Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Mendapatkan, tapi Seperti Kehilangan
Bisnis
Januari 22, 2017
Mendapatkan, tapi Seperti Kehilangan
Oleh : Bana Fatahillah
Tak ada yang
berbeda di Fajar ini, dari Gemuruhnya suara Adzan subuh, merdunya lantunan ayat
al-Quran sembari menunggu Iqomah, suara telapak gerombolan anjing yang yang berkeliaran dan
menggonggong satu sama lainnya, nafas ketergesa-gesaan para pejuang subuh yang
berlari kecil layaknya orang yang sedang sa’yi hendak menuju Masjid,
serta asap rokok bapak penjaga lorong itu, yang selalu menjawab salam dari orang-orang
yang memberikannya. Semuanya sama, tak ada yang berbeda dari fajar sebelumnya. Berusaha
berperang dengan setan malas, dingin, dan ngantuk, kaki dan diri ini memaksakan berjalan hendak mencari
keberkahan pagi dari Masjid milik cucu Sayyidina Muhammad SAW.
Sebelum menyentuh seluruh
kitab-kitab yang “suci” sepulangnya dari Masjid, tangan ini harus bermesaraan
terlebih dahulu dengan barang yang katanya “kotor”, yaitu handphone. Mungkin ini
adalah hal yang dilakukan para pemuda di era Modern ini, “mungkin” loh
ya. Jari ini begitu lihai menggeledah satu persatu setiap bilik yang ada pada
aplikasi Whatsapp. Dari yang isinya himbauan dzikir pagi, bagi bilik
berdomisili Mesir, hingga bercampurnya antara pembahasan-pembahasan yang penting
dan tidak (read:spam), bagi domisili Indonesia. Mungkin itu penting bagi
saya, namun sayang, kata orang : “beda domisili, berarti beda urusan dan
permasalahan”.
Dan akhirnya, sang ibu jari
ini pun harus terhenti di bilik milik keluarga. Ada beberapa gambar yang
dikirim yang perlu diunduh sebelum melihatnya. Sebuah gambar berisikan salah
satu surat kabar yang tertulis besar diatasnya “Di Alexandria, Kami Titipkan
Rindu pada Ulama” dan terpampang nama saya tepat diawah judul tersebut. Entah
apa yang ada dipikiran ini ; dari bangga, senang, dan takut, semua bercampur
aduk. Bangga dan senang, karena tulisan yang sudah lama saya kirimkan bisa di post
di koran se-kelas Republika, apalagi di rubrik Dunia Islam. kenapa takut? Jujur,
sebenarnya masih ada kekhawatiran akan tulisan yang kurang bagus, belum layak
masuk koran, dan takut rasa senang dan bangga tersebut menjadi sebuah
kesombongan yang tertanam dalam hati ini.
Tulisan itu hampir memuat setengah sampai sepertiga halaman koran. Dengan
ditambah gambar pemandangan kota Alexandria yang lumayan besar, tulisan ini
semakin lebih menarik untuk dibaca. Belum lagi sebuah kutipan besar
dicantumkan, “Entah apa yang terjadi pada saat itu, Masjid Amru bin Ash
Alexandria, tempat berkumpulnya kami dengan Syeikh ‘Ala seperti dipenuhi para
malaikat”. Saya sangat-sangat ingat, tulisan ini ditulis sehari setelah
pulangnya kami, anak-anak azheema, dari Alexandria bersama ustadz Zia. Sebenarnya
tulisan ini hanyalah tulisan-tulisan biasa yang saya tulis untuk membuat
laporan setelah berpergian, yang setidaknya bisa menjadi kenangan nanti ketika
membacanya kembali. Tapi waktu itu, Aba menyuruh membenarkan tulisan itu,
bahkan sampai dua kali. Dan alhasil, tulisan tersebut bisa dimuat di Republika.
Lagi-lagi rasa takut. Pagi itu, berita tulisan saya yang dimuat
disurat kabar menjadi trending topic disetiap bilik bilik kamar yang
pernah saya masuki. Dari bilik angkatan, konsul, firqoh-firqoh ga jelas,
sampai chat pribadi al-ustadz Zia sudah mendapatkan gambar berupa surat
kabar itu. Bingung harus menjawab apa, dan daripada salah bertindak, saya
memilih diam dan tidak menghiraukan apa yang dibicarakan mereka. Saya takut ada
rasa sombong yang menjalar dihati, angkuh, merasa lebih hebat, dan sifat-sifat
lainnya yang membuat kata “lillahi” menjadi hilang. Menurut saya ini adalah
masa-masa pembelajaran dan pembiasaan. Masih banyak salah disana sini, dari
tanda baca, pemilihan kata yang kurang tepat, dan lain sebagainya. Jadi saya
harus menganggap ini semua belum “apa-apa” dan saya ini belum jadi “siapa-siapa”.
Menurut pribadi saya, siapapun yang bisa mendapatkan kesempatan
seperti ini pasti senang dan bangga, apalagi ini merupakan tulisan pertama saya
yang dimuat disurat kabar. Saya mencoba merenungi seluruh hikmah-hikmah dari
nasehat yang disampaikan aba sampai detik ini, apalagi hikmah kenapa saya harus
menghabiskan masa satu tahun diluar sana sebelum menginjakkan kaki ke Kairo. Ternyata
hikmah itu bisa saya ambil sekarang. Nasehatnya tentang, “kuliah jangan sekedar
kuliah”, “mau kuliah dimana saja, yang menentukan itu orangnya, bukan
kuliahannya”, “belajar menulis”, “kamu dan mahasiswa yang baru datang bersama
kamu kelak akan berbeda, dengan pembelajaran singkat satu tahun disini” masih terbenak
sampai sekarang. Belum lagi pengetahuan dan pemetaan luas akan kitab-kitab turots
dari pak Ardi.
Ternyata satu tahun di Kampus umum setelah dari Gontor kemarin
bukanlah suatu kesia-siaan. Banyak pendidikan tambahan non-formal yang saya dapatkan.
Walaupun tidak bergelut dengan bagian-bagian jurnalistik atau
kepenulisan pada saat di Gontor, namun prinsip saya, “saya tidak boleh kalah
dengan mereka”. Sejujurnya, permulaan penulisan laporan dan berbagai opini
adalah ketika mengikuti Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah angkatan ke-4,
yang setiap minggunya menuntut satu buah berita laporan perkuliahan serta karya
ilmiah mengenai judul tersebut. Dari situlah saya mulai mengenal dunia
jurnalistik, yaitu laporan berita atau hard news. Belum lagi rasa iri melihat
adik saya yang sudah aktif menulis. Sebenarnya sih memang karena dia
sudah kuliah lebih dahulu dari saya dan mendapat tempaan langsung dari aba.
Lagi-lagi saya harus bilang, “belum ada
apa-apanya”, dan “buka siapa-siapa”. Mungkin tulisan lu itu
keberuntungan saja, dan masih banyak tulisan lan yang lebih pantas masuk. Masih
banyak yang harus ditingkatkan. “Harus tetap menjadi gelas yang selalu kosong,
agar bisa diisi dengan air”, begitulah kata motivator-motivator sekarang, baik
yang se-kelas Mario Teguh, sampai ke Mario Tegang. Tokoh-tokoh motivasi saya
seperti Buya Hamka dan M.Natsir selalu mengajarkan untuk akan pentingnya
menulis, karena mereka adalah penulis-penulis handal yang menciptakan
karya-karya yang bagus pula. Pesan Allah pertama kepada Nabi Muhammad pun juga
berisikan mengenai tulisan, “alladzi ‘allama bi al-qolam”.
Pesan terhadap diri ini adalah : perbanyaklah membaca buku-buku
sastra, katanya lu dulu orang “Sastra Inggris”. Lalu banyak-banyak
melihat tarkib atau susunan kalimat hingga enak dibaca dan dilantunkan. Dan
yang terpenting, kalau memang lu menuju kepenulisan opini, maka harus
punya ilmu yang banyak. Bukan cuma ikut kajian-kajian terbatas, tapih
dominankan kehadiran di majlis talaqqi, tapi jangan lupa murojaah,
tahdiir, dan berdiskusi seperlunya saja. Dan kalau ada yang mengajari lu
tentang kepenulisan, walaupun sedikit, siapapun dia dan apapun dia, duduk
lalu dengarkan ia.
Darrosah,
Kairo
Senin 22 Januari 2017

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...