Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Keamanan dan Keimanan
Bisnis
Maret 18, 2017
Keamanan dan Keimanan
Oleh : Bana Fatahillah
“Puji Syukur
terhadp Allah SWT yang telah memberikan segala nikmatnya kepada kita semua,
khusunya nikmat Iman”, begitulah kalimat yang sering disampaikan oleh para muballigh,
ustadz, penceramah-penceramah, atau siapapun yang hendak membuka pembicaraanya
dihadapan orang-orang. Nikmat Iman merupakan nikmat agung diantara
nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Lalu Apakah sebenarnya hakikat
makna iman, sehingga sering disebut sebagai nikmat besar yang diberikan oleh
Allah kepada hambanya.
Dalam hadist sohih
yang termasuk dalam empat puluh hadist pilihan Imam Nawawi (al-Arba’in
al-Nawawiyyah), diriwayatkan dari Khalifah Umar bin Khattab bahwasanya Rasulullah
ketika ditanya oleh malaikat Jibril, apa itu iman, ia berkata “An tu’minu
billahi wa malaikatihi wakutubihi wa rasuulihiwa bil yaumil aakhiri wa bil
qodri khoirihi wa syarrihi”, lalu malaikat Jibril membenarkannya dengan
mengatakan, “sodaqta”. Iman secara bahasa berarti percaya (tasdiq),
adapun menurut istilah adalah membenarkan dalam hati,mengikrarkan dengan mulut,
dan mengamalkan dengan anggota badan (tasdiiq bil qolb wa iqroru billisan
wal a’maalu bil arkan). Yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana cara
mengetahui apakah iman tersebut ada pada diri kita, atau itu semua hanya
rekayasa belaka, sebagai tanda atau identitas seorang muslim.
Untuk menjawab
pertanyaan diatas, mari kita perhatikan isi dari salah hadist tentang amr ma’ruf
nahyi munkar. Dalam hadist tersebut Rasulullah SAW. Menutup perkataannya dengan
mengatakan “wa in lam yastati’ fa bi qolbihi, wa dzaalika ad’aaf al-Iimaan”.
“bi qolbihi” disini bukanlah mencegah dengan hati, namun ketika tidak mampunya
kita dalam pencegahan dengan tangan (kekuasaan) ataupun dengan perkataan, maka
hendaknya kita tidak suka dengan perbuatan tersebut walaupun itu dalam hati,
dan itulah selemah-lemah iman yang ada di dalam diri kita.
Ketika melihat perbuatan kemunkaran, dan tidak bisa mencegahnya,
baik dengan perbuatan atau lisan, lantas hati serta diri kita sudah merasa tidak
senang dengan perbuatan itu, maka itulah iman yang paling kecil dala diri kita.
Untuk mengecek keimanan, kita juga bisa perhatikan Firman Allah yang berbunyi, “Innama
al-Mu’minnu alladziina dzukirallahi wajilat quluubuhum waidza tuliyat ‘alaihim zaadathum iimanan” (sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang disebut nama Allah gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka)
Iman bukanlah sekedar percaya dalam hati lantas mengucapkannya dari
mulut, seraya berkata “saya beriman”, namun harus ada aplikasi dari sebuah
kepecayaan tersebut. Maka dalam definisi iman dikatakan “al-‘a’maalu bi
al-Arkan”. Dalam kitab “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”, K.H Hasyim
Asy’ari mengatakan, “Tauhid itu
mewajibkan iman, barang siapa yang tidak beriman, maka ia belum dianggap
bertauhid. Dan iman mewajibkan syariat, barang siapa yang tidak bersyariat,
maka ia belum dianggap bertauhid dan beriman. Dan syariat mewajibkan adab,
barang siapa yang tidak beradab, maka ia belum dianggap bertauhid, beriman dan
bersyariat”. Maka barang siapa yang beriman, namun tak beramal sesuai dengan
apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, ia belum dianggap beriman.
Pengamalan itu
biasa kita sebut taqwa, orang yang bertaqwa sering dipanggil oleh Allah sebagai
“al-Muttaqun” dalam al-Quran. Dalam kitabnya Bidayat al-Hidayah, Imam
Ghazali mengatakan bahwa taqwa adalah “imtitsaalu awaamirillah wajtinaabu
nawaahiihi”, atau bisa kita bilang menjalankan segala perintah-Nya dan
meninggalkan seluruh larangan-Nya. Karena sejatinya, dasar seluruh hukum-hukum
yang ada tidak keluar dari “perintah” dan “larangan”. Dalam ilmu ushul fiqih,
pembahasan “amr” (perintah) dan “nahyu” (larangan) pun
menjadi pembahasan terpenting, karena itulah yang ditunjukkan oleh nash untuk
diistimbatkan pada penetapan dalil.
Inilah yang
menjadikan “iman” sebagai nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Kalau
tak pernah melakukan perintah Allah dan selalu melanggar apa yang Allah larang,
lantas ia merasa tidak bersalah dengan perbuatannya itu, maka keimanan pada
diri orang tersebut harus dipertanyakan.
Adapun keamanan, ia mempunya asal kata yang
sama seperti iman, yaitu ((أ, م, ن . Dalam al-Quran disebutkan pada surat
al-A’raf , dimana Allah memberi peringatan akan keadaan keamanan negara-negara
yang mendustakan Allah yang berbunyi, “Afaamina ahl al-Quraa an ya’tiyahum
ba’sunaa bayaatan wa hum naaimuun” (maka, apakah penduduk negri-negri itu
merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka dimalam hari diwaktu
mereka sedang tidur). Allah pun juga
berjanji Dalam surat An-Nuur ayat 55, bahwasanya akan menggantikan keadaan
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, dari ketakutan kepada
aman sentausa. “...wa laa yubaddilannahum min ba’di khoufihim amnan..”
Dalam
pembahasan suatu bab dalam suatu ilmu, disana terdapat sisi keterkaitan atau
biasa kita sebut wajh al-Taroobut dan wajh al-Ta’alluq dengan
bab-bab sebelum dan sesudahnya ataupun dengan ilmu lainnya. dalam ilmu nahwu
misalnya, kenapa pembahasan i’rob diletakkan setelah pembahasan kalam, apakah
ini ditaruh secara tidak sengaja atau memang mushonnif menginginkan
makna sesuatu. Ternyata ia, i’rob adalah sebagai alat dari apa yang ingin
ditujukan dari kalam, seakan kalam menjadi tempatnya dan i’rob lah sebagai alat
yang mengerjakannya. lalu, apa sisi keterkaitan antara makna keimanan dan
keamanan.
Orang orang
beriman yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, atau
orang yang bertaqwa, dijanjikan oleh Allah akan selalu dalam lindungan-Nya.
Allah selalu berpesan bahwasanya ia tidak akan merasa takut dan dalam keadaan
sedih, “wa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanunn” dalam surat
al-Baqoroh ayat 62, Allah menjajikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan
Rasulnya dan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya, maka
baginya pahala, serta dijauhkan darinya ketakutan dan kesedihan.
Bahkan dalam salah
satu Hadist Qudsi, yang juga dikutip oleh Hujjatul Islam dalam kitab
Bidayah Hidayahnya, jika Allah cinta terhadap hamba-Nya karena menjalankan
kewajibannya yang selalu diikuti oleh segala perbuatan sunahnya, Ia akan
menjaga orang-orang tersebut. Allah berfirman, ... “faidza ahbabtuhu kuntu
sam’ahu alladzi yasma’u bihi, wa basharahu alladzi yubshiru bihi, wa lisann
alladzi yantiqu bihi, wa yadahu allati
yabtisyu biha, wa rijlahu allati yamsyii bihaa, wa qalbahu alladzi yadhmiru
bihi.” (lihat, Imam
Ghazali, Bidayat al-Hidayah, Jakarta : Dar al-Kutub, 2014
hal.7-8)
(maka apabila aku mencintainya, Aku-lah yang menjadi pendengaran
yang dengannya ia mendengar, Aku-lah yang menjadi matanya untuk melihat,
Aku-lah yang menjadi tangannya untuk menggenggam, Aku-lah yang menjadi kakinya
untuk berjalan, dan Aku pulalah yang menjadi hatinya yang dengan itu ia dapat
merasakan fikirannya).
Ingat bagaimana Allah memberi keamanan kepada
Nabi Muhammad bersama Abu Bakar As-Shidiq di Gua Hira, ditengah ketakutan Abu
Bakar terhadap pasukan Quraisy, yang mana kejadian ini diabadikan oleh Al-Quran
yang masyhur dengan kalimat, “La tahzan Innallaha ma’anaa”.Dan tak lupa
para sekelompok orang yang diselamatkan didalam gua (ashaab al-Kahfi)
dari kekejaman raja pada zamannya, karena ketaqwaan mereka kepada Allah SWT.
Ini adalah bukti bahwasanya ketika iman dan taqwa adalah jalan kunci kita untuk
selalu dalam lindungan-Nya. Karena Allah lah yang Maha Kuasa atas segala
makhluk-Nya.
Sebagai seorang
mu’min hendaknya kita selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala
larangan-Nya. kita haruslah percaya dengan Allah dengan apa yang terjadi pada
kehidupan kita. Lantas, apa yang harus kita takutkan jika Allah telah bersama
kita. Apakah janjinya pada ayat wa laa khoufun ‘alaihim wa la hum
yahzanuun”, adalah sebuah kebohongan. Dan apakah janji keamanan terhadap
orang mu’min dalam ayat-Nya “...wa laa yubaddilannahum min ba’di khoufihim
amnan” adalah suatu kebohongan. Tentunya tidak, dan Allah lah yang
menjajikan itu semua. Wallahu a’lam bisshowab.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...