Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Hati sebagai kerajaan : antara Penasihat dan Budak


Imam Ghazali dan Hakikat Makna Hati[1]
Oleh : Bana Fatahillah

“Dan sungguh akan kami isi Neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”. (QS al-A’raf [7] : 179)

Sesingkat Mengenai Imam Ghazali
            Seperti yang kita ketahui Imam Ghazali ialah Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thuusi. Lahir di Thuusi daerah Khurasaan wilayah Persia tahun 450 H (1058M). Ia adalah seorang ulama ilmu kalam yang terbesar dalam madzhab Syafi’i pada Zamannya. Beliau diberi gelar oleh orang-orang sebagai “hujjatu al-islaam” atau argumen bagi agama islam. Dan beliau wafat pada tahun 505 H.

            Beliau banyak berguru dan menimba ilmu  pada para ulama seperti  Abu Qosim al-Ismail ketika hijrah ke Jurjan . ia juga mendalami Tasawuf  kepada Imam Haromain, juga pada Abdul Malik al-Juwaini atau Imam al-Juwaini untuk belajar ilmu fiqih, ilmu mantiq, ilmu kalam, filsafat, dll. Pada umur nya yang ke-40 beliau diangkat menjadi Rektor di Universitas Nizhomiyyat di Iraq.

            Beliau mulai untuk mendalami bidang tasawuf ketika berhijrah dari Bahdad menuju Makkah. Ia memutuskan untuk ber’uzlah atau proses menyendiri untuk lebih muhasabah diri sendiri. Setelah itu beliau kembali ke Daerah asalnya Tusi untuk mencurahkan semua ilmunya. Imam Ghazali telah banyak membuat banyak buku dalam tasawuf, sekiranya ada 70 buku.

            Beliau telah menulis buku yang sangat terkenal dikalangan kaum muuslimin serta menjadi sorotan oleh para cendekiawan dunia, yaitu “Ihya’u uluumu al-diin”.  Serta karya-karya lainnya seperti Maqaasidu al-faalaasifah, Tahaafutu al-falaasifah, Minhaaju al-‘aabidiin, Bidaayatu al-Hidaayati, Al-I’tiqaad fi al-Iqtishod, dan masih banyak lagi. Walaupun buku-buku ini muncul di Abad pertengahan, namun masih sangat menarik dan sangat penting untuk dikaji pada masa sekarang.

Makna Hati (Al-Qolbu) menurut al-Ghazali
            Dalam salah satu hadistnya, Rasulullah SAW bersabda : Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik, maka baiklah tubuh manusia itu. Akan tetapi apabila daging itu rusak, maka rusaklah tubuh manusia. ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah Hati (H.R Bukhari dan Muslim)

            Dalam kitabnya “Ihya’u Uluumu al-diin”, imam Ghazali menjelaskan hakikat makna dari sebuah “hati”. Beliau mengatakan bahwa hati yang dimaksudkan olehnya bukanlah hati dari makna yang sesungguhnya yaitu salah satu dari anggota badan yang berada disebelah kiri dari dada.  Beliau menegaskan :

            “dan kami tidak bermaksud sekarang menjelaskan bentuk hati, dan caranya karena hal itu berkaitan dengan maksud dokter-dokter dan tidak berkaitan dengan maksud maksud agama. Dan hati ini ada pada binatang-binatang, bahkan pada orang yang mati. Dan kami apabila mengatakan perkataan hati secara umum dalam kitab ini, maka kami tidak maksudkan dengan hati yang demikian. Karena hati itu adalah sepotong daging yang tidak ada kemuliaan baginya dan hati itu termasuk alam mulki dan alam musyahadah karena binatang dapat mengetahuinya dengan panca indra penglihatan, lebih-lebih manusia”.[2]

            Dan hendaknya kita bandingkan penjelasan imam al-Ghazali selanjutnya tentang makna hati yang ia maksudkan :
            “Hati dengan arti sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaaniyyah (kerohanian). Dia mempunyai kaitan dengan hati yang jasmani (yang bertubuh) ini. Hati yang halus itulah hakekat manusia. dialah yang mengetahui yang mengerti yang mengenal dari manusia. dialah yang diajak bicara, yang disiksa, yang dicela, dan dituntut. Dan hati yang halus itu mempunyai kaitan denga hati yang jasmani, dan akal kebanyakan makhluk bingung dalam mengetahui segi kaitannya”[3]

            Jadi dalam hal ini, Imam Ghazali membedakan pembahasan mengenai masalah hati yang ia jelaskan di dalam buku Ihya Ulumu al-diin. Hati yang dimaksud bukanlah hati pada organ tubuh manusia melainkan hal diluar itu. Dan sebagai kesimpulannya ia menjelaskan :

            “Yang dimaksudkan apabila kami mengatakan perkataan hati secara umum didalam kitab ini, maka kami maksudkan hati yang halus. Dan maksud kami adalah menyebutkan sifat-sifatnya dan keadaan-keadaannya, tidak menyebutkan hakekatnya pada dzatnya. Dan ilmu Mu’amalah itu memerlukan kepada mengetahui sifat-sifatnya da keadaan-keadaannya, tidak memerlukan kepada menyebutkan hakekatnya”.[4]

Hati sebagai kerajaan : antara Penasihat dan Budak
            Salah satu kitab diantara kitab-kitabnya, seperti “Keajaiban-keajaiban Hati” yang diringkas dari kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali mengibaratkan “hati” seperti halnya seorang raja. Dimana seorang raja yang memiliki banyak tentara sebagai pelayan dan penolongya[5]. Dalam bab membahas hati di kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali pun menulis satu pasal atau sub judul dengan nama “Tentara Hati”. Yang beliau maksud adalah pelayan atau pembantu hati yang diibaratkan seperti raja.

             Ketika menjadi seorang raja yang dengannya menggerakkan seluruh anggotanya, maka disini Imam Ghazali mengibaratkan anggota tubuh sebagai kendaraan hati. Dan ilmu sebagai bekalnya. Sedangkan sarana yang dapat menyampaikannya kepada bekalnya itu serta pemanfaatannya adalah amal shalehnya semata-mata. Menurut Imam Ghazali, Dunia ini adalah ladang akhirat, atau pemberhentian pertama sebelum tiba ke pemberhentian terakhir nanti, yaitu akhirat. Maka sang raja tersebut atau hati tadi, harus menggerakkan kendaraannya atau tubuhnya untuk mengambil bekal sebanyak-banyaknya dari alam (Dunia) ini.[6]

            Pada hakikatnya hati selalu menunjukkan dan menggerakkan manusia atau anggota tubuhnya untuk berbuat baik. maka, menurut Hujjatul Islam, bagian tentara hati yang pertama adalah hal-hal yang bersifat zhahir atau tampak. Yaitu anggota tubuh kita. Seperti tangan, kaki, lisan, dan lainnya. Yang bersifat zhahir inilah yang selalu melindungi kendaraan hati ketika ia salah jalan atau menyimpang. Maka dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW bersabda :
barang siapa yang melihat kemunkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangannya, apabila tidak bisa, hendaklah ia mencegahnya dengan lisan, dan apabila tidak bisa (juga), hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman”.

            Selain tentara hati yang bersifat lahiriah atau zhahiriyyah, Imam Ghazali juga menerangkan ada bentuk tentara hati yang bersifat batiniyyah, yaitu ghadab (amarah atau emosi) yang dengannya ia dapat menolak pelbagai bahaya yang dapat membinasakan dirinya. Dan bahaya itu adalah syahwah (ambisi), hasrat, selera, makan, nafsu birahi dan sebagainya).

            untuk lebih jelasnya, Imam Ghazali membuat suatu permisalan yang sangat baik mengenai hati sebagai raja yang berkuasa. Lebih jelasnya  Beliau berkata :
            “Hati yang bersifat lembut (latiifah) itu ibarat sebagai seorang raja dipusat negara dan kerajaannya. Ini mengingat bahwa tubuh merupakan pusat kerajaan bagi jiwa, juga dunianya dan kota tempat tinggalnya. Sedangkan anggota-anggota tubuhnya serta segala daya dan potensi dirinya adalah ibarat para teknisi dan pekerja. Akal pikirannya sebagai penasihat yang tulus merangkap sebagai menteri yang pandai dan berakal. Sedangkan syahwah (ambisi)-nya ibarat seorang budak yang buruk perilakunya, yang tugasnya adalah mengangkut makanan dan barang-barang keperluan ke dalam Kota, sementara ghadab (emosi)-nya serta naluri pembelaan dirinya yang semangat, ibarat petugas kepolisian. Budak yang bertugas menyediakan barang-barang tadi adalah juga seorang pendusta jahat yang berpura-pura sebagai penasihat, padahal dibalik nasihatnya tersembunyi kejahatan besar, serta racun yang mematikan. Dengan watak dan tabiatnya yang buruk itu, ia senantiasa berupaya melawan mentri yang tulus, dalam pemikiran maupun peraturan-peraturan yang dibuatnya. Maka jika si raja selalu mendengarkan nasihat menterinya yang pandai dan tulus itu (yakni akal sehatnya) dalam pengelolaan negrinya, sementara ia tak sedikitpun menghiraukan apa yang diucapkan oleh si budak jahat (yakni syahwah-nya), karena menyadari bahwa kebenaran justru terletak pada pemikiran yang berlawanan dengan si budak., maka ia akan memerintahkan aparat kepolisiannya (yakni sifat ghadab-nya) untuk menagani tingkah laku kejahatan si budak., dengan mendidiknya sebaik mungkin, agar ia bersedia tunduk dan patuh terhadap kebijaksanaan sang mentri. Disamping itu, ia senantiasa waspada terhadap ulah si budak serta orang-orang yang menjadi pengikutnya, sehingga mereka ini menjadi kelompok yang dikendalikan, bukan mengendalikan ; dan yang diperintah dan diatur, bukan yang memerintah dan yang mengatur. Jika seperti itu keadaannya, maka negri itu akan menjadi makmur dan teratur dan keadilan pun akan ditegakkan dengan baik.”[7]

            Ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat dalam mengenai hakikat hati. Sebuah nasehat dan sebuah teguran bagi kita yang terus mensucikan hati kita. Memang nafsu atau syahwah itu sangatlah berat untuk dihindari dan dilawan. Namun Rasulullah mengingatkan bahwa melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Dalam pepatah arab pun dikatakan “Akbaru al-jihaadi jihaadu al-hawaa, wa man alaa ‘alaa hawaahu faqod an-najaa” (Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsunya, dan siapa yang bisa melawannya maka dia akan telah selamat)

            Dan dalam pepatah lainnya disebutkan bahwa nafsu itu ibarat anak bayi yang masih menyusui. Jika ia terus disusui oleh ibunya, tanpa ada paksaan untuk berhenti, maka bayi itu akan trus menyusui hingga ia masuk ke balita. Disebutkan “al-nafsu ka al-tifli in tuhmilhu syabba ‘alaa hubbi al-rodhoo’i wa in taftimhu yanfatimu”.

Penutup
            Imam Ghazali adalah ulama yang hidupnya bersamaan dengan perang salib. Walaupun ia tidak ikut berperang dalam perang salib, namun karya-karyanya membuat sebuah inspirasi bagi para generasi-generasi setelahnya. Sebutlah Sholahuddin al-Ayubi, yang memimpin perang salib dan berhasil menaklukkan Yerussalem atas kaum salib atau kristen. Ust.Asep Sobari, Pendiri Siroh Comunity Indonesia (SCI), sering sekali memabawa materi Generasi Sholahuddin atas bangkitnya Umat Muslim dalam setiap pembicaraannya.

            Menurut beliau, ketika membaca sebuah buku “haakadza zoharo jiilu sholahuddin wa hakadza ‘aadat al-quds” karangan Majid Irsan al-Qiilani, Umat muslim mempunyai berbagai pemasalah yang sangat besar. Dan permasalah itu adalah bersifat internal atau dari kalangan umat muslim sendiri. Penyakit itu adalah hubbu al-dunya, cinta Dunia. Para ulama saling mengkafirkan antar madzhab dan menyalahkan satu sama lain.

            Disinilah hadir sosok para ulama seperti Imam Ghazli dengan tulisan-tulisannya yang menginspirasi generasi-generasi setelahnya untuk selalu mejaga hawa nafsunya dan menjaga hatinya. Buku Ihya Ulumuddin adalah buku yang berhasil menginspirasi umat muslim ketika itu dan berhasil membentuk suatu generasi yang kokoh, yaitu generasi Sholahuddin. Sehingga pasukannya dapat merebut Yerussalem. Inilah peran yang harus kita semua contoh untuk kebangkitan umat pada saat ini. Dari menjaga sebuah perangai hingga menjaga hawa nafsu. Dan inilah perubahan yang ditunggu-tunggu oleh keberhasilan umat pada saat ini. Yaitu keberhasilah layaknya Sholahuddin al-Ayyubi dan Imam Ghazali. Wallahu a’lam bi al-showaab.
                                                                                                Depok, 24 Mei 2016



[1] Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis ilmiah di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah angkatan ke-4, (Depok, 23 Mei 2016).
[2] Imam Ghazali, Ihya’u Uluumu al-Diin, terjemahan jilid.4, (Semarang : 2003), hal.582
[3] Ibid, Hal.582
[4] Ibid, Hal.583
[5] Imam Ghazali, “’Ajaibu al-Qolbi”, Keajaiban-Keajaiban Hati, terjemahan oleh : Muhammad al-Baqir, (Bandung : 2004), hal.33
[6] Ibid, hal.34
[7] Ibid, hal.39

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia