Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kyai Hasan dan Potensi Santri Gontor

 

Oleh: Bana Fatahillah

(Alumni PMDG tahun 2014) 

Jika ditanya apa yang paling diingat dari pesan Pak Kyai Hasan. Maka jawabannya ialah tentang skill dan potensi diri. Pesan ini tidak saya dengar semasa santri. Namun saya tangkap langsung dari sosok beliau. 

Coba perhatikan, Pak Kyai Hasan itu full skill. Beliau itu main bola ya jago. Baca al-Quran ya buaagus. Main Musiknya juga top. Penguasaan hadis dan ayat al-Quran juga mantep. Bahasa arab dan inggrisnya ya bagus. . Apalagi soal kepemimpinannya. Sejauh saya di Gontor saya sangat ngefans dengan gaya bicara dan ketegasan beliau. Pokoknya beliau itu paket komplit.

Pesan ini saya dengar langsung saat beliau berkunjung ke Kairo pada (6/5/2019) lalu dan bertemu dengan kami. Beliau bilang --yang kurang lebih intinya-- dalam diri Kalian itu ada potensi. Sadarilah itu. Sebab dengan potensi dan skill inilah Kalian menjadi “musta’mal”

Saat kunjungan itu beliau bertanya begini ke kami: Alumni Gontor itu bertebaran dimana-mana, dari mahasiswa hingga yang bekerja di kedutaan… Yang main bola ya gontor, yang local staff ya gontor, bahkan yang jadi supir ya juga gontor. Nah, pertanyaannya: Memangnya mereka yang menjadi local staff KBRI, DPR, Atase Pendidikan, ataupun Pejabat lainnya itu, siapa yang ngajarin mereka menjadi seperti itu?

Kyai Hasan tidak menjawab mereka semua dididik oleh Gontor. Sebab baginya  tugas Gontor itu adalah meng-eksplorasi potensi-potensi dalam jiwa santrinya. Karenanya beliau menjawab, "Itu semua karena POTENSI yang Kalian miliki..Kalaulah bukan karena POTENSI itu, tugas-tugas seperti ini tidak dapat kalian emban!” tegasnya. 

Jujur saya terpukau. Saat mendengar kalimat ini saya yakin sejatinya Kyai Hasan ingin menyadarkan potensi dalam diri alumninya. Yang mana potensi itu sudah dibuka dan diarahakan oleh Gontor, sekalipun tidak secara langsung. Meskipun sedikit, namun itu cukup untuk menjadi bekal. Tinggal bagaimana mereka menyadari.  

Hal yang perlu diingat adalah, potensi itu tidak melulu soal akademik. Tapi diberbagai bidang. Pak Kyai Hasan tidak pernah tuh mengharuskan santrinya jadi ustadz dan Kyai. Yang beliau selalu tegaskan selama ini –dalam tangkapan saya— adalah bagaimana menjadi Mundzirul Qoum dan bermanfaat di masyaratkat dengan potensi atau skill yang dimilikinya.

Dan menjadi manfaat itu tidak melulu harus mimpin pondok. Anda bisa jadi Pengusaha, Montir, Pejabat, Dosen, Arsitek dllnya. Intinya, Kita semua bisa menyadari potensi kita dan menjadi manfaat dengannya.

Karenanya tidak perlu aneh jika Santri Gontor yang dulu saat mondok “mbeler” saat di luar ia bisa memimpin perusahaan A, majlis B, Sidang C, Parlemen D dan lain sebagainya. Justru aneh kalau alumni Gontor itu “bingung” mau ngapain di luar. Sebab lagi-lagi, kita diarahkan bagaimana menyadari “skill” yang kita punya tadi agar menjadi manfaat. Yang dalam bahasa pak Yai Hasan, skill ini agar nantinya membuat antum 'musta'mal'

Saya pun tidak pernah menyangka, yang dulu kerjaannya ngurusin tongkat sama niup-niupin peluit sekarang aktif nulis menulis. Ngurus Pondok. Ada yang dulunya proletar amaluhu ikhtiba daiman sekarang jadi pelaut, jadi DUBES, jadi KEPSEK. Dulunya bagian bersih lingkungan sekarang mimpin Pondok. Dan lain sebagainya. Sekali lagi sejatinya Gontor berperan penting bagaimana menyadarkan skill dan potensi santrinya dan menjadikannya manfaat.

Terkait potensi dalam diri, beliau mengutip ayat: Wa fī anfusikum afalā tubshirūn (dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?) ayat sebelum ini menjelaskan bahwa di Bumi dan di Langit ada tanda kekuasaan Tuhan. Lalu dilanjutkan dengan kekuasaan Tuhan yang ada pada diri kita.

Lalu beliau menegaskan: “Karenanya, jika di bumi saja ada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka di dalam dirimupun seharusnya ada, dan hal itu adalah potensi mu, maka sadarilah!... Kalian itu berpotensi nak. Buka wawasan kalian dan rasakanlah bakat-bakat yang terpendam dalam dirimu!” begitu tegasnya.

Potensi inilah yang menurut beliau akan mewarnai diri, masyarakat juga lingkungan kita. Maka sekali lagi inilah sebenarnya tugas gontor, yaitu meng-eksplorasi potensi-potensi dalam jiwa santrinya. Menjadikan mereka semua sebagai seorang pelopor dan perintis, bukan malah mendidik mereka  bermental ‘ikut-ikutan’ yang kerjaannya hanya meniru. 

Akan tetapi ada yang perlu diingat. Dan ini penting. Jangan sampai potensi itu membuatmu sombong dan angkuh. Sebab itu akan menghancurkan dirimu sendiri.

Dalam konteks pelajar di Mesir, waktu itu kami diingatkan untuk tidak  sombong dengan apapun yang kita punya. Sebab yang seperti kita di mesir ini banyak, baik dari segi potensi, akademisi, kecakapan dsb. Bahkan tersebar jargon yang sangat populer “yā dākhila mishr! Man mitslukum katsīr!.” (Hei yang ada di Negri Mesir, yang sepertimu itu banyak lo di sini).

Hal ini bisa diterapkan di ranah apapun yang pada intinya, jangan sampai kita sombong dengan potensi yang kita miliki. Sebab yang seperti Anda itu sejatinya banyak, bahkan banyak yang lebih. Kesombongan justru akan menjatuhkanmu

Karenanya, pesan Kyai Hasan setelah memperingati hal ini: “JADILAH ORANG YANG BESAR HATI DAN JIWANYA BUKAN BESAR MULUT DAN KEPALANYA”

Jika boleh saya tafsirkan, maksud pak Kyai Hasan dalam perkataan ini adalah: warnailah dunia ini dengan segala potensi yang kalian miliki. Lakukanlah berbagai inovasi dan kreasi dengan kemampuan tersebut. Tapi ingat, jangan sekali-kali merasa sombong dan congkak. Jangan menjadi orang yang hanya banyak bicara namun sedikit berbuat (besar mulut), atau bahkan banyak berbuat namun tidak mau mendengarkan masukan ataupun kritikan dari berbagai pihak (besar kepala).

Maka sekali lagi, sebagai alumni Gontor, kita harus sadari betul potensi yang kita miliki. Kita jangan sampai bingung mau ngapain di luar kelak. Itu sungguh akan membuat malu gontor. Dari dulu kita sudah dicekoki jargon “Bergeraklah, sebab ada keberkahan dalam suatu pergerakan”. Bergeraklah dengan potensi Kalian. Warnai masyarakat dengan skill yang Kalian punya. Harus siap Memimpin dan dipimpin. Sebab kita adalah mundzirul qoum. Begitu pesan yang selalu disampaikan Pak Kyai hasan.

Hari ini 24 Mei 2022, Pak Kyai Hasan masuk ke umurnya yang ke-75. Mari kita doakan bersama-sama agar beliau senantiasa diberi kekuatan dalam memimpin Pondok Gontor. Diberikan kesehatan, kemudahan, serta keridhoan Allah Swt. Akhirul Kalam,

Selamat Ulang Tahun Kyaiku.

Semoga Allah Swt selalu menyertaimu dalam setiap langkah..

 

Pesantren At-Taqwa, Depok.

Selasa, 24 Mei 2022

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia