Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

M.Natsir dan Sisi Gelap dibalik Keringat Perjuangan


M.Natsir dan Sisi Gelap dibalik Keringat Perjuangan

Oleh : Bana Fatahillah

Meskipun Bersilang keris dileher
Berkilat pedang dihadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan diatas persada Nusa

Begitulah penggalan bait puisi yang disyairkan oleh Buya Hamka pada tahun 1957 untuk M.Natsir setelah berpidato di Konstituante tentang islam sebagai dasar Negara. Dia, M.Natsir (1908-1993), adalah seorang politikus intelektual, generator lapangan dakwah, dan pejuang islam di Indonesia yang pada tahun 2008 mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI. Buku “Capita Selecta”, merupakan bukti nyata akan kemahirannya dalam banyak ilmu.

            Menurut anak didik dari A.Hassan yang terkenal dengan “mosi integralnya”, saat itu pilihat rakyat Indonesia hanya satu diantara dua, yaitu islam dan sekularisme (laa diniyyah). Di majlis konstituante inilah Natsir tegas menolak dasar sekularisme dalam ketatanegaraan. Sebagai nasionalis muslim yang meyakini kebenaran agamanya, peluang konstitusi itu tidak ia sia siakan dan tidak malu untuk menyampaikan gagasannya secara jelas. Natsir ingin melanjutkan kembali perjuangan tokoh islam di BPUPKI yang telah berhasil melahirkan “Piagam Jakarta”.

Dalam pidato tersebut, M.Natsir menyatakan bahwa Islam bukan hanya sebuah agama, melainkan ia merupakan sebuah landasan, fikiran, dan konsep bagi seluruh manusia. Islam tidak hanya mengurus bagaimana seseorang beribadah, ia pun menenerangkan bagaimana manusia harus bernegara, berpolitik dan lainnya. “Adapaun sekular adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya didalam batas keduniaan. Ia tidak mengenal Akhirat, Tuhan, dan sebagainya.” Ujarnya.

M.Natsir meyakini bahwa totalitas kehidupan, dari lahir sampai mati, terdapat sangkut paut dengan kedaulatan Tuhan, termasuk kehidupan bernegara. Hubungan agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Kita bukan negara sekuler, akan tetapi kita negara yang meyakini Ketuhanan yang maha Esa, karena itu, menurut M.Natsir dasar negara haruslah islam. Dan inilah satu faktor besar yang sempat merusak hubungan M.Natsir dengan Soekarno.  

Pada tahun 2011, Gramedia menerbitkan seri majalah Tempo dengan judul “Natsir : Politik Santun diantara dua Rezim”, yang merupakan kumpulan cerita dan beberapa tulisan dari pakar politik dan sejarawan akan sosok M.Natsir. Pada rezim pertama, yaitu orde lama, M.Natsir yang sangat dekat dengan Soekarno, yaitu sebagai mentri penerangan dikabinet Sjahrir, terlibat polemik tajam di surat kabar ditahun 1930an. Soekarno mendambakan nasionalisme dan mengkritik islam, serta memuji “sekularisme” yang diterapkan Ataturk di Turki. Sebaliknya, M.Natsir pun menyayangkan hancurnya Turki Utsmani sambil menunjukkan dampak negatif dari itu semua.

Bukan hanya dalam hal mengenai konsep dasar negara, pergaulan mesra dengan kaum komunis pun membuat Natsir harus kembali menentang Soekarno. Belum lagi setelah dekritnya pada 5 Juli 1959, Soekarno memperlihatkan bahwa ia ingin melaksanakan “demokrasi terpimpipin” miliknya dengan memperlihatkan ciri-ciri kepemimpinannya yang otoriter.  Sampai pada saat itu, ketika keadaan Jakarta mulai tidak stabil, M.Natsir beserta keluarga harus kembali ke kampung halamannya, di Padang.
              Sejak pertengahan tahun 1950an, konflik mulai meningkat antara partai yang anti dan pro-komunis. Yang mengejutkan, pada pemilu tahun 1955, partai komunis mendapatkan posisi ke-empat setelah PNI, Masyumi, dan NU. Sejak itulah kekhawatiran rakyat makin bertambah akan komunisme. Partai-partai yang menyatakan dirinya sebagai anti-komunis, mengusahakan seluruh tenaganya untuk membendung komunisme. Namun usaha mereka tertutupi dengan kecenderungan presiden Soekarno terhadap kaum komunis.

            Melihat keadaan Soekarno yang seperti ini, M.Natsir tidak tinggal diam. Didalam hutan lebat di Dataran Sumatra, ia mengumpulkan beberapa militer dan sipil untuk membuat suatu rencana. Dengan hadirnya M.Natsir pada saat itu  sangatlah berperan, sehingga pada saat itu lahirlah sebuah usulan yang diberinama “piagam palembang”, berisikan lima buah permintaan, dan salah satunya adalah melarang komunisme di Indonesia serta mengembalikan dwi tunggal Soekarno-Hatta.

            Pada rezim Orde Baru, usulan M.Natsir untuk mengusir kaum komunis berhasil. Presiden Soeharto secara tegas mengusir kaum komunis yang berada di Indonesia. Usaha Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dibawah payung pancasila yang didambakan Soekarno pun runtuh dengan semangat para golongan-golongan islam pada saat itu. Orde baru inilah yang dijuluki sebagai pembangunan berdasarkan pancasila dan UUD yang telah disalah gunakan pada saat orde lama.

            Pada akhirnya, Soekarno harus gigit jari dengan peristiwa G30S/PKI, dan disitulah puncak akhir dari rezim orde lama. Orde Baru menganggap bahwa rezim Orde Lama merupakan sebuah kesalahan dari pengamalan pancasila. Mereka menganggap bahwa Soekarno salah dalam mengamalkan nilai pancasila. Terlebih lagi ideologinya yang dipengaruhi oleh kaum komunis. Maka dari itu, oleh orde baru, “Demokrasi Terpimpin” dianggap bertentangan dengan pancasila. Lalu, dimunculkanlah slogan baru bernama “Demokrasi Pancasila”.

             Namun sayang, euforia umat islam dengan hadirnya orde baru tidak bisa bertahan lama. Panggung politik dan ideologi di masa Orde Baru kemudian didominasi semangat sekularisasi dan deislamisasi dibidang politik khusunya. Kali ini petinggi negara mencoba menafsirkan pancasila secara sekuler dan memonopoli maknanya yang kelak dijadikan sebagai alat untuk menumpas aspirasi islam. Pancasila kemudian dijadikan “asas tunggal” bagi seluruh organisasi sosial kemasyarakatan dan politik. Belum lagi ditetapkannya Pedoman Penghayatan dan Pemngamalan Pancasila (P4) sebagai “tafsir tunggal” pancasila.

            Sebagai contoh kasus yang menonjol saat itu adalah diusulkannya RUU pernikahan yang  tidak memiliki batasan ras, suku, bangsa, asal tempat maupun “agama”, lalu kasus Musdah Mulia,  seorang Prof. di UIN Jakarta yang mengesahkan perkawinan sesama jenis, serta kasus Daoed Djusuf, seorang petinggi negara yang tidak segan menyatakan bahwa  ia menganut konsep laisitas, yaitu sikap tidak akan memakai agama untuk mendesakkan, apalagi memaksakan hukum atau perundang-undangan manusia, singkatnya ia mempunyai  visi men-sekulerkan RI. Tak lupa kesedihan tokoh-tokoh islam, termasuk Natsir, atas pidato  Cak Nur pada tahun 1970 di Menteng tentang “Sekularisme”

            Lagi-lagi, sosok ketua Masyumi tersebut tidak tinggal diam. Ketika itu, M.Natsir mengingatkan kekeliruan besar tentang konsep asas tunggal Orde Baru tersebut. Pada 11 Maret 1985, Ia menulis sebuah risalah singkat berjudul “Tempatkan kembali pancasila pada Kedudukan yang Konstitusional”. Menurut M.Natsir, pancasila yang dahulu berfungsi sebagai titik temu dan pemersatu, berjiwa Biheneka Tunggal ika, sekarang justru dijadikan sebaliknya. Para perumusnya pasti tak setuju apabila pancasila ditafsirkan seenaknya, apalagi bertentangan dengan agama.

            Namun sayang, saat itu peringatan tersebut diabaikan dan  tidak didengar, bahkan M.Natsir dan beberapa tokoh lainnya mengalami pencekalan dari pemerintah dan sempat dicap sebagai “pembangkang”. Peringatan dari para cerdik seperti M.Natsir dan Buya Hamka saat itu hanyut begitu saja layaknya diterjal ombak besar dalam lautan ideologi bebas pancasila.

            Tawaran Natsir di Konstituante, upaya menghapuskan komunisme, dan beberapa peringatannya terhadap petinggi negara merupakan konsep dakwah yang diajarkan oleh islam. Entah semua tawaran itu dapat diterima atau tidak, itu bukanlah urusan M.Natsir. Rasulullah dahulu tidak pernah memaksa ketika mengirimkan berbagai surat kepada raja-raja untuk memeluk islam. Itulah konsep dakwah dalam islam.

Walaupun pada 1960 Masyumi dibubarkan, tidak menjadikan Natsir berhenti untuk berdakwah. Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang sampai sekarang masih eksis, merupakan sebuah bukti nyata upayanya untuk melanjutkan perjuangan dakwah. Wallhu a’lam bisshowab.
           



            

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia