. Selain menjadi dzikir yang dianjurkan oleh nabi, ia juga menjadi syiar saat hari raya. Allah berfirman:

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah501) sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (Qs. 22: 32)

Di dalam Fathul Qorib ditegaskan:

“Disunnahkan membaca takbir bagi laki-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenamnya matahari malam Idul fitri hingga Imam melakukan shalat id”

               Ada yang berkata jika dilakukan berjamaah maka tidak boleh alias Bid’ah. Itu tidak benar. Sebab kaidah ushul fikihnya, perintah yang redaksinya umum meniscayakan keumuman waktu, tempat juga pelaku. Perintah bertakbir menggunakan redaksi umum. Maka kapan, di mana dan sendiri atau bersamaan, selagi tidak ada dalil yang mengharamkannya, maka hal tersebut boleh.   

Dalam momen takbiran baiknya merenungi kembali makna lafadz takbir. Apakah kita masih meyakini "kekuatan" lain saat mengatakakn Allahu Akbar. Sudahkah kita merasa “kecil” di hadapan kuasa dan karunia Allah, atau masih sombong dan angkuh. Inilah spirit takbir yang seharusnya digemakan saat malam idul fitri. Karena itulah esensinya. Bukan malah berjoget dengan iringan musik jedag-jedug.  

Menciptakan dan merawat tradisi adalah satu hal yang baik. Sedari awal Islam tidak menolak tradisi. Dengan catatan tidak menabrak “batasan” dan tidak kehilangan esensi.

 

Undaan, Kudus,

15 April 2024

           

 

 

           

 

 

              


5 Pelajaran Penting dari Perang Badar

5 Pelajaran Penting dari Perang Badar



 


Prajurit Badar memiliki kedudukan tersendiri dalam Agama Islam. Kemuliaan mereka diposisikan setelah 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga, setelah khulafaurrasyidin barulah Nabi Saw. Itu artinya Peristiwa Badar dan orang-orang yang didalamnya memiliki sorotan khusus dalam agama.

Sebagai bukti, kita bisa lihat kisah Hatib bin Abi Ba’ta’ah. Ringkasnya, karena tertangkap mengambil dan menyebarkan strategi perang dalam Fathul Makkah, ia hendak dihabisi oleh Umar bin Khattab. Namun Rasul melarangnya, dengan alasan ia adalah prajurit Badar.

Berikut 5 pelajaran penting yang bisa kita ambil dari perang badar.

Pertama, Allah akan selalu menang atas apa yang Ia Kehendaki.

Hal ini bisa kita lihat saat Allah mengganti niat baik mereka, dari yang awalnya hendak merebut kembali harta menuju hal yang lebih tinggi. Hal tersebut adalah mendakwahkan agama Allah, berjihad di jalan-Nya, juga pengorbanan secara jasmani, ruhani dan harta demi menegakkan kalimat Allah SWt. Hingga mereka pun mendapatkan kemenangan, bahkan keuntungan yang lebih besar dari apa yang mereka harapkan diawal, yaitu merebut kembali harta milik mereka pada kafilah Abu Sufyan.

Inilah pendidikan Ilahi yang Allah siapkan kepada generasi awal Islam. Meski pada awalnya kaget karena harus berperang dengan kafir Quraisy Makkah -yang mana ini di luar rencana. Namun pada akhirnya mereka tunduk dan patuh atas perintah Allah dan Rasul-Nya. Salah satu dari mereka bahkan berucap: “…Kalau harus masuk ke dalam laut pun kami siap, wahai Rasulullah”

Kedua, Dianjurkannya bermusyawarah dalam perkara-perkara yang tidak ada ketentuannya dalam agama, atau menyangkut kemaslahatan bersama. Dalam sejumlah moment di peristiwa Badar, Rasulullah kerap bertanya kepada sahabat meminta pendapat. Salah satunya saat rencananya harus diubah karena penyerangan yang dilakukan oleh kaum Kafir Quraisy Makkah.

Ketiga, Pentingya bermunajat meminta kepada Allah, kendati apa yang kamu inginkan bisa dipastikan tercapai.

Dalam perang Badar, Rasul sudah pada tahap yakin akan kemanangan. Ini bisa dilihat saat beliau berkata, “di sinilah tempat wafatnya fulan, fulan dan fulan…” Namun pertanyaannya, mengapa beliau masih bersikukuh berdoa sepanjang malam kala itu di dalam tenda agar Umat Muslim diberikan kemanangan? Sampai-sampai Abu Bakar merasa kasihan dan berkata, “sudah cukup ya Rasulullah, sesungguhnya Allah akan menepati janji-Nya kepada Engkau”

Jawabannya adalah, bahwa keyakinan Nabi Muhammad atas sebuah kemenangan, merupakan keyakinan yang kuat juga atas apa yang dijanjikan oleh Allah kepada beliau. Tidak diragukan lagi Allah tidak mungkin melanggar janjinya (innallaha la yukhlif al-Mi’aad).

Adapun tenggelamnya beliau dalam doa, bersimpuh dan bermunajat mengangkat tanganya ke langit, itu merupakan kewajiban seorang hamba yang karena itulah hamba diciptakan. Itulah “harga” kemenangan yang sejati.

Maka, teruslah bermunajat kendati apa yang kamu inginkan sudah bisa dipastikan tercapai. Syekh Ramadhan Al-Buthi pernah berpesan, berdoalah karena doa itu sendiri. Jangan jadikan doa sebagai perantara agar keinginanmu tercapai. Sebab jika nantinya doamu sudah terkabul, maka kau akan meninggalkan doa itu.

Hamba adalah sifat terbesar yang mengatarkan seesorang mendekat kepada Allah. Pencapaian apapun, meski semua perantaranya sudah tersedia dan bisa dipastikan tercapai, tetap Allah-lah yang memberikan itu. Jangan sampai kesombongan dan keangkuhan membuat Allah murka. Apalah nilai sebuah pemberian jika Sang Pemberi itu tak peduli, bahkan marah.

Keempat, memahami bahwa tidak seluruh tindakan Nabi itu masuk dalam kategori tasyri’.  Hal ini dapat dilihat tatkala Hubab bin Al-Mundzir memberi usulan kepada Nabi untuk berhenti di mata air yang lebih dekat dengan musuh. Itu artinya pilihan Nabi atas tempat sebelumnya bukanlah wahyu dari Allah Swt.

Masih banyak lagi perbuatan dan gerak-gerik Nabi yang masuk ke dalam kebiasaan Nabi seperti meminum minuman segar (al-Hulw al-Baarid), berkhutbah menggunakan tongkat dan lain sebagainya. Sejumlah ulama mengatakan hal tersebut tidak menjadi kewajiban atas umatnya. Nabi pernah berkata: “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” (antum a’lamu biamri dunyaakum). Pembahasan lengkap ini bisa dilihat di buku-buku ushul fikih.

Kelima, mempercayai bantuan langit yang benar adanya, dan kemenangan hanyalah dari Allah. Peristiwa Badar merupakan bukti nyata bagaimana Allah memastikan kehendak-Nya dengan mengirimkan bala tentara. Kendati demikian, Allah ingin mengajarkan bahwa dari-Nyalah sebuah kemenangan. Adapunu bala tentara itu hanya untuk membuat mereka senang. Allah berfirman dalam al-Quran:

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

“Allah tidak menjadikannya (bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Al-Anfal [8]: 9-10)

Dua hal yang perlu dicatata. Pertama, telah salah mereka yang mengartikan bahwa bala bantuan malaikat yang terdapat di perang Badar merupakan kekuatan maknawi atau ‘suntikan’ ruh. Sebab ayat tersebut secara gamblang menyebutkan jumlah, yaitu 100, yang mana menunjukan ada wujud fisiknya kendati kita tidak dapat melihatnya.

Kedua, pentingnya mengimani bala bantuan Allah dalam bentuk apapun. Kendati demikian, harus meyakini bahwa dari Allah-lah pertolongan tersebut. bukan yang lainnya.

 

Pesantren At-Taqwa Depok

Jum’at 15 Maret 2024

 

 

 

 


Memahami Konsep Takwil dan Penyalahgunaannya

Memahami Konsep Takwil dan Penyalahgunaannya

 





Oleh: Bana Fatahillah

Secara garis besar buku Falsafat al-Takwīl karya Prof. Muhammad Salim Abu Ashi mengurai 3 bahasan utama. Pertama, istilah takwil dan tafsir. Kedua, pakem dalam menakwilkan ayat. Ketiga, kekeliruan sejumlah modernis dalam melakukan penakwilan. Berikut uraiannya satu per satu.

Takwil dan Tafsir

Sejumlah ulama meyakini adanya kesamaan antara tafsir dan takwil. Ibnu Jarir Al-Thabari misalnya yang berkata bahwa takwil dalam bahasa Arab artinya al-Tafsir (penjelas), al-Marji’ (rujukan) dan al-Mashir (tempat kembali). Ini terbukti dalam buku tafsirnya saat mengatakan: “takwil” dari ayat ini adalah ini (al-Qaul fi Ta’wīl Qaulihi ta’ala kadza wa kadza) maksudnya adalah tafsir.

Senada dengan hal tersebut Al-Jauhari dalam Al-Shihhāh mengatakan bahwa kata a-wa-la yang merupakan akar dari takwil merupakan tafsir, yakni yang menjadi tempat kembali (tafsīrun ma ya’ūlu ilaihi Sya’iun).

Namun tak sedikit dari ulama yang kemudian membedakan keduanya. Salah satunya Raghib Al-Ashfahani, juga sederet nama ulama kontemporer seperti Husain Al-Dzahabi.

Al-Dzahabi dalam Al-Tafsīr wa Al-Mufassirūn menyatakan bahwa sumber tafsir adalah riwayat, adapun takwil dirayat (pemahaman). Hal ini karena makna tafsir adalah menyingkap (al-Kasyfu) dan menjelaskan (al-Bayan), yang mana ini tidak bisa dipastikan kecuali dengan apa yang datang dari Rasulullah atau para sahabat.

Adapun takwil ia merupakan penjelasan yang diperoleh dari ijtihad setelah meneliti nash. Sebab fokus utama dari takwil adalah mengunggulkan satu dari banyaknya kemungkinan lafadz dengan dalil (tarjīhu ahadi al-Muhtamalāt bi al-Dalil), yang mana ini membutuhkan ijtihad. 

Pendapat ini dikritik oleh Ibrahim Khalifah, seorang Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universtitas Al-Azhar. Perdebatannya sangat panjang. Pada intinya Ibrahim Khalifah tidak setuju jika kepastian makna itu hanya didapat oleh riwayat semata. Sebab berapa banyak ayat yang tafsirannya kita ketahui sekadar melihat zahir ayat tersebut, misalnya, atau menggunakan akal saja. Seperti halnya ayat qul huwallahu ahad.

Di ujung perdebatan itu, Ibrahim Khalifah hendak mengatakan tafsir lebih khusus dari takwil. Sebab tafsir bisa diperoleh dengan penalaran akal (ijtihad) ataupun tidak. Namun takwil disyaratkan adanya penalaran dengan menelaah berbagai teks lainnya. Karena itu menurutnya, takwil lebih umum dari tafsir. Setiap takwil adalah tafsir namun tidak sebaliknya. (Lihat Maqālāt fī Al-Takwīl: hal. 31-36)

Takwil dan Pakemnya

Konsep takwil bukanlah barang baru. Ia telah dibahas dan diperbincangkan oleh ulama, tepatnya ulama tafsir dan ushul fikih. Kendati berbeda, namun mereka bersepakat bahwa takwil adalah menggiring satu kata dari makna zahirnya.

Namun sebuah penakwilan tidak bisa sembarang. Di sana terdapat pakem-pakem yang harus dipenuhi, di antaranya:

Penakwilan haruslah mengikuti kaidah bahasa yang berlaku. Penafsiran apapun yang menyimpang kaidah umum bahasa Arab maka tertolak. Jika ada yang menafsirkan baqarah dengan Sayyidah Aisyah dalam ayat “Seungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi (baqarah)” maka itu tertolak. Sebab bahasa Arab tidak mengenal pemaknaan ini.

Ulama bersepakat bahwa seseorang harus mengikuti zahir teks dan tidak berpaling darinya ke makna lain sebelum ada indikator (qariinah) yang menggiringnya. Inilah sejatinya makna takwil yang difahami dalam Islam.

Seminar Kitab Falsafah Al-Takwil, (Jum'at, 27/2/2024)

Prof. Muhammad Salim Abu Ashi, penulis buku Falsafah Al-Takwil mengingatkan bahwa Indikator atau dalil inilah yang perlu diberikan garis merah. Bahwa seseorang tidak bisa menggiring lafadz pada makna lainnya sebelum ada dalil. Baik dalil tersebut berupa teks, akal, siyaq atau bahasa. Inilah pakem yang disajikan oleh takwil dalam Islam.

Dari sini dapat difahami bahwa penolakan takwil bukanlah sesuatu yang mendasar. Sebab takwil sendiri sudah ada dalam tubuh bahasa Arab. Bisa dikatakan takwil adalah majaz sebagaimana dalam istilah ilmu balaghoh.

Selain itu, seorang pembaca teks haruslah mengamati siyaq (konteks), yaitu apa yang tertera pada sebelum dan sesudah ayat. Dikatakan oleh sejumlah mufassir, hidupnya sebuah bergantung pada kontkeksnya (Al-Kalimatu tastamiddu Hayātaha min Al-Siyāq).

Terakhir, melihat korelasi (al-Alaaqat) antar ayat dan ayat, maupun ayat dan surat. Harus melihat al-Quran secara komperhensif. Tidak bisa hanya sepotong-potong. Jika hendak membahas tema atau pembahasan tertentu maka seorang mufassir harus mengumpulkan semua ayat yang membahas tentang hal tersebut.

Ia harus mengetahui dalam ilmu dalalah yang ditunjukan dalam al-Quran sebagaimana yang tertera dalam ilmu ushul fikih, seperti am, khas, muthlaq, muqayyad, mubayyan, haqiqah, majaz dan lain sebagainya.

Pembacaan Kontemporer

Ringkasnya, pembacaan kontemporer (contemporary method) merupakan satu metode pembacaan teks yang tidak memiliki pakem, alih-alih mengemasnya dalam sebuah gagasan ilmiah. Dari lima contoh yang disebutkan oleh penulis Falsafah Takwil, satu yang akan kita singgung yaitu Hasan Hanafi.

Salah satu proyek cendekiawan Mesir tersebut adalah membangun ulang bangunan tafsir dengan satu terobosan bernama pembaharuan bahasa (tajdīd al-Lughoh). Bagi Muhammad Salim, ini sejatinya hanyalah ‘trik’ untuk menyingkirkan pemaknaan linguistik/bahasa dalam al-Quran.

Sebab menurut mereka aspek kebahasaan seperti halnya nahwu, shorof dan pemaknaan (dalaaliy) hanya dibuat untuk mengokohkan sekumpulan makna yang memiliki nuansa agamis. Itu semua –menurut Hasan Hanafi – tidak bisa menampung pemaknaan yang ‘sejalan’ dengan realitas kebutuhan hari ini (haajat al-‘Ashr). Walhasil, ujung dari mega proyek ini adalah meruntuhkan pondasi agama melalui penakwilan tanpa pakem dan rambu yang jelas, alias sak karepe dewe. (Lihat Maqaalat fi Al-Takwil, hal. 66)

Alih-alih menolak pemaknaan bahasa juga, ia memberikan syarat dalam pembaharuan bahasa tersebut, harus memiliki aspek rasional dimana sebuah kata dapat direpresentasikan secara indrawi. Karenanya, lafadz-lafadz seperti Allah, surga, neraka, pahala, dosa, merupakan lafadz-lafadz yang tidak bisa berinteraksi dengan akal.

Ini semua tentu keliru. Sebab jika bahasa dibawa kepada setiap pemaknaan, itu artinya ia –bahasa—telah kehilangan perannya sebagai media interaksi antar mitra bicara. Dan jika semua bahasa harus memiliki wujudnya secara fisik, berapa banyak kata dan bahasa yang kita akui keberadaannya kendati ia tidak memiliki wujud di alam luar, seperti akal dan ruh.

Itu pertama. Kedua, Hasan Hanafi mencoba menggunakan pisau analisis pemikiran empirisisme dalam membaca al-Quran dan ilmunya. Hasilnya adalah pernyataan bahwa setiap ayat dalam al-Quran memiliki “peristiwa” yang melatarbelakanginya, yang dianggapnya merupakan konsep asbabun nuzul. Ini semua pada akhirnya hendak mengatakan bahwa al-Quran dibentuk oleh realitas keadaan pada masa itu, dan itu artinya al-Quran tidak lagi sakral karena aspek kemukjizatannya telah tercoreng.

Ini tentu keliru, sebab al-Quran merupakan wahyu yang turun dari Allah SWT. Ia sama sekali tidak dibentuk oleh realitas masyarakat. Sebab jika demikian, seharusnya al-Quran mengafirmasi ideologi jahiliyyah kala itu, seperti minum khamr, berzina menyembah berhala dan berjudi. Namun realitanya al-Quran datang membombardir hal itu semua. Ini membuktikan bahwa al-Quran bukan dibentuk oleh produk pemikiran manusia yang membutuhkan “latar belakang” untuk menulis atau mengatakan sesuatu.

Masih ada sejumlah penakwilan ‘ngawur’ ala Modernis yang pada akhirnya hendak membawa teks sesuai selera pembaca, alih-alih mengatasnamakan kebutuhan manusia. Bagi Prof Muhammad Salim, Al-Quran bisa saja dibawa pada pemaknaan hari ini, yaitu dengan berpegang pada konsep umumnya meski berbeda dalam indovidu yang diberlakukan. Tentu dengan syarat harus sejalan dengan kaidah dan gaya bahasa Arab dan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Inilah yang membedakan penakwilan antara Islam dan selainnya, seperti modernis. Wallahu a’lam bi al-Shawab

 

Depok, 2 Maret 2024


 Akidah Islam yang Tak Sesulit Itu

Akidah Islam yang Tak Sesulit Itu




Oleh: Bana Fatahillah
(Guru Pesantren At-Taqwa Depok)

Konsep akidah Islam dapat dicerna oleh akal. Sangat logis. Namun bukan berarti Islam dibuat-buat oleh akal. Melainkan apa yang datang dari wahyu sangat bisa dicerna oleh akal.

Istilah Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad, akal dan wahyu seperti penglihatan yang sehat dan cahaya matahari. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang yang menolak akal dan merasa cukup dengan petunjuk al-Quran, seperti orang yang mencari cahaya tapi memejamkan matanya. Persis seperti orang buta. Orang yang bertumpu pada akal saja, maka seperti berjalan di gelap gulita meski matanya sehat. Keduanya memang harus diselaraskan.

Sejumlah pesan dalam Al-Qur’an memantik akal untuk berfikir, terutama dalam persoalan akidah. Sebab akal merupakan karunia Allah yang dengannya manusia dibebankan sejumlah kewajiban (taklif). Salah satunya perintah untuk beriman. Selama akal Anda sehat, maka konsep akidah dalam Islam yang mencakup Tuhan, Nabi dan hal-hal ghaib dapat dipahami dengan baik.   

Hal-hal Gaib, Apakah Masuk Akal?

Poin ini banyak dipersoalkan, karenanya saya coba dahulukan. Katanya, hal-hal yang tak dapat diindra oleh mata, termasuk Tuhan itu sendiri, dianggap tidak masuk akal. Walhasil dinafikan.

Untuk menjawabnya, coba bedakan hal berikut:

(i) sesuatu mustahil secara akal (maa yastahiilu aqlan), dengan

(ii) di atas gapaian akal (fauqa mudrakaat al-Aql)

Diam dan bergeraknya Anda dalam satu waktu. Itu adalah mustahil akal. Sepintar apapun seseorang, tidak mungkin bisa membayangkannya. Nah, agama tidak datang pada hal pertama ini, namun kerap datang pada yang kedua yaitu ‘di atas gapaian akal.

Penjelasannya begini. Hal-hal ghaib seperti malaikat atau kehidupan setelah mati seperti surga, neraka, azab kubur dan lainnya merupakan sesuatu mungkin secara akal. Coba Anda diam sejenak lalu renungkan. Saya jamin akal anda akan mengiyakan itu semua.

Benar! Imajinasi akan hal itu terbatas. Sebab kemampuan imajinasi adalah hasil dari apa yang yang pernah ia lihat. Andai orang kelahiran 80-an dijelaskan tentang canggihnya Android, mereka akan mengiyakan, namun tidak bisa mengimajinasikannya lebih dalam lagi. Sebab ia tidak punya sampelnya.

Sama halnya dengan isra mikraj misalnya. Anda bisa membayankannya. Namun gambaran itu tidak utuh. Sebab Anda tidak punya sampelnya. Saat itulah akal berhenti membayangkannya dan cukup mempercayainya. Mengimaninya. Inilah yang dimaksud fauqa mudrakaat al-Aql. Namun ingat, bukan berarti artinya tidak masuk akal, lo!

Karenanya, jangan mengingkari keberadaan sesuatu hanya karena tidak diketahui atau dilihat. Sebab pengetahuan dan penglihatan kita terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Organ tubuh semut atau nyamuk misalnya. Atau kehidupan dalam janin.  Pernahkah anda melihat itu semua? Kendati demikian Anda tidak mengingkari keberadaannya.

Benar, Anda bisa mengimajinasikan hal-hal tersebut. Sebagaimana Anda mengimajinasikan hal-hal setelah di akhirat kelak. Namun imajinasi itu, sebagaimana yang disamapaikan barusan, ‘di atas’ kemampuan akal. Sebab imajinasi manusia tidak mampu mencakup segala hal kecuali apa-apa yang telah ia tangkap dengan indra.  

Konsep Tuhan

Konsep Tuhan dalam Islam jelas dan dapat dicerna oleh akal. Terkait nama, Islam sudah mengenalkan nama Tuhannya (lihat Qs. Thaha: 14). Jika ada perbedaan tentang nama ini pun, seperti apakah lafadz tersebut musytaq atau jamid. Bukanlah sesuatu yang esensial. Di bumi manapun, umat Islam akan memanggil Tuhan yang sama, yaitu Allah. 

Keberadaan-Nya pun jelas. Allah ada meski tak dapat diindra oleh mata. Sebab tidak semua yang ada harus tampak. Berapa banyak hal diluar indra, namun kita meyakini keberadaannya. Akal dan ruh misalnya. Siapa dari kita yang pernah melihat ruh. Namun kita percaya akan keberadaannya.

Alam raya adalah bukti keberadaan-Nya. Tidak mungkin sesuatu ada dengan sendirinya, alias ujug-ujug ada. Atau sesuatu menciptakan dirinya sendiri. Al-Quran memberi isyarat ini dalam sebuah ayat:

﴿ اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَۗ ﴾

Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Qs. At-Thur: 35)

Pertanyaan ini bukan hakiki, melainkan satu celaan. Allah ingin mencela mereka yang mengatakan bahwa sesuatu ada dengan sendirinya –sekali lagi ada dengan sendirinya.

Jika ada coretan di tembok sekolah. Lantas murid yang sudah terbukti bersalah mengatakan bahwa itu ada dengan sendirinya. Maka bisa dipastikan Anda akan mengatakan itu adalah hal yang mustahil.

Itu pertama. Kedua, itu juga celaan atas mereka yang berkata sesuatu menciptakan dirinya sendiri. Sebab kedua hal tersebut adalah mustahil. Setinggi apapun pangkat dan jabatan seseorang, akalnya pasti akan mengatakan mustahil.

Dua inilah yang oleh Teolog Muslim dirumuskan menajdi kaidah. Pertama, “istihālat al-Musabbab biduuni Al-Sabab” (kemustahilan adanya sesuatu tanpa sebab). Kedua, yaitu kemustahilan sesuatu mengadakan dirinya sendiri, atau yang dinamakan “Al-Tarjīh bidūn Murajjih Muhāl”. Selagi akal yang diberikan Allah masih sehat, tidak akan mampu menerima adanya sesuatu yang menciptakan dirinya sendiri.

Dzat-Nya Satu, Meski Banyak Sifat

Allah Maha Esa. Satu. Bukan dua ataupun tiga. Dzat Allah tidak menyatu dengan apapun. Nama-nama Allah yang baik, atau asmaul husna bukanlah Dzat-Nya. Sifat-sifat yang kita kenal seperti qudrah, iradah, sama’ bukan juga Dzat-Nya. Banyaknya sifat bukan berarti Dzatnya banyak. Sekali lagi, Dzat Allah satu bukan dua.  

Sebagai pendekatan, Anda pasti bisa membayangkan Satu Dzat, Pak Anis Baswedan misalnya, yang memiliki banyak sifat seperti ramah, baik dan perhatian. Selama seseorang memiliki akal yang sehat, ia tentu tidak akan bingung dengan konsep Keesaan Dzat Allah dengan sejumlah sifat-Nya.

Karenanya, tidak sedikit yang kebingungan dengan konsep Tuhan yang berbilang. Apalagi jika dikatakan Tuhan satu dalam Esensi namun 3 dalam Pribadi. Ini jelas kontradiktif. Bagaimana percaya satu Tuhan namun di sana Ada 3 Dzat, pribadi, hakikat atau apalah namanya.

Sedari awal al-Quran sudah menolak keberbilangan Tuhan. Hebatnya, Al-Quran menyajikan argumentasi dialektis atas pendapat keberbilangan bagi Allah. Ayat ini sangat rasional dan dapat dicerna oleh akal. Coba perhatikan dua ayat berikut:

“Allah tidak mengangkat anak dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya. Jika demikian, niscaya setiap tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” (Qs. 23: 91)

"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah, Tuhan pemilik ʻArasy, dari apa yang mereka sifatkan." (Qs. 21:22)

Gampangnya, jika yang satu lebih berkuasa, berarti meniscayakan lemah bagi yang lainnya. Padahal lemah bukan sifat Tuhan. Jika kuat bersama, itu meniscayakan kesia-siaan. Untuk apa ada yang satu jika yang lain bisa melakukannya.

Inilah yang nanti dirumuskan oleh para ahli Teolog Islam bahwa tidak ada sekutu bagi Tuhan dengan teori bernama Burhan Al-Tamaanu’ dan Burhan Al-Tawaarud.

Nabi, Manusia yang Diberi Wahyu

Jika yang barusan tentang Tuhan, maka ini soal utusan-Nya.

Jika ada utusan presiden datang. Dalam dirinya terdapat bukti yang jelas bahwa ia adalah utusan. Ia menyampaikan amanat Presiden bahwa Anda harus melakukan A, B dan C. Secara logis, seseorang pasti percaya akannya. Jangankan Presiden, kepada utusan bos saja kita patuh dan nurut.

Rasulullah Saw adalah utusan Allah, bukan Allah itu sendiri. Manusia biasa yang bisa sedih, bahagia, bahkan meninggal (lihat Qs. 25:7, 3: 144). Beliau bukan Tuhan, sebab Tuhan tidak sama dengan ciptaan-Nya. Dia Kekal Abadi tak dibatasi ruang dan waktu. Bukan juga Anak Tuhan. Sebab itu meniscayakan Tuhan yang juga ‘dilahirkan’. Dan itu mustahil.  

Beliau hanyalah manusia biasa yang diutus untuk menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan manusia agar bahagia dunia dan akhirat.

Karenanya orang Islam tidak pernah bingung soal siapa yang harus diikuti. Dalam urusan apapun. Karena role modelnya adalah manusia juga. Dari hal-hal kecil –mohon maaf—seperti membersihkan kotoran yang keluar dari badan, hingga urusan –mohon maaf— bagaimana etika berhubungan badan. Semua ada contoh dan aturannya.

Paling-paling mereka yang menolak Nabi Muhammad akan mengkritisi konsep wahyu yang diberikan. Bagaimana mungkin manusia bisa mendengar malaikat yang berbeda alam dan dimensi. Maka tak perlu bingung.

Teknologi hari ini sudah bisa membuktikan. Bahwa kita bisa berbicara dengan mendengar suara tanpa melihat sosoknya. Coba perhatikan praktik hipnotis, dimana seseorang bisa dibawa pada dimensi yang tidak disadari orang sekitarnya. Jika hal demikian saja dapat diamini dan dianggap masuk akal oleh orang-orang, mengapa konsep wahyu Nabi tidak bisa?

 

Hotel Assalam, Solo

Ahad, 3 Desember 2023


Inilah Urgensi Mempelajari Ulumul Qur'an

Inilah Urgensi Mempelajari Ulumul Qur'an

 


"Mengokohkan Pondasi, Menyingkirkan Duri"

Oleh: Bana Fatahillah 

Santri At-Taqwa Depok, tingkat SMP dan SMA baru saja menyelesaikan ujian ulumul Quran pada Selasa, 7/11/2023.

Ulumul Quran merupakan satu disiplin ilmu yang penting dipelajari. Selain mengenalkan hal-hal seputar al-Quran dan mengokohkan keimanan seorang muslim. Ia juga dapat memberi imun untuk menghadapi virus yang disebarkan seputar al-Quran.

Sebab, sebagaimana yang disampaikan Abu Syahbah, Guru Besar Ulumul Quran Universitas Al-Azhar, pasar dari serangan dan tuduhan atas al-Quran umunya adalah mereka perbendaharaan ilmu syariatnya sedikit. Walhasil, ia pun ujug-ujug berani menyalahkan al-Quran, menyerang keotentikannya, bahkan merusak sakralitasnya dengan tindakan seperti membuang dan membakarnya. (lihat Abu Syahbah, Madkhal lidiraasat al-Qur’an al-kariim, hal. 232-233)

Menyingkirkan Duri

Pondasi yang lemah akan membuat satu bangunan rapuh. Itulah gambaran orang yang tidak mempelajari ilmu al-Quran. Berbicara banyak hal mengenai al-Quran, namun lupa akan hal-hal mendasar. Inilah part yang cukup penting dalam pembelajarn ilmu al-Quran. menghalau duri yang bertebaran yang mencederai al-Quran.

Sebagai contoh, seorang orientalis Arthur Jeffery mengatakan bahwasanya pengumpulan Al-Quran dilatarkbelakangi oleh alasan politis. Sebab saat itu terdapat beragam mushaf yang beredar di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Mushaf tersebut berbeda dengan mushaf Utsman. Artinya, ketika mushaf Utsmani dijadikan satu teks standart yang resmi dan digunakan di seluruh wilayah kekuasaan Islam, maka hal itu tidak terlepas dari alasan politik.

“Now when we come to the accounts of Uthman’s recension it quickly becomes clear that his work was no mere matter of removing dialecticak peculuarities in reading, but was a necessary stroke of policy to establish a stadard text for the whole empire” (Materials for The History of the Text of The Quran The Old Codices, hal.8)

Argument ini kritis namun sangat utopis. Sebab jika mengkaji ulumul Quran dengan baik, kita akan mengetahui apa latar belakang Utsman melakukan kembali penghimpunan mushaf. Yaitu menghindari perpecahan antar umat Islam dalam bacaan al-Quran, yang andai tidak diselesaikan maka umat akan berpecah seperti Yahudi yang pecah karena kitab sucinya.

Dan andai mengkajinya dengan kejernihan hati. Niscaya Ia akan mengetahui bahwa para sahabat menyetujui standardisasi ini. Bukan karena ke-otoriter-an Utsman. Namun karena ini kemaslahatan di dalamnya. Mus’ab bin Sa’ad berkata: “Tak seorang pun dari Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan Utsman bin Affan Ra. (adrakat al-Naas hina fa’ala Utsma ma fa’ala, famaa raitu ahadan ankara dzalika, ya’ni min al-Muhaajirin wa al-Anshar wa ahl al-Ilm)

Jadi dimana aspek politik Utsman dalam mengumpulkan al-Quran?

Blunder lainnya, Jeffery juga mengatakan bahwa aksara gundul dalam al-Quranlah yang membuat perbedaan bacaan dalam al-Quran (lengkapnya lihat Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, hal. 97)

Poin ini bukan hanya dia seorang. Masih banyak nama seperti Noldeke, Ignaz Goldziher dan lain sebagainya yang turut menyuarakan. bahwa banyaknya bacaan dalam al-Quran dikarenakan tidak adanya titik dan harakat. Bantahan ini pun sudah banyak, salah satunya yang ditulis oleh Abdul Fattah Al-Qadhi dalam kitab Al-Qiraat fi Nazhri Al-Mustasyriqin.

Tidak ingin bersuuzhon, namun itulah faktanya. Studi al-Quran di Barat tidak murni ‘kajian’. Namun ada niatan lain di dalamnya. Alphonse Mingana pada tahun 1927 mengatakan, “The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures”

“Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.” (lihat  Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta; Gema Insani, 2008, hlm.3)

Bukankah itu Kajian Ilmiah?

Inilah pengajaran al-Quran di Barat, menyesatkan namun dibungkus dengan kemasan “kajian ilmiah” atau “kajian kritis”. Ibarat menjual minyak babi cap onta. Itu semua tak jauh dari tipu daya setan yang selalu menghasut keburukan ke manusia dengan mengemasnya lewat kata-kata yang indah (yuhi ba’dhuhum ila ba’dhin zukhruf al-Qauli Ghurura).

Perlu diketahui Barat bukanlah peradaban independen yang melahirkan ideologinya. Ia merupakan akumulasi dari sejumlah ideologi yang diserap, seperti Yunani, Romawai, Yahudi, Kristen bahkan Islam sekalipun. Semua ideologi ini selain menubuh dalam sikap orang barat, ia juga menjalar dan mengakar pada ilmu pengetahuan kontemporer yang banyak digagas dan berkembang di sana.

Ada lima hal yang menjadi “spirit” dalam ideologi barat. Kelima itu adalah Rasionalisme, Dualisme, Sekularisme, Humanisme dan Tragedi. Menurut Al-Attas, unsur-unsur inilah yang menentukan kebudayaan dan peradaban Barat, pemebentukan konsep pengetahuannya dan arah tujuannya.

(It is these elements that determine for that culture and civilization the moulding of its concept of knowledge and the direction of its purpose, the formulation of its contents and the systematization of its dissemination)

Masih menurut Al-Attas, karenanya, ilmu yang disebarluaskan oleh Barat secara sistematis saat ini bukanlah pengetahuan yang benar. Kenapa? Sebab pengetahuan itu dijiwai dengan karakter dan kepribadian budaya dan peradaban Barat serta diisi dengan spirit yang disesuaikan dengan tujuannya. (but that which is imbued with the character and personality of Western culture and civilization and charged with its spirit and geared to its purpose)

Lebih jelasnya Al-Attas mengatakan bahwa keilmuan barat adalah pengetahuan yang bermasalah karena kehilangan tujuan sejatinya (become problematic because it has lost its true purpose). Dalam bahasa Al-Attas keilmuan barat merupakan “ilmu tipu-tipu” (knowledge which pretends to be real) yang justru menghasilkan kebingungan (confusion) dan keraguan (skepticism), bahkan mengangkat keraguan dan dugaan itu ke peringkat ‘ilmiah’ dalam sebuah metodologi (which has elevated doubt and conjecture to the scientific rank in methodology).

Hasilnya, ilmu itu tidak lagi membawa seseorang menjadi kenal akan dirinya. Dari mana asalnya. Siapa yang menciptakannya. Apa statusnya, apakah hamba atau pencipta. Tujuan hidupnya. Dan lain sebagainya. Ilmu itu tak lain hanya membuat seseorang jauh dari Tuhannya. Inilah akhirnya yang membuat mereka confuse.

Meneguhkan Keberislaman Kita

Mempelajari ulumul Quran seharusnya semakin meneguhkan keberislaman seorang Muslim. Juga kebanggaannya sebagai umat Muslim. Dimana kita memiliki kitab suci yang otentik yang langsung diwahyukan oleh Tuhan kepada utusan-Nya; Tidak mengalami perubahan ditengah terpaan zaman; dihafal oleh pemeluknya; memiliki riwayat sejarah yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan.  

Ini semua justru harus membuat seorang Musliim yakin dengan agamanya. Bukan malah ragu dengan kitab sucinya, sebagaimana yang terjadi pada studi di Barat.

 

Pesantren At-Taqwa Depok

Depok, 7 November 2023


Menyelami Pesan Ilahi Lewat Ilmu Ma'ani

Menyelami Pesan Ilahi Lewat Ilmu Ma'ani

 


Oleh: Bana Fatahillah

Secara ringkas, maani adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana mengatur keadaan bahasa Arab sesuai situasi dan kondisinya.

Kapan redaksi sebuah perkataan harus dipanjangankan, diringkas, dikedepankan, diakhirkan, dan lain sebagainya yang mana itu semua dituntut oleh keadaan. Saya lebih suka menyebutnya dengan filsafat tata letak bahasa Arab.

Memahami ilmu ma’ani membuat seseorang mampu menyelami pesan ilahi. Ibarat pemandangan lautan, seseorang tidak hanya diberikan keindahan permukaannya saja. Namun juga dipertontonkan keindahan di dalam laut dengan alat selam bernama ilmu maani.

Misalnya saja, saat membaca kisah pertarungan Nabi Musa dan para penyihir. Anda akan mendapati bahwa redaksi yang digunakan al-Quran adalah kalimat bentuk pasif, alias menyembunyikan subjeknya, yaitu Nabi Musa. Perhatikan ayatnya:

 فغُلِبُواهُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صٰغِرِيْنَۚ وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ

“Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina” 

Pertanyaannya, mengapa Allah tidak menggunakan kalimat aktif sehingga redaksinya: “Nabi Musa mengalahkan para penyihir itu”, namun justru menyembunyikan subjeknya. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa sejatinya yang menang bukanlah Nabi Musa, melainkan Allah yang menguatkan Nabi Musa, merubah tongkatnya menjadi ular hingga memakan semua ular-ular kecil.

Kalau dikatakan “Musa mengalahkan mereka” (faghalabahum musa), maka akan terbesit bahwa Musa-lah yang hebat atau semua ini adalah perbuatannya. Padahal nyatanya tidak seperti itu. Bukankah al-Quran mengatkan bahwa kala itu terlintas rasa takut dalam diri Nabi Musa (wa awjasa minhum khīfah) ketika melihat tali temali dan tongkat-tongkat yang terlihat seperti ular (Qs. 20: 66)

Begitulah rahasia dibalik sebuah penghapusan redaksi (al-Hadzf). Salah satunya penghapusan subjek (hadzf al-Faail). yang merupakan salah satu pembahasan ma’ani.

Terkait bab hadzf, jika kita memperhatikan al-Quran, saat menyandarkan sebuah pekerjaan yang –pekerjaan itu—hanya bisa dilakukan oleh Allah. Maka al-Quran akan melukiskannya dengan kalimat pasif, seperti “perkara itu telah ditetapkan” (wa qudiya al-Amru), “yang beriman atas apa telah diturunkan kepadamu” (yu’minūna bimā Unzila Ilaika) dan lain sebagainya. Ini ingin menunjukan bahwa tidak ada satupun yang bisa ikut serta dalam perbuatan ini. (Lihat Khasaais Al-Taraakib, hal. 235)

Itu baru satu dalam bab ilmu maani, bernama al-Dzikru wa al-Hadzfu.

Contoh lain adalah pada bab al-Taqdim wa al-Takhir, yang membahas seputar kapan sebuah kalimat didahulukan atau diakhirkan. Menurut saya bab ini sangat membantu dalam menyelami keindahan pesan ilahi. Coba simak ayat berikut:

﴿ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ ﴾

“Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung)” (Qs. Al-Anbiya: 90)

Pertanyaannya, bukankah seharusnya ayat ini mendahulukan informasi sembuhnya istri Nabi Zakaria, barulah kemudian informasi mereka dikaruniai anak bernama Yahya. Sebab kehamilan seorang wanita tidak bisa terjadi jika ia masih terkena penyakit mandul?

Jawaban ini bisa kita temukan dalam ilmu ma’ani. Bahwa rahasia di balik dikedepankannya sesuatu yang harusnya diakhirkan, adalah untuk menyegerakan rasa senang kepada pendengar (ta’jiil al-Masarrah). Dengan mendahulukan pemberian seorang anak bernama Yahya, tentu membuat Nabi Zakaria senang.

Selain itu hal ini karena konteks (siyaaq) ayat menuntut demikian. Pada ayat sebelumnya, Al-Quran menggambarkan permintaan Nabi Zakaria, yaitu diberikan keturunan. Bukan kesembuhan istrinya. Karenanya yang dikedepankan adalah kabar gembira berupa pemberian sang buah hati.

Ini juga merupakan bentuk kebesaran Allah Swt, yang seakan hendak mengabulkan doa Nabi Zakaria, dan hendak menegaskan bahwa Aku mampu mengabulkan doamu, yakni memberimu keturunan, sekalipun dalam keadaan istrimu yang masih mandul. (lihat Al-Bayaan fi Rawaa’ al-Qur’an, hal. 95-96).

Sama halnya dengan kisah Nabi Musa. Firman Allah yang berbunyi:

﴿ قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى ﴾

“(Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” (Qs. Thaha: 18)

Dari sekian kegunaan dan fungsi tongkat, mengapa yang dikedepankan adalah sebagai sandaran dirinya. Jawabannya karena kemaslahatan atas dirinya lebih dikedepankan daripada maslahat lainnya. Nabi Musa pun kala itu dalam keadaan safar, di mana sangat dibantu dengan tongkat yang digenggamannya. (lihat Min Asraar Al-Bayaan Al-Qur’aniy, hal. 230)

Terakhir, sebagai sebuah contoh, adalah pembahasan ta’rif dan tankir. Benar adanya, pembahasan ini turut dibahas dalam ilmu nahwu. Namun dalam ma’ani, makna yang diberikan lebih mendalam. Coba perhatikan ayat ini:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى

“Ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tahu apa yang dia (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidak sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)

Fokus kepada kalimat terakhir dalam ayat tersebut. Jika melihat penggalan ayat itu secara harfiah, akan terbesit adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki secara umum.

Namun jika dilihat dari kacamata ilmu maani, hal tersebut tidak akan terlintas. Sebab makna Alif Lam yang ada pada lafadz Al-Dzakar dan Al-Untsa bukan menunjukan pada jenis (lil jins). Artinya Ayat tersebut bukan hendak membadingkan jenis laki-laki dan Perempuan. Bukan.

Alif lam di sana bermakna al-‘Ahd, atau sebuah paham yang mengikat antara kedua pembicara. Artinya, laki-laki yang dimaksud bukanlah seluruh laki-laki atau seluruh bangsa perempuan. Melainkan, anak laki-laki yang diinginkan oleh ibunda Maryam. Adapun perempuan adalah perempuan yang dikaruniai oleh Allah, yaitu Maryam. Ini hendak memberikan pesan kepada ibunda Maryam, bahwa perempuan ini akan lebih mulia dari laki-laki yang engkau harapkan bekhidmah untuk Baitul Maqdis.

Terapkan dalam Kehidupan

Pada akhirnya, ilmu maani tidak hanya membantu dalam menelaah al-Quran dan hadis semata. Siapapun yang belajar ilmu maani akan terbantu dalam menyusun kalimat yang akan ia tulis. Teori jurnalistik yang diajarkan di kelas-kelas, bisa dipakai jika memahami ilmu ini. seseorang jadi tau kapan harus menghapus, menyebutkan, mengedepankan, memakai bentuk tanya, perintah, larangan, namun maksudnya adalah informasi, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam bi al-Shawab

*Disampaikan dalam pembukaan kelas Ilmu Ma’ani Mahasiswa STID Moh. Natsir, pada Jum’at 6 Oktober 2023 di Pesantren At-Taqwa Depok.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia