Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Inilah Urgensi Mempelajari Ulumul Qur'an

 


"Mengokohkan Pondasi, Menyingkirkan Duri"

Oleh: Bana Fatahillah 

Santri At-Taqwa Depok, tingkat SMP dan SMA baru saja menyelesaikan ujian ulumul Quran pada Selasa, 7/11/2023.

Ulumul Quran merupakan satu disiplin ilmu yang penting dipelajari. Selain mengenalkan hal-hal seputar al-Quran dan mengokohkan keimanan seorang muslim. Ia juga dapat memberi imun untuk menghadapi virus yang disebarkan seputar al-Quran.

Sebab, sebagaimana yang disampaikan Abu Syahbah, Guru Besar Ulumul Quran Universitas Al-Azhar, pasar dari serangan dan tuduhan atas al-Quran umunya adalah mereka perbendaharaan ilmu syariatnya sedikit. Walhasil, ia pun ujug-ujug berani menyalahkan al-Quran, menyerang keotentikannya, bahkan merusak sakralitasnya dengan tindakan seperti membuang dan membakarnya. (lihat Abu Syahbah, Madkhal lidiraasat al-Qur’an al-kariim, hal. 232-233)

Menyingkirkan Duri

Pondasi yang lemah akan membuat satu bangunan rapuh. Itulah gambaran orang yang tidak mempelajari ilmu al-Quran. Berbicara banyak hal mengenai al-Quran, namun lupa akan hal-hal mendasar. Inilah part yang cukup penting dalam pembelajarn ilmu al-Quran. menghalau duri yang bertebaran yang mencederai al-Quran.

Sebagai contoh, seorang orientalis Arthur Jeffery mengatakan bahwasanya pengumpulan Al-Quran dilatarkbelakangi oleh alasan politis. Sebab saat itu terdapat beragam mushaf yang beredar di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Mushaf tersebut berbeda dengan mushaf Utsman. Artinya, ketika mushaf Utsmani dijadikan satu teks standart yang resmi dan digunakan di seluruh wilayah kekuasaan Islam, maka hal itu tidak terlepas dari alasan politik.

“Now when we come to the accounts of Uthman’s recension it quickly becomes clear that his work was no mere matter of removing dialecticak peculuarities in reading, but was a necessary stroke of policy to establish a stadard text for the whole empire” (Materials for The History of the Text of The Quran The Old Codices, hal.8)

Argument ini kritis namun sangat utopis. Sebab jika mengkaji ulumul Quran dengan baik, kita akan mengetahui apa latar belakang Utsman melakukan kembali penghimpunan mushaf. Yaitu menghindari perpecahan antar umat Islam dalam bacaan al-Quran, yang andai tidak diselesaikan maka umat akan berpecah seperti Yahudi yang pecah karena kitab sucinya.

Dan andai mengkajinya dengan kejernihan hati. Niscaya Ia akan mengetahui bahwa para sahabat menyetujui standardisasi ini. Bukan karena ke-otoriter-an Utsman. Namun karena ini kemaslahatan di dalamnya. Mus’ab bin Sa’ad berkata: “Tak seorang pun dari Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan Utsman bin Affan Ra. (adrakat al-Naas hina fa’ala Utsma ma fa’ala, famaa raitu ahadan ankara dzalika, ya’ni min al-Muhaajirin wa al-Anshar wa ahl al-Ilm)

Jadi dimana aspek politik Utsman dalam mengumpulkan al-Quran?

Blunder lainnya, Jeffery juga mengatakan bahwa aksara gundul dalam al-Quranlah yang membuat perbedaan bacaan dalam al-Quran (lengkapnya lihat Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, hal. 97)

Poin ini bukan hanya dia seorang. Masih banyak nama seperti Noldeke, Ignaz Goldziher dan lain sebagainya yang turut menyuarakan. bahwa banyaknya bacaan dalam al-Quran dikarenakan tidak adanya titik dan harakat. Bantahan ini pun sudah banyak, salah satunya yang ditulis oleh Abdul Fattah Al-Qadhi dalam kitab Al-Qiraat fi Nazhri Al-Mustasyriqin.

Tidak ingin bersuuzhon, namun itulah faktanya. Studi al-Quran di Barat tidak murni ‘kajian’. Namun ada niatan lain di dalamnya. Alphonse Mingana pada tahun 1927 mengatakan, “The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures”

“Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.” (lihat  Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta; Gema Insani, 2008, hlm.3)

Bukankah itu Kajian Ilmiah?

Inilah pengajaran al-Quran di Barat, menyesatkan namun dibungkus dengan kemasan “kajian ilmiah” atau “kajian kritis”. Ibarat menjual minyak babi cap onta. Itu semua tak jauh dari tipu daya setan yang selalu menghasut keburukan ke manusia dengan mengemasnya lewat kata-kata yang indah (yuhi ba’dhuhum ila ba’dhin zukhruf al-Qauli Ghurura).

Perlu diketahui Barat bukanlah peradaban independen yang melahirkan ideologinya. Ia merupakan akumulasi dari sejumlah ideologi yang diserap, seperti Yunani, Romawai, Yahudi, Kristen bahkan Islam sekalipun. Semua ideologi ini selain menubuh dalam sikap orang barat, ia juga menjalar dan mengakar pada ilmu pengetahuan kontemporer yang banyak digagas dan berkembang di sana.

Ada lima hal yang menjadi “spirit” dalam ideologi barat. Kelima itu adalah Rasionalisme, Dualisme, Sekularisme, Humanisme dan Tragedi. Menurut Al-Attas, unsur-unsur inilah yang menentukan kebudayaan dan peradaban Barat, pemebentukan konsep pengetahuannya dan arah tujuannya.

(It is these elements that determine for that culture and civilization the moulding of its concept of knowledge and the direction of its purpose, the formulation of its contents and the systematization of its dissemination)

Masih menurut Al-Attas, karenanya, ilmu yang disebarluaskan oleh Barat secara sistematis saat ini bukanlah pengetahuan yang benar. Kenapa? Sebab pengetahuan itu dijiwai dengan karakter dan kepribadian budaya dan peradaban Barat serta diisi dengan spirit yang disesuaikan dengan tujuannya. (but that which is imbued with the character and personality of Western culture and civilization and charged with its spirit and geared to its purpose)

Lebih jelasnya Al-Attas mengatakan bahwa keilmuan barat adalah pengetahuan yang bermasalah karena kehilangan tujuan sejatinya (become problematic because it has lost its true purpose). Dalam bahasa Al-Attas keilmuan barat merupakan “ilmu tipu-tipu” (knowledge which pretends to be real) yang justru menghasilkan kebingungan (confusion) dan keraguan (skepticism), bahkan mengangkat keraguan dan dugaan itu ke peringkat ‘ilmiah’ dalam sebuah metodologi (which has elevated doubt and conjecture to the scientific rank in methodology).

Hasilnya, ilmu itu tidak lagi membawa seseorang menjadi kenal akan dirinya. Dari mana asalnya. Siapa yang menciptakannya. Apa statusnya, apakah hamba atau pencipta. Tujuan hidupnya. Dan lain sebagainya. Ilmu itu tak lain hanya membuat seseorang jauh dari Tuhannya. Inilah akhirnya yang membuat mereka confuse.

Meneguhkan Keberislaman Kita

Mempelajari ulumul Quran seharusnya semakin meneguhkan keberislaman seorang Muslim. Juga kebanggaannya sebagai umat Muslim. Dimana kita memiliki kitab suci yang otentik yang langsung diwahyukan oleh Tuhan kepada utusan-Nya; Tidak mengalami perubahan ditengah terpaan zaman; dihafal oleh pemeluknya; memiliki riwayat sejarah yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan.  

Ini semua justru harus membuat seorang Musliim yakin dengan agamanya. Bukan malah ragu dengan kitab sucinya, sebagaimana yang terjadi pada studi di Barat.

 

Pesantren At-Taqwa Depok

Depok, 7 November 2023

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia