Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Al-Tawassu’ fi al-Fikr : Kembangkan, Jangan Hancurkan (!)


Al-Tawassu’ fi al-Fikr : Kembangkan, Jangan Hancurkan (!)
Al-Muhaafadzotu‘ala al-Qodiimi al-Shaalih wa al-akhdzu bi al-Jadiidi ashlah”,               (Annahdhiyyun)
Setelah Rasulullah wafat, diskursus semua permasalahan dalam agama dirujuk kepada para sahabat, yaitu mereka yang bertemu dengan Rasulullah secara langsung dalam keadaan islam, layaknya Umar, Abu Bakar, Utsman, Zaid, dan lainnya. Selanjutnya, setelah umat Islam ditinggal oleh para sahabat, datanglah generasi baru yang menggantikannya, yaitu para tabiin. Tiga periode inilah yang dalam akidah Ahlusunah waljamaah disebut sebagai “salaf”. Itu semua selaras dengan hadist nabi yang berbunyi, “Khoirunnasi qornii tsumma al-ladziina yaluunahum tsummal-ladziina yaluunahum...”. (lihat Sheikh Ali Jum’ah, Al-Mutasyaddiduun, Daar al-Muqattam, Mesir : 2011, hal.5)
            Dan selanjutnya, ilmu, yang merupakan “warisan” terbesar  milik Rasulullah SAW. pun berpindah ke generasi-generasi setelahnya. Setiap generasi mempunyai sebuah cara atau jalan yang berbeda dalam mendapatkan ilmu dari Rasulullah, yang mana itu semua hanya karena keterbatasan waktu yang tidak mempertemukannya dengan beliau saja. inilah nanti yang akan membedakan pengertian makna “ilmu” pada setiap periodenya.
Ilmu pada masa sahabat diartikan sebagai sebuah kepemilikan (al-Malakah), yaitu sifat yang sudah mendarah daging pada diri seseorang. Itu semua karena mereka mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW. Menginjak ke generasi setelah sahabat, ilmu menjadi sebuah pengetahuan dan pemahaman (al-Idraak). Artinya, mereka yang belajar dari sahabat, yaitu tabiin, memahami dengan baik dengan belajar langsung kepada para sahabat, yang mana pembelajaran tersebut bukan pada pengkotak-kotakan setiap ilmu, melainkan menyeluruh. Memasuki Periode setelah tabiin dan tabi’ al-Taabi’in inilah ilmu diartikan permasalahan atau pembahasan (al-Masaail) untuk dipelajari dan dikuasai.   
Pada masanya, Umar bin Khattab R.A tidak belajar ilmu sebagai suatu pembahasan seperti sekarang. Ia tidak belajar fiqih, ushul fiqih, nahwu, tafsir, ataupun yang lainnya. Karena saat Rasulullah menyampaikan ayat atau perkataanya, itu sudah mencangkup ilmu-ilmu tersebut. Begitu juga para tabiin, yang langsung belajar dari para sahabat.  Mereka belum mengkhususkan ilmu yang ada menjadi sebuah kekhususan tersendiri. Imam Sibaweih misalnya, sebagai Imam al-Nuhaat dengan al-Kitabnya, ilmu nahwu bukanlah sebuah pembahasan baginya, melainkan  pengetahuan tersendiri dari pemikirannya, yang lalu di bentuk (tadwin)  menjadi permasalahan-permasalahan bagi kita semua. Maka muncullah bab i’rob, rofa’, nashab, jar, dan lainnya yang membentuk ilmu nahwu. Gambaran kecilnya adalah, bahwasanya ia sudah menyimpan itu semua di kepala, yang lalu diaplikasikan melalui tulisan dan menjadi sebuah disiplin ilmu.
Sejak tersebarnya Islam diberbagai wilayah, bercampurnya bahasa arab dan asing di berbagai daerah, serta timbulnya pemahaman yang salah dalam memahami al-Quran dan hadist, maka dibuatlah ilmu-ilmu tersendiri yang sekiranya dapat membantu para generasi selanjutnya dalam memahami al-Quran. Layaknya Imam Syafii yang membuat ushul fiqih sebagai kaidah dalam membantu mengistimbatkan sebuah dalil, Imam Sibaweih yang menyusun ilmu Nahwu, Imam Abdul Qohir al-Jurjani peletak ilmu balaghoh, dan ulama-ulama lainnya.     
Pasca  diletakkan setiap disiplin ilmu dengan berbagai kitabnya, seperti al-Umm pada fiqih, Al-Risaalah pada ushul fiqih, Ibanah pada Aqidah, Sohih dan Musnad pada hadist, selanjutnya datanglah berbagai ulama yang berusaha mengembangkannya. Mereka mencoba menambahkan beberapa permasalahan beserta penyelesaiannya untuk dikonsumsi bagi generasi yang akan datang, tentunya itu semua menggunakan kaidah yang benar. Inilah mengapa hadir dihadapan kita saat ini berbagai syarh, matan, haasyiyah, hamisy, tarjamah dan taqriirat, yang membantu kita untuk lebih memahami maksud dari pendahulunya yang meletakkan ilmu tersebut, hingga Rasulullah.
            Yang dilakukan oleh para tabi’in dan generasi setelahnya ; dari mengembangkan pemikiran para sahabat, menarik intisari sebuah permasalahan lalu menyimpulkannya dalam sebuah ilmu, dan menyiapkan permasalahan-permasalahan disetiap ilmunya, merupakan tindakan yang sangat besar nilainya. Inilah yang dinamakan sebagai pengembangan sebuah fikrah (al-Tawassu’ fi al-Fikr), yang tentunya dengan kaidah yang benar dan tidak keluar dari syariat islam. Eksistensi empat madzhab saat ini pun merupakan contoh dampak terbesar dari hal tersebut.     
Dalam fiqih Syafii misalnya. Setelah Imam Juwaini membuat al-Nihayah sebagai ringkasan dari kitab-kitab Imam Syafii, yaitu al-Um, al-Imla’, al-Buwaiti, dan Mukhtashor al-Muzani, kitab-kitab madzhab pun mulai dibuat oleh para ulama madzhab. Untuk memperjelas al-Nihayah, Imam Ghazali membuat al-Basiit, selanjutnya ia ringkas menjadi al-Wasiit, kemudian al-Wajiiz, dan diakhiri dengan al-Khulaashoh. Tidak berhenti sampai disitu, selanjutnya Imam al-Rafii meringkas al-Wajiz dengan al-Muharrar, yang lalu oleh Imam Nawawi disyarh dengan al-Minhaj. Dalam periode akhir pada ulama madzhab, Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli hadir men-syarh al-Minhaj milik Imam Nawawi dengan Tuhfat al-Muhtaj dan Nihayat al-Muhtaj miliknya, seperti yang kita baca pada saat ini. Mereka berdua adalah ulama diperiode terakhir yang menjadi rujukan kuat dalam madzhab. (lihat Sheikh Ali Jum’ah, al-Madkhal fi Diraasat al-Madaahib al-Fiqhiyyah, Daar al-Salaam, Mesir : 2016, hal.67)
Contoh lain, yaitu pada ilmu nahwu. Imam Sibaweih, sebagai Imam al-Nuhat dengan al-Kitabnya, ia telah memberikan banyak inspirasi dalam ilmu nahwu bagi ulama-ulama yang hidup setelahnya. Dari Madrasah Kufah lahirlah Abu ‘Ali al-Farisi, ulama yang disebut sebagai penemu se-pertiga illat nahwu. Tak kalah hebatnya dengan Ibnu Jinni, sebagai murid, ia pun turut mengembangkan pemikiran-pemikirannya tentang nahwu dalam kitab al-Khasaais. Kota Jurjan, yang notabene penduduknya bukalah orang arab (a’jamiy) pun juga berhasil melahirkan Abdul Qohir al-Jurjani sebagai peletak ilmu balaghah dengan Dalail al-‘I’jaz dan Asrar al-Balaghahnya. Daerah Maghrib dan Andalus pun tak ketinggalan, hadir Abu Hayyan, Ibnu Malik, Ibnu Ajrum, Ibnu Hisyam, dan ulama-ulama nahwu lainnya yang turut andil dalam mengembangkan pemikirannya dalam ilmu nahwu hingga bisa kita nikmati ilmunya pada saat ini.
Jika agama adalah ibarat bangunan bersejarah yang kokoh, maka para ulama yang punya andil besar dalam keilmuan islam, layaknya orang yang tengah memperbarui dari segala kekurangan pada bangunan tersebut tanpa merubah pondasinya, serta menambahkan segala sesuatu yang dapat memudahkan pada akses menuju padanya. Bukan malah menghancurkan dan merobohkan pondasi-pondasi yang telah dibuat, ataupun merusaknya. Apalagi memutuskan semua akses untuk menuju bangunan ini. Seakan ia ingin masuk kedalam, tapi lupa bahwasanya ada berbagai jalan dan pintu yang harus ia lewati sebelum memasukinya.
Inilah mengapa para ulama selalu menentang golongan yang menolak madzhab, aqwal para ulama, lalu secara mentah mengembalikan permasalahan pada Qur’an dan hadis. Karena itu semua akan mempersempit pemikiran seseorang dalam berfikir, dan akan menghancurkan pondasi banunan yang kokoh ini. Kalau demikian halnya, lalu untuk apa para ulama terdahulu melakukan berbagai penelitian (bahs) dengan berbagai permasalahan, yang masih kita pelajari sampai saat ini.
Sebagai pusat keilmuan terakhir pada saat ini, Al-Azhar selalu menekankan para muridnya untuk mengikuti manhaj atau metode belajar para ulama terdahulu. Inilah mengapa para penuntut ilmu dibedakan dalam kategori mubtadiin, mutawassit, lalu muntahi, agar dalam setiap pencapaiannya, para murid dibarengi dengan kitab-kitab yang sesuai. Dan nantinya bisa memahami isi kandungan dalam al-Quran dan hadis secara benar dengan pandangan yang wasati. Dari ni semua, lalu anda masih mau mengatakan bahwa sebuah permasalahan dikembalikan pada al-Quran dan hadis secara mentah mrntah, “eih ya ‘am” (?). Wallahu a’lam bisshowab.

Kairo, Senin, 27 Maret 2017


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia