Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Ust Asep Sobari : Syiah bukan Ajaran Islam
Bisnis
April 20, 2016
Ust Asep Sobari
: Syiah bukan Ajaran Islam
Oleh : Bana
Fatahillah
“Syiah adalah aliran dalam islam yang
paling lama muncul.Seperti halnya khawarij, Syiah muncul dari induk atau rahim
yang sama sepertinya.” Ujar Ust Asep Sobari, L.c mengawali perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam
(SPI) Fatahillah angkatan keempat dalam pertemuan ke-9. Tema yang diangkat pada
perkuliahan ini adalah “Syiah : Sejarah dan Ajarannya”.
Melanjutkan perkuliahan tersebut,
Ust Asep memberikan beberapa pertanyaan kepada para peserta kuliah. Pertama,
mengapa syiah muncul. Kedua, darimana mereka berasal.Ketiga, apakah
ajaran dasar syiah bersumberkan ajaran islam. Karena menurut beliau, pertanyaan
ini akan mengantarkan peserta kuliah kepada seluruh permasalahan yang ada pada
ajaran syiah.
Sebelum menuju ke jawaban dari
pertanyaan “mengapa syiah muncul”, Co-Founder Siroh Comunity Indonesia (SCI)
tersebut menjelaskan tentang tabi’at dakwah
islam di Zaman Rasulullah dan khulaafaurrasyidiin. Beliau menggambarkan sebuah
peta dakwah dari zaman dimana islam belum masuk ke Dunia, atau biasa disebut
zaman jahiliyyah.
“ketika masa jahiliyyah,
dimana manusia tidak mempunyai sumber dan landasan terhadap sesuatu, maka islam
datang dan menjawab persoalan masalah itu” terang Ust Asep. Di zaman Rasul dan
Khulafaurrasyidin, semua hal yang berkaitan dengan islam sangat diperjelas
dengan hukum yang tepat. Karena semua permasalahan merujuk kepada Rasulullah
SAW, tanpa ada pertentangan.
Tantangan yang ada pada periode
tersebut yaitu berupa ideologi dan fisik. Terkait ideologi pada masa itu, tentu
permasalahan yang ada adalah sebuah problem aqidah dengan kalangan kafir
quraisy dan beberapa non muslim pada masa itu. Dan ketika pasukan muslim
berhasil mematahkan ideologi mereka, mereka yang tidak puas dengan kekalahan
itu melakukan perlawanan fisik yang bersifat militan dalam bentuk peperangan.
Berhenti di periode Umar bin
Khattab, permasalah ekstrnal itu terus muncul dan dapat dikalahkan oleh kaum
muslimin, terutama dalam peperangan dengan kaum musyrikin. Namun, memasuki
periode Utsman bin Affan, terutama di enam tahun terkahir masa kepemimpinan
beliau, munculah beberapa permasalahan internal dari kaum muslimin. Timbulah
fitnah-fitnah yang ada dari beberapa kalangan mengenai kekhalifahan Utsman.
Sampai pada masa pembunuhan Utsman
bin Affan, yang lalu digantikan oleh Ali bin Abi Thalib, permasalahan internal
ini semakin muncul secara terang-terangan. Timbul wacana yang mengatakan bahwa
Ali adalah Tuhan, Ali mendapatkan wasiat “langsung” dari Rasul untuk menjadi
khalifah setelahnya, dan Ali adalah orang yang paling mulia diantara para
sahabat. Khalifah Ali bin abi Thalib tidak diam terhadap ini, ia menghukum
orang-orang yang membuat sebuah wacana tersebut.
Ust Asep menjelaskan, bahwa
orang-orang yang membuat wacana ini pastinya bukan orang islam. Tetapi, ia
menyampaikannya kepada beberapa kalangan muslimin awam untuk disebarkan kepada
masyarakat lainnya. Dan hingga wafatnya khlifah Ali, penyebaran paham ini terus
disebarkan oleh kalangan tersebut. Dan wacana yang selalu diangkat oleh mereka
adalah “bahwasanya Ali mendapatkan wasiat langsung dari Rasul untuk
menggantikannya selepas Beliau wafat”. kejadian ini terjadi diperkuat dalam
peristiwa Ghadir Khum.
Ketika memikirkan ajaran syiah yang
sedemikian rupa, hingga kini timbul berbagai ajarannya, seperti, taqiyyah, yang
mengatakan bahwa seseorang boleh berbohong demi tersebarnya ajaran syiah
tersebut. Lalu ada juga Ishmah, yaitu konsep mempercayai imam-imam yang
mereka percayai dan bahwa imam-imam tersebut tidak bisa salah dan lupa. Mereka
lupa bahwa Rasulullah pernah lupa, bahkan dalam hal ibadah, hingga
disyariatkannya sujud sahwi. Kalau seorang Rasul saja bisa lupa, kenapa
imam-imam mereka yang hanya manusia biasa tidak bisa lupa.
Dan mereka mempunyai konsep takfiir,
yaitu mengkafirkan para sahabat-sahabat lainnya seperti Umar, Utsman dan Abu
Bakar. Yang tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Islam, yang memuliakan
seluruh sahabat yang ada. Ditambah lagi dengan konsep nikah Mu’tah. Dan
menurut mereka nikah tersebut mendapatkan pahala yang sangat besar.
Ketika mereka mengatakan bahwa mereka
memuliakan ahlu al-bait, sebenarnya mereka tidak seenuhnya berkomitmen
dengan itu. Karena yang ia muliakan, hanya dari keturunan Fatimah binti
Muhammad yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Husain bin Ali sebagai
anak dari Ali. Mereka mengkafirkan Utsman, padalah istri Utsman adalah suami
dari dua anak Rasul. Jadi sebenarnya mereka tidak menghormati ahlu al-bait sepenuhnya.
Dari seluruh sejarah dan
ajaran-ajaran yang ada, Ust Asep Sobari, seorang peneliti INSISTS dan alumni
University Islam Madinah menyatakan dengan tegas bahwa “Syiah bukanlah Islam”.
Tidak ada ajaran islam sedikitpun yang ada di dalam syiah. Wallahu a’lam bi
as-showab.
Depok, 20 April
2016

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...