Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Untaian Mutiara bait Mahfudzot : Adab & Ilmu
Bisnis
April 19, 2016
Amalkanlah adab
dengan sebuah Ilmu
(Sebuah Pengamalan
Nilai dari Mutiara Hikmah bait-bait Mahfudzot)
Oleh : Bana Fatahillah
A.
Berilmulah karena kau bukan Binatanag
“Laula al-ilmu lakaana an-nasu ka al-bahaaimi”
(Jikalau tidak ada Ilmu maka manusia layaknya binatang).
Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seorang Muslim untuk mencari
ilmu. Rasulullah SAW bersabda : “jadilah kamu orang-orang yang berilmu, atau
orang yang belajar akan ilmu, atau orang yang mendengarkan akan ilmu, atau
orang yang mencintai dengan (majlis) keilmuan, dan jangan kamu menjadi orang
yang kelima maka kamu akan hancur”. Hadist ini sangat jelas bahwa Rasul
memerintahkan kita untuk menjadi orang aalim atau orang yang berilmu
atau belajar akan ilmu. Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa, “Tolaabu
al-ilmu fariidotun ala kulli musliimin wa al-musliimat”.menuntut ilmu itu
wajib bagi seorang muslim dan muslimat.
Dalam ilmu Logika (Mantiq) disebutkan bahwa manusia itu
adalah jenis hewan yang berbicara (al-insaanu hayawaanu an-naatiq). Kata
naatiq disitu bukan hanya berarti berbicara, melainkan berbicara dan
berfikir. Karena semua tindakan manusia, termasuk berbicara pasti berhubungan
dengan berfikir. Ketika hati manusia ingin berkata sesuatu, maka kata-kata itu
akan masuk ke otak untuk difikirkan dan akan berujung dan keluar melalui mulut.
Itulah yang disebut berbicara.
Disinilah letak perbedaan yang sangat jelas antara hewan dan
manusia. Allah menciptakan manusia dengan akal dan pengetahuan yang sempurna. Dengannya lah manusia dapat
berfikir mengenai berbagai hal. Ketika ia tidak mampu menggunakan akalnya
tersebut, maka ia disamakan seperti binatang (lakaana an-naasu ka
al-bahaaimi).
Al-Qur’an pun dengan jelas mengatakan orang-orang yang tidak
menggunakan akal nya untuk berfikir, matanya untuk melihat (tanda-tanda
kebesaran Allah), telinganya untuk mendengar (ayat-ayat Allah) seperti
binatang, bahkan lebih sesat darinya. Allah berfirman :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ
لَهُمْ قُلُوْبٌ لَايَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَايُبْصِرُوْنَ بِهَا
وَلَهُمْ أَذَانٌ لَايَسْمَعُوْنَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ
أَضَلُّ أُلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُوْنَ.
“Dan sesungguhnya telah
kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka
mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan untuk memahami ,mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat, dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar, mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang
lalai”. (QS : al-A’raf : 179)
Ust Akmal Sjafril, Penulis buku ‘Islam Liberal 101’ pernah
menjelaskan kepada saya tentang teori linguistik atau teori bahasa. Menurut
beliau teori ini adalah salah satu teori yang dapat membantah teori evolusi.
Dan dengan teori linguistik atau bahasa ini terlihat jelas perbedaan antara
manusia dan hewan.
Kita pertama kali belajar bahasa dari sebuah kata-kata. Dan semua manusia
pasti mempelajari kata-kata itu. Diwaktu kecil, kita belajar mengucapkan sebuah
kata-kata, seperti “mama”, “ayam”, “susu” dan lainnya. Nabi Adam dahulu pun di ajarkan oleh para malaikat akan nama-nama
dari sebuah benda dan itu berbentuk kata. “wa allama aadama al-asmaa kullaha
tsumma aradohum ala al-malaaikati”.
Manusia (al-insaanu), dengan berbahasa, akan mengetahui dari
yang tidak ada, yang ada, dan apa yang harus ia lakukan dengan yang ada
tersebut menjadi bentuk lain dari yang ada. Berbeda halnya dengan Hewan. Hewan
adalah makhluk yang hanya bekerja secara perasaan (insting). Walaupun ia
berbahasa, namun ia tidak akan memikirkan hal yang tidak ada dihadapannya. Ia
hanya bergerak dan berfikir secara instingnya dengan menjadikan apa yang ada
dihadapannya.
Sebagai contoh,
seekor simpanse, akan berteriak, “huuuuaaha” ketika melihat sebuah makanan yang
enak untuk memanggil kawannya. Bisa kita artikan bahwa suara simpanse itu
bermaksud untuk memanggil kawannya dan memberitahukan bahwa ditempatnya
tersebut terdapat makanan atau ia menginginkan sebuah pisang tersebut. Namun,
simpanse itu hanya akan berfikir bagaimana ia besok bisa menemukan makanan itu
lagi. Dan akan selalu seperti selanjutnya.
Simpanse tersebut tidak akan berfikir bagaimana ia bisa membuat
makanan itu menjadi lebih enak, atau lebh gurih. Dia tidak akan berfikir
bagaimana bisa mendapatkan makanan yang lebih enak dan dibagikan satu satu
kepada kawannya tanpa ada yang berebutan. Itu semua adalah insting berbahsa
hewan. yang tidak memikirkan sesuatu untuk ada atau yang belum ada. Berbeda
dengan manusia. Manusia akan selalu berfikir, dengan apa yang ada, bahkan yang
belum ada sekalipun hingga untuk apa.
Inilah mengapa al-Qur’an sering kali mengingatkan manusia dengan
kata “afalaa tatafakkaruun” (apakah kamu tidak berfikir). Allah kerap
sekali menyuruh hamba-Nya untuk selalu berfikir dengan apa yang terjadi di Muka
Bumi ini.Karena ini semua adalah tanda-tanda yang Allah tunjukan kepada Manusia
atas kebesaran-Nya. Allah berfirman :
إِنَّ فِي
خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الّلَيْلِ وَ النَّهَارِ لَأَيَاتٌ
لِّأُلِى الْأَلْألْبَابِ.() أَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا
وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّرِ ()
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan Bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata) “ya Tuhan kami,
tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha suci Engkau lindungilah kami dari
api Neraka” (QS:Ali Imron : 190-191)
Sebagaimana ayat diatas, manusia sebagai makhluk yang berakal
seharusnya berfikir dengan akal yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan
berfikir, kita akan mencapai pada suatu kebenaran. Nabi Ibrahim dahulu berfikir
tentang siapa Tuhan yang harus ia sembah, apakah Matahari, atau Bulan, atau
patung-patung yang dibuat oleh ayahnya. Hingga pada akhirnya ia menemukan
hidayah untuk menyembah Allah SWT. Inilah sebagai contoh berfikir untuk mencari
kebenaran.
Seorang manusia
akan berfikir bagaimana ia bisa membuat ini, itu. Bagaimana dari yang tadinya
beras, menjadi nasi yang sedemikian enaknya. Bagaimana yang tadinya hanya
sebuah besi, bisa menjadi lemari. Bagaimana yang tadinya kayu, bisa menjadi
meja. Itulah manusia, yang mempunyai keistimewaan berbahasa dengan akalnya. Maka
sebagaimana halnya diatas manusia disebut sebagai jenis hewan yang berbicara (al-insaanu
hayawaanun natiq).
Teori linguisitk
ini sangat bisa memberi alasan dengan teori evolusi. Teori evolusi yang sampai
saat ini kita kenal adalah teori evolusii berupa fisik atau hardwarenya
saja. Yang kita lihat dari kera sampai bisa menjadi manusia. Namun sebagai
detailnya lagi, kita harus melihat dari dalamnya atau softwarenya.
Seperti otak manusia dan otak bintang yang saya sebutan tadi. Apakh mungkin
bisa berubahnya otak hewan yang sedemikian rupa menjadi otak manusia yang
sangat imajinatif dalam hal apapun.
Maka untuk
membedakan antara manusia dan hewan, manusia haruslah berilmu. Manusia sebagai
makhluk yang sempurna, harus menuntut ilmu. Dalam salah satu pepatah dikatakan,
“taalam falaisa al-mar u yuuladu ‘aaliman”, (belajarlah, karena tidak
ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan pintar/mengetahui).
B.
Syarat Menuntut Ilmu
“Akhii lan tanaala al-ilma illa bi sittatin sa unbiika an
tafsiiliha bi bayaanin : Dzakaaun, wa Hirshun, wa Ijtihaadun, wa dirhaamun, wa
suhbatu ustaadzin, wa tuulu zamaanin.”
Imam Syafii berkata dalam salah satu syairnya, “wa man faatahu
at-ta’liimi waqta syabaabihi fakabbir alaihi arba’an liwafaatihi, (dan
barang siapa yang meninggalkan menuntut ilmu di waktu mudanya, maka
bertakbirlah empat kali atas kematiaannya). Disini Imam Syafi’i menekankan akan
pentingnya menuntut ilmu di waktu muda. Karena pepatah lain mengatakan bahwa
menuntut ilmu diwaktu muda ibarat mengukir diatas sebuah batu.(al-ilmu fi
as-shigoori ka an-naqsyi ala al-hajari).
Ketika kita tau
betapa pentignya kedudukan ilmu, maka kita akan berlomba-lomba untuk
mendapatkannya. Allah berjanji dalam salah satu ayat-Nya akan mengangkat
derajad seseorang yang beriman dan menuntut ilmu. Allah berfirman “Yarfa’i
Allahu alladziina aamanu minkum wa alladziina uutu al-ilma darajaat” (Allah
akan mengangkat derajad diantara kalian orang-orang yang beriman dan menuntu
ilmu).
Berbicara masalah
ilmu, maka kita berbicara masalah adab. Berbicara masalah ilmu maka kita
berbicara masalah cara bagaimana mendapatkan ilmu tersebut. Seperti halnya
shalat, maka kita akan membahas syarat untuk mendirikan shalat. Maka disini
Imam Syafii menerangkan dengan jelas (sa unbiika an tafshiilihaa bi
bayaanin) syarat-syarat seseorang agar dapat mendapatkan ilmu.
Yang pertama adalah kecerdasan (dzakaaun). Kecerdasan disini
bukanlah kepintaran bagi setiap orang sebelum menuntut ilmu, atau bukan juga
wajib bagi setiap orang memiliki kecerdasan sebelum menuntut ilmu. Melainkan, dzaka
disini adalah keadaan seseorang untuk mau terus berfikir dengan akal dan
kecerdasan. Karena seseorang tidak akan mendapatkan sebuah ilmu atau
pengetahuan tanpa berfikir. Seperti yang telah diuraikan diatas, berfikir
merupakan tindakan yang wajib dilakukan oleh manusia sebagai makhluk yang
sempurna.
Yang kedua adalah
ketamakan (Hirshun). Kata hirshun biasa kita artikan sebagai
tamak. kenapa menuntu ilmu perlu sebuah ketamakan, sementara Allah tidak suka
orang-orang yang melampaui batas. Dalam al-Qur’an disebutkan Inna Allaha laa
yuhibbu al-musriifin. Rasulullah SAW juga mengatakan “Kuluu wasyroobuu
watasoddaqu wa laa tusriifuu” (makanlah, minumlah, dan bersedekahlah,
tetapi jangan melampaui batas).
Tamak disini bukan
dimaksudkan seperti hal-hal yang dilarang oleh Allah atau Rasul-Nya diatas,
namun tamak disini adalah sikap sebagai penuntut ilmu yang tidak puas dengan
ilmu yang ia punya atau yang sudah ada. Tidak adanya kepuasan atau kecukupan
terhadap ilmu yang sudah kita punya akan membuat ilmu-ilmu yang belum kita
miliki masuk ke diri kita. Ibarat gelas kosong, yang selalu dapat terisi oleh
air yang dituangkan ke dalam gelas itu. Kalau kita sudah merasa penuh, maka
cukuplah diri kita dengan ilmu yang sedikit itu.
Yang ketiga adalah
sungguh-sungguh (ijtihaadun).Seperti yang dikatakan oleh Sayyid Ahmad
al-Hasyimi dalam salah satu syairnya, “Syammir wa jidda li amrin anta
toolibuhu idz laa tunaalu al-maashi qotthun bi al-kasalai”(singsingkan
lengan baju, dan bersungguh sungguhlah mencapai apa yang anda inginkan.sebab
kehormatan itu tak bisa engkau capai hanya dengan bermalas-malasan). Ilmu tidak
akan kita capai kalau tidak ada kesungguhan dalam emncarinya.
Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, karena sebuah penyesalan adalah untuk
orang-orang yang malas, “Ijhad wa laa taksal wa la taku goofilan fanadaamatu
al-‘uqba liman yatakaasal”.
Yang keempat
adalah biaya (dirhaamun). Biaya adalah salah satu syarat untuk mencari
ilmu. Ibarat orang yang ingin menempuh perjalanan jauh, maka ia haruslah
menyiapkan perbekalan dengan persiapan yang matang, (man araafa bu’da
assafari ista’adda). Maka biaya (dirham) ibarat sebuah perbekalan
bagi para pencari ilmu. Dan nantinya biaya yang digunakan untuk mencari ilmu
akan menjadi sebuah pahala sodaqoh. Jikalau orang-orang sekarang berani untuk
membayar mahal demi sebuah tiket sebuah konser, kenapa untuk mencari ilmu, yang
dampaknya jelas dan berguna, kita tidak mau.
Yang kelima adalah
kedekatan terhadap guru (suhbatu ustadzin). Sebagai sebuah syarat dari
penuntut ilmu adalah kedekatannya dengan seorang guru, dalam senangnya,
susahnya, sedihnya. Apabila ia senang, ikut turutlah senang, dan apabila
dilanda musibah atau kesedihan, maka bantu dan ikutlah dalam kesedihannya.
Karena jasa seorang guru sangatlah besar terhadap perubahan yang ada pada diri
kita. Maka sebagai penuntut ilmu kita haruslah menghormatinya dan menaatinya
seperti kita menghormati orang tua kita di Rumah. Ada sebuah pepatah tentang penghormatan
terhadap guru, yang berbunyi :
إِنَّ
الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلَاهُمَا لَايَنْصَحَانِ إِذَا هٌمَا لَمْ
يُكْرَمَا() فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيبَهَا وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ
إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya, baik guru dan dokter
tidak (rela) memberi nasihat apabila mereka tidak dihormati. () maka,
bersabarlah dengan penyakitmua bila anda jauh dari Dokter, dan puaslah
kebodohanmu jika anda jauh dari Guru”.
Yang terkahir
adalah panjangnya waktu (tuulu zamaanin). Al-Ustadz Ardiansyah, Mudiir
Pesantren Shoul lin al-Islami, merumuskan sebuah rumusan tentang mencari ilmu,
beliau berkata “mau banyak materi dan mendalam, maka tidak bisa sebentar ; mau
mendalam dan sebentar, maka tidak bisa banyak materi ; mau sebentar dan banyak
materi, maka tidak bisa mendalam”. Disinilah harus ada panjangnya waktu (tuulu
zamaan), sebagai sebuah proses kesabaran bagi seorang murid ketika menuntut
ilmu.
Keenam syarat
tersebut merupakan syarat yang harus kita penuhi dalam menuntut ilmu. Imam
Syafii mengatakan bahwa ilmu adalah sebuah cahaya dan tidak cahaya itu tidak
akan didapati oleh pelaku maksiat. “Al-ilmu nuurun wa nuuru Allahi la yuhda
li’ashii”. Maka, dalam menuntut ilmu pun kita harus memperhatikan kelakuan
kita terhadap ibadah. Karena menuntut ilmu adalah sebuah ibadah. Semakin banyak
ilmu yang kita punya, maka semakin besar pula kedekatan kita terhadap Allah. “Man
izdaada ilman wa lam yazdad lahu huudan lam yazdan mina Allahi illa bu’dan”.
C.
Bukan dari Nasab (keturunan) tapi adab
“As-syarofu bi al-adabi laa bi an-nasabi”.
Banyak orang orang
yang berfikir bahwasanya kemuliaan seseorang terletak dari keturunannya,
jabatannya, kedudukannya atau fisiknya. Dan mirisnya, mereka yang dimuliakan karena hal-hal tersebut sering
terjadi di kehidupan kita, bahkan dikehidupan Rasul saat itu. Dahulu bangsa
Arab, sebelum datangnya islam, masih menganggap bahwasanya orang-orang yang
kaya, punya jabatan tinggi, dan dari ketrurunan yang besar, adalah orang-orang
yang sangat mulia. Hingga nanti itu semua di ubah oleh Rasulullah SAW.
Mereka yang duduk di Kursi
wakil rakyat, maka akan kerap dihormati dan dimuliakan. Mereka yang keturunan
bangsawan, kerap akan di muliakan dan dipatuhi. Dan mereka yang mempunyai
kedudukan yang tinggi juga kerap akan dihormati dan dimuliakan.
Sebenarnya dimanakah letak kemuliaan itu ?
Sebagai seorang
penuntut ilmu yang bertaqwa kepada Allah SWT, maka kita akan memandang
bahwsanya orang yang harus dimuliakan adalah orang yang bertaqwa kepada Allah.
Karena Allah sendiri telah mengingatkan bahwa yang paling mulia di sisinya
adalah yang paling taqwa. “inna akramakum indallahi atqaakum”. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertaqwa.
Taqwa secara
definisi singkat adalah menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya.
“Imtitsaali awaamirillahi wajtinaabi nawaahiihi”. Karena taqwa adalah
menaati segala perintah Allah, maka untuk menjadi orang taqwa, kita harus
memiliki adab. Kita harus beradab kepada Allah. Kita harus bisa menempatkan
Allah sebagai Tuhan satu-satunya di Dunia ini. Tiada Tuhan selain Dia. Dan Nabi
Muhammad SAW adalah utusan-Nya.
Berarti disini
bisa dikatakan orang yang paling mulia adalah mereka yang paling bertaqwa.
Yaitu orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala
larangannya. Dan orang-orang yang bertaqwa harus mempunyai adab terhadap
apapun. Karena tanpa adab, mereka tidaklah bisa menempatkan sesuatu sesuai
harkat dan martabatnya. Orang yang paling mulia adalah orang yang bertaqwa dan
beradab. Jadi, kemuliaan seseorang itu dari segi adabnya, bukan keturunannya. “Assyarafu
bil adab laa binnasabi”. Karena adab sendiri adalah bagian dari ketaqwaan.
Walaupun ia anak
presiden pun, kalau dia tidak memiliki adab, maka dia tidak akan bisa memahami
arti sebuah ketaqwaan, dia tidak berhak dimuliakan. Dia bukanlah orang yang
mulia. Walaupun ia dari keturunan presiden sekalipun.
Seorang murid bisa
lebih mulia dari gurunya, seorang budak bisa lebih mulia dari orang yang
merdeka, seorang anak bisa lebih mulia dari ayahnya, dan seorang yang miskin
bisa lebih mulia dari sang kaya, bila mereka semua lebih bertaqwa dan beradab
dengan sebenar-benar taqwa melebihi mereka. Dari ketaqwaan itulah mereka akan
memahami sebuah adab tentang bagaimana bersikap kepada siapapun, bahkan
apapun.
Sebagai pencari
ilmu, kita haruslah memiliki adab. Bagaimana kita beradab terhadap Allah SWT,
terhadap Rasul-Nya, terhadap para Ulama, terhadap gurunya, dan siapapun itu. Ia
harus bisa bagaimana bertata cara, bertutur kata dengan baik, bersopan santun
dengan bijak. kalau kau sudah mengamalkan adab-adab yang ada, maka mulia lah
dirimu. Bukan engkau yang mengatakan bahwa kau itu mulia, namun orang lah yang
akan menilai dengan semua adabmu.
D.
Hiasi dirimu dengan Ilmu dan Adab
“Laisa al-jamaalu bi atswaabin tuzayyinuuna inna al-jamaala
jamaalul ilmi wa al-adabi”.
Kecantikan/keindahan itu bukan karena pakaian yang kamu pakai,
namun keindahan itu adalah keindahan ilmu dan adab (pada dirimu).
Ketika berbicara
keindahan, maka orang-orang akan melihat itu semua dari sebuah penampilan.
Secara sadar atau tidak, kita pun biasanya menilai seseorang dari bagaimana ia
berpenampilan. Keindahan seseorang, pada hakikatnya bukan terdapat pada baju
atau pakaian yang ia kenakan, sejatinya keondahan itu terdapat pada keindahan
ilmu dan adab nya. Karena ilmu dan adab pada diri seseorang lah
Ketika seseorang
bertanya ‘mana yang lebih dahulu, ilmu atau adab’. Maka ketahuilah bahwa
keduanya sama penting dan tidak ada yang didahulukan. Walaupun kita sering
mendengar bahwa adab itu diatas ilmu (al-adabu fauqo al-ilmi), namun
untuk beradab pun kita membutuhkan ilmu tentang adab tersebut. Maka disini ilmu
dan adab harus kita seimbangkan pada diri kita.
Ketahuilah banyak
pengetahuan tentang adab, lalu amalkanlah dengan ilmu tersebut. Beradablah
dengan ilmu, serta beradablah sebelum mendapatkan ilmu. Seorang ulama
mengatakan bahwa belajar adab satu bab lebih baik daripada kau belajar ilmu
sebanyak 10 bab.
Ketika kita sudah
dapat menyeimbangkan antara ilmu dan adab, maka seperti yang dikatakan diatas,
keindahan dirimu akan tampak. Ini bukan karena bagusnya baju atau pakaian yang
kalian pakai, namun karena ilmu dan adab yang ada pada diri kalian. Yang selalu
menyinari diri seseorang layaknya lentera yang terang.
Adab terhadap ilmu
adalah dengan mengamalkan ilmu tersebut. Ilmu tanpa pengamalan, ibarat pohon
tanpa buah, “Al-ilmu bilaa amalin ka as-syajaari bilaa tsamaarin”. Di
hari akhir nanti ada empat pertanyaan yang akan ditanyakan kepada kita.
Pertama, tentang umurmu kau habiskan untuk apa. Kedua, masa mudamu kau gunakan
untuk apa. Ketiga, ilmumu, kau gunakan untuk apa. Dan yang terkahir, hartamu,
dari mana kau dapat dan kemana kau berikan.
Imam al-Ghazali
mengibaratkan orang yang tidak mengamalkan ilmunya seperti seorang pemburu yang
memasuki hutan dengan segala persenjataannya. Namun ketika binatang-binatang
buas muncul dihadapannya, ia tidak menggunakan satu pun dari senjata yang ia
bawa. Ini semua adalah sia-sia. Maka dari itu mengamalkan ilmu adalah adab
terhadap ilmu.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...