Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Pesan Singkat untuk Wisudawan Attaqwa.
Bisnis
Agustus 02, 2019
Saya tuliskan pesan ini tepat Di malam sebelum kalian diwisuda. Dengan harapan, semoga untaian kalimat yang tertera di dalam tulisan ini dapat kalian ambil manfaatnya dan dapat kalian amalkan kelak.
Sedikit cerita, 5 tahun yang lalu, saya sama seperti kalian yang akan diwisuda menjadi seorang lulusan pesantren. Di malam harinya, saya gerakkan kaki ke masjid untuk sedikit bermuhasabah santai sebelum berjumpa dengan momen (yang menurut Saya) amat penting. Usai mendirikan Dua rakaat, saya rebahkan badan saya sambil mencoba mengulang semua memori yang pernah Saya lalui Di Pondok.
Saya coba berdialog dengan diri sendiri. "wah, ban! Akhirnya setelah 6 tahun, diwisuda juga ya nte!... Kebayang ga sih, nte tuh dlu gini ,gini, gini. Sempet jatuh. Mw ninggalin pondok, terus ga jadi. Punya masalah ini itu. Ga betah. Pengen kabur. Trus ga jadi. Dll nya deh. Tapi apa? Ternyata semua ini telah berlalu begitu saja. Dan besok, Saya akan diwisuda.
Karena agak dramatis, maka saat itu Saya pun meneteskan air mata. Sebab saya yakin, saat itu, saya telah melewati sebagian fase hidup saya dengan penuh perjuangan. Dan besoknya, Saya akan mengakhiri fase kehidupan tersebut Dan akan memasuki fase berikutnya. Ya, memang begitulah hidup. Selalu berputar Dan berganti. Tinggal bagaimana kita menjalani kehidupan tersebut. Mau biasa-biasa saja atau extraordinary. Aseeek.
* * *
Oke, akan saya mulai pesan singkat ini dari sini. Dan Yang pertama, Saya akan tujukan untuk semuanya, baik Pristac maupun Shoul Lin. Setelah itu baru satu-satu.
Kalian semua adalah lulusan PONDOK PESANTREN. Julukan kalian itu, kata Kyai saya dulu, adalah "Mundzirul Qoum" (Pemberi Peringatan Kaumnya).
Jadi, masih atau tidaknya kalian di Pondok, Kalian harus menjadi pengingat bagi kaum kalian. Kaum di sini bisa kita maknai sebagai keluarga, lingkungan, masyarakat, negara, dllnya. Namun, jika Kalian merasa tidak mampu menjadi pengingat bagi mereka semua maka mulailah dari hal terkecilnya, yaitu diri Kalian sendiri. Ingatkan selalu diri Kalian dalam setiap langkah yang akan Kalian ambil.
Kalo sudah Di luar nanti, jangan malu jadi orang baik. Jangan segan jadi orang taat. Jangan takut dibilang "sok alim". Ada yang gak shalat ingatkan! Ada yang boong peringati! Ada yang tingkahnya pecicilan ga karuan abis (untuk yang akhwat) jangan diikuti. Ada yang nyuri, tegesin! Jangan malah diem aja atau bahkan ikut2an.
Kalian itu harusnya yang "memberi pengaruh" bukan malah yang "dipengaruhi". Kalian motornya. Kalian dinamonya. Kalau ga Ada Kalian, ga jalan! Karena, bagaimanapun dan dimanapun kalian kelak, kalian adalah SANTRI. Dan santri itu, sebagaimana yang Saya bilang Di atas, adalah Mundzirul Qoum yang tugasnya adalah memberi peringatan bagi kaumnya.
Selanjutnya adalah soal belajar. Kalau masalah belajar Di waktu dini, belajar sampai mati, Saya yakin kalian udah paham kok. Hafal mahfuzotnya. Bisa ngejelasin maksudnya.
Bahkan itu semua sudah Di luar Kepala kalian. Dalam arti itu semua sudah 'pasti' kalian ketahui. Jadi untuk yang ini Saya ga perlu ngasih nasehat lagi, tinggal kalian amalkan saja, oke.
Tapi yang ingin Saya sampaikan adalah kesadaran kalian akan penting nya pelajaran-pelajaran yang Ada Di Pondok ini. Sadar atau tidak, pelajaran yang kalian dapat selama kurang lebih 2-4 tahun Di sini ibarat sebuah pondasi bangunan yang kokoh. Kalian semua ini adalah bangunan kokoh yang menjulang tinggi nan megah. Pertanyaannya: apakah Ada bangunan kokoh di dunia ini yang pondasi nya tidak kuat? Pastinya tidak. Jadi, jika memang kalian ingin menjadi bangunan itu, maka matangkanlah—sekali lagi matangkanlah— ilmu ilmu dasar yang Ada di Pondok. Sebab itu pondasi kalian.
Jika kelak kalian bercita2 sebagai seorang yang ahli hadis, ahli tafsir, filosof, psikolog, motivator, Fisikawan, dokter, atau menjadi ulama tersohor. Maka bahasa Arab adalah makanan pokok yang harus kalian konsumsi sedari awal. Ia ibarat sebuag pondasi. Jangan kalian lewatkan atau kalian abaikan, sehingga merusak bangunan kalian nantinya. Tidak Ada ceritanya ulama di bidang apapun yang tidak tau bahasa arab. maka, Percaya atau tidak, jika kelak kalian melanjutkan untuk masuk ke dirosah islamiyyah yang lebih dalam, seperti ke Mesir misalnya, kalian akan lebih dimudahkan. Kalian tinggal menyusun lantai2 selanjutnya. Sebab pondasi yang kalian bangunan sudahlah kokoh Dan kuat.
Selanjutnya, saya akan berbicara dengan santri Pristac, baik yang baru masuk ataupun yang sudah lulus. Pesan Saya cuma satu: Teruslah gali wawasan kalian dengan banyak membaca. Saya pernah berfikir seperti ini: Jika kalian diberi materi Liberalisme, Hermeneutika, Gender, ataupun tantangan pemikiran lainnya, Kalian itu ibarat hanya diberikan senjata saja. Pistol misalnya. Kalian tidak bisa ujuk-ujuk bisa jadi handal menggunakan pistol jika tidak dilatih. Maka membaca Dan berdiskusi adalah latihan agar kalian dapat lihai menggunakan pistol tersebut.
Okelah, kita katakan Gagasan "Bahaya kesetaraan Gender" Itu Sudah kalian dapatkan. Namun itu tidak berarti Kalian menguasai permasalahan gender. Itu masih mentah. Hal tersebut ibarat pistol yang dipegang oleh orang yang buta akan memainkannya. Yang ust Adian paparkan di depan kalian itu adalah kelihaian permainan pistolnya—sekali lagi kelihaian permainan miliknya, bukan kelihaian kalian. Maka jika ingin lihai memainkan pistol tersebut, membacalah, berdiskusilah, telaah-lah, dan galilah semua informasi. Sehingga kalian tidak menjadi orang yang hanya mempunyai pistol namun tidak lihai menggunakannya.
Untuk yang masih Di Pondok melanjutkan ke Pristac atau ke Atco, maka pesan Saya; SADARLAH. Kalian sedang menyelami lautan yang amat dalam Dan luas. Ingat, tujuan kalian adalah mutiara Di dasar laut, bukan ikan ikan hias atau terumbu karang yang kalian jumpai Di sepanjang perjalanan. Fokuslah! Ambil mutiara itu. Karena kelak, jika berhasil mengambil mutiara itu, kalian akan bangga tatkala kembali ke daratan. Main boleh, tapi diporsir. Kalian sudah dalam kategori dewasa.
Untuk yang sudah tidak Melanjutkan studinya Di Attaqwa, maka jangan segan segan untuk main ke Pondok. Sewaktu lulus dari Gontor, Pesan Kyai Hasan adalah: "Jangan lupa main ke Pondok". Sebab Kalian semua adalah bagian dari kami. Kunjungi Pondok kapanpun kalian mau. Bawa nama baik Almamater ini dimanapun kalian berada.
* * *
Ingat, Wisuda itu hanya seremonial semata. Wisuda itu hanya menjadi bukti kalian permah menamatkan studi disebuah pesantren atau sekolah umum, bukan menjadi bukti kalian berjuang untuk agama ini. Jadi lebih maknai lagi kehidupan Kalian di Pondok.
Setelah agenda ini simpan baik baik kenangan wisuda ini dalam memori kalian. Terserah kalian, Mau unggah di media sosial, Mau kalian cetak fotonya besar besar terus dipejeng di kamar, ataupun yang lainnya. Yang penting, sekali lagi, ABADIKAN MOMEN ini dengan baik. Sebab 10 sampai 20 tahun lagi, kalian akan tertawa dan sedih sendiri melihat kenangan ini. Saya ga Mau kalian jadi seperti saya yang melewatkan momen berharga tatkala wisuda. Jadi intinya, simpan baik baik memori ini.
Sekian saja yang bisa saya sampaikan. Jika kalian telah selesai membaca pesan ini, saya pastikan kalian telah menjadi Lulusan Podok Pesantren Attaqwa Depok. Selamat! We Proud of You. Bawa nama almamater ini dengan baik saat kalian di luar nanti. Bahkan, saya yakin dengan seyakin yakinnya, kalian akan membawa nama Almamater ini ke kancah dunia. Sekian Dan terima kasih.
Bana Fatahillah,
(Tukang Semprot Subuh)
Depok,
Jum'at, 2 Agustus 2019

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...