Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Ngaji Kitab Al-Munqidz Min Al-Dhalal (1): Sebuah Pengantar

 


Munqidz adalah otobiografi Imam Al-Ghazali yang memikat banyak intelektual dunia, baik barat maupun timur. Sebagai bukti, terhitung sejak abad ke-19 buku ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Hungaria dan lain sebagainya, begitupun Indonesia yang sudah menerjemahkan buku ini sejak 1962 oleh KH. Abdullah bin Nuh. 

“Barat sudah mengkaji buku ini jauh 100 tahun lalu. Kalau kita (umat Islam) baru mengkajinya sekarang itu berarti kita sangat ketinggalan dengan barat,” ujar Dr. Syamsuddin Arif diawal pemaparan. 

Buku ini merekam jelas bagaimana pengalaman Al-Ghazali yang mengalami pergolakan intelektual dalam proses mencari kebenaran. Pengalaman ini tertuangkan atas dasar permintaan seorang kawan yang ingin mengetahui perjalanan intelektual imam al-Ghazali. Ia bertanya tentang apa itu tujuan ilmu, apa saja kerancuan dan tipu daya berbagai sekte, bagaimana seorang Al-Ghazali bisa selamat dari kekacauan kelompok-kelompok tersebut,  hingha benar2 yakin dan bisa keluar dari belenggu taklid. 

Secara garis besar buku ini dapat dibagi menjadi 4 bagian. Pertama adalah pembukaan al-Ghazali dimana beliau menceritakan bagaimana pengalaman intelektualnya. Kedua, tentang aliran2 dalam mencari ilmu pengetahuan & kebenaran, disertai bantahan atas kebatilan kelompok mereka. Ketiga, kenabian dan urgensi wahyu. Keempat, tentang keputusan AlGhazali untuk kembali mengajar dan menulis buku. 

Terkait banyaknya sekte yang ada—sbgmn yg banyak dibahas dibuku ini— al-Ghazali menyebutkan bahwa ini adalah permasalahan kompleks yang banyak orang terjatuh di dalamnya. Karenanya untuk menguatkan pencarian hakikat kebenaran itu, al-Ghazali berusaha menyelidiki tiap kepercayaan, aliran pemikiran serta mengkajinya untuk membuktikan mana yang paling benar. Apakah Batiniyyah, Zahiriiyyah, Filosof, mutakallim, Sufi, atau bahkan kaum Zindiq yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan.   

Yang perlu digarisbawahi adalah: pencarian ini sudah ditekuni sejak ia baligh sekitar umur 20 tahun hingga menulis kitab Al-Munqidz tersebut–sekitar umur 50 tahun. Dan riset ini bukan riset alakadarnya yang sekadar tau menau saja. Akan tetapi ia sampai menyeburkan dirinya ke dalam pemikiran tersebut serta menelaah dan mengkajinya. 

Dan tak perlu heran dengan langkah al-Ghazali yang ‘se-ekstrem’ ini, sebab sifat haus akan mencari kebenaran ini, ujar beliau,  sudah menjadi tradisi dan kebiasaan dalam dirinya, yang menurutnya merupakan fitrah dan karunia yang diletakkan oleh Allah Swt dalam dirinya, bukan pilihanya sendiri. Sehingga dengannya pun ia terlepas dari belenggu taklid dan meremukkan benteng kepercayaan yang diwariskan sejak kecil.

Menurutnya kebenaran sejati tau ilmu yaqini adalah meyakini sesuatu dengan yakin, jelas tanpa keraguan sama sekali, bahkan ia merasa aman dari kesalahan. Keyakinan ini harus melekat pada diri seorang yang seandainya ada orang yang mencoba menggoyahkannya dengan mendatangkan sihir sekalipun, keyakinan itu tetap kokoh dan tidak tergoncangkan. Inilah menurutnya kebenaran hakiki tersebut. 

“kalau saya tau bahwa 10 itu lebih besar dari 3, kemudian datang seseorang mengatakan bahwa 3 lebih besar dari sepuluh dengan menyulap batu menjadi emas dan tongkat menjadi ular, saya tidak akan ragu sedikitpun dengan kebenaran tersebut… adapun hal-hal yang kebenaranya tidak seperti ini (yakni tidak dengan keyakinan yang kuat) itu adalah pengetahuan yang tidak bisa dipercaya, dan itu bukanlah kebenaran hakiki atau ilmul yaqiini” tulis Imam Ghazali 

Gejolak Kejiwaan Al-Ghazali tentang Kebenaran

Karena kuatnya gejolak al-Ghazali dalam mencari kebenaran, ia pun sampai pada titik dimana harus menguji validitas semua kebenaran yang diketahuinya. Menggunakan istilah Dr. Syam, kala itu al-Ghazali dilanda skeptisisme mutlak yang membuatnya terjatuh dalam sumur sophisme (krisis epistimologi dan psikologis). Ia meragukan semua jenis pengetahuan, bahkan dalam kebenaran empiris (pengalaman indrawi) yang kasat mata. 

Memang pada awalnya ia mendasarkan pengetahuannya pada hal-hal indrawi (empiric). Tapi ternyata itu tergoncangkan. Sebab data empiris ini, menurutnya, dibatalkan/disalahkan oleh pembuktian akal secara geometris/matematis. Ia memberikan contoh dengan benda langit, saat panca indra (mata) melihat benda-benda langit itu kecil, namun geometri menyajikan fakta bahwa bintang lebih besar dari bumi. Itu artinya data-data yang disajikan oleh indra seringkali bertolak belakang dan tidak sesuai fakta. 

Ia pun akhirnya menuju pada kebenaran yang disajikan oleh akal. Sebagaimana penganut rasionalisme, al-Ghazali saat itu meyakini satu-satunya kebenaran yang abash dan dapat dipercaya adalah yang didapat dari akal. Ia memberi contoh bahwa semua akan sepakat bahwa 10 lebih besar dari tiga, tidak ada hal yang kontradiktif yang terjadi dalam satu waktu, seperti ada dan tiada, bergerak dan diam dalam satu waktu begitupun kebenaran-kebenaran akal lainnya yang sangat sulit dipatahkan. 

Namun saat merasa aman dengan kebenaran rasio ini, ternyata al-Ghazali kembali dirumitkan dengan beberapa pertanyaan yang membuatnya ragu.  Menurut ustadz Syam, hal yang membuat ragu ini adalah bahwa disana ada otoritas lain diatas akal yang turut menghukumi terhadap kebenaran, yang seandainya hal ini muncul, maka apa yang dihukumi akal pada akhirnya akan tertolak juga.

Otoritas diatas akal inilah yang dinamakan dengan data intuitif (irfani). al-Ghazali sampai pada suatu kesimpulan bahwa data-data empirical dan rasio tersebut sampai akhirnya akan terus bertentangan, hingha pada akhirnya ia menaruh kepercayaannya pada kebenaran intuitif (mukasyafah).

Al-Ghazali mempermisalkan metode ini dengan orang yang sedang mimpi. Saat seorang bermimpi, mimpi sedang berpergian kemana misalnya, nah setelah ia terbangun dari tidurnya akal dan idra nya sama sekali tidak bisa menerka kebenaran mimpi tersebut. tapi secara yakin kita mengetahui bahwa barusan kita mengalami sebuah mimpi dimana kita sedang berjalan ke suatu tempat. Inilah data intuitif yang ingin dimaksudkan Ghazali. Ia menamainya dengan cahaya ilahi (nurullah). Orang yang sudah mendapatkan cahaya ini ia akan mengetahui hal-hal diluar akal dan indrawinya. Pada hal inilah akhirnya al-Ghazali condong dan sampai pada kebenaran sejati itu.  

Pengetahun sejati bagi Al-Ghazali bukan diraih dari berbagai argumen logis. Pikiran manusia akan menjadi objektif apabila hati manusia tersinari pancaran Nur Ilahi (cahaya Tuhan). Cahaya itu, menurt Al-Ghazali yang perlu dicari untuk mencapai (pengetahuan sejati tanpa adanya penghalang).


Bana Fatahillah

Gamaleyya, Kairo

Sabtu, 26 September 2020

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia