Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Keamanan dan Keimanan


Keamanan dan Keimanan

Oleh : Bana Fatahillah

            “Puji Syukur terhadp Allah SWT yang telah memberikan segala nikmatnya kepada kita semua, khusunya nikmat Iman”, begitulah kalimat yang sering disampaikan oleh para muballigh, ustadz, penceramah-penceramah, atau siapapun yang hendak membuka pembicaraanya dihadapan orang-orang. Nikmat Iman merupakan nikmat agung diantara nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Lalu Apakah sebenarnya hakikat makna iman, sehingga sering disebut sebagai nikmat besar yang diberikan oleh Allah kepada hambanya.

            Dalam hadist sohih yang termasuk dalam empat puluh hadist pilihan Imam Nawawi (al-Arba’in al-Nawawiyyah), diriwayatkan dari Khalifah Umar bin Khattab bahwasanya Rasulullah ketika ditanya oleh malaikat Jibril, apa itu iman, ia berkata “An tu’minu billahi wa malaikatihi wakutubihi wa rasuulihiwa bil yaumil aakhiri wa bil qodri khoirihi wa syarrihi”, lalu malaikat Jibril membenarkannya dengan mengatakan, “sodaqta”. Iman secara bahasa berarti percaya (tasdiq), adapun menurut istilah adalah membenarkan dalam hati,mengikrarkan dengan mulut, dan mengamalkan dengan anggota badan (tasdiiq bil qolb wa iqroru billisan wal a’maalu bil arkan). Yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana cara mengetahui apakah iman tersebut ada pada diri kita, atau itu semua hanya rekayasa belaka, sebagai tanda atau identitas seorang muslim.

            Untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita perhatikan isi dari salah hadist tentang amr ma’ruf nahyi munkar. Dalam hadist tersebut  Rasulullah SAW. Menutup perkataannya dengan mengatakan “wa in lam yastati’ fa bi qolbihi, wa dzaalika ad’aaf al-Iimaan”. “bi qolbihi” disini bukanlah mencegah dengan hati, namun ketika tidak mampunya kita dalam pencegahan dengan tangan (kekuasaan) ataupun dengan perkataan, maka hendaknya kita tidak suka dengan perbuatan tersebut walaupun itu dalam hati, dan itulah selemah-lemah iman yang ada di dalam diri kita.

Ketika melihat perbuatan kemunkaran, dan tidak bisa mencegahnya, baik dengan perbuatan atau lisan, lantas hati serta diri kita sudah merasa tidak senang dengan perbuatan itu, maka itulah iman yang paling kecil dala diri kita. Untuk mengecek keimanan, kita juga bisa perhatikan Firman Allah yang berbunyi, “Innama al-Mu’minnu alladziina dzukirallahi wajilat quluubuhum waidza tuliyat  ‘alaihim zaadathum iimanan” (sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka)

Iman bukanlah sekedar percaya dalam hati lantas mengucapkannya dari mulut, seraya berkata “saya beriman”, namun harus ada aplikasi dari sebuah kepecayaan tersebut. Maka dalam definisi iman dikatakan “al-‘a’maalu bi al-Arkan”. Dalam kitab “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”, K.H Hasyim Asy’ari mengatakan,  “Tauhid itu mewajibkan iman, barang siapa yang tidak beriman, maka ia belum dianggap bertauhid. Dan iman mewajibkan syariat, barang siapa yang tidak bersyariat, maka ia belum dianggap bertauhid dan beriman. Dan syariat mewajibkan adab, barang siapa yang tidak beradab, maka ia belum dianggap bertauhid, beriman dan bersyariat”. Maka barang siapa yang beriman, namun tak beramal sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, ia belum dianggap beriman.

            Pengamalan itu biasa kita sebut taqwa, orang yang bertaqwa sering dipanggil oleh Allah sebagai “al-Muttaqun” dalam al-Quran. Dalam kitabnya Bidayat al-Hidayah, Imam Ghazali mengatakan bahwa taqwa adalah “imtitsaalu awaamirillah wajtinaabu nawaahiihi”, atau bisa kita bilang menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Karena sejatinya, dasar seluruh hukum-hukum yang ada tidak keluar dari “perintah” dan “larangan”. Dalam ilmu ushul fiqih, pembahasan “amr” (perintah) dan “nahyu” (larangan) pun menjadi pembahasan terpenting, karena itulah yang ditunjukkan oleh nash untuk diistimbatkan pada penetapan dalil.

            Inilah yang menjadikan “iman” sebagai nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Kalau tak pernah melakukan perintah Allah dan selalu melanggar apa yang Allah larang, lantas ia merasa tidak bersalah dengan perbuatannya itu, maka keimanan pada diri orang tersebut harus dipertanyakan.

             Adapun keamanan, ia mempunya asal kata yang sama seperti iman, yaitu ((أ, م, ن . Dalam al-Quran disebutkan pada surat al-A’raf , dimana Allah memberi peringatan akan keadaan keamanan negara-negara yang mendustakan Allah yang berbunyi, “Afaamina ahl al-Quraa an ya’tiyahum ba’sunaa bayaatan wa hum naaimuun” (maka, apakah penduduk negri-negri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka dimalam hari diwaktu mereka sedang tidur). Allah pun juga berjanji Dalam surat An-Nuur ayat 55, bahwasanya akan menggantikan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, dari ketakutan kepada aman sentausa. “...wa laa yubaddilannahum min ba’di khoufihim amnan..”

            Dalam pembahasan suatu bab dalam suatu ilmu, disana terdapat sisi keterkaitan atau biasa kita sebut wajh al-Taroobut dan wajh al-Ta’alluq dengan bab-bab sebelum dan sesudahnya ataupun dengan ilmu lainnya. dalam ilmu nahwu misalnya, kenapa pembahasan i’rob diletakkan setelah pembahasan kalam, apakah ini ditaruh secara tidak sengaja atau memang mushonnif menginginkan makna sesuatu. Ternyata ia, i’rob adalah sebagai alat dari apa yang ingin ditujukan dari kalam, seakan kalam menjadi tempatnya dan i’rob lah sebagai alat yang mengerjakannya. lalu, apa sisi keterkaitan antara makna keimanan dan keamanan.

            Orang orang beriman yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, atau orang yang bertaqwa, dijanjikan oleh Allah akan selalu dalam lindungan-Nya. Allah selalu berpesan bahwasanya ia tidak akan merasa takut dan dalam keadaan sedih, “wa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanunn” dalam surat al-Baqoroh ayat 62, Allah menjajikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya, maka baginya pahala, serta dijauhkan darinya ketakutan dan kesedihan.

            Bahkan dalam salah satu Hadist Qudsi, yang juga dikutip oleh Hujjatul Islam dalam kitab Bidayah Hidayahnya, jika Allah cinta terhadap hamba-Nya karena menjalankan kewajibannya yang selalu diikuti oleh segala perbuatan sunahnya, Ia akan menjaga orang-orang tersebut. Allah berfirman, ... “faidza ahbabtuhu kuntu sam’ahu alladzi yasma’u bihi, wa basharahu alladzi yubshiru bihi, wa lisann alladzi yantiqu bihi, wa yadahu  allati yabtisyu biha, wa rijlahu allati yamsyii bihaa, wa qalbahu alladzi yadhmiru bihi.” (lihat, Imam Ghazali, Bidayat al-Hidayah, Jakarta : Dar al-Kutub, 2014 hal.7-8)  
(maka apabila aku mencintainya, Aku-lah yang menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, Aku-lah yang menjadi matanya untuk melihat, Aku-lah yang menjadi tangannya untuk menggenggam, Aku-lah yang menjadi kakinya untuk berjalan, dan Aku pulalah yang menjadi hatinya yang dengan itu ia dapat merasakan fikirannya).

             Ingat bagaimana Allah memberi keamanan kepada Nabi Muhammad bersama Abu Bakar As-Shidiq di Gua Hira, ditengah ketakutan Abu Bakar terhadap pasukan Quraisy, yang mana kejadian ini diabadikan oleh Al-Quran yang masyhur dengan kalimat, “La tahzan Innallaha ma’anaa”.Dan tak lupa para sekelompok orang yang diselamatkan didalam gua (ashaab al-Kahfi) dari kekejaman raja pada zamannya, karena ketaqwaan mereka kepada Allah SWT. Ini adalah bukti bahwasanya ketika iman dan taqwa adalah jalan kunci kita untuk selalu dalam lindungan-Nya. Karena Allah lah yang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya.


            Sebagai seorang mu’min hendaknya kita selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. kita haruslah percaya dengan Allah dengan apa yang terjadi pada kehidupan kita. Lantas, apa yang harus kita takutkan jika Allah telah bersama kita. Apakah janjinya pada ayat wa laa khoufun ‘alaihim wa la hum yahzanuun”, adalah sebuah kebohongan. Dan apakah janji keamanan terhadap orang mu’min dalam ayat-Nya “...wa laa yubaddilannahum min ba’di khoufihim amnan” adalah suatu kebohongan. Tentunya tidak, dan Allah lah yang menjajikan itu semua. Wallahu a’lam bisshowab. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia