Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Hati sebagai kerajaan : antara Penasihat dan Budak
Bisnis
Juni 02, 2016
Imam Ghazali dan Hakikat Makna Hati[1]
Oleh : Bana Fatahillah
“Dan sungguh akan kami isi Neraka Jahannam banyak dari kalangan jin
dan manusia mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami
(ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk
melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mereka mempunyai telinga tetapi tidak
dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka seperti hewan ternak,
bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”. (QS al-A’raf [7] : 179)
Sesingkat
Mengenai Imam Ghazali
Seperti yang kita
ketahui Imam Ghazali ialah Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali
at-Thuusi. Lahir di Thuusi daerah Khurasaan wilayah Persia tahun 450 H (1058M).
Ia adalah seorang ulama ilmu kalam yang terbesar dalam madzhab Syafi’i pada
Zamannya. Beliau diberi gelar oleh orang-orang sebagai “hujjatu al-islaam” atau
argumen bagi agama islam. Dan beliau wafat pada tahun 505 H.
Beliau banyak
berguru dan menimba ilmu pada para ulama
seperti Abu Qosim al-Ismail ketika
hijrah ke Jurjan . ia juga mendalami Tasawuf
kepada Imam Haromain, juga pada Abdul Malik al-Juwaini atau Imam
al-Juwaini untuk belajar ilmu fiqih, ilmu mantiq, ilmu kalam, filsafat, dll.
Pada umur nya yang ke-40 beliau diangkat menjadi Rektor di Universitas
Nizhomiyyat di Iraq.
Beliau mulai untuk
mendalami bidang tasawuf ketika berhijrah dari Bahdad menuju Makkah. Ia
memutuskan untuk ber’uzlah atau proses menyendiri untuk lebih muhasabah diri
sendiri. Setelah itu beliau kembali ke Daerah asalnya Tusi untuk mencurahkan
semua ilmunya. Imam Ghazali telah banyak membuat banyak buku dalam tasawuf,
sekiranya ada 70 buku.
Beliau telah
menulis buku yang sangat terkenal dikalangan kaum muuslimin serta menjadi
sorotan oleh para cendekiawan dunia, yaitu “Ihya’u uluumu al-diin”. Serta karya-karya lainnya seperti Maqaasidu
al-faalaasifah, Tahaafutu al-falaasifah, Minhaaju al-‘aabidiin, Bidaayatu
al-Hidaayati, Al-I’tiqaad fi al-Iqtishod, dan masih banyak lagi. Walaupun
buku-buku ini muncul di Abad pertengahan, namun masih sangat menarik dan sangat
penting untuk dikaji pada masa sekarang.
Makna Hati (Al-Qolbu) menurut al-Ghazali
Dalam salah satu hadistnya, Rasulullah SAW bersabda : Ketahuilah
bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik, maka
baiklah tubuh manusia itu. Akan tetapi apabila daging itu rusak, maka rusaklah
tubuh manusia. ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah Hati
(H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam kitabnya “Ihya’u Uluumu al-diin”, imam Ghazali
menjelaskan hakikat makna dari sebuah “hati”. Beliau mengatakan bahwa hati yang
dimaksudkan olehnya bukanlah hati dari makna yang sesungguhnya yaitu salah satu
dari anggota badan yang berada disebelah kiri dari dada. Beliau menegaskan :
“dan kami tidak
bermaksud sekarang menjelaskan bentuk hati, dan caranya karena hal itu
berkaitan dengan maksud dokter-dokter dan tidak berkaitan dengan maksud maksud
agama. Dan hati ini ada pada binatang-binatang, bahkan pada orang yang mati.
Dan kami apabila mengatakan perkataan hati secara umum dalam kitab ini, maka
kami tidak maksudkan dengan hati yang demikian. Karena hati itu adalah sepotong
daging yang tidak ada kemuliaan baginya dan hati itu termasuk alam mulki dan
alam musyahadah karena binatang dapat mengetahuinya dengan panca indra
penglihatan, lebih-lebih manusia”.[2]
Dan hendaknya
kita bandingkan penjelasan imam al-Ghazali selanjutnya tentang makna hati yang
ia maksudkan :
“Hati dengan
arti sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaaniyyah (kerohanian). Dia
mempunyai kaitan dengan hati yang jasmani (yang bertubuh) ini. Hati yang halus
itulah hakekat manusia. dialah yang mengetahui yang mengerti yang mengenal dari
manusia. dialah yang diajak bicara, yang disiksa, yang dicela, dan dituntut. Dan
hati yang halus itu mempunyai kaitan denga hati yang jasmani, dan akal
kebanyakan makhluk bingung dalam mengetahui segi kaitannya”[3]
Jadi dalam hal
ini, Imam Ghazali membedakan pembahasan mengenai masalah hati yang ia jelaskan
di dalam buku Ihya Ulumu al-diin. Hati yang dimaksud bukanlah hati pada organ
tubuh manusia melainkan hal diluar itu. Dan sebagai kesimpulannya ia
menjelaskan :
“Yang dimaksudkan
apabila kami mengatakan perkataan hati secara umum didalam kitab ini, maka kami
maksudkan hati yang halus. Dan maksud kami adalah menyebutkan sifat-sifatnya
dan keadaan-keadaannya, tidak menyebutkan hakekatnya pada dzatnya. Dan ilmu
Mu’amalah itu memerlukan kepada mengetahui sifat-sifatnya da
keadaan-keadaannya, tidak memerlukan kepada menyebutkan hakekatnya”.[4]
Hati sebagai kerajaan : antara Penasihat dan Budak
Salah satu kitab
diantara kitab-kitabnya, seperti “Keajaiban-keajaiban Hati” yang diringkas dari
kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali mengibaratkan “hati” seperti halnya seorang
raja. Dimana seorang raja yang memiliki banyak tentara sebagai pelayan dan
penolongya[5].
Dalam bab membahas hati di kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali pun menulis satu
pasal atau sub judul dengan nama “Tentara Hati”. Yang beliau maksud adalah
pelayan atau pembantu hati yang diibaratkan seperti raja.
Ketika menjadi seorang raja yang dengannya
menggerakkan seluruh anggotanya, maka disini Imam Ghazali mengibaratkan anggota
tubuh sebagai kendaraan hati. Dan ilmu sebagai bekalnya. Sedangkan sarana yang
dapat menyampaikannya kepada bekalnya itu serta pemanfaatannya adalah amal
shalehnya semata-mata. Menurut Imam Ghazali, Dunia ini adalah ladang akhirat,
atau pemberhentian pertama sebelum tiba ke pemberhentian terakhir nanti, yaitu
akhirat. Maka sang raja tersebut atau hati tadi, harus menggerakkan
kendaraannya atau tubuhnya untuk mengambil bekal sebanyak-banyaknya dari alam
(Dunia) ini.[6]
Pada hakikatnya
hati selalu menunjukkan dan menggerakkan manusia atau anggota tubuhnya untuk
berbuat baik. maka, menurut Hujjatul Islam, bagian tentara hati yang pertama
adalah hal-hal yang bersifat zhahir atau tampak. Yaitu anggota tubuh
kita. Seperti tangan, kaki, lisan, dan lainnya. Yang bersifat zhahir inilah
yang selalu melindungi kendaraan hati ketika ia salah jalan atau menyimpang.
Maka dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW bersabda :
“barang siapa yang melihat kemunkaran, hendaklah mencegahnya dengan
tangannya, apabila tidak bisa, hendaklah ia mencegahnya dengan lisan, dan
apabila tidak bisa (juga), hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Dan itulah
selemah-lemahnya iman”.
Selain tentara
hati yang bersifat lahiriah atau zhahiriyyah, Imam Ghazali juga menerangkan ada
bentuk tentara hati yang bersifat batiniyyah, yaitu ghadab (amarah atau
emosi) yang dengannya ia dapat menolak pelbagai bahaya yang dapat membinasakan
dirinya. Dan bahaya itu adalah syahwah (ambisi), hasrat, selera, makan,
nafsu birahi dan sebagainya).
untuk lebih
jelasnya, Imam Ghazali membuat suatu permisalan yang sangat baik mengenai hati
sebagai raja yang berkuasa. Lebih jelasnya Beliau berkata :
“Hati yang
bersifat lembut (latiifah) itu ibarat sebagai seorang raja dipusat negara dan
kerajaannya. Ini mengingat bahwa tubuh merupakan pusat kerajaan bagi jiwa, juga
dunianya dan kota tempat tinggalnya. Sedangkan anggota-anggota tubuhnya serta
segala daya dan potensi dirinya adalah ibarat para teknisi dan pekerja. Akal
pikirannya sebagai penasihat yang tulus merangkap sebagai menteri yang pandai
dan berakal. Sedangkan syahwah (ambisi)-nya ibarat seorang budak yang buruk
perilakunya, yang tugasnya adalah mengangkut makanan dan barang-barang
keperluan ke dalam Kota, sementara ghadab (emosi)-nya serta naluri pembelaan
dirinya yang semangat, ibarat petugas kepolisian. Budak yang bertugas
menyediakan barang-barang tadi adalah juga seorang pendusta jahat yang
berpura-pura sebagai penasihat, padahal dibalik nasihatnya tersembunyi kejahatan
besar, serta racun yang mematikan. Dengan watak dan tabiatnya yang buruk itu,
ia senantiasa berupaya melawan mentri yang tulus, dalam pemikiran maupun
peraturan-peraturan yang dibuatnya. Maka jika si raja selalu mendengarkan
nasihat menterinya yang pandai dan tulus itu (yakni akal sehatnya) dalam
pengelolaan negrinya, sementara ia tak sedikitpun menghiraukan apa yang
diucapkan oleh si budak jahat (yakni syahwah-nya), karena menyadari bahwa
kebenaran justru terletak pada pemikiran yang berlawanan dengan si budak., maka
ia akan memerintahkan aparat kepolisiannya (yakni sifat ghadab-nya) untuk
menagani tingkah laku kejahatan si budak., dengan mendidiknya sebaik mungkin,
agar ia bersedia tunduk dan patuh terhadap kebijaksanaan sang mentri. Disamping
itu, ia senantiasa waspada terhadap ulah si budak serta orang-orang yang
menjadi pengikutnya, sehingga mereka ini menjadi kelompok yang dikendalikan,
bukan mengendalikan ; dan yang diperintah dan diatur, bukan yang memerintah dan
yang mengatur. Jika seperti itu keadaannya, maka negri itu akan menjadi makmur
dan teratur dan keadilan pun akan ditegakkan dengan baik.”[7]
Ini adalah sebuah
perumpamaan yang sangat dalam mengenai hakikat hati. Sebuah nasehat dan sebuah
teguran bagi kita yang terus mensucikan hati kita. Memang nafsu atau syahwah
itu sangatlah berat untuk dihindari dan dilawan. Namun Rasulullah
mengingatkan bahwa melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Dalam
pepatah arab pun dikatakan “Akbaru al-jihaadi jihaadu al-hawaa, wa man alaa
‘alaa hawaahu faqod an-najaa” (Jihad yang paling besar adalah jihad melawan
hawa nafsunya, dan siapa yang bisa melawannya maka dia akan telah selamat)
Dan dalam pepatah
lainnya disebutkan bahwa nafsu itu ibarat anak bayi yang masih menyusui. Jika
ia terus disusui oleh ibunya, tanpa ada paksaan untuk berhenti, maka bayi itu
akan trus menyusui hingga ia masuk ke balita. Disebutkan “al-nafsu ka
al-tifli in tuhmilhu syabba ‘alaa hubbi al-rodhoo’i wa in taftimhu yanfatimu”.
Penutup
Imam Ghazali adalah ulama yang hidupnya bersamaan dengan perang
salib. Walaupun ia tidak ikut berperang dalam perang salib, namun
karya-karyanya membuat sebuah inspirasi bagi para generasi-generasi setelahnya.
Sebutlah Sholahuddin al-Ayubi, yang memimpin perang salib dan berhasil
menaklukkan Yerussalem atas kaum salib atau kristen. Ust.Asep Sobari, Pendiri
Siroh Comunity Indonesia (SCI), sering sekali memabawa materi Generasi
Sholahuddin atas bangkitnya Umat Muslim dalam setiap pembicaraannya.
Menurut beliau,
ketika membaca sebuah buku “haakadza zoharo jiilu sholahuddin wa hakadza
‘aadat al-quds” karangan Majid Irsan al-Qiilani, Umat muslim mempunyai
berbagai pemasalah yang sangat besar. Dan permasalah itu adalah bersifat
internal atau dari kalangan umat muslim sendiri. Penyakit itu adalah hubbu al-dunya,
cinta Dunia. Para ulama saling mengkafirkan antar madzhab dan menyalahkan satu
sama lain.
Disinilah hadir
sosok para ulama seperti Imam Ghazli dengan tulisan-tulisannya yang
menginspirasi generasi-generasi setelahnya untuk selalu mejaga hawa nafsunya
dan menjaga hatinya. Buku Ihya Ulumuddin adalah buku yang berhasil
menginspirasi umat muslim ketika itu dan berhasil membentuk suatu generasi yang
kokoh, yaitu generasi Sholahuddin. Sehingga pasukannya dapat merebut
Yerussalem. Inilah peran yang harus kita semua contoh untuk kebangkitan umat
pada saat ini. Dari menjaga sebuah perangai hingga menjaga hawa nafsu. Dan
inilah perubahan yang ditunggu-tunggu oleh keberhasilan umat pada saat ini.
Yaitu keberhasilah layaknya Sholahuddin al-Ayyubi dan Imam Ghazali. Wallahu
a’lam bi al-showaab.
Depok,
24 Mei 2016
[1] Tulisan
ini dibuat untuk memenuhi tugas karya tulis ilmiah di Sekolah Pemikiran Islam
(SPI) Fatahillah angkatan ke-4, (Depok, 23 Mei 2016).
[2] Imam
Ghazali, Ihya’u Uluumu al-Diin, terjemahan jilid.4, (Semarang : 2003),
hal.582
[3] Ibid,
Hal.582
[4] Ibid,
Hal.583
[5] Imam Ghazali,
“’Ajaibu al-Qolbi”, Keajaiban-Keajaiban Hati, terjemahan oleh : Muhammad
al-Baqir, (Bandung : 2004), hal.33
[6] Ibid,
hal.34
[7] Ibid,
hal.39

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...