Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Urgensi Tholabu al-Ilmi menuju Ilmu Naafi


Urgensi Tholabu al-Ilmi menuju Ilmu Naafi

Oleh : Bana Fatahillah

Jadilah kalian orang yang berilmu, atau orang yang belajar akan (ilmu), atau orang yang mendengarkan (ilmu), atau orang yang senang dengan (majlis-majlis ilmu). Dan janganlah kamu menjadi yang kelima, maka kalian akan hancur”, (H.R Abu Daud)Begitulah salah satu sabda baginda Nabi Muhammad SAW. Dari hadist tersebut dapat ditarik kesimpulan,  bahwa Rasulullah menyuruh umatnya untuk menjadi orang yang berilmu. Kalau tidak bisa pada posisi tersebut, maka Rasul melarang kita untuk menjadi yang kelima. Apa yang kelima itu,  mereka yang tidak belajar akan ilmu, tidak mendengarkan akan ilmu, atau sampai tidak mencintai majlis-majlis keilmuan yang ada. Maka kata Rasul, kelak kau akan hancur (fatahlik).

            Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya, “kullu ummati yadkhuluun al-jannata illa man abaa”, lalu para sahabat bertanya, qaluu :faman ya’ba ya rasulallah ?”. qaala :“man athoo’anii dakhala al-jannah, faman ashoonii faqod abaa”. Mereka yang berbuat maksiat itulah yang tidak masuk surga. Rasulullah menjelaskan bahwasanya manusia tidak akan melakukan sebuah maksiat atau sebuah kesalahan, melainkan karena ada 4 faktor didalam dirinya. Selama 4 faktor ini ada pada diri manusia, maka ia akan mengerjakan maksiat.

Faktor yang  pertama adalah “al-jahlu” atau kebodohan. Yang kedua adalah “do’fu al-iiman”, atau lemahnya iman. Perbedaannya dengan yang pertama yaitu, pada kategori lemahnya iman, bisa saja seseorang sudah memiliki ilmu yang cukup, namun karena lemah imannya ia berbuat maksiat. Adapun yang pertama, ia sudah jelas tidak mengetahui apapun akan ilmu. Oleh karena itu faktor kedua ini dapat diatasi dengan “murooqobatullah”, merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, agar terhindar dari perbuatan maksiat. Yang ketiga adalah tuul al-amal, atau terlalu banyak angan-angan, layaknya ia megatakan “gue kan masih muda, tobat mah entaran aja”, sehingga ia merasa selalu dapat berbuat maksiat.. Faktor ini dapat diatasi dengan dzikr al-maut, atau selalu mengingat kematian. Dan yang terakhir adalah aklu al-haraam wa al-syubuhat.

            Bukan karena ketidaksengajaan baginda Nabi SAW menaruh  “kebodohan” (al-jahlu) atau ketidaktahuan sebagai faktor pertama yang menyebabkan seseorang melakukan maksiat atau kesalahan. Seseorang yang tidak tahu akan hukum wajibnya sholat dan puasa, maka ia akan meninggalkannya. Oleh karena itu faktor yang pertama dapat diatasi dengan “tholabu al-ilmi”.Rasulullah pun menjadikan Tholabu al-ilmi sebagai sesuatu kewajiban. Beliau bersabda, “Tholabu al-ilmi fariidhotun ‘ala kulli muslimin wa al-muslimaat”.

Terdapat sebuah cerita menarik. Dahulu ada seorang pengawal datang  kepada raja guna melaporkan bahwasanya akan ada tamu yang hadir dari Negri lain. Maka sang raja pun memberikan kepada pengawal tersebut sebuah surat perintah yang bertuliskan huruf alif , qof (tanpa titik), ta (tanpa titik), dan lam. Setelah menerima itu, sang pengawal kembali menemui  tamu tersebut lantas membunuhnya. Ketika ia melaporkan pekerjaannya kepada sang raja, ia pun dimarahi dan dijatuhi hukuman atas perbuatannya. Ternyata,  karena ketidaktahuannya, ia membaca surat itu dengan kalimat “uqtul” (bunuhlah). Padahal raja tersebut menyuruh ia menerima tamu tersebut dengan kalimat “aqbil” (terimalah).

            Nurcholis Majid, yang akrab dengan panggilan Cak Nur, Tokoh liberal di Indonesia, mengatakan dalam bukunya “Fiqih Lintas Agama”, bahwa al-Quran harus selalu dikontekstualisasikan dengan lingkungan budaya penganutnya dimana dan kapan saja, menurut ia, hal itu disebabkan bagaimana kesamaannya dengan  penyesuaian teks dan isi al-Qur’an pada budaya dan lingkungan Arab. Dan sejatinya cak Nur terlalu terburu-buru mengatakan seperti ini, serta salahnya pemahaman Cak Nur terhadap ilmu asbaabu al-nuzuul yang dipahami oleh kaum muslimin selama ini dalam bidang ushul fiqih. (Lihat, Adian Husaini, Liberalisasi Islam di Indonesia ; fakta, gagasan, kritik, dan solusinya, (Jakarta: Gema Insani, 2015) hal.41)

            Begitulah contoh ketidaktahuan yang menyebabkan pada sebuah kesalahan. Tentunya masih banyak kesalahan-kesalahan lain yang membuat manusia terjerumus pada kesalahan. Al-naasu a’daau maa jahiluu, manusia adalah musuh dari kebodohan yang ada. Hakikat dari manusia adalah ingin mengetahui sesuatu. Maka apabila seseorang tidak mencari sebuah ilmu untuk menghapuskan ketidaktahuan dalam dirinya, kelak ia akan terjerumus pada sebuah kesalahan.

            Kita bisa lihat bagaimana sosok  Nabi Ibrahim yang duduk memandangi matahari disiang hari hingga munculnya bulan di malam hari hanya untuk mengetahui siapakah Tuhan pencipta alam semesta ini yang harus ia sembah. Dan tak lupa pribadi nabi Musa yang sabar diperingati oleh nabi Khidir dalam mencari sebuah ilmu yang belum ia ketahui. Begitu juga para ulama ulama terdahulu yang mengembara ke banyak Negri untuk mendapatkan ilmu. Ulama-ulama hadist yang pergi meninggalkan Negrinya hanya untu mendapatkan satu hadist.  

Peradaban islam adalah peradaban ilmu. Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Kita bisa memperhatikan bagaimana Rasulullah menyulap bangsa Arab, dari yang tidak tau apa-apa akan ilmu (masa jahiliyyah), menjadi bangsa yang haus akan ilmu, haus akan menulis, membaca, dan menghafal. Setiap kali Rasul menyampaikan ayat Allah, atau perkataannya, para sahabat berburu untuk mencatatnya diberbagai lembaran, lalu segera dihafalkan. Para sahabat pun dahulu diutus ke berbagai daerah untuk belajar disana. Seperti halnya Zaid bin Tsabit yang disuruh belajar bahasa ibrani di Persia.

            Disamping pentingnya  menuntut ilmu, kita harus tau apa itu ilmu naafi, atau ilmu yang bermanfaat bagi kita. Kita selalub bermunaja kepada Allah SWT dengan doa, “Allahumma inna nas’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon waasi’an wa ‘amalan mutaqobbalan”.Ya Allah sesungguhnya kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rizqi yang lapang serta amalan yang selalu dikabulkan. Namun, bagaimanakah ilmu naafi yang disebutkan dalam doa diatas. Serta apa yang dimaksud dengannya. 

Menurut Prof.al-Attas, penulis buku "Islam and Secularism" serta filosof kontemporer berdarah melayu, mengatakan bahwa kerusakan utama pada umat muslim saat ini dikarenakan karena loss of adab. dan yang menjadikan mereka kehilangan adab atau loss of adab  adalah  false knowledge. Karena ilmu yang salah inilah ia  tidak menjadi  bermanfaat, lalu akan  mengantarkan manusia itu pada kesalahan bertindak, berfikir, dan beramal. Syeikh Abdussomad al-Falimbani dalam bukunya Hidayat al-Saalikin mendefinisikan al-Ilmu al-Naafi sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Bidaayatu al-Hidayah, yaitu :

العلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالىى ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك ويزيد في معرفتك بعبادة ربك عزّ وجلّ ويقلل من رغبتك في الدنيا ويزيد في رغبتك في الاخرة ويزيد في بصيرتك بافات أعمالك حث تحرز منها ويطلعك على 
مكاند الشيطان وغروره.

“Adapun ilmu Naafi adalah ilmu yang menjadikanmu semakin bertambah takut kepada Allah SWT dan juga yang dapat membuka mata hatimu akan keaiban dirimu dan yang dapat menambahi pengetahuan ibadahmu kepada Tuhanmu yang Maha mulia dan Maha tinggi. Dan ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang dapat mengurangkan kecintaanmu terhadap Dunia menjadi bertambah kecintaanmu terhadap akhirat. Dan ilmu yang dapat membukakan qolbumu menegtahui perkara yang membinasakan amalmu dan cara memeliharanya. Dan juga ilmu yang dapat menjadikan engkau tau godaan setan dan tipu dayanya.   

            Ilmu Naafi inilah yang akan mengantarkan manusia kepada ketakutannya kepada Allah. Allah bersabda, “Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihi al-‘ulamaau”. Seberapa besar ilmu itu mengantarkannya pada ketakutannya kepada Allah, maka semakin bermanfaatlah ilmu yang ia raih. Imam Ghazali dalam bukunya “Bidaayat al-Hidaayah” mengatakan “man izdaada ilman wa lam yazdad lahu huudan lam yazdad minallahi illa bu’dan”. Yang artinya “barang siapa yang bertambah ilmunya, namun belum bertambah pada dirinya petunjuk (kepada Allah SWT), maka tidaklah ia bertambah apapun kecuali jauhnya (dengan Allah SWT).

            Agar ilmu yang didapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat atau naafi, hendaknya thoolib al-ilmi, sang pencari ilmu meluruskan niatnya dalam mencari ilmu. Apa tujuan yang ingin ia capai dan hendak apa ia dengan ilmu yang kelak ia punya. Karena niat inilah yang akan menentukan kemana ia akan bertindak. Karena apabila tujuan dan orientasi dalam mencari ilmu adalah kenikmatan dunia semata bukan ikhlas karena Allah, maka rusaklah ilmu itu dan tidak akan menjadi bermanfaat.

            Dewasa ini, banyak para siswa, mahasiswa, santri, dan pelajar lainnya salah dalam niat mereka mencari ilmu. Banyak dari mereka yang duduk dibangku kuliah untuk mendapatkan kerja semata, yakni dengan pekerjaannya itu ia bisa mendapatkan uang. ada juga mereka yang belajar hanya untuk mendapatkan pujian dari orang banyak, serta merasa unggul dari yang lainnya. Ini semua adalah kesalahan yang sangat besar yang harus diperbaiki sehingga nantinya tidak timbul kembali kesalahan ini.

            Kini banyak lulusan-lulusan aliyah, SMA, maupun pesantren yang sangat ingin masuk ke Fakultas kedokteran. Bahkan, ada seseorang mahasiswa yang berani membayar sampai 500 juta untuk masuk kedalam fakultas kedokteran disalah satu Universitas swasta di Jawa Tengah. Tidak menjadi hal yang mustahil ketika ditanyakan “kenapa ingin masuk ke fakultas kedokteran”, mereka menjawab bahwa kelak gaji dokter sangatlah besar dan akan menguntungkan mereka semua dalam kehidupan. Sangat jarang, orang yang pintar dalam suatu sekolah, lulusannya disuruh untuk masuk fakultas tarbiyah atau ushuluddin. Mereka pasti lebih memilih di kedokteran, MIPA, teknik, atau fakultas lainnya. dan sungguh sangat membuat terkejut ketika ada yang mengatakan “lebih baik masuk kedokteran daripada tarbiyah, karena gaji guru sangatlah sedikit dari seorang dokter”.

            Bukannya tidak boleh atau menolak seseorang masuk ke fakultas umum seperti kedokteran. Islam tidak mengenal pendikotomian dalam bidang-bidang ilmu. Ulama-ulama dulu pun selain menguasai ilmu kalam, ia juga mahir dalam bidang kedokteran, fisika, matematika dan lainnya. yang menjadi titik kesalahannya adalah sebuah “niat” atau orientasi sang pelajar dala menuntut ilmu. Jika diawal tujuan mereka dalam menuntut ilmu adalah sebuah “pekerjaan”, “gaji”, “uang”, dan kenikmatan dunia lainnya, maka rusak sudah pekerjaan mulia yang dilakukannya, yaitu tholabu al-ilmi. Hal yang harus diingat adalah, jangan sampai menyamakan antara belajar dan bekerja. bekerja adalah suatu yang wajib bagi seorang untuk memnuhi hidupnya. Dan yang mengatur rizqi seseorang adalah Allah SWT. Jadi, mau  menjadi apapun ia kelak, kalau Allah memudahkan rizqinya, maka mudahlah. Begitupun sebaliknya. Kalau hanya untuk bekerja dan mencari makan nantinya, maka sungguh ia lebih hina dari seekor kera. Karena kera di Hutan tidak membutuhkan belajar tinggi-tinggi untuk dapat bekerja dan mencari makan.     

Maka dalam muqoddimah kitab Bidayat al-Hidayah, Imam Ghazali memberi warning atau peringatan keras tentang niat sang pencari ilmu dalam mencari ilmu. Beliau berkata :

 فاعلم ايهاالحريص المقبل في اقتباس العلم المظهر من نفسه صدق الرغبة وفرط التعطش إليه ,أنك إن كنت تقصد بالعلم المنافسة والمباهات والتقدم على الأقران واستمالة وجوه الناس إليك وجمع حطام الدنيا, فأنت ساع في هدم دينك وإهلاك نفسك وبيع أختك بدنياك. فصفقتك خاسرة وتجارتك بائرة, ومعلمك معين لك على عصيانك وشريك لك في خسرانك وهو كبائع سيف من قاطع طريق.

 “Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapatkan curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya. Bahwasanya apabila tujuanmu dalam menuntu ilmu adalah untuk bersaing, berbangga, mengalahkan teman lainnya, meraih simpati banyak orang, dan mengumpulkan kekayaan dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhiratmu dengan duniamu. Dengan demikian engkau mengalami kegagalan, dan perdaganganmu merugi, dan gurumu telah membantumu dalam berbuat maksiat serta telah menjadi sekutumu dalam kerugian tersebut. Gurumu itu layaknya penjual pedang bagi perampok jalanan”.(lihat, Imam Ghazali, Bidayat al-Hidayah, (Jakarta : Dar al-Kutub, 2014) hal.7-8)

            Sungguh pukulan dan peringatan yang sangat keras dari Hujjat al-Isalm kepada pencari ilmu akan niat dan tujuannya. Beliau sampai mengatakan bahwasanya orang-orang tersebut telah merusak agama, dan menjual akhirat dengan dunia. Dan guru-guru yang telah mengajari mereka akan ikut rugi bersama mereka. Karena Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang membantu terwujudnya perbuatan maksiat walau hanya dengan sepenggal kata, ia telah menjadi sekutunya dalam perbuatan tersebut”.

            Setelah niat dan tujuan itu sudah diluruskan, maka selanjutnya ilmu tersebut harus menjadi bermanfaat dengan mengamalkannya. Dalam bukunya Ayyuha al-walad, Imam Ghazali mempermisalkan orang yang tidak mengamalkan ilmunya seperti orang yang memegang 10 pedang dan ahli dalam memainkannya. Namun ketika ia dihadapkan pada seekor singa di Hutan luas, ia tidak menggunakan pedang-pedang itu, lalu mati diterkam singa. Ketika seseorang mengamalkan ilmunya, secara tidak sadar ia telah mentransfer ilmu yang ada kepada orang lain dan mengokohkan semua ilmu yang ada pada dirinya. Imam Ghazali mengatakan bahwasanya ilmu tanpa sebuah pengamalan adalah kegilaan dan suatu amal tanpa ilmu adalah hal yang sia-sia. Ilmu tanpa sebuah pengamalan itu ibarat pohon tak berbuah, “al-ilmu bilaa ‘amaalin ka al-syajari bilaa tsamarin”

            Ketika seseorang sudah memperbaiki niatnya dalam menuntut ilmu serta mengamalkan ilmu itu dengan sebaik-baik pengamalan serta dengan ilmu yang dimilikinya membuat ia lebih takut kepada Allah SWT, maka itulah ilmu naafi yang dikatakan oleh para ulama-ulama terdahulu. Maka sesuai yang Allah telah janjikan dalam ayat-Nya, Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan yang menuntut ilmu.

Kamis, 7 Oktober 2016
Darb al-Dalil, Cairo, Egypt


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia