Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Al-Qur'an : Antara teks dan Konteks


Al-Qur’an : Antara Teks dan Konteks[1]

Oleh : Bana Fatahillah

“Interpretasi teks keagamaan adalah fondasi dalam memahami dan menjalankan ajaran suatu agama.
jika cara memahami teks itu salah, maka praktik agama yang terlahir darinya juga akan salah[2].”
(Dr.Henri Solahuddin)

Pendahuluan
            Sebagai salah satu rukun iman yang enam  adalah beriman kepada semua kitab-kitab yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada para nabi-Nya, dari Zabur, Taurat, Injil, sampai al-Qur’an yang saat ini kita baca.Al-Qur’an adalah perkataan Allah (kalaamullah) yang turun kepada Nabi-Nya (Muhammad SAW) melalui ruuhul amiin (malaikat Jibril).

Al-Qur’an yang kita baca sekarang adalah al-qur’an yang dibaca oleh Rasulullah pada zaman dahulu. Karena Allah telah menjaga keontetikan al-qur’an itu sendiri. Allah berfirman : “Inna nahnu nazzalna az-dzikra wa inna lahu lahaafizuun (kamilah yang telah menurunkan al-qur’an dan kami pulalah yang menjaganya)” Karena al-Qur’an adalah perkataan Allah, maka sekali-kali ia bukanlah perkataan nabi Muhammad ataupun karangan Beliau, seperti yang banyak dikatakan di kalangan orientalis.

            Dewasa ini, muncul berbagai masalah mengenai memahami teks al-Qur’an. Padahal ulama-ulama tafsir terdahulu, seperti Imam Fakhruddin ar-Razi, Ibnu Katsir, Rasyid Ridha, Buya Hamka,  telah menulis sebuah tafsir yang jelas mengenai pemahaman  ayat al-qur’an. Namun kini masyarakat di hujani dengan pemahaman relativisme dan metode tafsir hermenetika. Mereka menganggap bahwasanya tafsir al-qur’an adalah buatan manusia, yang mana itu semua bisa salah, dan tidak ada yang mutlak atau absolut.

            Akibat dari relativisme itulah muncul ide-ide gila dengan pembuatan tafsir baru. Mereka mencoba membuat tafsiran-tafsiran semau mereka. Padahal mereka tidak mengetahui, untuk menafsirkan al-Qur’an tidak bisa sembarangan orang, tapi haruslah orang yang benar-benar memahami banyak ilmu. Seperti kaidah bahasa arab; nahwu, sorof, balagoh, ilmu hadis, ilmu asbaabunnuzul, uluumul qur’an dan masih banyak lagi lainnya. Tetapi mereka berlagak ahli dalam bidang itu, sehingga memunculkan tafsir-tafsir yang baru dan menyesatkan.    

Dari wahyu sampai ke penulisan Al-Qur’an
            Rasulullah mendapatkan wahyu pertama kali di Gua Hira, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5.Pertama kali muncul di Depan nabi Muhammad saat ia berada di Gua Hira, Jibril minta membaca dan beliau mengatakan tak tahu. Malaikat mengulangi permintaannya tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serba bingung dan ketakutan sebelu mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertama kali mendengar Qur’an.[3] Dan surat al-Alaq Itu adalah wahyu yang pertama kali didapatkan rasulullah ketika dirinnya diangkat menjadi Rasul pada umur 40 tahun.

            Lalu selanjutnya Allah SWT menyampaikan wahyu-Nya dalam berbagai peristiwa yang dialami oleh Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah akan segera dihafal dan ucapkan beberapa kali, yang menunjukkan kepedulian Nabi Muhammad terhadap merekam hafalan ayat ayat tersebut[4]. Sampai Allah pernah mengingatkannya dalam sebuah ayat :
Laa tuharrik lisaanaka lita’jala biihi. Inna alaina jam’ahu wa qur’aanah. Faidzzaa qara’naahu fattabi’ quraanahu. Tsumma inna alaina bayaanahu.[5]

(Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”

            Menuju ke penulisan al-Quran, Rasulullah pernah berkata, “la taktub anni goiru al-qur’an”. (jangan tulis apapun dariku selain al-Qur’an) karena Rasul takut bahwa nanti akan tercampur antara perkataannya (hadist) dan perkataan Allah ta’ala(Qur’an).Wacana penulisan al-Qur’an tersebut sudah ada sejak zaman Khalifah Abu Bakar as-shidiq. Hal ini disebabkan karena banyaknya para penghafal al-qur’an (Huffaz) yang gugur syahid di Medan perang.

Ketika itu Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai Panitia inti dari penulisan wahyu-wahyu yang disampaikan oleh Rasul. Namun di Zaman Abu Bakar, penulisan ini hanya berujung dalam tulisan diatas kertas yang tidak sempurna dan berbeda ukuran[6]. Tetapi ini termasuk pengabdian Abu Bakar terhadap amanat nya sebagai khalifah, yang nantinya akan dilanjutkan di Zaman Umar dan sampai pada kompilasi seluruh mushaf di Zaman Utsman bin Affan.    

Pengumpulan lembaran-lembaran mushaf pada Zaman Utsma bin Affan kerap dilakukan. Hal ini juga disebabkan oleh beberapa perbedaan bacaan bangsa Arab.sebenarnya hal ini sudah terjadi di zaman Umar bin Khattab.

Setelah itu  Utsman bin Affan memilih dua belas orang untuk menjadi kuttab al-wahyu (penulis wahyu). Mereka adalah, (1) Sa’id bin  al-ash, (2) Nafi bin Zubair bin Amr bin Naufal, (3) Zaid bin Tsabit, (4) Ubay bin Ka’ab, (5) Abdullah bin Az-Zubair, (6) Abdurrahman bin Hasyim, (7) Khatir bin Aflah, (8) Anas bin Malik, (9) Abdullah bin Abbas, (10) Malik bin Abi Amir, (11) Abdullah bin Umar, (12) Abdullah bin Amr bin al-‘Ash.[7]

Utsman bin Affan menggabungkan seluruh mushaf mushaf yang ada serta mengumpulkan para huffaz al-Qur’an untuk membandingkan keontetikan mushaf tersebut. Setiap penghafal Qur’an ditanyakan satu-satu tentang bagaimana Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut, dimana, dan apa sebab turunnya wahyu (asbaabu an-nuzuul) ayat tersebut.

Dan pada akhirnya, setelah lembaran mushaf itu terkumpul secara otentik dan dijadikan satu jilidan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya fragmentasi tulisan al-Qur’an bergulir ditangan orang-orang.oleh karena itu semua pecahan tulisan (fragmentasi) Al-Qur’an telah dibakar.[8] Maka sampailah kepada mushaf Utsmani atau Qur’an yang kita baca saat ini.

Anatara Tafsir dan Hermenetika
            Ketika dihadapkan pada suatu teks maka kita akan berfikir tentang subjek dari penulisan teks itu menurut penulis.Kepada siapa tulisan ini dituju, dan bagaimana untuk dapat memahaminya.Al-Qur’an yang isinya adalah teks-teks/ayat-ayat pastilah mempunyai konteks dibalik itu.

            Hermeneutika secara bahasa artinya ‘tafsir’. Secara etimologis, istilah hermeneutika dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Mercurius).[9] Dalam bukunya Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Dr.Adian Husaini menegaskan bahwa hermeunetika bukanlah sekedar tafsir melainkan ‘metode tafsir’ tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dari tafsir al-Qur’an. (Lihat : Adian Husaini,  Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Gema Insani : 2007 hal.8).

            The new Encyclopedia Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip umum tentang interpretasi Bible (The study of the general principle of bibical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.[10]

            Hermeneutika memang ada di kalangan umat kristen. Karena sebagaimana yang kita ketahui kristen memiliki kerincuan dalam masalah teks. Teks mereka hampir bisa berganti setiap periodenya. Maka dalam memahami teks-teks yang ada pada al-kitab, mereka menggunakan metode tafsir hermeneutika.Namun metode ini tidaklah mempunyai landasan yang kuat, hanya berbasis pada akal dan budaya.

            Ini sangatlah berbeda dengan umat Muslim, yang meyakini bahwasanya al-Qur’an adalah lafzhan wa ma’nan min Allahi. (lafazh dan artinya dari Allah). Nabi Muhammad mendapatkan wahyu oleh malaikat Jibril secara lafzhan. Bahkan dulu sebelum ada penulisan al-qur’an semua sahabat hafal akan ayat-ayat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Perbedaan inilah yang muncul antara umat kristen dan islam. Didalam Bible, hampir semua perkataannya bukan langsung dari Tuhan, melainkan perwakilan Tuhan. Seperti Markus, Yohanes, dan lain sebagainya. Dalam islam hal seperti ini sangat diperhatikan. Maka dulu rasulullah sampai membagi antara mana yang perkataannya dan mana yang termasuk perkataan Allah. Antara hadist dan Qur’an pun Rasul memberi perbedaan, walaupun ada hadist Qudsi, yaitu hadist yang langsung disampaikan oleh Allah kepada Rasul-Nya, namun ia bukan termasuk ayat Qur’an.

Selanjutnya mengenai tafsir al-Qur’an.Tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru yang berarti keterangan atau penjelasan dari suatu lafazh. Dan orang yang melakukan sebuah penafsiran disebut Mufassir. Diantara cara-cara menafsirkan al-Qur’an adalah perlu mengetahui terlebih dahulu bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh al-Qur’an tampak jelas. Kemudian dipelajari lafazh dan maknanya sesuai dengan ketentuan bahasa arab dan keterangan Rasulullah SAW yang telah men-taskhih, men-taqyid, ke-muthlaq-an lafzhnya, dan men-tabyin lafazh yang mujmal (global) serta merinckan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an secara global atau bahkan menerangkan hukum-hukum baru yang tidak dibahas oleh al-Quran.[11]

            Maka dalam menafsirkan tidak bisa sembarangan orang dan harus benar benar memiliki otoritas dalam keilmuan islam. Ia harus memahami bahasa arab secara gramatikal, dari nahwu, sorof, balagoh, dan sastra. Ia juga harus memiliki wawasan seputar sains yang terjadi dikalangan Dunia, serta memahami berbagai permasalahan ushul fiqih dan fiqih. Ia harus mengerti uluumul qur’an dan asbaabunnuzul.

Dampak Hermeunetika
            Sebuah dampak yang akan terjadi apabila kita menganut hermeneutika adalah perelativisan sebuah tafsir. Maka nanti orang akan menganggap bahwasanya tidak ada sebuah tafsir yang benar. Karena pada dasarnya semua mufassir adalah manusia yang bisa bersalah, dan hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran.Dr.Adian juga mengutip perkataan Dr.Amina Wadud, seorang feminis, dalam bukunya Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an. Ia menyatakan, “No Method of Qur’anic exegesis fully objectives. Each exegete make some subjective choice.(Tidak ada metode penafsiran al-Quran yang sepenuhnya obyektif. Masing-masing penafsir membuat pilihan-pilihan yang subyektif)”[12]

            Dari Relativisme akan menuju nihilisme. Setelah beranggapan bahwa tidak ada lagi tafsir yang benar, maka mereka akan berkata bahwa semua orang berhak dan boleh melakukan sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat qur’ann. Sebenarnya mereka melupakan konsep Ijma (kesepakatan para sahabat). Rasul berkata: “umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan”. Inilah yang mereka lupakan dari cara menafsirkan al-Qur’an.

            Dr.Henri Solahuddin, dalam pengantar bukunya ‘Al-Qur’an Dihujat’ mengatakan, “dampak lainnya dari hermeneutika bila diterapkan dalam studi al-Qur’an, disamping mengaburkan(merelatifkan) batasan antara ayat ayat muhkamaat dan mutashabihaat ; ushul dan furu ; thawaabit dan mutaghayyaraat ; qothiyyat dan zhanniyyat ; juga akan mereduksi sisi kerasulan sang penyampai wahyu (Muhammad SAW). Hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat dengan kekeliruan dan hawa nafsu”.[13]

Penutup
            Ketika sudah memahami sebuah kebenaran pada seseorang yang memiliki sebuah otoritas dalam sebuah keilmuan, maka kita hendaknya jangan ragu. Para mufassir bukanlah orang-orang biasa dengan ilmu yang biasa. Mereka adalah mujtahid , yang memperjuangkan nilai-nilai dan hukum-hukum islam hingga sekarang masih ada.

            Lagi-lagi disinilah nilai adab. Bagaimana kita menilai para ulama-ulama terdahulu. Dari karya-karyanya, fatwanya, dan perkataan-perkataannya. Jadilah orang yang beradab, orang yang bisa meletakkan sesuatu sesuai harkat dan martabatnya. Dimana Rasulullah SAW harus kita tempatkan. Dimanakah kedudukan beliau. Bagaimana dengan para sahabat-sahabat, ulama-ulama, dan guru-guru kita. Maka menyikapi itu semua adalah adab sebagai seorang muslim. Wallahu a’lam bi as-showaab.
                                                                                                                        
                                                                                                                                 Depok, 5 April 206



[1] Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis ilmiah ke-5 Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah angkatan ke-4, (Depok : 4 April 2016)
[2] Henri Solahuddin, Al-Qur’an Dihujat, (Al-Qalam, Gema Insani, Jakarta : 2007), hal.9
[3] Al-A’zami, Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai Kompilasi, (Gema Insani, Jakarta : 2014), hal.46
[4] Ibid, 50
[5] QS;al-Qiyamah : 16-19
[6] Ibid, 86
[7] Ibid, 90
[8] Ibid, 95
[9] Adian Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, (Gema Insani:2007), hal.7
[10] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, (Gema Insani, Jakarta : 2005), hal.290
[11] Adian Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, (Gema Insani : 2007), hal.49-50
[12] Ibid, 18
[13] Henri Solahuddin, Al-Quran Dihujat, (Al-Qalam, Gema Insani, Jakarta;207) bag.pengantar penulis, xxvi

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia