Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Jangan ke Alexandria, nanti rindu 'Ulamanya

Jangan datang ke Alexandria, nanti rindu ‘Ulamanya

Oleh : Bana Fatahillah



            Pada Malam memasuki hari kedua bulan terakhir di 2016 ini, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Kairo, yang terdiri dari seluruh mahasiswa baru, beberapa pengurus IKPM Cab.Kairo, beserta pembimbing, mengadakan Rihlah ke Alexandria. Seperti penduduk Mesir pada umumnya yang pergi ke kota Alexandria, kami menaiki kereta ekonomi, biasa disebut  juga kereta kambing, karena keadaan kereta ini yang selalu dipadati dengan orang banyak.

            “Pada hari pertama kalian akan bertemu para ulama dan awliya yang akan menggetarkan rohani kalian. Dan kalian akan merasakan indahnya pemandangan kota Alexandria yang membuat mata ini terkagum, bagi siapa yang melihatnya, dihari kedua”, ujar Al-ustadz Zia Ul Haq, salah satu ketua Sahah Indunisia dan pembimbing senior dari IKPM. “Dan inilah yang dinamakan rihlah ruhaniyyah dan jasadiyyah”, tambah beliau.

            Ahbab Alexandria, begitulah orang Mesir, khususnya Mahasiswa Indonesia Mesir, atau MASISIR, biasa menyebut orang-orang yang sedang belajar dan begitu dekat bersama para masyayikh di Kota Alexandria. Merekalah yang menjamu dan menyambut hangat kami setibanya dan selama kami berada di Alexandria.       

            Pertemuan dengan Maulana Syeikh ‘Ala, seorang ulama dan auliya besar di kota Alexandria, yang namanya selalu didengar di telinga para mahasiswa al-Azhar kairo dari mulut ahbab Alexandria, menjadi permulaan rihlah kali ini. Beliau adalah ulama muda kontemporer yang menguasai berbagai disiplin ilmu, khususnya tasawuf. Syaarih dari buku nukhbat al-fikr tersebut sangat terkenal dengan pemurah senyum, cepat menghafal nama mahasiswa, khususnya Masisir, dan begitu dekat dengan semua orang yang dikenalnya.

            Entah apa yang terjadi pada saat itu, Masjid Amru bin Ash, tempat berkumpulnya kami dengan Syeikh ‘Ala, seperti dipenuhi para malaikat yang  seakan ikut duduk mendengarkan ia berbicara. Ia mengawali perkataannya dengan penjelasan singkat antara  perbedaan ‘Aalim dan Aarif billahi. Beliau memberi contoh dengan mengatakan :

kam min ‘aalimin lam ya’mal bima ya’lam”.,
“wa kam min ‘aalimin yas’udu mimbar liyakhtub al-naasa, yakun al-khutbaah fizoohir kalaam jamil, lakinna qolbaahu yata’allaq binnas”,
“Ya robb yaquuluna ‘anni ‘aalim jamiil,  ya Robb yaquuluuna ‘anni anna khutbati jamiil, yaquuluna ‘anni kadza wa kadza”
“faasbaha hadza al-‘aalim ‘ilmuhu linnas laisa lillah, wa laisa lahu faaidah liqolbihi”

(Berapa banyak orang ‘aalim belum mengerjakan apa yang mereka ketahui, dan berapa banyak orang ‘aalim naik ke atas mimbar guna berkhutbah didepan manusia. Boleh jadi perkataan mereka bagus dan indah, tetapi hati mereka masih bergantung pada manusia. Ya Allah mereka berbicara tentangku bahwasanya aku adalah seorang alim yang bagus, dan mereka mengatakan bahwa khutbahku ini sangatlah bagus, lalu ini dan itu. Dan ini menyebabkan ilmunya untuk manusia bukan Allah, dan tidak berfaidah di dalam hatinya.)

            Hati kami tergugah, badan kami bergetar, mata ini menangis, seakan diri ini dihujani beribu pukulan, dengan kisah beliau, yaitu tentang perkataan seorang ulama kaya dan jawabannya dari seorang ulama miskin ;

khudz la laka” (ambillah, namun itu bukan milikmu)
haati la minka”. (berikanlah, namun itu bukan darimu)
Dalam ilmu ma’anii, perkataan-perkataan seperti ini disebut i’jaz, yaitu perkataan yang sedikit, namun memiliki makna dan arti yang sangat banyak. Kami pun memahaminya dengan begitu jelas dan memaknainya dengan pandangan merunduk kebawah. “Lillahi”, mungkin itu kata yang tempat untuk mewakili percakapan kedua ulama itu.
Begitu juga jawaban  Salam bin Abdullah bin Umar kepada amiirul mu’minin di Baitullah ketika ditanya :
alaka haajatun fanaqdiyaha laka?”,
Faajaabahu, Astahyi an as ala goirahu, wa ana fii baitihi”.
(apakah kau mempunyai keinginan yang bisa saya penuhi. ia menjawab, saya merasa malu meminta selain kepada-Nya, sementara saya sedang berada di Rumah-Nya)
Dan  ketika sang Amiir hanya bisa memenuhi kebutuhan Dunia tanpa Akhirat, Salam mengatakan :
amma al-dunya fanahnu lam natlubha mimman yamlikuha fakaifa atlubuha minka anta, wa anta la tamlikuha
(adapun kebutuhan Dunia, kami belum memintanya dari yang memilikinya, lalu bagaimana aku memintanya darimu, sementara kau tidak memilikinya)
             Yang kedua adalah Maulana Syeikh Abdussalam. Ia lahir pada tahun 1939 di sebuah desa bernama Rosyid di Kota Buhairoh, Mesir. Ia merupakan salah satu ulama besar di Alexandria saat ini. Tidak banyak menjelaskan tentang beliau, Syeikh ‘Ala berkata, “kalau ingin mengetahui makna perkataan “Zuhud fiddunya” serta “Adab dan Tawaadu” datanglah ke Maulana Syeikh Abdussalam.

Ketika para ahbab dan Syeikh ‘Ala megunjungi Rumahnya lalu dikatakan kepadanya, “maaf kami mengganggu rumah antum”, dengan tegas beliau menjawab :
Hadza baitu ikhwanina wa ahbabina, wa ana huna faqod khoodimtakum”.
(ini adalah Rumah saudara-saudara dan para ahbab kita, dan saya hanyalah pembantu kalian)
Pada tahun 1982 syeikh Abdussalam pernah bermimpi dikumpulkan oleh Rasulullah bersama para auliya lainnya.  Ketika memperkenalkan dirinya kepada Rasul, ia tidak menagatakan bahwa dia adalah da’i, muballig atau yang lain, adapun ia mengatakan “ana khoodimun lihadrotil muhammadiyyah”.

Itulah contoh sifat tawadu’ dari seorang masyayikh yang ada. Syeikh ‘Ala mengatakan, bahwa ia, Maulana Syeikh Abdussalam, pernah membawakan sepatu milik syeik ‘Ala ketika ia membawakan sepatu syeikh Abdussalam. Dengan diiringi berbagai alunan qosidah, pertemuan besama beliau disiang hari itu terasa khidmat dan  seakan wajah beliau dipenuhi cahaya Rasulullah dan keberkahan malaikat.

Yang ketiga adalah Syeikh Ibrahim Abdul Baits al-Kattani. Seorang Ulama yang menerangi malam kami di Alexndria saat itu. Beliau adalah ulama yang hafal Sohih Bukhori sanad dan matan. Dan mempunyai sanad tertinggi dari Imam Bukhori sampai ke Rasulullah yang diambilnya dari seorang ulama bernama Syeikh Abdullah Al-Ghumari. Dan dia adalah orang yang terakhir yang meriwayatkan ssohih Bukhori pada saat ini.

Tak banyak penjelasan tentang beliau, melihat wajahnya dan ikut dengan majlisnya saja kami sudah merasakan keberkahan yang datang dari para Malaikat. Bagaimana kami tidak tidak rindu kepada sosok Imam Bukhori, sedang orangnya duduk dihadapan kami. Kami akhiri pertemuan malam itu dengan kecupan di Telapak tangan ulama yang sangat ‘azhiim ini.  

“Al-mar u ma’a man ahabba”, begitulah kata Rasulullah SAW. Manusia kelak akan dipertemukan dengan orang-orang yang ia cintai. Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama para ulama-ulama yang kami temui di Kota Alexandria ini, karena kami cinta kepada mereka. Ya Rasulullah, kami yakin pertemuan kami dengan para ulama disini dapat menjadi wasilah  rindu kami kepada engkau. Karena kami yakin dengan perkataan engkau “al-‘ulama’u waratsat al-anbiya”.

Merekalah yang mewarisi nilai-nilai kenabian setelah Nabi dan para sahabat telah tiada. Semoga dibulan kelahirang sang baginda nabi kali ini, benar-benar menjadi syahru robi’i  al-Anwar atas perjumpaan kami dengan para masyayikh, auliya, ulama, yang ada di kota Alexandria. Kami ingin selalu ada disamping mereka, dan selalu belajar banyak hal dari mereka. Terakhir kami berpesan kepada kalian, “jangan ke Alexandria, nanti rindu ulamanya”.



Kairo, Ahad 3 Desember 2016 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia