Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Menyelami Pesan Ilahi Lewat Ilmu Ma'ani

 


Oleh: Bana Fatahillah

Secara ringkas, maani adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana mengatur keadaan bahasa Arab sesuai situasi dan kondisinya.

Kapan redaksi sebuah perkataan harus dipanjangankan, diringkas, dikedepankan, diakhirkan, dan lain sebagainya yang mana itu semua dituntut oleh keadaan. Saya lebih suka menyebutnya dengan filsafat tata letak bahasa Arab.

Memahami ilmu ma’ani membuat seseorang mampu menyelami pesan ilahi. Ibarat pemandangan lautan, seseorang tidak hanya diberikan keindahan permukaannya saja. Namun juga dipertontonkan keindahan di dalam laut dengan alat selam bernama ilmu maani.

Misalnya saja, saat membaca kisah pertarungan Nabi Musa dan para penyihir. Anda akan mendapati bahwa redaksi yang digunakan al-Quran adalah kalimat bentuk pasif, alias menyembunyikan subjeknya, yaitu Nabi Musa. Perhatikan ayatnya:

 فغُلِبُواهُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صٰغِرِيْنَۚ وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ

“Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina” 

Pertanyaannya, mengapa Allah tidak menggunakan kalimat aktif sehingga redaksinya: “Nabi Musa mengalahkan para penyihir itu”, namun justru menyembunyikan subjeknya. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa sejatinya yang menang bukanlah Nabi Musa, melainkan Allah yang menguatkan Nabi Musa, merubah tongkatnya menjadi ular hingga memakan semua ular-ular kecil.

Kalau dikatakan “Musa mengalahkan mereka” (faghalabahum musa), maka akan terbesit bahwa Musa-lah yang hebat atau semua ini adalah perbuatannya. Padahal nyatanya tidak seperti itu. Bukankah al-Quran mengatkan bahwa kala itu terlintas rasa takut dalam diri Nabi Musa (wa awjasa minhum khīfah) ketika melihat tali temali dan tongkat-tongkat yang terlihat seperti ular (Qs. 20: 66)

Begitulah rahasia dibalik sebuah penghapusan redaksi (al-Hadzf). Salah satunya penghapusan subjek (hadzf al-Faail). yang merupakan salah satu pembahasan ma’ani.

Terkait bab hadzf, jika kita memperhatikan al-Quran, saat menyandarkan sebuah pekerjaan yang –pekerjaan itu—hanya bisa dilakukan oleh Allah. Maka al-Quran akan melukiskannya dengan kalimat pasif, seperti “perkara itu telah ditetapkan” (wa qudiya al-Amru), “yang beriman atas apa telah diturunkan kepadamu” (yu’minūna bimā Unzila Ilaika) dan lain sebagainya. Ini ingin menunjukan bahwa tidak ada satupun yang bisa ikut serta dalam perbuatan ini. (Lihat Khasaais Al-Taraakib, hal. 235)

Itu baru satu dalam bab ilmu maani, bernama al-Dzikru wa al-Hadzfu.

Contoh lain adalah pada bab al-Taqdim wa al-Takhir, yang membahas seputar kapan sebuah kalimat didahulukan atau diakhirkan. Menurut saya bab ini sangat membantu dalam menyelami keindahan pesan ilahi. Coba simak ayat berikut:

﴿ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ ﴾

“Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung)” (Qs. Al-Anbiya: 90)

Pertanyaannya, bukankah seharusnya ayat ini mendahulukan informasi sembuhnya istri Nabi Zakaria, barulah kemudian informasi mereka dikaruniai anak bernama Yahya. Sebab kehamilan seorang wanita tidak bisa terjadi jika ia masih terkena penyakit mandul?

Jawaban ini bisa kita temukan dalam ilmu ma’ani. Bahwa rahasia di balik dikedepankannya sesuatu yang harusnya diakhirkan, adalah untuk menyegerakan rasa senang kepada pendengar (ta’jiil al-Masarrah). Dengan mendahulukan pemberian seorang anak bernama Yahya, tentu membuat Nabi Zakaria senang.

Selain itu hal ini karena konteks (siyaaq) ayat menuntut demikian. Pada ayat sebelumnya, Al-Quran menggambarkan permintaan Nabi Zakaria, yaitu diberikan keturunan. Bukan kesembuhan istrinya. Karenanya yang dikedepankan adalah kabar gembira berupa pemberian sang buah hati.

Ini juga merupakan bentuk kebesaran Allah Swt, yang seakan hendak mengabulkan doa Nabi Zakaria, dan hendak menegaskan bahwa Aku mampu mengabulkan doamu, yakni memberimu keturunan, sekalipun dalam keadaan istrimu yang masih mandul. (lihat Al-Bayaan fi Rawaa’ al-Qur’an, hal. 95-96).

Sama halnya dengan kisah Nabi Musa. Firman Allah yang berbunyi:

﴿ قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى ﴾

“(Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” (Qs. Thaha: 18)

Dari sekian kegunaan dan fungsi tongkat, mengapa yang dikedepankan adalah sebagai sandaran dirinya. Jawabannya karena kemaslahatan atas dirinya lebih dikedepankan daripada maslahat lainnya. Nabi Musa pun kala itu dalam keadaan safar, di mana sangat dibantu dengan tongkat yang digenggamannya. (lihat Min Asraar Al-Bayaan Al-Qur’aniy, hal. 230)

Terakhir, sebagai sebuah contoh, adalah pembahasan ta’rif dan tankir. Benar adanya, pembahasan ini turut dibahas dalam ilmu nahwu. Namun dalam ma’ani, makna yang diberikan lebih mendalam. Coba perhatikan ayat ini:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى

“Ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tahu apa yang dia (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidak sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)

Fokus kepada kalimat terakhir dalam ayat tersebut. Jika melihat penggalan ayat itu secara harfiah, akan terbesit adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki secara umum.

Namun jika dilihat dari kacamata ilmu maani, hal tersebut tidak akan terlintas. Sebab makna Alif Lam yang ada pada lafadz Al-Dzakar dan Al-Untsa bukan menunjukan pada jenis (lil jins). Artinya Ayat tersebut bukan hendak membadingkan jenis laki-laki dan Perempuan. Bukan.

Alif lam di sana bermakna al-‘Ahd, atau sebuah paham yang mengikat antara kedua pembicara. Artinya, laki-laki yang dimaksud bukanlah seluruh laki-laki atau seluruh bangsa perempuan. Melainkan, anak laki-laki yang diinginkan oleh ibunda Maryam. Adapun perempuan adalah perempuan yang dikaruniai oleh Allah, yaitu Maryam. Ini hendak memberikan pesan kepada ibunda Maryam, bahwa perempuan ini akan lebih mulia dari laki-laki yang engkau harapkan bekhidmah untuk Baitul Maqdis.

Terapkan dalam Kehidupan

Pada akhirnya, ilmu maani tidak hanya membantu dalam menelaah al-Quran dan hadis semata. Siapapun yang belajar ilmu maani akan terbantu dalam menyusun kalimat yang akan ia tulis. Teori jurnalistik yang diajarkan di kelas-kelas, bisa dipakai jika memahami ilmu ini. seseorang jadi tau kapan harus menghapus, menyebutkan, mengedepankan, memakai bentuk tanya, perintah, larangan, namun maksudnya adalah informasi, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam bi al-Shawab

*Disampaikan dalam pembukaan kelas Ilmu Ma’ani Mahasiswa STID Moh. Natsir, pada Jum’at 6 Oktober 2023 di Pesantren At-Taqwa Depok.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia