Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Rihlah Ilmiah di Negri Jiran (18-21 Februari 2016)

Malaysia, 18 Februari 2015
Hari ke-1

Univeristas Sains Islam Malaysia

University sains Islam Malaysia (USIM), Nilai-Malaysia
            Setibanya Kami di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), kami di Jemput oleh Dr.Malki. beliau adalah Dosen di salah satu Universitas  ternama di Malaysia, yaitu  Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) di daerah Nilai, Malaysia. kami langsung dibawa oleh beliau ke USIM menggunakan mobil seperti avanza dengan merek Malaysia.

            Di Universitas Sience Islam Malaysia, saya, Ust Akmal Sjafril bersama Ust Ardiansyah, di tempatkan di Kantor milik Dr.Malki. karena adanya suatu rapat, Dr.Malki meninggalkan kami di Ruangan itu sampai selesainya ia dari rapat tersebut. Di dalam Ruangan itulah terjadi beberapa perbincangan mengenai banyak hal dalam ghazwul fikri, terutama dalam hal islam liberal dan perdebatan para kalangan dalam mengkritik pendapat  ulama.

Sebelum mereka membicarakan hal tersebut, dan sebelum meninggalkan ruangannya, Dr.Malki Muhammad Natsir menunjuk sebuah artikel yang ada pada dinding berita yang tertempel di Kantor beliau. Itu adalah sebuah berita tentang bubarnya lembaga ISTAC.  Ia menjelaskan bagaimana bisa bubarnya lembaga ISTAC di Malaysia. Benarkah ada unsur poltik disana, atau adanya suatu hasad yang terpendam pada diri orang-orang yang tidak senang terhadap Al-attas. Bahkan Dr.Malki mengatakan, “bahkan orang orang pembelajar yang membawa buku-buku al-attas pun turut dicurigai. Kini ISTAC sudah tiada. Dan tempatnya pun sudah sepi dan tiada.

            Setelah ditingglkan oleh Dr.Malki, Mereka berdua, Ust Akmal dan Ust Ardi langsung menjelasan mengenai kerancuan pikiran dari Islam liberal. Memang karena sudah pakar dibidang ini, beliau, ust Akmal Sjafril begitu jelas dan tegas menerankan hal ini. “di Buku Islam Liberal 101, saya sangat menggaris bawahi pemikiran orang liberal, yaitu, apabila orang liberal mengutip ayat Al-Qur’an, maka dia akan mudah tergelincir”. Karena kenapa ? kita akan dengan mudah mengecek, atau memverifikasi ayat alquran tersebut dengan seksama. Dan pada biasa nya mereka hanya mengutip sebagian dari ayat alquran dan memotongnya begitu saja. Serta menafsirkan secara tekstual ayat tersebut.
            Orang liberal itu tidak memiliki adab. Tidak bisa menepatkan sesuatu pada tempat nya sesuai harkat dan martabatnya. “Jangan pernah berkata bahwasanya orang liberal hanya menggunakan rasio saja dalam menafsirkan al-qur’an. Karena itu seolah-olah kita, yang  paham al-qur’an tidak menggunakan rasio atau akal dalam menafsirkannya, justru orang liberal itulah  yang tidak menggunakan rasio nya”, tegas Ust Akmal.

            Ust Ardiansyah, seorang kandidat Doktor dalam Pendidkan dan Pemikiran islam di Universitas Ibnu Khaldun, menjelaskan tentang kesalahan titel “ustadz” pada kebanyakan orang sekarang.”banyak sekali sekarang orang yang mudah dipanggil ustadz. Hanya karna pintar dalam ceramah, maka dapatlah ia titel ustadz.”, ujar Ust Ardi. Apakah pantas seorang yang menyampaikan sebuah ilmu tentang agama malah membuat lawakan dalam penyampaiannya,  namun tidak ada isinya sama sekali. Walaupun itu wajar dan keharusan, namun tidak sesering yang kita bayangkan. Seperti yang kita banyak lihat di stasiun televisi saat ini.    

Teori Linguistik VS Teori Evolusi

            Ust Akmal Sjafril, seorang Master dalam bidang pendidikan dan pemikiran islam dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan seorang penggagas dan pendiri organisasi Indonesia tanpa JIL (ITJ) ini mengatakan bahwasanya ia mengikuti sebuah kuliah online dari Barat. “Dalam salah satu kuliah online tersebut, pemateri pernah menyampaikan sebuah kuliah tentang teori bahasa/linguistik. Yang mana materi ini sudah dibicarakan oleh beberapa ulama pada zaman dahulu”, ujar beliau.

Yang saya sangat tangkap dari pembicaraan bersama Ust Akmal adalah tentang bagaimana beliau menerangkan teori linguistik atau berbahasa. Kita belajar bahasa dari nama. Dan semua manusia pasti mempelajari bahasa itu. Kita diwaktu kecil belajar mengucapkan “mama”, “ayam” dan lainnya. Keistimewaan nabi adam adalah ia mengetahui semua benda benda yang ada dimuka bumi. Manusia dengan berbahasa, akan mengetahui dari yang tidak ada, yang ada, dan apa yang harus ia lakukan dengan yang ada tersebut. Berbeda halnya dengan Hewan. Hewan adalah makhluk yang hanya bekerja secara insting. Walaupun ia berbahasa, namun ia tidak akan memikirkan hal yang tidak ada dihadapannya. Ia hanya bergerak dan berfikir secara instingnya.

            Sebagai contoh, seekor simpanse akan berteriak, “huuuuaaha” ketika melihat sebuah makanan yang enak untuk memanggil kawannya. Bisa kita artikan bahwa suara simpanse itu bermaksud untuk memanggil kawannya untuk makan. Namun, simpanse itu hanya akan berfikir bagaimana ia besok bisa menemukan makanan itu lagi. Dia tidak akan berfikir bagaimana ia bisa membuat makanan itu menjadi lebih enak, atau lebh gurih. Dia tidak akan berfikir bagaimana bisa mendapatkan makanan yang lebih enak dan dibagikan satu satu kepada kawannya tanpa ada yang berebutan. Itu semua adalah insting berbahsa hewan. yang tidak memikirkan sesuatu untuk ada atau yang belum ada. Berbeda dengan manusia. Manusia akan selalu berfikir, dengan apa yang ada, bahkan yang belum ada sekalipun hingga untuk apa.

            Seorang manusia akan berfikir bagaimana ia bisa membuat ini, itu. Bagaimana dari yang tadinya beras, menjadi nasi yang sedemikian enaknya. Bagaimana yang tadinya hanya sebuah besi, bisa menjadi lemari. Bagaimana yang tadinya kayu, bisa menjadi meja. Itulah manusia, yang mempunyai keistimewaan berbahasa dengan akalnya. Ust Ardiansyah bisa menyebutnya “al-insaanu hayawaanun natiq”.

            Teori linguisitk ini sangat bisa memberi alasan dengan teori evolusi. Teori evolusi yang sampai saat ini kita kenal adalah teori evolusii berupa fisik atau hardwarenya saja. Yang kita lihat dari kera sampai bisa menjadi manusia. Namun sebagai detailnya lagi, kita harus melihat dari dalamnya atau softwarenya. Seperti otak manusia dan otak bintang yang saya sebutan tadi. Apakh mungkin bisa berubahnya otak hewan yang sedemikian rupa menjadi otak manusia yang sangat imajinatif dalam hal apapun.

            Selanjutnya masalah sejarah teks tulisan Al-Quran. Orang liberal mengatakan, bahwasanya bahwa mushaf yang kita gunakan sekarang adalah mushaf utsmani, yaitu mushaf yang disahkan oleh utsman tanpa menetujui para sahabat, salah satuny adalah Abdullah bin Mas’ud.  Padahal sudah sangat jelas bahwa utsman mnegsahkan mushaf itu didepan seluruh sahabat.

            Begitu asiknya kami mengobrol, tidak terasa  sudah masuk waktu zuhur. Lalu kami melaksanakan shalat Dzuhur di Surau yang ada dala Kampus. Ketika waktu sore tiba, kami langsung menuju rumah Dr.Malki. dan kami akan bermalam dan tinggal disana selama 3 hari di Malaysia ini.

Suasana diskusi di Rumah Prof. Wan
 Malaysia, 19 Februari 2016
Hari ke-2
Profesor.Wan Muhammad Nur

          Pagi ini, kami mengunjungi serta bersilaturrahim ke Rumah Prof.Wan Mohammad Daud. Beliau adalah guru besar di ISTAC. Aba juga sering menceritakan beberapa kisah tentang beliau. Beliaulah yang menjelaskan tentang konsep adab milik Prof.Syed Naquib al-attasterhadap guru-guru di Institute for studies islamic thought and civilization (INSIST). Banyak sudah buku-buku yang beliau tulis bersama Prof Syed Naquib al-Attas. Di Dalam bukunya, Prof.Wan selalu menekankan masalah islamisasi ilmu pengetahuan dan konsep Budaya ilmu. Setelah sebelumnya tidak pernah bertatap muka dengan Beliau, dan hanya membaca sekilas dari bukunya, akhirnya saya bisa bertemu dan melakukan sebuah diskusi bersama.

         RumahProf.Wan berada di Daerah yang bias dibilang terpencil. Rumahnya cukup besar, dengan mempunyai gaya bangunan yang hamper samaseperti ISTAC. Konon beliau memang sengaja membuatnya seperti itu. Kami masuk ke Ruang perpustakaan. Dengan beberapa kursi dan meja yang ada ditengah dan di kelilingi oleh lemari buku yang sangatpenuh. Mungkin akan susah membacanya satu persatu, namun buku buku itu bisa menjadi referensi untuk semua pelajar yang ingin mendalami dalam berbagai bidang ilmu.

          Setelah sambutan sedikit dari Prof.Wan, beliau tiba-tiba membahas masalah nine eleven (o9/11) yang terjadi di Amerika. Perisitwa Sembilan September itu dia katakan adalah The Crime against Humanity yang telahmanipulasi data yang ada. Itu adalah rekayasa umat Barat yang disusunsecararapih, namundapatterbongkar. “kalau di Barat, sebuahperistiwa yang besar, biasanya akan dinamakan dengan nama daerah/tempattersebut. Sepertihalnya pearl Harbour, Peristiwa Paris, dll. Namun, kenapakejadianinitidakdinamakandengan WTC/amerika. Tapi yang dibentuk adalah nine eleven”. Nine eleven adalahsebuahkodetelfon Amerika, yang artinya bergegaslah, ayomenuju. UstAkmalSjafrilberkata di tengah-tengahpembicaraan, “pada saat itusaya sedang kuliah S1, dansemuaanaktekniksipilmengatakanituadlaahhal yang sangatmustahil. Bagaimana sebuah baja, bias runtuh secara jatuh bebas, ketika ditabrak oleh sebuah pesawat”.

      “kita bukan anti-west, anti-amerika, atau apapun. Namun kita hanya anti terhadap apa yang menyimpang dari kebiasaan dan kesalahan mereka.” Ujar Prof.Wan. kenapa dengan semua kebodohan itu, umat muslim masih saja ada yang percaya dengan hal itu. Sehingga setelah kejadian itu beberapa negara muslim di Asia menjadi korbannya. Iraq, Afghanistan, Iran sampai pada saat itu mereka mengecek seluruh Negara muslim yang ada, dan Indonesia salah satunya.

   SetelahituProf.Wan menerangkan kembali bagaimana hakikat dari sebuah adab. Bagaimana kita bisa meletakkan sesuatu dengan baik sesuai proporsinya. “diDalam al-Qur’an yang diaktakan adalah wainnakala’alakhuluqinadzim namun di Hadist rasul mengatakan ahsanutta’diib.” UjarProf.Wan. sebenarnya tidak ada perbedaan dalam penyebutan akhlaq dan adab,namun tidak mungkin kita mengatakan akhlaq terhadap warna, akhlaq terhadap tumbuhtumbuhan, akhlaq terhadap hewan. Pastikitamengatakan adab terhadap warna, tumbuh tumbuhan dan hewan. Karena akhlaq lingkupnya hanya kepada manusia.

                  Kita haruslah menajadi manusia yang beradab. Tanpa adab, seseorang tidak berhak mempunyai ilmu. “kalau orang yang tidak mempunyai adab lalu menjadi pemimpin, maka kerusakannya tidak begitu parah, namun, apabila orang yang berilmu dan tidak beradab menajadi pemimpin, maka akan rusak semua yang diaturnya. Mereka akan menggunakan ilmu itu dengan semaunya. Itulah pentingnya adab. Konsepadab, adil, hikmah, musyawarah, itulah yang selalu ditekankan Prof.Naquib sejak lama.

                  Hikmah adalah ilmu yang membimbing adab tersebut menuju sebuah keadilan. Jadidari hikmah, dikerjakan dengan adab, dan berbuah keadilan. Adab terhadap ulama, terutama, bagaimana kita menghormati karyanya. Kalau ingin mengkritik karya para ulama, coba pergunakanlah adab dengan baik. Jangan jadi manusia yang tidak beradab.

Kajian bersama Ust Akmal di University of Malaya
Islam Liberal dan LGBT bersama Ust.Akmal Sjafril
Di Masjid ar-Rahman, University of Malaya (UM)
14.00-16.00

                  Sore itu, di Masjid Ar-rahman, Universitas Malaya, UstAkmal Sjafril mengisi sebuah materi dengantema “Islam Liberal dan LGBT” di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Yang datang di Aula tersebut bisa terhitung banyak karena penuhnya tempatitudengan para Mahasiswadan non Mahasiswa. Ini adalah  kali pertamanya Ust Akmal mengisi di Malaysia ini.

                  Ust Akmal Sjafril, seorang Master pendidikan di bidang Pendidikan dan pemikiran islam yang pakar dibidang islam liberal, memulai slide nya dengan tema “Ghazwul Fikri”. Ghazwul fikri, dalam bahasa Indonesia bisa dibilang dengan pemikiran. Namun perang disini bukanlah perang dengan fisik. Senjata yang harus dimiliki di Peperangan ini bukanlah pedang, pistol, atau panah. Melainkan ideologi dan ilmu yang banyak. Tujuan dari peperangan adalah penaklukan. Sebagaimana banyak kalangan islam liberal ingin sekali menaklukkan ideologi kaum muslimin.

                  Beliau menerangkan bahwasanya akar dari permasalahan ini adalah arti yang terkandung dalam surat al-Hijr ayat  39, yang artinya : “ia (iblis) berkata, tuhanku, oleh karena Engkau telah memustuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di Bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya”. Disinilah sangat jelas, bahwasanya iblis dengan terang-terangan berkata pada Allah, bahwasanya akan menjadikan semua kejahatan di Dunia ini menjadi indah. Iblis itu percaya bahwa Allah itu satu, mengakui keberadaan Allah,  pernah tinggal di Surga, namun ia tidak taat dan sombong terhadap Allah SWT karena tidak mau menyembah dihadapan manusia. Tidak berbeda jauhlah sifat  orang-orang liberal dengan iblis. Mereka sombong dan angkuh.
                  banyak sudah penyimpangan aqidah yang sudah dibuat oleh orang-orang liberal. Dari pendidikan, Media, dan budaya. Ust Akmal memberikan contoh dengan kejadian yang sangat tragis di Kampus UIN Sunan Ampel. Ketika ospek mahasiswa baru memunculkan banner bertuliskan “tuhan membusuk”. Itu adalah salah satu contoh liberalisasi dalam bidang pendidikan. Dalam bidang media, Ust Akmal memberikan Contoh dengan film fim yang ada di Indonesia. Yang membuat mindset orang-orang menjadi salah mengartikan islam.
                  Selanjutya Ust Akmal melanjutkan materinya tentang masalah yang sedang hangat dibicarakan di Kalangan masyarakat Indonesai, yaitu LGBT. Beliau menjelaskan bahwasanya ini adalah faktor dari lingkungan dan keluarga. Kaum LGBT selalu mengaganggap ini adalah masalah orientasi seksualitasnya, namun ini bukanlah suatu fitrah yang berasal dari lahir, melainkan penyakit yang sangat berbahaya. “didik lah anak anak kita dengan pendidikan yang baik. Perhatikanah setiap pergaulan mereka. Siapa temannya, apa yang ia pegang, dan apa yang ia pelajar. Karena anak di saat ini sangatlah berbeda dengan dulu”, tegas Ust Akmal.

                  Di malam hari, kami melanjutkan perjalanan ke Universitas Islam Antarbangsa (UIA). Ust Akmal akan menyampaikan materi yang sama kepada PPI pada malam itu. Karena sudah mendengarkan pemaparan dari beliau di Siang hari, saya menyempatkan bertemu dengan teman-teman angkatan yang belajar disana. Sampai menginap di Asrama mereka.



Sabtu 20 Februari 2016
Prof.al-Attas "On Justice and the nature of man" in UTM, Malaysia
Kuala Lumpur,University Teknologi Malaysia (UTM)
On Justice and The Nature of man

            Hari itu adalah hari dari sebuah alasan kami pergi ke Negri Jiran ini. yaitu keikut sertaannya kami dalam Kuliah terbuka di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) oleh Prof.Syed Muhammad Naquib al-Attas yang bertemakan “On Justice and the nature of man”. Judul Itu diambil dari nama buku yang belum lama ini ditulis oleh Prof.al-Attas sendiri. Di Dalam buku itu beliau membahas konsep keadilan dalam surat (4):58 dan proses tebentuknya manusia dalam surat (23) 12-14.

            Al attas menerangkan tentang konsep keadilan pada diri sendiri. Perintah dalam surat (4):58 itu adalah dari Allah langsung untuk kepada orang yang mempunyai ahli (ahl) di dalam kepercayaan. Seseorang haruslah berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Karena fitrah seseorang akan kembali kepada perjanjiannya ketika ia ditiupkan sang ruh, lantas ditanya oleh Allah, “alastu birobbikum” maka ruh dalam diri kita menjawab, “qooluu bala syahiddnya”. Inilah sebuah perjanjian ruh yang ada dalam diri kita terhadap Allah SWT.

            Lawan kata dari adil adalah zhalim. Zhalim adalah sikap dimana kita tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam prespektif Barat, manusia melakukan konsep keadilan haruslah ada sebuah objeknya. Namun dalam prespektif islam, manusia haruslah adil terhadap dirinya sendiri terlebih dahulu. Yaitu, mengembalikan ruh/jiwanya tersebut kepada sang pemiliknya, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan semua perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

            Kalau kita menyukutukan Allah, dan tidak taat kepada-Nya, berarti kita menzhalimi diri kita. Yaitu fitrah yang ada dalam diri kita. Itulah sebagian konsep keadilan yang diterangkan oleh Prof.Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya On justice and the nature of man. Dan selanjutnya al-attas menaruh konsep Manusia pada kata “nature of man”. Karena manusia, sangatlah berkaitan dengan semua perintah Allah yang ada dalam al-qur’an, termasuk yang ada dalam surat (4) :58.
            Inilah mungkin beberapa point penting yang disampaikan oleh Prof.al-Attas. Dan masih banyak lagi penjelasan beliau yang perlu dipahami. Karena untuk memahami pemikiran beliau, kita haruslah memiliki guru yang selalu membimbing dalam pemahamannya. Semoga kita bisa terus bisa mempelajari ilmu-ilmu yang ia sampaikan. Dan semoga beliau selalu mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah atas segala ilmu yang telah diberikan kepada kita.
                                                                                                           

                                                                                                            Depok, 2 Maret 2016 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia