Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Al-Qur'an : Antara teks dan Konteks
Bisnis
April 04, 2016
Oleh : Bana Fatahillah
“Interpretasi teks keagamaan adalah fondasi dalam memahami dan
menjalankan ajaran suatu agama.
jika cara memahami teks itu salah, maka praktik agama yang terlahir
darinya juga akan salah[2].”
(Dr.Henri Solahuddin)
Pendahuluan
Sebagai salah satu
rukun iman yang enam adalah beriman
kepada semua kitab-kitab yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada para
nabi-Nya, dari Zabur, Taurat, Injil, sampai al-Qur’an yang saat ini kita
baca.Al-Qur’an adalah perkataan Allah (kalaamullah) yang turun kepada
Nabi-Nya (Muhammad SAW) melalui ruuhul amiin (malaikat Jibril).
Al-Qur’an yang kita baca sekarang adalah al-qur’an yang dibaca oleh
Rasulullah pada zaman dahulu. Karena Allah telah menjaga keontetikan al-qur’an
itu sendiri. Allah berfirman : “Inna nahnu nazzalna az-dzikra wa inna lahu
lahaafizuun (kamilah yang telah menurunkan al-qur’an dan kami pulalah yang
menjaganya)” Karena al-Qur’an adalah perkataan Allah, maka sekali-kali ia
bukanlah perkataan nabi Muhammad ataupun karangan Beliau, seperti yang banyak
dikatakan di kalangan orientalis.
Dewasa ini, muncul
berbagai masalah mengenai memahami teks al-Qur’an. Padahal ulama-ulama tafsir
terdahulu, seperti Imam Fakhruddin ar-Razi, Ibnu Katsir, Rasyid Ridha, Buya
Hamka, telah menulis sebuah tafsir yang
jelas mengenai pemahaman ayat al-qur’an.
Namun kini masyarakat di hujani dengan pemahaman relativisme dan metode tafsir
hermenetika. Mereka menganggap bahwasanya tafsir al-qur’an adalah buatan
manusia, yang mana itu semua bisa salah, dan tidak ada yang mutlak atau
absolut.
Akibat dari
relativisme itulah muncul ide-ide gila dengan pembuatan tafsir baru. Mereka
mencoba membuat tafsiran-tafsiran semau mereka. Padahal mereka tidak
mengetahui, untuk menafsirkan al-Qur’an tidak bisa sembarangan orang, tapi
haruslah orang yang benar-benar memahami banyak ilmu. Seperti kaidah bahasa
arab; nahwu, sorof, balagoh, ilmu hadis, ilmu asbaabunnuzul, uluumul
qur’an dan masih banyak lagi lainnya. Tetapi mereka berlagak ahli
dalam bidang itu, sehingga memunculkan tafsir-tafsir yang baru dan
menyesatkan.
Dari wahyu sampai ke penulisan Al-Qur’an
Rasulullah mendapatkan wahyu pertama kali di Gua Hira, yaitu surat
al-Alaq ayat 1-5.Pertama kali muncul di Depan nabi Muhammad saat ia berada di
Gua Hira, Jibril minta membaca dan beliau mengatakan tak tahu. Malaikat
mengulangi permintaannya tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serba bingung
dan ketakutan sebelu mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertama kali
mendengar Qur’an.[3]
Dan surat al-Alaq Itu adalah wahyu yang pertama kali didapatkan rasulullah
ketika dirinnya diangkat menjadi Rasul pada umur 40 tahun.
Lalu selanjutnya
Allah SWT menyampaikan wahyu-Nya dalam berbagai peristiwa yang dialami oleh
Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah
akan segera dihafal dan ucapkan beberapa kali, yang menunjukkan kepedulian Nabi
Muhammad terhadap merekam hafalan ayat ayat tersebut[4].
Sampai Allah pernah mengingatkannya dalam sebuah ayat :
“Laa tuharrik lisaanaka lita’jala biihi. Inna alaina jam’ahu wa
qur’aanah. Faidzzaa qara’naahu fattabi’ quraanahu. Tsumma inna alaina
bayaanahu.[5]
(Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena
hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan kami
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila kami telah
selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas
tanggungan kamilah penjelasannya.”
Menuju ke penulisan al-Quran, Rasulullah pernah berkata, “la
taktub anni goiru al-qur’an”. (jangan tulis apapun dariku selain al-Qur’an)
karena Rasul takut bahwa nanti akan tercampur antara perkataannya (hadist) dan
perkataan Allah ta’ala(Qur’an).Wacana penulisan al-Qur’an tersebut sudah ada
sejak zaman Khalifah Abu Bakar as-shidiq. Hal ini disebabkan karena banyaknya
para penghafal al-qur’an (Huffaz) yang gugur syahid di Medan perang.
Ketika itu Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai Panitia inti
dari penulisan wahyu-wahyu yang disampaikan oleh Rasul. Namun di Zaman Abu
Bakar, penulisan ini hanya berujung dalam tulisan diatas kertas yang tidak
sempurna dan berbeda ukuran[6].
Tetapi ini termasuk pengabdian Abu Bakar terhadap amanat nya sebagai khalifah,
yang nantinya akan dilanjutkan di Zaman Umar dan sampai pada kompilasi seluruh
mushaf di Zaman Utsman bin Affan.
Pengumpulan lembaran-lembaran mushaf pada Zaman Utsma bin Affan
kerap dilakukan. Hal ini juga disebabkan oleh beberapa perbedaan bacaan bangsa
Arab.sebenarnya hal ini sudah terjadi di zaman Umar bin Khattab.
Setelah itu Utsman bin Affan
memilih dua belas orang untuk menjadi kuttab al-wahyu (penulis wahyu).
Mereka adalah, (1) Sa’id bin al-ash, (2)
Nafi bin Zubair bin Amr bin Naufal, (3) Zaid bin Tsabit, (4) Ubay bin Ka’ab,
(5) Abdullah bin Az-Zubair, (6) Abdurrahman bin Hasyim, (7) Khatir bin Aflah,
(8) Anas bin Malik, (9) Abdullah bin Abbas, (10) Malik bin Abi Amir, (11)
Abdullah bin Umar, (12) Abdullah bin Amr bin al-‘Ash.[7]
Utsman bin Affan menggabungkan seluruh mushaf mushaf yang ada serta
mengumpulkan para huffaz al-Qur’an untuk membandingkan keontetikan
mushaf tersebut. Setiap penghafal Qur’an ditanyakan satu-satu tentang bagaimana
Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut, dimana, dan apa sebab turunnya wahyu (asbaabu
an-nuzuul) ayat tersebut.
Dan pada akhirnya, setelah lembaran mushaf itu terkumpul secara
otentik dan dijadikan satu jilidan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya
fragmentasi tulisan al-Qur’an bergulir ditangan orang-orang.oleh karena itu
semua pecahan tulisan (fragmentasi) Al-Qur’an telah dibakar.[8] Maka
sampailah kepada mushaf Utsmani atau Qur’an yang kita baca saat ini.
Anatara Tafsir dan Hermenetika
Ketika dihadapkan
pada suatu teks maka kita akan berfikir tentang subjek dari penulisan teks itu
menurut penulis.Kepada siapa tulisan ini dituju, dan bagaimana untuk dapat
memahaminya.Al-Qur’an yang isinya adalah teks-teks/ayat-ayat pastilah mempunyai
konteks dibalik itu.
Hermeneutika
secara bahasa artinya ‘tafsir’. Secara etimologis, istilah hermeneutika dari
bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk
kepada seorang tokoh mitologis dalam Yunani yang dikenal dengan nama Hermes
(Mercurius).[9]
Dalam bukunya Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Dr.Adian Husaini menegaskan
bahwa hermeunetika bukanlah sekedar tafsir melainkan ‘metode tafsir’ tersendiri
atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dari tafsir
al-Qur’an. (Lihat : Adian Husaini, Hermeneutika
dan Tafsir Al-Qur’an, Gema Insani : 2007 hal.8).
The new
Encyclopedia Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi
prinsip-prinsip umum tentang interpretasi Bible (The study of the general
principle of bibical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk
menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.[10]
Hermeneutika
memang ada di kalangan umat kristen. Karena sebagaimana yang kita ketahui
kristen memiliki kerincuan dalam masalah teks. Teks mereka hampir bisa berganti
setiap periodenya. Maka dalam memahami teks-teks yang ada pada al-kitab, mereka
menggunakan metode tafsir hermeneutika.Namun metode ini tidaklah mempunyai
landasan yang kuat, hanya berbasis pada akal dan budaya.
Ini sangatlah
berbeda dengan umat Muslim, yang meyakini bahwasanya al-Qur’an adalah lafzhan
wa ma’nan min Allahi. (lafazh dan artinya dari Allah). Nabi Muhammad
mendapatkan wahyu oleh malaikat Jibril secara lafzhan. Bahkan dulu sebelum ada
penulisan al-qur’an semua sahabat hafal akan ayat-ayat yang disampaikan oleh
Rasulullah SAW.
Perbedaan inilah yang muncul antara umat kristen dan islam. Didalam
Bible, hampir semua perkataannya bukan langsung dari Tuhan, melainkan
perwakilan Tuhan. Seperti Markus, Yohanes, dan lain sebagainya. Dalam islam hal
seperti ini sangat diperhatikan. Maka dulu rasulullah sampai membagi antara
mana yang perkataannya dan mana yang termasuk perkataan Allah. Antara hadist
dan Qur’an pun Rasul memberi perbedaan, walaupun ada hadist Qudsi, yaitu hadist
yang langsung disampaikan oleh Allah kepada Rasul-Nya, namun ia bukan termasuk
ayat Qur’an.
Selanjutnya mengenai tafsir al-Qur’an.Tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru
yang berarti keterangan atau penjelasan dari suatu lafazh. Dan orang yang
melakukan sebuah penafsiran disebut Mufassir. Diantara cara-cara
menafsirkan al-Qur’an adalah perlu mengetahui terlebih dahulu bahwa apa yang
dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis
besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh al-Qur’an tampak jelas. Kemudian
dipelajari lafazh dan maknanya sesuai dengan ketentuan bahasa arab dan
keterangan Rasulullah SAW yang telah men-taskhih, men-taqyid, ke-muthlaq-an
lafzhnya, dan men-tabyin lafazh yang mujmal (global) serta
merinckan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an secara global atau
bahkan menerangkan hukum-hukum baru yang tidak dibahas oleh al-Quran.[11]
Maka dalam
menafsirkan tidak bisa sembarangan orang dan harus benar benar memiliki
otoritas dalam keilmuan islam. Ia harus memahami bahasa arab secara gramatikal,
dari nahwu, sorof, balagoh, dan sastra. Ia juga harus memiliki wawasan seputar
sains yang terjadi dikalangan Dunia, serta memahami berbagai permasalahan ushul
fiqih dan fiqih. Ia harus mengerti uluumul qur’an dan asbaabunnuzul.
Dampak Hermeunetika
Sebuah dampak yang akan terjadi apabila kita menganut hermeneutika
adalah perelativisan sebuah tafsir. Maka nanti orang akan menganggap bahwasanya
tidak ada sebuah tafsir yang benar. Karena pada dasarnya semua mufassir adalah
manusia yang bisa bersalah, dan hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran.Dr.Adian
juga mengutip perkataan Dr.Amina Wadud, seorang feminis, dalam bukunya
Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an. Ia menyatakan, “No Method of Qur’anic
exegesis fully objectives. Each exegete make some subjective choice.(Tidak
ada metode penafsiran al-Quran yang sepenuhnya obyektif. Masing-masing penafsir
membuat pilihan-pilihan yang subyektif)”[12]
Dari Relativisme
akan menuju nihilisme. Setelah beranggapan bahwa tidak ada lagi tafsir yang
benar, maka mereka akan berkata bahwa semua orang berhak dan boleh melakukan
sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat qur’ann. Sebenarnya mereka melupakan
konsep Ijma (kesepakatan para sahabat). Rasul berkata: “umatku tidak
akan bersepakat dalam kesesatan”. Inilah yang mereka lupakan dari cara
menafsirkan al-Qur’an.
Dr.Henri
Solahuddin, dalam pengantar bukunya ‘Al-Qur’an Dihujat’ mengatakan, “dampak
lainnya dari hermeneutika bila diterapkan dalam studi al-Qur’an, disamping
mengaburkan(merelatifkan) batasan antara ayat ayat muhkamaat dan mutashabihaat
; ushul dan furu ; thawaabit dan mutaghayyaraat ; qothiyyat
dan zhanniyyat ; juga akan mereduksi sisi kerasulan sang penyampai
wahyu (Muhammad SAW). Hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat
dengan kekeliruan dan hawa nafsu”.[13]
Penutup
Ketika sudah memahami sebuah kebenaran pada seseorang yang memiliki
sebuah otoritas dalam sebuah keilmuan, maka kita hendaknya jangan ragu. Para mufassir
bukanlah orang-orang biasa dengan ilmu yang biasa. Mereka adalah mujtahid
, yang memperjuangkan nilai-nilai dan hukum-hukum islam hingga sekarang masih
ada.
Lagi-lagi
disinilah nilai adab. Bagaimana kita menilai para ulama-ulama terdahulu. Dari
karya-karyanya, fatwanya, dan perkataan-perkataannya. Jadilah orang yang
beradab, orang yang bisa meletakkan sesuatu sesuai harkat dan martabatnya.
Dimana Rasulullah SAW harus kita tempatkan. Dimanakah kedudukan beliau.
Bagaimana dengan para sahabat-sahabat, ulama-ulama, dan guru-guru kita. Maka
menyikapi itu semua adalah adab sebagai seorang muslim. Wallahu a’lam bi
as-showaab.
Depok,
5 April 206
[1] Tulisan
ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis ilmiah ke-5 Sekolah Pemikiran Islam
(SPI) Fatahillah angkatan ke-4, (Depok : 4 April 2016)
[2] Henri
Solahuddin, Al-Qur’an Dihujat, (Al-Qalam, Gema Insani, Jakarta : 2007), hal.9
[3]
Al-A’zami, Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Kompilasi, (Gema Insani,
Jakarta : 2014), hal.46
[4] Ibid, 50
[5]
QS;al-Qiyamah : 16-19
[6] Ibid, 86
[7] Ibid, 90
[8] Ibid, 95
[9] Adian
Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, (Gema Insani:2007), hal.7
[10] Adian
Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi
Sekuler-Liberal, (Gema Insani, Jakarta : 2005), hal.290
[11] Adian
Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, (Gema Insani : 2007), hal.49-50
[12] Ibid,
18
[13] Henri
Solahuddin, Al-Quran Dihujat, (Al-Qalam, Gema Insani, Jakarta;207)
bag.pengantar penulis, xxvi

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...