Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Menyoal Tuhan dan Kehendak-Nya; Sebuah Catatan untuk Coki Pardede

 


Oleh: Bana Fatahillah 

(Santri Al-Azhar)

Lewat di beranda IG saya akun @premantquote.idn berisi potongan video komika paling ‘open minded’. Ada sejumlah perkataan di video itu yang hendak saya beri catatan. (lihat videonya di sini)

Pertama,

“Saya percaya dengan ke-Maha-Kuasaan Tuhan”.

Sejatinya statement ini mempertontonkan inkonsistensinya sebagai Ateis yang ia kampanyekan. Terlepas dia adalah Ateis aliran inilah itulah, agnostic lah dan apalah itu, setidaknya mengamini kemahakuasaan Tuhan jelas bertolak belakang dengan Ateis. Ibarat orang tidak suka Nasi tapi makan bubur dan lontong. Tidak suka Duren tapi makan pancake. Tidak suka Pisang tapi makan molen. Konsisten dong!

Kedua,  

“Kalau Tuhan berkehendak satu dunia ini punya satu kepercayaan maka mungkin saja. Namun dengan segala kemahakuasaan-Nya ia tidak menjadikan demikian!!”

Narasi ini sejujurnya tidak terlalu bermasalah. Sebab Islam, --terlepas dia percaya atau tidak-- menjelaskan hal yang sama. Dalam surat Yunus Allah berfirman:

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”

Namun, kebebasan memeluk kepercayaan ini bukan artinya perintah untuk tidak memeluk Islam. Bukan juga larangan untuk berdakwah tentang Islam. Ayat ini menjelaskan tentang hidayah merupakan hak preogratif Tuhan. Jadi tidak perlu “memaksakan” nya. Tugas kita hanya berusaha. Hidayah ada di Tangan Tuhan.

Ketiga, dan inilah statement yang hendak saya beri catatan secara berkala. Sing sabar, yo!

“Kalau ada yang tanya, Kapan coki masuk Islam?...”

“Untuk saat ini saya lebih bermanfaat dengan saya sepeerti ini, jadi biarkanlah saya menjalani fungsi saya sebagaimana yang Tuhan telah takdirkan seperti itu”

“Jangan lancang mengambil hak Tuhan dengan menyuruh orang pindah ke Agama yang sebenarnya itu (tidak ditakdirkan).. kalau Dia mau, semua bisa menjadi apapun..”

“Jangan-jangan gua begini karena kehendak-Nya Tuhan juga, kita kan gak tau..”

Setidaknya point yang saya tangkap adalah:

1. Tuhan menakdirkannya berada di posisinya saat ini yang menurutnya "bermanfaat"

2. Karenanya jangan ada yang sok mengambil "peran" Tuhan untuk menyuruh pindah kepada suatu keyakininan. Kenapa? Sebab bisa jadi ini merupakan takdir yang telah Tuhan tetapkan padanya. 

3. Jadi tidak perlu pusing mgnurusi yang sudah Tuhan kehendaki

Kehendak dan Perintah

Kaidahnya, semua yang terjadi di alam ini adalah kehendak Tuhan. Kenapa? Sebab jika ada satu hal saja yang terjadi dan itu di luar kehendak Tuhan, itu meniscayakan “lemah” bagi Tuhan, dan itu mustahil. Al-Quran pun banyak menginfokan ini.

Pertanyaan, apakah itu berarti Tuhan menghendaki hambanya untuk berbuat maksiat dan dosa? Menurut Ahlussunnah, Asyairah dan Maturidiah, Tuhan menghendaki demikian. Dalilnya sebagaimana di atas, jika ada satu hal yang terlewat dari kehendak Tuhan itu meniscayakan lemah bagi-Nya. Dan itu mustahil.

Al-Quran pun turut berkata demikian: Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An’am: 125)

Ayat ini secara jelas mengatakan bahwa Allah Swt menghendaki kesesatan. Namun sebagai adab, kita tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya, melainkan kepada manusia. Coba perhatikan surat As-Syu’ara ayat  (79-80). Saat menggambarkan pemberian makanan dan minuman, Al-Quran menggunakan redaksi “Dialah yang memberikan aku minum dan makan” (alladzī huwa yuth’imunī wa yasqīn). Namun saat sakit, al-Quran mengubah redaksinya dengan “Saat saya sakit” (wa idzaa maridhtu) bukan “ketika Allah membuatku sakit”. Inilah adab kepada Tuhan, yaitu menisbatkan yang baik pada Tuhan dan yang buruk pada Manusia--Kendati semuanya dari-Nya. Ulama juga memberi warning, bahwa argument ini sebaiknya tidak disebarluaskan kecuali dalam majlis ilmu.   

Pertanyaan selanjutnya: apakah itu artinya kita pasrah dengan kehendak Allah atas sebuah keburukan. Dan baik saya maupun Anda –sebagaimana dalam bahasa Coki—tidak perlu mengambil peran Tuhan untuk mengganti ketetapan tersebut?

Disinilah pentingnya membedakan antara kehendak (iradah) dan perintah (amr). Keduanya adalah hal yang berbeda. Terkadang Tuhan berkehendak namun ia tidak memerintahkannya, contohnya kekafiran.

Apakah sebuah kekafiran adalah kehendak Allah? Jawabannya ia. Kenapa? Sebagaimana yang sudah saya ulang di atas, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi lepas dari Kehendak-Nya. Namun apakah Allah memerintahkan kekafiran tersebut? Jawabannya tentu tidak. Tidak perlu bertanya kenapa. Sebab ini jelas, Allah memerintahkan beriman bukan kekafiran.

Di sinilah pentingya berdakwah dan kegiatan Amar ma'ruf nahi Munkar. Mengingatkan apa yang seharusnya diperintahkan oleh Tuhan. 

Setelah ini Mungkin si Coki akan bertanya: Jika ini semua kehendak Tuhan, Lalu untuk apa Tuhan kelak menghukum sesuatu yang memang sudah menjadi kehendak-Nya?

Untuk menjawab persoalan ini saya akan memberikan sebuah analogi. Tujuannya bukan ingin menyamakan “posisi” Tuhan. Namun sebabgai sebuahh pendekatan bagi nalar kita.  

Bayangkan Anda saat ini memiliki seorang pembantu. Suatu hari Anda menyuruhnya –sekali lagi menyuruhnya—untuk membelikan sebuah barang antik dengan harga yang sangat mahal. Anda pun berikan kepadanya satu koper berisikan uang. Sedari awal Anda sudah menghendaki bahwa pembantu ini dengan segala sifat buruknya, masalah yang melandanya, akan Membawa kabur uang tersebut. Dan benar, pembantu Anda itu membawa kabur uang tersebut dan menghilang tanpa jejak.

Suatu hari pembantu itu tertangkap oleh Anda. Kemudian Anda hukum ia dengan hukuman seberat-beratnya. Pertanyaannya: apakah jika pembantu tersebut tidak terima dan mengatakan: “Tuan, bukankah Anda sudah menghendaki –dengan memberikan uang sekoper ini—saya akan membawanya kabur, sebab anda sangat tau diri saya… jadi sejatinya Andalah sumber dari kesalahan ini” Anda akan terima?

Baik saya ataupun Anda pasti akan menyalahkan si pembantu. Kenapa? Sebab (i) sekalipun saya menghendaki hal tersebut, namun apakah saya memerintahkannya? Jelas tidak. Sebab yang saya perintahkan adalah membelikan barang titipan, bukan membawa uangnya kabur. (ii) pembantu itu mempunyai “pilihan” apakah ia akan amanah atau berkhianat. Ia sama sekali tidak terkekang dengan perintah yang Anda berikan. Karenanya jika ia melakukan kesalahan, itu pure “pilihannya” dan berhak dihukum.

Sama halnya dengan perihal kehendak Tuhan. Kita tidak bisa ujug-ujug mengatakan “bukankah Tuhan yang menghendaki saya untuk kafir?” atau “bukankah Tuhan yang menghendaki saya untuk membunuh, mencuri, berzina, dll-nya?” kenapa? Sebab sebagaimana dua jawaban di atas, Tuhan tidak memerintahkan hal tersebut. Inilah perbedaan antara kehendak dan perintah.  

Selanjutnya Anda mempunyai “pilihan” dengan sebebas-bebasnya untuk membunuh dan tidak membunuh; untuk beriman atau kafir; untuk mencuri atau tidak. Anda tidak dalam “kekangan” untuk memilih satu di antara dua pilihan itu. Keduanya adalah hal yang mungkin. Dan karena “pilihan” itulah kita sebagai umat beragama dibebankan oleh sebuah ibadah dan ketaatan. Apakah anda mau berbuat atau tidak. Dua-duanya sangat mungkin.

Jadi tatkala Tuhan menghukum Anda di akhirat kelak, maka sangat tidak pantas Anda protes dengan dalih “bukankah ini semua adalah kehendak-Nya?”

Kembali lagi pada Coki. Jadi ketika ia ngelantur ngomong jangan ngambil hak Tuhan untuk ngubah saya sebab bisa saja posisi saya ini adalah takdir Tuhan, jelas ngawur. Takdir si takdir. Tapi Tuhan tidak memerintahkan demikian. Itupun kalau ia percaya Tuhan.

Terakhir, mendakwahi Anda untuk masuk Islam juga merupakan kehendak Tuhan. Dan Anda tidak perlu campur tangan untuk melarang saya yang mana merupakan kehendak-Nya. Paham, Cok?”

 

Coffe Toffee, Margonda Depok

Rabu, 26 Oktober 2022

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia