Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Pemuda Dalam Prespekif Islam
Bisnis
Januari 06, 2016
Pemuda dalam prespektif Islam
Oleh : Bana Fatahillah
Selasa, 5 Januari 2015
“Asas keimanan ialah hati yang bersih, asas keikhlasan ialah jiwa
yang suci,
asas semangat adalah
keinginan yang kuat, asas usaha ialah tekat membara,
dan semua sifat ini tidak
ada kecuali pada PEMUDA”
(Imam Hasan al-Bana)
Pendahuluan
Dalam islam,
Seseorang akan mendapat tanggung jawab atas segala perbuatannya ketika ia menginjak masa “baligh” atau dewasa. Dalam
Shalat, Puasa, “baligh” pun menjadi salah satu syarat sah ibadah tersebut.
Dalam dunia pendidikan anak, tingkat pertumbuhan anak dibagi menjadi tiga, (1)marhaalatu
at-tufuulah almubakkirah (2)marhalaatu at-tufuulah al-wustha al-mutaakhirah
(3)marhalatu al-buluug wa al-muraahaqoh. Dan pada tingkat marhalatu al-buluug
wa al-muraahaqoh (masa aqil baligh) seorang anak perempuan akan lebih cepat
baligh daripada anak laki laki. Anak perempuan akan baligh di sekitar umur di
sekitar umur 11 tahun. Sementara anak laki laki akan baligh di sekitar umur
12-13. Ketika sudah mencapai tingkat “baligh” atau dewasa, seseorang akan
disebut mukallaf, (al-baaligh al-aaqil), yang sudah baligh dan
berakal. Dalam masa aqil baligh inilah seorang mukallaf akan terlepas
dari tanggung jawab dosa orang tuanya. Yang berarti, semua amalannya akan
ditanggung oleh dirinya sendiri, bukan pada orang tuanya seperti pada saat ia
dimasa marhalaatu at-tufuulah al-mubakkiroh (balita).
Orang orang
seringkali menyebut tingkat marhalatu al-buluug wa al-muraahaqoh (masa
aqil baligh) sebagai masa remaja atau masa muda. Mereka sering disebut
sebagai “Pemuda”. banyak orang bilang, pemuda itu masa dimana seseorang
mempunyai semangat seperti api yang membara. Masa dimana mereka harus menjalani
suatu masa sebelum mereka menginjak ke jenjang selanjutnya, yaitu dewasa.
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno pernah berkata, “berikan saya
sepuluh pemuda, maka akan saya goncangkan Dunia”. Mengingat kembali bagaimana
semangat para pemuda pada masa orde lama demi merebut kemerdekaan dari tangan
kolonialisme Belanda. Namun, mirisnya, apakah pemuda yang dimaksudkan Ir.
Soekarno pada orde lama sama dengan para pemuda di Hari ini. apakah pemuda itu
yang selalu menghabiskan waktunya dengan berfoya-foya, bermalas-malasan,
tauran, narkoba, dan lain sebagainya.
Disini penulis akan memberi pemaparan tentang bagaimana
peran pemuda dalam prespektif atau pandangan islam. Islam mempunyai ulama ulama
ternama, dimana masa muda mereka dipenuhi dengan pengalaman belajar akan ilmu
pengetahuan dan belajar akan adab. Seperti Imam Bukhori, seorang rowi hadist
yang telah meriwatkan berpuluh ribu bahkan berjuta hadist. Ia rela berjalan
jauh demi mendapatkan hadist dari seorang guru. Itulah salah satu contoh dari
sekian banyak ulama muslim yang masa mudanya mereka manfaatkan untuk mencari
ilmu. Masih banyak lagi pemuda-pemuda di zaman Rasulullah, seperti Zaid bin
Tsabit, Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib dan lainnya.
Pembahasan
Sebenarnya apa
itu pemuda. siapa yang dimaksud dengan pemuda itu. Apakah pemuda itu adalah
seseorang, atau itu hanya sebuah ungkapan untuk sebuah jiwa dengan semangat
yang tinggi.
Pemuda, dalam bahasa arab Asyabaab atau As syaab, adalah
anak laki laki yang masih muda atau anak anak muda. Biasanya As syabaab adalah sebutan untuk anak anak usia sekolah. Tetapi di dalam
hadist, untuk lelaki dibawah usia 40 tahun masih disebut sebagai as syabaab atau
pemuda.
Dalam sebuah
pepatah arab “Inna fii yadi as-Syubbani amra al-ummati wa fii iqdaamiha
hayaataha”, sesungguhnya ditangan seorang pemuda itu ada perkara-perkara
umat. Dan di telapak kakinya terdapat kehidupan umat. Menurut Imam Syahid Hasan
al-Bana, pemuda itu adalah pilar kebangkitan setiap umat, rahasia
kekuatan dalam setiap kebangkitan, dan pengibar panji setiap pergerakan. K.H.
Hasan Abdullah Sahal, salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,
salah satu anak dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor, sering kali berkata
dalam pidatonya, “kalau kamu (anak-anak muda) tidak bisa lebih baik dari kami
(orang-orang tua), maka sebaiknya kamu tidak usah lahir dan kami terus hidup.
Hidupmu hanya mengurangi jatah beras”. Beliau juga sering sekali mengingatkan
santri-santrinya dengan kalimat “berbuat baiklah nak, mumpung masih muda,
mumpung masih kosong, mumpung masih sehat, mumpung masih hidup”.
Namun,
bagaimanakah pemuda pada hari ini?. mereka yang
menghabiskan waktu mereka dengan berfoya-foya, bermain, dan berpergian
tanpa tujuan. Mereka yang lebih mengenal siapa itu artis artis tenama dan aktor
aktor film terkenal dibanding ulama ulama Muslim terkemuka yang telah
mewariskan ilmunya hingga saat ini. Mereka yang kalau dinasehati oleh orang
yang lebih tua akan menolah mentah-mentah seperti masuk telinga kanan keluar
telinga kiri. Mereka yang meninggalkan kewajibannya terhadap Allah SWT, yang
telah memberikan mereka seluruh nikmatnya. Mereka yang selalu menggunakan
alasa-alasan klasik seperti, “kapan lagi bisa menikmati masa muda”, “anak muda
bro!”. Apakah itu semua pemuda yang dimaksudkan oleh Ir.Soekarno, Imam Syahid
Ibnu Khaldun, Serta K.H Hasan Abdullah Sahal. Tentu saja tidak.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist : “Aku berpesan
kepadamu supaya berbuat baik kepada golongan pemuda, sesungguhnya hati mereka
paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutusku membawa aga yang hanif ini,
lalu para pemuda bergabung denganku dan orang-orang tua menentangku”
Dari hadist itu
Rasulullah untuk berperilaku baik terhadap pemuda. Rasulullah menempatkan para
pemuda pada posisi yang istimewa. Bisa kita lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib
yang begitu beraninya meggantikan posisi Rasulullah dalam tidurnya ketika dalam
pengejaran kaum kafir Quraisy. Ingatkah
Zaid bin Tsabit seorang sahabat Rasul yang bergabung dengan islam ketika
umurnya 11 tahun dan saat itu terjadinya perang badar. Zaid bin Tsabit adalah
pemuda yang cerdas sehingga Rasul mengangkatnya menjadi asisten nabi untuk
menulis wahyu yang turun dan menulis surat kepada Yahudi, walaupun ia masih
belia.
Karena begitu pentingnya masa muda kita, Rasulullah SAW mengingatkan akan pentinnya ini
sebelum datangnya masa tua kelak. Dalam sebuah hadist yang disebutkan :
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِغْتَنِمْ خَمْسًا
قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَ صِحَّتَكَ قَبُلَ سَقَمِكَ , وَ
فَرَاغَكَ قَبُلَ شُغْلِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
Rasulullas SAW bersabda : “Ingatlah lima perkara sebelum lima
perkara ; (1) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu (2) masa sehatmu sebelum
datang masa sakitmu (3) masa luangmu sebelum datang masa sempitmu (4) masa
kayamu sebelum datang masa miskinmu (5) masa hidupmu sabelum engkau mati”.
“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada
Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS : al-Kahfi ; 39)
kamu akan
mengetahui betapa berharganya masa mudamu jikalau kamu sudah menginjak masa
tuamu. Kamu akan menyesal karena tidak serius belajar dan terlalu larut dengan
gemerlapnya Dunia ketika kelak kau telah dewasa. Kamu akan malu jikalau nanti
anakmu akan bertanya tentang apa saja yang kau lakukan di Masa mudamu, kalau
kau hanya bermalas malasan dalam meuntut ilmu. Seperti halnya sakit, seseorang
tidak akan bisa menikmati kenikmatan sehat, ketika ia belum merasakan sakit.
Maka dari itu, bangun dan bergeraklah, Bangsa ini butuh pejuang-pejuang dari
generasi baru.
Berikut adalah pesan terakhir Hasan al-Bana kepada Pemuda :
Wahai ANGKATAN BARU !
Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan
pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang
bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenakan masa silam yang
telah pergi jauh. Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah
dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.
Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri. Dada Bumi
ini cukup luas untuk menerima kehadiranmu. Penuhilah segenap udara ini dengan
kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh. Hadapilah tugas maha berat ini
dengan jiwa besar, dengan dayajuang api semangat yang nyalanya kuat dan keras.
Pupuklah Ruhul-Jihad, semangat revolusioner, radikal dan progresif dalam
jiwamu, dan bertindaklah sebagai laki laki dengan perhitungan yang nyata dan
pertimbangan yang matang.
Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, dimana ada
yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh dan terus berdiri lagi. Kamu
tidak boleh menjadi “palgiator” dari angkatan lama, dan tidak boleh pula
menepuk dada serta meniadakan segala harga dan nilai, jasa dan karya dari
angkatan lama. Mereka kaya dengan pengalaman, engkau kaya dengan cita-cita.
Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu !. sejarah ini telah
lama berjalan bergerak dan berkembang.
Kamu hanyalah tenaga penyambung menyelesaikan perjuangan yang belum
selesai. Meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dan keturunan yang satu
kepada keturunan yang lain, angkatan kemudian angkatan. Kafilah hidup ini
adalah ibarat gelombang di Lautan; menghempas yang satu, menyusul yang lain;
memecah yang pertama datang yang kedua.
Sadarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah, dan lakukanlah tugas
suci ini dengan pengertian, keyakinan dan kesabaran! Insafilah kedaulatanmu
sebagai pemuda angkatan baru, yang hendak menggantikan manusia tua angkatan
lama. Tidaklah sama dan serupa antara kedua angkatan zaman itu, karena sejarah
berjalan sanantiasa menurut hukum dinamika dan hukum dialektika.
Penutup
Ayo generasi
muda! Pergerakan kita ditunggu oleh Bangsa Ini, bahkan Dunia. Jangan hanya
karena sampai kita terbuai dengan gemerlapnya Dunia ini. karena Dunia dan
isinya hanya sebuah permainan dan tipu daya. Jangan sampai kita tertipu oleh
ini semua. Tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya di Masa mudamu. Karena menuntut ilmu
di Masa Muda seperti halnya mengukir di sebuah batu. Imam Syafi’i juga
mengatakan bahwasanya sifat “tamak” (hirshun) adalah salah satu syarat
dalam mencari ilmu.
Bangsa Ini
butuh sosok seperti Muhammad Natsir, Buya Hamka, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari dan
sosok pemuda Muslim lainnya. Kalau bukan kalian, para pemuda, lantas siapa
lagi. Dan ingat! Masa mudamu kelak akan dipertanggung jawabkan di Akhirat nanti
oleh Allah SWT. karena dalam hadist disebutkan : “la tazuula qodama abdin
hatta yus ala an arba’in ; an umrihi fiima afnaahu, an syabaabihi fima ablaahu,
wa an ilmihi maa ‘amila bihi, wa’an maalihi min aina iktasabahu wa fiima
anfaqahu”.
Dan semoga kita sebagai pemuda bisa mengamalkan beban yang berat
ini.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...