Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mendapatkan, tapi Seperti Kehilangan


Mendapatkan, tapi Seperti Kehilangan

Oleh : Bana Fatahillah

            Tak ada yang berbeda di Fajar ini, dari Gemuruhnya suara Adzan subuh, merdunya lantunan ayat al-Quran sembari menunggu Iqomah, suara telapak  gerombolan anjing yang yang berkeliaran dan menggonggong satu sama lainnya, nafas ketergesa-gesaan para pejuang subuh yang berlari kecil layaknya orang yang sedang sa’yi hendak menuju Masjid, serta asap rokok bapak penjaga lorong itu, yang selalu menjawab salam dari orang-orang yang memberikannya. Semuanya sama, tak ada yang berbeda dari fajar sebelumnya. Berusaha berperang dengan setan malas, dingin, dan ngantuk, kaki dan diri  ini memaksakan berjalan hendak mencari keberkahan pagi dari Masjid milik cucu Sayyidina Muhammad SAW.

 Sebelum menyentuh seluruh kitab-kitab yang “suci” sepulangnya dari Masjid, tangan ini harus bermesaraan terlebih dahulu dengan barang yang katanya “kotor”, yaitu handphone. Mungkin ini adalah hal yang dilakukan para pemuda di era Modern ini, “mungkin” loh ya. Jari ini begitu lihai menggeledah satu persatu setiap bilik yang ada pada aplikasi Whatsapp. Dari yang isinya himbauan dzikir pagi, bagi bilik berdomisili Mesir, hingga bercampurnya antara pembahasan-pembahasan yang penting dan tidak (read:spam), bagi domisili Indonesia. Mungkin itu penting bagi saya, namun sayang, kata orang : “beda domisili, berarti beda urusan dan permasalahan”.

 Dan akhirnya, sang ibu jari ini pun harus terhenti di bilik milik keluarga. Ada beberapa gambar yang dikirim yang perlu diunduh sebelum melihatnya. Sebuah gambar berisikan salah satu surat kabar yang tertulis besar diatasnya “Di Alexandria, Kami Titipkan Rindu pada Ulama” dan terpampang nama saya tepat diawah judul tersebut. Entah apa yang ada dipikiran ini ; dari bangga, senang, dan takut, semua bercampur aduk. Bangga dan senang, karena tulisan yang sudah lama saya kirimkan bisa di post di koran se-kelas Republika, apalagi di rubrik Dunia Islam. kenapa takut? Jujur, sebenarnya masih ada kekhawatiran akan tulisan yang kurang bagus, belum layak masuk koran, dan takut rasa senang dan bangga tersebut menjadi sebuah kesombongan yang tertanam dalam hati ini.

Tulisan itu hampir memuat setengah sampai sepertiga halaman koran. Dengan ditambah gambar pemandangan kota Alexandria yang lumayan besar, tulisan ini semakin lebih menarik untuk dibaca. Belum lagi sebuah kutipan besar dicantumkan, “Entah apa yang terjadi pada saat itu, Masjid Amru bin Ash Alexandria, tempat berkumpulnya kami dengan Syeikh ‘Ala seperti dipenuhi para malaikat”. Saya sangat-sangat ingat, tulisan ini ditulis sehari setelah pulangnya kami, anak-anak azheema, dari Alexandria bersama ustadz Zia. Sebenarnya tulisan ini hanyalah tulisan-tulisan biasa yang saya tulis untuk membuat laporan setelah berpergian, yang setidaknya bisa menjadi kenangan nanti ketika membacanya kembali. Tapi waktu itu, Aba menyuruh membenarkan tulisan itu, bahkan sampai dua kali. Dan alhasil, tulisan tersebut bisa dimuat di Republika.

Lagi-lagi rasa takut. Pagi itu, berita tulisan saya yang dimuat disurat kabar menjadi trending topic disetiap bilik bilik kamar yang pernah saya masuki. Dari bilik angkatan, konsul, firqoh-firqoh ga jelas, sampai chat pribadi al-ustadz Zia sudah mendapatkan gambar berupa surat kabar itu. Bingung harus menjawab apa, dan daripada salah bertindak, saya memilih diam dan tidak menghiraukan apa yang dibicarakan mereka. Saya takut ada rasa sombong yang menjalar dihati, angkuh, merasa lebih hebat, dan sifat-sifat lainnya yang membuat kata “lillahi” menjadi hilang. Menurut saya ini adalah masa-masa pembelajaran dan pembiasaan. Masih banyak salah disana sini, dari tanda baca, pemilihan kata yang kurang tepat, dan lain sebagainya. Jadi saya harus menganggap ini semua belum “apa-apa” dan saya ini belum jadi “siapa-siapa”.

Menurut pribadi saya, siapapun yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini pasti senang dan bangga, apalagi ini merupakan tulisan pertama saya yang dimuat disurat kabar. Saya mencoba merenungi seluruh hikmah-hikmah dari nasehat yang disampaikan aba sampai detik ini, apalagi hikmah kenapa saya harus menghabiskan masa satu tahun diluar sana sebelum menginjakkan kaki ke Kairo. Ternyata hikmah itu bisa saya ambil sekarang. Nasehatnya tentang, “kuliah jangan sekedar kuliah”, “mau kuliah dimana saja, yang menentukan itu orangnya, bukan kuliahannya”, “belajar menulis”, “kamu dan mahasiswa yang baru datang bersama kamu kelak akan berbeda, dengan pembelajaran singkat satu tahun disini” masih terbenak sampai sekarang. Belum lagi pengetahuan dan pemetaan luas akan kitab-kitab turots dari pak Ardi.

Ternyata satu tahun di Kampus umum setelah dari Gontor kemarin bukanlah suatu kesia-siaan. Banyak pendidikan tambahan non-formal yang saya dapatkan. Walaupun tidak bergelut dengan bagian-bagian jurnalistik atau kepenulisan pada saat di Gontor, namun prinsip saya, “saya tidak boleh kalah dengan mereka”. Sejujurnya, permulaan penulisan laporan dan berbagai opini adalah ketika mengikuti Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah angkatan ke-4, yang setiap minggunya menuntut satu buah berita laporan perkuliahan serta karya ilmiah mengenai judul tersebut. Dari situlah saya mulai mengenal dunia jurnalistik, yaitu laporan berita atau hard news. Belum lagi rasa iri melihat adik saya yang sudah aktif menulis. Sebenarnya sih memang karena dia sudah kuliah lebih dahulu dari saya dan mendapat tempaan langsung dari aba.

    Lagi-lagi saya harus bilang, “belum ada apa-apanya”, dan “buka siapa-siapa”. Mungkin tulisan lu itu keberuntungan saja, dan masih banyak tulisan lan yang lebih pantas masuk. Masih banyak yang harus ditingkatkan. “Harus tetap menjadi gelas yang selalu kosong, agar bisa diisi dengan air”, begitulah kata motivator-motivator sekarang, baik yang se-kelas Mario Teguh, sampai ke Mario Tegang. Tokoh-tokoh motivasi saya seperti Buya Hamka dan M.Natsir selalu mengajarkan untuk akan pentingnya menulis, karena mereka adalah penulis-penulis handal yang menciptakan karya-karya yang bagus pula. Pesan Allah pertama kepada Nabi Muhammad pun juga berisikan mengenai tulisan, “alladzi ‘allama bi al-qolam”.

Pesan terhadap diri ini adalah : perbanyaklah membaca buku-buku sastra, katanya lu dulu orang “Sastra Inggris”. Lalu banyak-banyak melihat tarkib atau susunan kalimat hingga enak dibaca dan dilantunkan. Dan yang terpenting, kalau memang lu menuju kepenulisan opini, maka harus punya ilmu yang banyak. Bukan cuma ikut kajian-kajian terbatas, tapih dominankan kehadiran di majlis talaqqi, tapi jangan lupa murojaah, tahdiir, dan berdiskusi seperlunya saja. Dan kalau ada yang mengajari lu tentang kepenulisan, walaupun sedikit, siapapun dia dan apapun dia, duduk lalu dengarkan ia.

            Darrosah, Kairo
Senin 22 Januari 2017

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia