Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Gus Idrus: Toleransi itu ada Batasannya



Oleh: Bana Fatahillah
(Santri al-Azhar)

Dalam pertemuan bersama Kyai Idrus Ramli pada Kamis pagi (17/10) kemarin, kawan saya yang bernama Lalu bertanya soal apa itu toleransi. Katanya, kenapa kita ini sering sekali dibenturkan dengan masalah toleran. “dikit-dikit toleran, dikit-dikit toleran, memangnya toleran itu seperti apa sih, Kyai?” tanyanya.

Sambil membenarkan posisi duduknya dan meminum seteuk air putih, Gus Idrus berkata: toleransi sejatinya adalah menjaga hubungan dengan orang yang berbeda agama dan tidak mengganggunya. Terkait hal ini konsep fikih sudah jelas. Dalam pergaulan atau pertemanan, misalnya, maka seorang muslim diperbolehkan bergaul dengan teman diluar agamanya, walaupun yang diperbolehkan hanyalah pertemanan secara zahir.

Misalnya, Anda punya kenalan orang non-muslim. Maka tidak salah jika Anda mengenal dia, dan dia juga mengenal anda. Atau saling membutuhkan satu sama lain. Misalnya, kita kerja di tempat dia, atau sebaliknya. Begitupun dalam hal muamalah lain sepert jual beli, bertetangga dsb. Itu semua tidak masalah. Yang tidak boleh itu, kata Gus Idrus, adalah ikatan secara batin.

Maksudnya hubungan secara batin ialah, hubungan yang sampai pada taraf mengetahui rahasia masing-masing. Kita tahu mereka, mereka tahu kita “atas dasar agama”. Hal seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama. Dan menurut saya, orang non-muslim tidak menaruh hati kok, jika mengetahui ada ajaran seperti ini dalam Islam. Sebagaimana kita juga biasa saja, jika ada agama lain menyinggung agama kita dalam ajarannya.

Sekali lagi, ini bukan berarti kita tidak boleh berbuat baik. Islam mengatur sedemikian rupa hak bertetangga. Bahkan Rasulullah mengajarkan kita bagaimana hidup bertentangga, baik dengan muslim ataupun non-muslim. Berikanlah apa yang lebih dari harta kita kepada mereka, kecuali zakat, jika mereka membutuhkan. Sebab demikianlah Islam mengajarkan umatnya

Tapi ingat, lanjut Gus Idrus, toleransi itu ada batasannya. Hal ini karena toleransi menyangkut dengan hubungan. Sederhananya seperti ini, misalnya Kamu punya istri, trus kawanmu datang lantas memegangnya. Nah lantas kawanmu ini bilang: “ya mbok jangan marah lah, kan saya Cuma pegang-pegang aja, toleran dikit lah!” Kira-kira nih, kamu sebagai suami yang masih waras dan sadar, marah atau tidak dengan perlakuan kawanmu?

Kalau kamu tinggal di barat yang kering akan nilai agama, hal ini biasa saja. Mau dipegang-pegang ataupun cipikia-cipiki ya tidak masalah. Sebab disana orang bebas mengekspresikan kehendaknya. Tapi sebagai orang Islam yang teguh akan nilai dan ajarannya, perbuatan seperti ini tidak mungkin kita anggap hal yang biasa. Ini kemungkaran. Tidak ada toleran di sini.

Karenanya, toleransi itu ada batasannya. Orang-orang yang “sok” toleran itu sejatinya tidak menjelaskan apa batasan toleran itu sendiri. Sebagai agama, Islam mempunyai garis merah yang tidak boleh diotak-atik. Sebagai contoh, permasalahan terkait kesyirikan itu dosanya besar. Di dalam al-Qur`an disebutkan bahwa dosa yang paling besar adalah meyekutukan Allah. Kita tidak perlu bangga melihat kesyirikan. Ritual ibadah di rumah peribadatan non-muslim adalah bentuk kesyirikan. Jadi kita tidak perlu menyaksikannya, apalagi turut senang dengan perbuatan mereka. Jadi ya kalo mau toleran tidak usah kebablasan.

Sekedar bercerita, dulu saya (penulis) punya pengalaman berteman dengan orang-non muslim sewaktu di kampus lama. Kami berteman baik. Saya suka nraktir dia, dia pun kadang –bahkan sering– nraktir saya kalau lagi jam istirahat. Di kelas, dia sering mengajarkan saya, dan saya pun juga terkadang mengajarkan dia. Tapi nih, tidak ada ceritanya teman saya yang non muslim itu masuk ke masjid. Sekalipun mau nungguin saya, mereka pasti duduk di luar masjid. Dan itu sama sekali tidak menyakiti saya sebagai seorang muslim. Itu malah menghormati.

Bukan apa-apa, saya terkadang aneh saja sama orang-orang yang masuk ke rumah ibadah orang lain hanya karena ingin dianggap toleran. Masih banyak kok perbuatan baik lain yang bisa dikerjakan jika sekedar untuk dianggap toleran pada agama lain. Apalagi lagi pas ngeliat cuplikan film the santri. Lagian lebay banget pakai ngasih tumpeng segala ke gereja. Temen-temen non-muslim saya aja, yang udah klop satu tongkrongan, kalau nungguin saya shalat di masjid, nunggunya di luar kok. Sekalipun mereka bawain KFC, gak ada tuh ceritanya nyamperin saya ke dalam. Jadi sekali lagi, toleransi itu ada batasannya.

Tapi ini bukan berarti juga kita tidak menghormati mereka, mengejek mereka atau menyakiti hati seenaknya. Misalnya, ketika ketemu di jalan kita bilang “eh dasar kafir!”, bukan seperti itu! Islam tidak mengajarkan seperti itu. sebagaiman yang dijelaskan di atas, kita haruslah menjaga muamalah kita terhadap sesama manusia.

Sebenarnya selama ini toleransi sudah berjalan baik di Nusantara. Sejak dulu non-muslim tidak ada yang terganggu saat hidup dengan orang Muslim. Kerajaan sriwijaya yang mayoritas agama budha, kini tidak ada bekasnya satupun di Palembang. Dan hebatnya dakwah para ulama kita tidak militant dengan genjatan senjata. Justru malah sebaliknya, ketika non-muslim yang menjadi mayoritas, justru Islam yang terganggu. Seperti kita lihat di barat.

Jadi sekali lagi, tanyakan sama dia yang “sok” toleransi, boleh gak kita pegang-pegang istrinya. Kalau tidak boleh berarti ia tidak toleran. Atau hendaknya ia menjelaskan apa batasan dalam toleransi itu. sebab kita sebagai muslim bukan tidak toleran, tapi memang ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam berhubungan. Sekian. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Disampaikan oleh Kyai Idrus Ramli di Asraa Pelajar Johor saat berkunjung dan bersilaturrahim serta sarapan bersama.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia