Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Jangan ke Alexandria, nanti rindu 'Ulamanya
Bisnis
Desember 05, 2016
Jangan datang ke Alexandria, nanti rindu ‘Ulamanya
Oleh : Bana Fatahillah
Pada
Malam memasuki hari kedua bulan terakhir di 2016 ini, Ikatan Keluarga
Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Kairo, yang terdiri dari seluruh mahasiswa
baru, beberapa pengurus IKPM Cab.Kairo, beserta pembimbing, mengadakan Rihlah
ke Alexandria. Seperti penduduk Mesir pada umumnya yang pergi ke kota Alexandria,
kami menaiki kereta ekonomi, biasa disebut
juga kereta kambing, karena keadaan kereta ini yang selalu
dipadati dengan orang banyak.
“Pada hari pertama kalian akan
bertemu para ulama dan awliya yang akan menggetarkan rohani kalian. Dan
kalian akan merasakan indahnya pemandangan kota Alexandria yang membuat mata
ini terkagum, bagi siapa yang melihatnya, dihari kedua”, ujar Al-ustadz Zia Ul
Haq, salah satu ketua Sahah Indunisia dan pembimbing senior dari IKPM.
“Dan inilah yang dinamakan rihlah ruhaniyyah dan jasadiyyah”, tambah
beliau.
Ahbab Alexandria, begitulah orang
Mesir, khususnya Mahasiswa Indonesia Mesir, atau MASISIR, biasa menyebut
orang-orang yang sedang belajar dan begitu dekat bersama para masyayikh di
Kota Alexandria. Merekalah yang menjamu dan menyambut hangat kami setibanya dan
selama kami berada di Alexandria.
Pertemuan dengan Maulana Syeikh ‘Ala, seorang ulama dan auliya
besar di kota Alexandria, yang namanya selalu didengar di telinga para
mahasiswa al-Azhar kairo dari mulut ahbab Alexandria, menjadi permulaan
rihlah kali ini. Beliau adalah ulama muda kontemporer yang menguasai berbagai
disiplin ilmu, khususnya tasawuf. Syaarih dari buku nukhbat al-fikr tersebut
sangat terkenal dengan pemurah senyum, cepat menghafal nama mahasiswa,
khususnya Masisir, dan begitu dekat dengan semua orang yang dikenalnya.
Entah apa yang terjadi pada saat
itu, Masjid Amru bin Ash, tempat berkumpulnya kami dengan Syeikh ‘Ala, seperti
dipenuhi para malaikat yang seakan ikut
duduk mendengarkan ia berbicara. Ia mengawali perkataannya dengan penjelasan
singkat antara perbedaan ‘Aalim dan
Aarif billahi. Beliau memberi contoh dengan mengatakan :
“kam min ‘aalimin lam ya’mal bima ya’lam”.,
“wa kam min ‘aalimin yas’udu mimbar liyakhtub al-naasa, yakun
al-khutbaah fizoohir kalaam jamil, lakinna qolbaahu yata’allaq binnas”,
“Ya robb yaquuluna ‘anni ‘aalim jamiil, ya Robb yaquuluuna ‘anni anna khutbati
jamiil, yaquuluna ‘anni kadza wa kadza”
“faasbaha hadza al-‘aalim ‘ilmuhu linnas laisa lillah, wa laisa
lahu faaidah liqolbihi”
(Berapa
banyak orang ‘aalim belum mengerjakan apa yang mereka ketahui, dan
berapa banyak orang ‘aalim naik ke atas mimbar guna berkhutbah didepan
manusia. Boleh jadi perkataan mereka bagus dan indah, tetapi hati mereka masih
bergantung pada manusia. Ya Allah mereka berbicara tentangku bahwasanya aku
adalah seorang alim yang bagus, dan mereka mengatakan bahwa khutbahku
ini sangatlah bagus, lalu ini dan itu. Dan ini menyebabkan ilmunya untuk
manusia bukan Allah, dan tidak berfaidah di dalam hatinya.)
Hati kami tergugah, badan kami
bergetar, mata ini menangis, seakan diri ini dihujani beribu pukulan, dengan kisah
beliau, yaitu tentang perkataan seorang ulama kaya dan jawabannya dari seorang
ulama miskin ;
“khudz la laka” (ambillah, namun itu bukan milikmu)
“haati la minka”. (berikanlah, namun itu bukan darimu)
Dalam ilmu ma’anii, perkataan-perkataan seperti ini disebut i’jaz,
yaitu perkataan yang sedikit, namun memiliki makna dan arti yang sangat
banyak. Kami pun memahaminya dengan begitu jelas dan memaknainya dengan
pandangan merunduk kebawah. “Lillahi”, mungkin itu kata yang tempat
untuk mewakili percakapan kedua ulama itu.
Begitu juga jawaban Salam
bin Abdullah bin Umar kepada amiirul mu’minin di Baitullah ketika ditanya :
“alaka haajatun fanaqdiyaha laka?”,
Faajaabahu, “Astahyi an
as ala goirahu, wa ana fii baitihi”.
(apakah kau mempunyai keinginan yang bisa saya penuhi. ia menjawab,
saya merasa malu meminta selain kepada-Nya, sementara saya sedang berada di
Rumah-Nya)
Dan ketika sang Amiir
hanya bisa memenuhi kebutuhan Dunia tanpa Akhirat, Salam mengatakan :
“amma al-dunya fanahnu lam natlubha mimman yamlikuha fakaifa
atlubuha minka anta, wa anta la tamlikuha”
(adapun kebutuhan Dunia, kami belum memintanya dari yang
memilikinya, lalu bagaimana aku memintanya darimu, sementara kau tidak
memilikinya)
Yang kedua adalah Maulana Syeikh Abdussalam.
Ia lahir pada tahun 1939 di sebuah desa bernama Rosyid di Kota Buhairoh, Mesir.
Ia merupakan salah satu ulama besar di Alexandria saat ini. Tidak banyak
menjelaskan tentang beliau, Syeikh ‘Ala berkata, “kalau ingin mengetahui makna
perkataan “Zuhud fiddunya” serta “Adab dan Tawaadu” datanglah ke
Maulana Syeikh Abdussalam.
Ketika para ahbab dan Syeikh ‘Ala megunjungi Rumahnya lalu
dikatakan kepadanya, “maaf kami mengganggu rumah antum”, dengan tegas beliau
menjawab :
“Hadza baitu ikhwanina wa ahbabina, wa ana huna faqod khoodimtakum”.
(ini adalah Rumah saudara-saudara dan para ahbab kita, dan
saya hanyalah pembantu kalian)
Pada tahun 1982 syeikh Abdussalam pernah bermimpi dikumpulkan oleh
Rasulullah bersama para auliya lainnya.
Ketika memperkenalkan dirinya kepada Rasul, ia tidak menagatakan bahwa
dia adalah da’i, muballig atau yang lain, adapun ia mengatakan “ana
khoodimun lihadrotil muhammadiyyah”.
Itulah contoh sifat tawadu’ dari seorang masyayikh
yang ada. Syeikh ‘Ala mengatakan, bahwa ia, Maulana Syeikh Abdussalam, pernah
membawakan sepatu milik syeik ‘Ala ketika ia membawakan sepatu syeikh
Abdussalam. Dengan diiringi berbagai alunan qosidah, pertemuan besama beliau
disiang hari itu terasa khidmat dan seakan wajah beliau dipenuhi cahaya Rasulullah
dan keberkahan malaikat.
Yang ketiga adalah Syeikh Ibrahim Abdul Baits al-Kattani. Seorang Ulama
yang menerangi malam kami di Alexndria saat itu. Beliau adalah ulama yang hafal
Sohih Bukhori sanad dan matan. Dan mempunyai sanad
tertinggi dari Imam Bukhori sampai ke Rasulullah yang diambilnya dari seorang
ulama bernama Syeikh Abdullah Al-Ghumari. Dan dia adalah orang yang terakhir
yang meriwayatkan ssohih Bukhori pada saat ini.
Tak banyak penjelasan tentang beliau, melihat wajahnya dan ikut
dengan majlisnya saja kami sudah merasakan keberkahan yang datang dari para
Malaikat. Bagaimana kami tidak tidak rindu kepada sosok Imam Bukhori, sedang
orangnya duduk dihadapan kami. Kami akhiri pertemuan malam itu dengan kecupan
di Telapak tangan ulama yang sangat ‘azhiim ini.
“Al-mar u ma’a man ahabba”,
begitulah kata Rasulullah SAW. Manusia kelak akan dipertemukan dengan
orang-orang yang ia cintai. Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama para
ulama-ulama yang kami temui di Kota Alexandria ini, karena kami cinta kepada
mereka. Ya Rasulullah, kami yakin pertemuan kami dengan para ulama disini dapat
menjadi wasilah rindu kami kepada
engkau. Karena kami yakin dengan perkataan engkau “al-‘ulama’u waratsat
al-anbiya”.
Merekalah yang mewarisi nilai-nilai kenabian setelah Nabi dan para
sahabat telah tiada. Semoga dibulan kelahirang sang baginda nabi kali ini,
benar-benar menjadi syahru robi’i
al-Anwar atas perjumpaan kami dengan para masyayikh, auliya,
ulama, yang ada di kota Alexandria. Kami ingin selalu ada disamping mereka,
dan selalu belajar banyak hal dari mereka. Terakhir kami berpesan kepada
kalian, “jangan ke Alexandria, nanti rindu ulamanya”.
Kairo, Ahad 3 Desember 2016

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...