Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Ngaji Kitab Al-Munqidz min Al-Dhalal (3): Kerancuan Bathiniyyah
Masih seputar doktrin falasifah. Bagi al-Ghazali karena mencampurkan perkataan Nabi dan para Sufi di kitab-kitab mereka, maka muculah dua efek negatif dari kajian filsafat/sains. Pertama bagi yang menolak filsafat secara keseluruhan (total rejection) kedua bagi orang yang menelannya mentah-mentah (total acception).
Yang pertama karena menilai kebenaran dari seseorang, atau terjebak pada argumentum ad hominem: “A Is wrong and must be rejected. Wahtever A says is wrong, A says F, so F is wrong”. Sepertihalnya orang yang menyangkal perkataan seorang Nasrani “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Rasul Allah” hanya karena ia kafir atau karena mengingkari kenabian Muhammad Saw. Padahal kebenaran tidaklah dilihat dari seseorang.
Dalam hal ini Sayyidina Ali Ra mengingatkan: “Jangan mengenali kebenaran dari seseorang, tapi kenalilah kebenaran nanti kau tau siapa orangnya” (laa ta’rifil haqqa minarrijaal, I’rifil haqqa ta’rif rijaalahu). Kata al-Ghazali sikap anti-filsafat/sains seperti ini akan merugikan diri sendiri jika ternyata banyak manfaat yang bisa diambil dari kitab-kitab mereka. Jangan kita membuang sebuah madu hanya karena disuguhkan di cawan bekas bekam!! (falaa yu’aaful ‘asala wa in wajadahu fi mihjamatil hujjam)
Sedangkan yang kedua ialah yang menerima secara mentah-mentah. Menurut Dr. Syam tidak sedikit orang yang tersihir dengan berbagai retorika dan persuasi para filusuf dan kelompok sesat lainnya hingga terjebak dalam doktrin mereka. Maka untuk orang-orang seperti ini kata al-Ghazali wajib untuk dijauhkan dari kitab-kitab seperti filsafat agar tidak terjerumus di dalamnya. Sebagaimana kita harus menjaga orang yang tidak bisa berenang saat berada di pinggiran laut.
yang diwanti-wanti oleh al-Ghazali, baik dari dari kalangan yang anti-filsafat atau menelannya mentah2 sebenarnya adalah orang yang lemah akalnya atau orang awam. Sebab mereka tidak bisa bersikap selektif. Ini Ibarat orang ‘ndeso’ yang lugu yang tidak bisa membedakan mana uang palsu dan mana yang asli. Berbeda dengan penukar uang yang ahli yang lihai dalam hal tersebut. karenanya sindirian al-Ghazali ini agaknya memang kepada orang awam yang bahasanya ‘kurang piknik’
Ta’limiyyah (Syiah Isma’iliyyah Bathiniyyah)
Ta’liimiyyah yang dimaksud al-Ghazali adalah sekte Syi’ah Isma’iliyyah atau yang sering disebut oleh sebagian orientalis dengan ‘Imamism’. Sebagaimana namanya, aliran ini berpendapat bahwa setiap orang butuh pengajaran (al-Ta’lim) dan bimbingan dari seorang guru (muallim) yang ma’shum, suci terlindungi dari dosa. Keberadaan muallim yang ma’shum ini sangatlah penting, sebab menurut mereka kebenaran tidak akan sampai tanpa kehadirannya.
Ketertarikan al-Ghazali menyelidiki Bathiniyyah bukanlah sebatas keingintahuannya, melainkan perintah dari kantor kerajaan saat itu untuk membuat satu buku khusus terkait aliran Ta’limiyyah–meskipun dorongan hatinyalah yang lebih mendominasi. Ia pun mengkaji, mengumpulkan data-data, menyertakan pokok2 pikiran juga argumentasi mereka sekaligus counter argumentasinya dengan serapih dan sejelas dan seobjektif mungkin.
Buku yang dibuat itu secara garis besar memaprkan argumentasi Bathiniyyah diawal dan sanggahannya dibagian kedua. Meski metode ini dikritik oleh sebagian orang dengan asumsi bahwa akan ada orang yang justru termakan doktrin Bathiniyyah setelah membaca pemaparan awal tanpa membaca jawaban dan bantahannya, namun al-Ghazali dapat menjawabnya; bahwa sebuah kritikan tidak bisa hadir tanpa adanya pemaparan argumentasi terlebih dahulu (wa laa yumkinul jawaab illa ba’dal hikaayati ‘anhaa)
Namun didalam al-Munqidz al-Ghazali tidak menjawab secara terperinci bantahan atas kelompok Ta’limiyyah. Ia hanya menyajikan sejumlah dialog imajiner antara dirinya dan kelompok mereka sebagai bukti bahwa asumsi mereka hanyalah omong kosong.
Sebagai contoh saja, dakwaan mereka tentang kebenaran yang hanya datang dari Imam yang maksum terbantahkan dengan kasus-kasus baru yang tidak ada dalam teks agama; apakah semuanya harus dirujuk pada imam tersebut hingga mendapat sebuah kebenaran? Kata Dr. Syam ini tidak praktis dan rasional. Bahkan al-Ghazali membuat semacam lelucon/sindiran: “Apakah seseorang yang bingung arah kiblat harus pergi ke tempat imam maksum itu agar ditunjukkan arah kiblat yang benar… kalau seperti itukeburu habis waktu shalatnya!” (hal. 83)
Hakikatnya mereka adalah kelompok yang menolak otoritas akal dalam mengetahui kebenaran. karenanya al-Ghazali pun menulis sebuah kitab berjudul al-Qisthos al-Mustaqim sebagai satu standar universal kebenaran yang bisa diterima semua orang. Standar atau tolak ukur ini, kata al-Ghazali, termaktub dalam al-Qur’an dan disepakati oleh pakar logika juga teolog sebab sejalan dengan nalar tiap orang.
Namun karena sifat ‘batu’ dan fanatisme kelompok ini, mereka akan terus menolak dan membantah apapun argumentasi yang disanggahkan atas mereka. Al-Ghazali pun pada akhirnya angkat tangan atas mereka (falamma khabarnaahum nafadhnaal yada ‘anhum).
Namun sekali lagi Munqidz bukanlah tempat al-Ghazali melepaskan bantahannya terhadap Ta’limiyyah. Munqidz hanyalah curahan hati sang hujjatul Islam bahwa ternyata Ta’limiyyah belum bisa mengobati krisis intelektualnya dalam mencari sebuah kebenaran yang hakiki. Maka jika ingin menelusuri bantahan yang dituliskan al-Ghazali terhadap aliran tersebut bisa merujuk ke kitab-kitabnya yang berjudul “AL-Mustazhiriy”, “Hujjatul Haq”, “Mufasshilul Khilaaf” “Al-Daraj”, “AL-Qisthosul Mustaqim” atau “Al-Fadhoih AL-Bathiniyyah”
Gamaleyya, Kairo
Jumat, 9 Oktober 2020
Bana Fatahillah

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...