Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Memahami Konsep Takwil dan Penyalahgunaannya

 





Oleh: Bana Fatahillah

Secara garis besar buku Falsafat al-Takwīl karya Prof. Muhammad Salim Abu Ashi mengurai 3 bahasan utama. Pertama, istilah takwil dan tafsir. Kedua, pakem dalam menakwilkan ayat. Ketiga, kekeliruan sejumlah modernis dalam melakukan penakwilan. Berikut uraiannya satu per satu.

Takwil dan Tafsir

Sejumlah ulama meyakini adanya kesamaan antara tafsir dan takwil. Ibnu Jarir Al-Thabari misalnya yang berkata bahwa takwil dalam bahasa Arab artinya al-Tafsir (penjelas), al-Marji’ (rujukan) dan al-Mashir (tempat kembali). Ini terbukti dalam buku tafsirnya saat mengatakan: “takwil” dari ayat ini adalah ini (al-Qaul fi Ta’wīl Qaulihi ta’ala kadza wa kadza) maksudnya adalah tafsir.

Senada dengan hal tersebut Al-Jauhari dalam Al-Shihhāh mengatakan bahwa kata a-wa-la yang merupakan akar dari takwil merupakan tafsir, yakni yang menjadi tempat kembali (tafsīrun ma ya’ūlu ilaihi Sya’iun).

Namun tak sedikit dari ulama yang kemudian membedakan keduanya. Salah satunya Raghib Al-Ashfahani, juga sederet nama ulama kontemporer seperti Husain Al-Dzahabi.

Al-Dzahabi dalam Al-Tafsīr wa Al-Mufassirūn menyatakan bahwa sumber tafsir adalah riwayat, adapun takwil dirayat (pemahaman). Hal ini karena makna tafsir adalah menyingkap (al-Kasyfu) dan menjelaskan (al-Bayan), yang mana ini tidak bisa dipastikan kecuali dengan apa yang datang dari Rasulullah atau para sahabat.

Adapun takwil ia merupakan penjelasan yang diperoleh dari ijtihad setelah meneliti nash. Sebab fokus utama dari takwil adalah mengunggulkan satu dari banyaknya kemungkinan lafadz dengan dalil (tarjīhu ahadi al-Muhtamalāt bi al-Dalil), yang mana ini membutuhkan ijtihad. 

Pendapat ini dikritik oleh Ibrahim Khalifah, seorang Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universtitas Al-Azhar. Perdebatannya sangat panjang. Pada intinya Ibrahim Khalifah tidak setuju jika kepastian makna itu hanya didapat oleh riwayat semata. Sebab berapa banyak ayat yang tafsirannya kita ketahui sekadar melihat zahir ayat tersebut, misalnya, atau menggunakan akal saja. Seperti halnya ayat qul huwallahu ahad.

Di ujung perdebatan itu, Ibrahim Khalifah hendak mengatakan tafsir lebih khusus dari takwil. Sebab tafsir bisa diperoleh dengan penalaran akal (ijtihad) ataupun tidak. Namun takwil disyaratkan adanya penalaran dengan menelaah berbagai teks lainnya. Karena itu menurutnya, takwil lebih umum dari tafsir. Setiap takwil adalah tafsir namun tidak sebaliknya. (Lihat Maqālāt fī Al-Takwīl: hal. 31-36)

Takwil dan Pakemnya

Konsep takwil bukanlah barang baru. Ia telah dibahas dan diperbincangkan oleh ulama, tepatnya ulama tafsir dan ushul fikih. Kendati berbeda, namun mereka bersepakat bahwa takwil adalah menggiring satu kata dari makna zahirnya.

Namun sebuah penakwilan tidak bisa sembarang. Di sana terdapat pakem-pakem yang harus dipenuhi, di antaranya:

Penakwilan haruslah mengikuti kaidah bahasa yang berlaku. Penafsiran apapun yang menyimpang kaidah umum bahasa Arab maka tertolak. Jika ada yang menafsirkan baqarah dengan Sayyidah Aisyah dalam ayat “Seungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi (baqarah)” maka itu tertolak. Sebab bahasa Arab tidak mengenal pemaknaan ini.

Ulama bersepakat bahwa seseorang harus mengikuti zahir teks dan tidak berpaling darinya ke makna lain sebelum ada indikator (qariinah) yang menggiringnya. Inilah sejatinya makna takwil yang difahami dalam Islam.

Seminar Kitab Falsafah Al-Takwil, (Jum'at, 27/2/2024)

Prof. Muhammad Salim Abu Ashi, penulis buku Falsafah Al-Takwil mengingatkan bahwa Indikator atau dalil inilah yang perlu diberikan garis merah. Bahwa seseorang tidak bisa menggiring lafadz pada makna lainnya sebelum ada dalil. Baik dalil tersebut berupa teks, akal, siyaq atau bahasa. Inilah pakem yang disajikan oleh takwil dalam Islam.

Dari sini dapat difahami bahwa penolakan takwil bukanlah sesuatu yang mendasar. Sebab takwil sendiri sudah ada dalam tubuh bahasa Arab. Bisa dikatakan takwil adalah majaz sebagaimana dalam istilah ilmu balaghoh.

Selain itu, seorang pembaca teks haruslah mengamati siyaq (konteks), yaitu apa yang tertera pada sebelum dan sesudah ayat. Dikatakan oleh sejumlah mufassir, hidupnya sebuah bergantung pada kontkeksnya (Al-Kalimatu tastamiddu Hayātaha min Al-Siyāq).

Terakhir, melihat korelasi (al-Alaaqat) antar ayat dan ayat, maupun ayat dan surat. Harus melihat al-Quran secara komperhensif. Tidak bisa hanya sepotong-potong. Jika hendak membahas tema atau pembahasan tertentu maka seorang mufassir harus mengumpulkan semua ayat yang membahas tentang hal tersebut.

Ia harus mengetahui dalam ilmu dalalah yang ditunjukan dalam al-Quran sebagaimana yang tertera dalam ilmu ushul fikih, seperti am, khas, muthlaq, muqayyad, mubayyan, haqiqah, majaz dan lain sebagainya.

Pembacaan Kontemporer

Ringkasnya, pembacaan kontemporer (contemporary method) merupakan satu metode pembacaan teks yang tidak memiliki pakem, alih-alih mengemasnya dalam sebuah gagasan ilmiah. Dari lima contoh yang disebutkan oleh penulis Falsafah Takwil, satu yang akan kita singgung yaitu Hasan Hanafi.

Salah satu proyek cendekiawan Mesir tersebut adalah membangun ulang bangunan tafsir dengan satu terobosan bernama pembaharuan bahasa (tajdīd al-Lughoh). Bagi Muhammad Salim, ini sejatinya hanyalah ‘trik’ untuk menyingkirkan pemaknaan linguistik/bahasa dalam al-Quran.

Sebab menurut mereka aspek kebahasaan seperti halnya nahwu, shorof dan pemaknaan (dalaaliy) hanya dibuat untuk mengokohkan sekumpulan makna yang memiliki nuansa agamis. Itu semua –menurut Hasan Hanafi – tidak bisa menampung pemaknaan yang ‘sejalan’ dengan realitas kebutuhan hari ini (haajat al-‘Ashr). Walhasil, ujung dari mega proyek ini adalah meruntuhkan pondasi agama melalui penakwilan tanpa pakem dan rambu yang jelas, alias sak karepe dewe. (Lihat Maqaalat fi Al-Takwil, hal. 66)

Alih-alih menolak pemaknaan bahasa juga, ia memberikan syarat dalam pembaharuan bahasa tersebut, harus memiliki aspek rasional dimana sebuah kata dapat direpresentasikan secara indrawi. Karenanya, lafadz-lafadz seperti Allah, surga, neraka, pahala, dosa, merupakan lafadz-lafadz yang tidak bisa berinteraksi dengan akal.

Ini semua tentu keliru. Sebab jika bahasa dibawa kepada setiap pemaknaan, itu artinya ia –bahasa—telah kehilangan perannya sebagai media interaksi antar mitra bicara. Dan jika semua bahasa harus memiliki wujudnya secara fisik, berapa banyak kata dan bahasa yang kita akui keberadaannya kendati ia tidak memiliki wujud di alam luar, seperti akal dan ruh.

Itu pertama. Kedua, Hasan Hanafi mencoba menggunakan pisau analisis pemikiran empirisisme dalam membaca al-Quran dan ilmunya. Hasilnya adalah pernyataan bahwa setiap ayat dalam al-Quran memiliki “peristiwa” yang melatarbelakanginya, yang dianggapnya merupakan konsep asbabun nuzul. Ini semua pada akhirnya hendak mengatakan bahwa al-Quran dibentuk oleh realitas keadaan pada masa itu, dan itu artinya al-Quran tidak lagi sakral karena aspek kemukjizatannya telah tercoreng.

Ini tentu keliru, sebab al-Quran merupakan wahyu yang turun dari Allah SWT. Ia sama sekali tidak dibentuk oleh realitas masyarakat. Sebab jika demikian, seharusnya al-Quran mengafirmasi ideologi jahiliyyah kala itu, seperti minum khamr, berzina menyembah berhala dan berjudi. Namun realitanya al-Quran datang membombardir hal itu semua. Ini membuktikan bahwa al-Quran bukan dibentuk oleh produk pemikiran manusia yang membutuhkan “latar belakang” untuk menulis atau mengatakan sesuatu.

Masih ada sejumlah penakwilan ‘ngawur’ ala Modernis yang pada akhirnya hendak membawa teks sesuai selera pembaca, alih-alih mengatasnamakan kebutuhan manusia. Bagi Prof Muhammad Salim, Al-Quran bisa saja dibawa pada pemaknaan hari ini, yaitu dengan berpegang pada konsep umumnya meski berbeda dalam indovidu yang diberlakukan. Tentu dengan syarat harus sejalan dengan kaidah dan gaya bahasa Arab dan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Inilah yang membedakan penakwilan antara Islam dan selainnya, seperti modernis. Wallahu a’lam bi al-Shawab

 

Depok, 2 Maret 2024

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia