Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mesir : Antara Adab dan Kebudayaannya




Mesir : Antara Adab dan Kebudayaannya

Kamis, 15 September 2016

            Selasa, 13 September 2016 pukul 17.30, pertama kalinya saya menginjakkan kaki  di Negri Mesir, atau biasa orang menyebutnya dengan  Negri kinanah dan ardhu al-anbiyaa (Negri para Nabi). Pada saat itu sore menjelang malam, tepatnya ketika waktu Maghrib tiba, di International Airport Cairo kami di jemput oleh rekan-rekan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Kairo. Dengan menggunakan satu buah bis kami dibawa menuju Sekretariat mereka guna diadakan penyambutan serta pengarahan.

            MASISIR,  Mahasiswa Indonesia Mesir, itulah panggilan untuk para pelajar mahasiswa yang ada di Mesir. Karena banyaknya mahasiswa Indonesia yang berada disini, kami dikumpulkan oleh satu organisasi bernama PPMI (Persatuan pelajar Mesir Indonesia). Dibawah PPMI inilah banyak mediator-mediator atau broker lainnya berada. Seperti IKPM, IKPDN, IKAMARU, dan masih banyak lainnya.  

 Sesampainya di Sekre IKPM, yang letaknya di Madiinat al-nashr , hay al-ashir, kami disambut dan diterima dengan baik oleh rekan-rekan IKPM dan banyak juga teman angkatan dulu ketika di Pondok .kami mendapatkan Penjelasan dan pengarahan yang begitu panjang mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan Mesir. Dari bagaimana persiapankami untuk  menghadapi ujian Tahdid Mustawa, karena sebentar lagi akan ada ujian untuk MABA al-Azhar, sampai penjelasan detail mengenai keadaan keadaan rakyat Mesir dan lingkungannya.

            Sebelumnya, sepanjang perjalanan menuju Sekretariat IKPM, banyak hal-hal yang ingin saya tanyakan mengenai kehidupan di Mesir ini. Namun, karna keterbatasan waktu, itu semua akan terjawab sambil berjalannya kehidupan disini.  Akhirnya pengarahan malam itu selesai. Semua mahasiswa baru sudah dibagikan rumah atau flat masing-masing dan akan pulang kesana bersama senior mereka. Daerah yang saya tempati bernama Darosah.Daerah ini merupakan tempat yang paling dekat dengan Masjid Azhar serta Kampus al-Azhar. Butuh 45 menit sampai 1 jam yang harus ditempuh dari daerah hay al-ashir ke Darosah.

            Menggunakan kendaraan semacam van, kami tepat  turun di depan Masjid Azhar. Disitulah saya mulai melihat keramaian kota Kairo. Bermacam-macam penduduk yang tinggal di Kota itu pun membuat saya penasaran. Ditengah perjalanan, kami menyebar ke setiap penjuru jalan. Karena memang letak rumah kami berbeda. Sepanjang perjalanan menuju rumah ini lah saya banyak sekali memikirkan hal-hal yang jarang saya jumpai di Indonesia. Walaupun ada, tapi tidak separah yang ada di Negri ini. Ini semua berbeda terbalik dengan ekspektasi saya terhadap Negara ini.

            Sudah menjadi kepastian, ketika menginjakkan kaki di Negara orang, maka kita akan berkenalan dengan  yang namanya “budaya” (culture). Ketika yang dilihat adalah konteks budaya, maka kita akan berbicara sebuah kebiasaan (al-‘aadah). Lalu kebiasaan inilah yang menjadikan  tolak ukur sebuah “etika” masyarakat Mesir. Segala sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka di daerah mereka, itulah yang dianggap “etika”. Berbeda halnya dengan adab, yang mempunyai basis diin atau agama. Dimanapun dan kapanpun adab akan selalu eksis dan kondusif. 

            Sebagai contoh adalah lingkungan yang sangat kotor dengan sampah-sampah yang tertumpuk di piggiran jalan.Menurut saya, Mesir adalah Negara Timur Tengah seperti Arab yang sudah sangat mengerti tentang agama, walaupun diantara penduduknya ada sebagian orang non-muslim. Sebagai seorang muslim, prespektif yang harus kita bangun adalah konsep “an-nazhoofatu mina al-imaan”. Konsep Islamic worldview atau cara pandang islamlah yang harus kita pakai dalam membangun suatu peradaban.  Ketika membuang sampah sembarangan, harusnya ia berfikir bahwa sampah yang ia buang tersebut, kalau sampai mencelakakan orang lain, maka akan dipertanyakan kelak diakhirat atas apa yang ia perbuat. Sudah pasti sampah tersebut mengg anggu masyarakat yang ada di daerah itu. Dan inilah sebuah “etika” yang akan terbentuk dari sebuah kebiasaan disuatu masyarakat. 

            Penduduk Mesir bisa dikelompokkan menjadi dua. Mereka yang menggunakan bahasa arab fasih (al-Aroobiyyah al-Fushah), yaitu orang-orang terpelajar dan biasanya mereka dari kalangan pelajar, Guru, masayikh, dan Doktor. Lalu mereka yang menggunakan lahjah ammiyyah, mereka yang bisa dikatakan orang-orang Mesir pedalaman. Atau di Indonesia biasa kita menyebutnya dengan “orang kampung”, atau “orang tidak berpendidikan”.

            Masih banyak contoh adab yang kurang baik lainnya, seperti kebiasaan mereka dengan minum dan berdiri. Bagi penduduk mesir, jongkok adalah aib. Suatu hari saya membeli minuman lalu karena tidak bisa duduk untuk meminumnya, saya jongkok agar terlihat lebih sopan. Namun tenyata seorang lelaki tua meneriaki saya dengan megatakan “hadza aib”. Toko-toko minuman disini juga jarang yang menyediakan tempat duduk untuk pembelinya. Inilah adab yang selalu dilupakan oleh orang-orang. padahal tidak menjadi sebuah keungkinan penduduk Mesir mengetahui hadist “laa yasyrobanna ahadun minkum qaaiman”.

            Seorang senior IKPM pernah bercerita ketika ia ditanya oleh supir “kenapa kamu kuliah di Mesir”, ia menjawab, “kalau bukan karena al-Azhar, saya tidak akan kuliah disini”. Banyak orang yang salah berekpetasi dengan gambaran Mesir. Apa yang terjadi disini sangatlah berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Perkataan senior IKPM tersebut sangatlah tepat, kalau bukan karena Al-Azhar, mungkin kami, anak-anak Indonesia tidak akan kuliah jauh-jauh ke Negri ini.

            Tentunya tidak semua orang Mesir seperti ini. Banyak orang mesir yang baik, sopan, dan beradab. Namun perilaku inilah yang harus diperbaiki ditengah-tengah umat. Karena permasalahan terbesar umat islam sekarang, menurut Prof.Al-Attas adalah “loss of adab”, loss of dicipline. Adab adalah “right action”, tindakan yang tepat atau pas. Adab tidak membahas benar atau salah, halal atau haram. Tetapi adab membahas tentang tepat atau tidak, pas atau tidak. Jadi membuang sampah sembarang itu, tidak dosa atau haram. Tapi itu kurang pas dan tidak tepat sebagai seorang muslim.

            Rasulullah SAW bersabda : “allimuu aulaadakum wa ahsinuu adabahum”. Ajarilah anakmu ilmu dan perbaguslah adab-adab mereka.  Dan seorang ulama berkata dalam kitab “tadzkirotu assami’ wal mutakallim fi aadabi al-‘aalim wa al-muta’allim” , “ashiibi al-fuqohaa wa taallam minhum adabahum fainna dzaalika ahabbu ilayya min aktsari mina al-hadits”.

Ahad, 25 September 2016
Darb al-dalil, Cairo, Mesir  

             

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia