Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Pemuda Dalam Prespekif Islam

Pemuda dalam prespektif Islam
Oleh : Bana Fatahillah
Selasa, 5 Januari 2015


“Asas keimanan ialah hati yang bersih, asas keikhlasan ialah jiwa yang suci,
 asas semangat adalah keinginan yang kuat, asas usaha ialah tekat membara,
 dan semua sifat ini tidak ada kecuali pada PEMUDA”
(Imam Hasan al-Bana)

Pendahuluan

            Dalam islam, Seseorang akan mendapat tanggung jawab atas segala perbuatannya ketika ia  menginjak masa “baligh” atau dewasa. Dalam Shalat, Puasa, “baligh” pun menjadi salah satu syarat sah ibadah tersebut. Dalam dunia pendidikan anak, tingkat pertumbuhan anak dibagi menjadi tiga, (1)marhaalatu at-tufuulah almubakkirah (2)marhalaatu at-tufuulah al-wustha al-mutaakhirah (3)marhalatu al-buluug wa al-muraahaqoh. Dan pada tingkat marhalatu al-buluug wa al-muraahaqoh (masa aqil baligh) seorang anak perempuan akan lebih cepat baligh daripada anak laki laki. Anak perempuan akan baligh di sekitar umur di sekitar umur 11 tahun. Sementara anak laki laki akan baligh di sekitar umur 12-13. Ketika sudah mencapai tingkat “baligh” atau dewasa, seseorang akan disebut mukallaf, (al-baaligh al-aaqil), yang sudah baligh dan berakal. Dalam masa aqil baligh inilah seorang mukallaf akan terlepas dari tanggung jawab dosa orang tuanya. Yang berarti, semua amalannya akan ditanggung oleh dirinya sendiri, bukan pada orang tuanya seperti pada saat ia dimasa marhalaatu at-tufuulah al-mubakkiroh (balita).

            Orang orang seringkali menyebut tingkat marhalatu al-buluug wa al-muraahaqoh (masa aqil baligh) sebagai masa remaja atau masa muda. Mereka sering disebut sebagai “Pemuda”. banyak orang bilang, pemuda itu masa dimana seseorang mempunyai semangat seperti api yang membara. Masa dimana mereka harus menjalani suatu masa sebelum mereka menginjak ke jenjang selanjutnya, yaitu dewasa. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno pernah berkata, “berikan saya sepuluh pemuda, maka akan saya goncangkan Dunia”. Mengingat kembali bagaimana semangat para pemuda pada masa orde lama demi merebut kemerdekaan dari tangan kolonialisme Belanda. Namun, mirisnya, apakah pemuda yang dimaksudkan Ir. Soekarno pada orde lama sama dengan para pemuda di Hari ini. apakah pemuda itu yang selalu menghabiskan waktunya dengan berfoya-foya, bermalas-malasan, tauran, narkoba, dan lain sebagainya.

            Disini penulis akan memberi pemaparan tentang bagaimana peran pemuda dalam prespektif atau pandangan islam. Islam mempunyai ulama ulama ternama, dimana masa muda mereka dipenuhi dengan pengalaman belajar akan ilmu pengetahuan dan belajar akan adab. Seperti Imam Bukhori, seorang rowi hadist yang telah meriwatkan berpuluh ribu bahkan berjuta hadist. Ia rela berjalan jauh demi mendapatkan hadist dari seorang guru. Itulah salah satu contoh dari sekian banyak ulama muslim yang masa mudanya mereka manfaatkan untuk mencari ilmu. Masih banyak lagi pemuda-pemuda di zaman Rasulullah, seperti Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib dan lainnya.


Pembahasan

            Sebenarnya apa itu pemuda. siapa yang dimaksud dengan pemuda itu. Apakah pemuda itu adalah seseorang, atau itu hanya sebuah ungkapan untuk sebuah jiwa dengan semangat yang tinggi.
Pemuda, dalam bahasa arab Asyabaab atau As syaab, adalah anak laki laki yang masih muda atau anak anak muda. Biasanya As syabaab  adalah sebutan  untuk anak anak usia sekolah. Tetapi di dalam hadist, untuk lelaki dibawah usia 40 tahun masih disebut sebagai as syabaab atau pemuda.

            Dalam sebuah pepatah arab “Inna fii yadi as-Syubbani amra al-ummati wa fii iqdaamiha hayaataha”, sesungguhnya ditangan seorang pemuda itu ada perkara-perkara umat. Dan di telapak kakinya terdapat kehidupan umat. Menurut Imam Syahid Hasan al-Bana,  pemuda itu  adalah pilar kebangkitan setiap umat, rahasia kekuatan dalam setiap kebangkitan, dan pengibar panji setiap pergerakan. K.H. Hasan Abdullah Sahal, salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, salah satu anak dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor, sering kali berkata dalam pidatonya, “kalau kamu (anak-anak muda) tidak bisa lebih baik dari kami (orang-orang tua), maka sebaiknya kamu tidak usah lahir dan kami terus hidup. Hidupmu hanya mengurangi jatah beras”. Beliau juga sering sekali mengingatkan santri-santrinya dengan kalimat “berbuat baiklah nak, mumpung masih muda, mumpung masih kosong, mumpung masih sehat, mumpung masih hidup”.

            Namun, bagaimanakah pemuda pada hari ini?.  mereka yang  menghabiskan waktu mereka dengan berfoya-foya, bermain, dan berpergian tanpa tujuan. Mereka yang lebih mengenal siapa itu artis artis tenama dan aktor aktor film terkenal dibanding ulama ulama Muslim terkemuka yang telah mewariskan ilmunya hingga saat ini. Mereka yang kalau dinasehati oleh orang yang lebih tua akan menolah mentah-mentah seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Mereka yang meninggalkan kewajibannya terhadap Allah SWT, yang telah memberikan mereka seluruh nikmatnya. Mereka yang selalu menggunakan alasa-alasan klasik seperti, “kapan lagi bisa menikmati masa muda”, “anak muda bro!”. Apakah itu semua pemuda yang dimaksudkan oleh Ir.Soekarno, Imam Syahid Ibnu Khaldun, Serta K.H Hasan Abdullah Sahal. Tentu saja tidak.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist : “Aku berpesan kepadamu supaya berbuat baik kepada golongan pemuda, sesungguhnya hati mereka paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutusku membawa aga yang hanif ini, lalu para pemuda bergabung denganku dan orang-orang tua menentangku”

            Dari hadist itu Rasulullah untuk berperilaku baik terhadap pemuda. Rasulullah menempatkan para pemuda pada posisi yang istimewa. Bisa kita lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib yang begitu beraninya meggantikan posisi Rasulullah dalam tidurnya ketika dalam pengejaran kaum kafir Quraisy.  Ingatkah Zaid bin Tsabit seorang sahabat Rasul yang bergabung dengan islam ketika umurnya 11 tahun dan saat itu terjadinya perang badar. Zaid bin Tsabit adalah pemuda yang cerdas sehingga Rasul mengangkatnya menjadi asisten nabi untuk menulis wahyu yang turun dan menulis surat kepada Yahudi, walaupun ia masih belia.

Karena begitu pentingnya masa muda kita,  Rasulullah SAW mengingatkan akan pentinnya ini sebelum datangnya masa tua kelak. Dalam sebuah hadist yang disebutkan :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَ صِحَّتَكَ قَبُلَ سَقَمِكَ , وَ فَرَاغَكَ قَبُلَ شُغْلِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Rasulullas SAW bersabda : “Ingatlah lima perkara sebelum lima perkara ; (1) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu (2) masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (3) masa luangmu sebelum datang masa sempitmu (4) masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (5) masa hidupmu sabelum engkau mati”.  

Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS : al-Kahfi ; 39)

            kamu akan mengetahui betapa berharganya masa mudamu jikalau kamu sudah menginjak masa tuamu. Kamu akan menyesal karena tidak serius belajar dan terlalu larut dengan gemerlapnya Dunia ketika kelak kau telah dewasa. Kamu akan malu jikalau nanti anakmu akan bertanya tentang apa saja yang kau lakukan di Masa mudamu, kalau kau hanya bermalas malasan dalam meuntut ilmu. Seperti halnya sakit, seseorang tidak akan bisa menikmati kenikmatan sehat, ketika ia belum merasakan sakit. Maka dari itu, bangun dan bergeraklah, Bangsa ini butuh pejuang-pejuang dari generasi baru.


Berikut adalah pesan terakhir Hasan al-Bana kepada Pemuda :



Wahai ANGKATAN BARU !

Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenakan masa silam yang telah pergi jauh. Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.

Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri. Dada Bumi ini cukup luas untuk menerima kehadiranmu. Penuhilah segenap udara ini dengan kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh. Hadapilah tugas maha berat ini dengan jiwa besar, dengan dayajuang api semangat yang nyalanya kuat dan keras. Pupuklah Ruhul-Jihad, semangat revolusioner, radikal dan progresif dalam jiwamu, dan bertindaklah sebagai laki laki dengan perhitungan yang nyata dan pertimbangan yang matang.

Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, dimana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi. Kamu tidak boleh menjadi “palgiator” dari angkatan lama, dan tidak boleh pula menepuk dada serta meniadakan segala harga dan nilai, jasa dan karya dari angkatan lama. Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita. Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu !. sejarah ini telah lama berjalan bergerak dan berkembang.

Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan perjuangan yang belum selesai. Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan. Kafilah hidup ini adalah ibarat gelombang di Lautan; menghempas yang satu, menyusul yang lain; memecah yang pertama datang yang kedua.

Sadarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah, dan lakukanlah tugas suci ini dengan pengertian, keyakinan dan kesabaran! Insafilah kedaulatanmu sebagai pemuda angkatan baru, yang hendak menggantikan manusia tua angkatan lama. Tidaklah sama dan serupa antara kedua angkatan zaman itu, karena sejarah berjalan sanantiasa menurut hukum dinamika dan hukum dialektika.


Penutup

            Ayo generasi muda! Pergerakan kita ditunggu oleh Bangsa Ini, bahkan Dunia. Jangan hanya karena sampai kita terbuai dengan gemerlapnya Dunia ini. karena Dunia dan isinya hanya sebuah permainan dan tipu daya. Jangan sampai kita tertipu oleh ini semua. Tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya di Masa mudamu. Karena menuntut ilmu di Masa Muda seperti halnya mengukir di sebuah batu. Imam Syafi’i juga mengatakan bahwasanya sifat “tamak” (hirshun) adalah salah satu syarat dalam mencari ilmu.

            Bangsa Ini butuh sosok seperti Muhammad Natsir, Buya Hamka, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari dan sosok pemuda Muslim lainnya. Kalau bukan kalian, para pemuda, lantas siapa lagi. Dan ingat! Masa mudamu kelak akan dipertanggung jawabkan di Akhirat nanti oleh Allah SWT. karena dalam hadist disebutkan : “la tazuula qodama abdin hatta yus ala an arba’in ; an umrihi fiima afnaahu, an syabaabihi fima ablaahu, wa an ilmihi maa ‘amila bihi, wa’an maalihi min aina iktasabahu wa fiima anfaqahu”.


Dan semoga kita sebagai pemuda bisa mengamalkan beban yang berat ini.  

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia