Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Takbiran Tragis, Tradisi yang Kehilangan Esensi



Oleh: Bana Fatahillah

               Sebagus dan semeriah apapun hiasan rumah, pondasi adalah hal terpenting yang tidak boleh diabaikan. Ironinya hari ini tak sedikit yang “rumahnya” diterangi bermacam lampu, diperindah taman dan kolam, namun atap dan pondasinya bobrok.          

Dalam agama pun demikian. Rukun Islam dan Iman adalah pondasinya. Jangan sibuk memilih motif kerudung dan gamis, namun ragu dengan kenabian Muhammad Saw, bahkan keberadaan Allah Swt.

Itu kira-kira gambaran kecil dari pentingnya sebuah “esensi” atau “prinsip”, dan inilah yang hilang dari masyarakat kita hari ini.

Pawai Takbir

Tahun ini saya berlebaran di kampung istri, Kudus. Dari 3 hari menjelang lebaran hingga seminggu setelahnya. Saat malam Idulfitri saya menyaksikan sebuah parade takbiran. Satu tradisi unik yang baru saya saksikan selama hidup.

Setiap desa menyiapkan truk atau semacamnya untuk pawai takbiran bersama. Tiap rombongan akan mengelilingi desanya hingga larut malam. Uniknya, mobil itu tidak “kosongan” alias diberikan semacam “maskot” untuk menghiasi.

Setiap desa memiliki keunikan masing-masing. Desa Medini –rumah istri—menetapkan untuk tidak membuat replika makhluk hidup. Namun kreatifitas mereka tidak terhenti. Dibuatlah replika seperti pesawat, piala liga champions, monas dan lain sebagainya. Desa lainnya beragam, dari hewan seperti macan kaki dua, naga hingga gatotkaca raksasa.

Selain maskot, yang tak kalah penting adalah sound. Mereka menyiapkan sound yang harga sewanya jutaan rupiah. Menurut kabar yang saya dapat, desa Khutuk –salah satu Desa di kecamatan Undaan Kudus—adalah yang memprakarsai ide ini.

Dalam 3 tahun terakhir, Kutuk menjadi desa yang disorot karena meriahkan malam takbiran dengan adu sound. Biaya sewanya 15-50 juta yang ditanggung oelh para pemuda secara swadaya.

Ini bukan sound kaleng-kaleng. Mereka memesan sound horeg, sound system dengan getaran suara keras yang biasa dipakai untuk acara-acara besar. Siapapun akan bergetar dadanya, dan kebisingan jika mendengar, bahkan dari jarak 3-5 meter. Warga pun samapai pasang lakban di jendela rumah agar tak pecah.

Esensi yang Hilang

               Awalnya saya sangat meng-apresiasi acara tersebut. Selain karena hal baru, kreatifitas warga –khususnya anak muda—dalam membuat maskot harus diacungkan jempol. Namun setelah berjalan beberapa lama, saya –dalam bahasa anak jaman sekarang—harus julid.

               Pasalnya, esensi malam Idulfitri itu hilang. Lantunan takbir tidak menggema. Baik yang duduk di mobil bak, atau segerombolan yang ikut jalan di belakangnya, mereka “meneng-meneng wae”. Apa mereka serasa artis yang sedang ditonton?

Kalaupun ada –dan ini yang parah—itu merupakan takbiran yang di-remix dengan musik dj atau “jedag-jedug”. Bahkan tak sekali musik-musik dj keluar dari sound. Walhasil, muda-mudi dan anak-anak bukan bertakbir malah berjoget.

Ini yang membuat saya geleng-geleng kepala.

Peringatan ini juga datang dari khatib di masjid tempat kami shalat Id. Begitupun mbah kami yang turut mempertanyakan esensi dari tradisi ini.

Bahkan acara pawai itu menelan korban jiwa. Di desa Kutuk, satu orang tewas karena senjata tajam usai terjadi tawuran. “Ini yang terakhir, pasalnya ini ada yang kasihan, mahal, kok manfaatnya tidak sebanding, yang penting khidmat!” ujar Supardyono, pak Kades. https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6692554/viral-takbiran-pakai-sound-horeg-di-kutuk-kudus-kades-ini-terakhir

Inilah esensi yang hilang dari sebuah tradisi takbiran

Takbiran

               Perintah pembacaan Takbir ini bisa dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Begitupun hadis Nabi Muhammad Saw:

زيــنوا أعيادَكُــمْ بالتــكبير

“Hiasilah hari id Kalian dengan takbir”

Dari sini mayoritas ulama bahwa bertakbir hukumnya sunnah. Bahkan ada yang mengatakan wajib, yaitu Imam Dawud Al-Zahiriy. Selain menjadi dzikir yang dianjurkan oleh nabi, ia juga menjadi syiar saat hari raya. Allah berfirman:

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah501) sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (Qs. 22: 32)

Di dalam Fathul Qorib ditegaskan:

“Disunnahkan membaca takbir bagi laki-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenamnya matahari malam Idul fitri hingga Imam melakukan shalat id”

               Ada yang berkata jika dilakukan berjamaah maka tidak boleh alias Bid’ah. Itu tidak benar. Sebab kaidah ushul fikihnya, perintah yang redaksinya umum meniscayakan keumuman waktu, tempat juga pelaku. Perintah bertakbir menggunakan redaksi umum. Maka kapan, di mana dan sendiri atau bersamaan, selagi tidak ada dalil yang mengharamkannya, maka hal tersebut boleh.   

Dalam momen takbiran baiknya merenungi kembali makna lafadz takbir. Apakah kita masih meyakini "kekuatan" lain saat mengatakakn Allahu Akbar. Sudahkah kita merasa “kecil” di hadapan kuasa dan karunia Allah, atau masih sombong dan angkuh. Inilah spirit takbir yang seharusnya digemakan saat malam idul fitri. Karena itulah esensinya. Bukan malah berjoget dengan iringan musik jedag-jedug.  

Menciptakan dan merawat tradisi adalah satu hal yang baik. Sedari awal Islam tidak menolak tradisi. Dengan catatan tidak menabrak “batasan” dan tidak kehilangan esensi.

 

Undaan, Kudus,

15 April 2024

           

 

 

           

 

 

              

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia