Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Konsep Kepemimpinan dalam Islam Menurut al-Mawardi : Dari Urgensi Hingga Perannya
Bisnis
Maret 22, 2017
Konsep
Kepemimpinan dalam Islam Menurut al-Mawardi
: Dari
Urgensi Hingga Perannya
Oleh : Bana Fatahillah
Belakangan ini,
diskursus permasalahan seputar kepemimpinan merupakan sesuatu yang masyhur dikalangan
masyarkat. Sejak beredarnya berita, serta munculnya kasus-kasus yang terkait isu-isu pada kepemimpinan, masyarakat mulai
kecewa dan gelisah atas keberadaan pemimpin yang memimpinnya. Alhasil, mereka
rindu dan selalu berharap hadirnya para pemimpin muslim terdahulu yang telah
sukses memimpin umat islam- layaknya Umar bin Khattab, yang dijuluki sebagai
pemimpin paling adil se-Dunia, Umar bin Abdul Azis, Muhammad II, dan pemimpin
muslim lainnya yang menjadi daftar nominasi pemimpin unggul dalam islam.
Firman Allah yang berbunyi, “Yaa ayyuhalladziina aamanu athii’u
Allaha wa Rasuulahu wa uli al-Amri minkum”, adalah suatu petunjuk
bahwasanya kehadiran seorang pemimpin ditengah-tengah manusia, sebagai makhluk
yang hidup secara sosial dan majemuk adalah hal yang wajib. Karena pada
sejatinya, tidak ada manusia yang hidup dalam keadaan sendiri di dunia ini- dan dikala hidup berdampingan dengan manusia
lainnya, harus ada salah satu yang dijadikan pemimpin agar tidak adanya
perselesihan.
Maka dari itu, urgensi
adanya suatu pemimpin dalam masyarakat,
merupakan hal yang wajib menurut akal dan syariat. Wajib secara akal, yakni keberadaan pemimpin
ditengah masyarakat akan meniadakan tindakan-tindakan kezoliman, perselisihan
diantara masyarakat. Jikalau tidak ada, maka siapa yang akan mengatur mereka dalam
kehidupan yang majemuk dan sosial. Adapun wajib secara syariat, bahwasanya
pemimpin inilah yang kelak akan menegakkan hukum-hukum dan syariat islam
disuatu masyarakat. Merekalah yang mempunyai wewenang kuat untuk memberikan
hukum dan menindak dikalangan masyarakat. Dilain sisi, pemimpin adalah orang
yang paling dekat pada doa yang diijabah dan amalan yang diberi pahala. Salah
seorang sastrawan Arab mengatakan :
إن أقرب الدعوات من الإجابة دعوة السلطان الصالح وأولى الحسنات
بالأجروالثواب أمره ونهيه في وجوه المصالح فهذه اثار السلطان في أحوال الدنيا
وماينتظم به أمورها. (من كتاب ادب الدنيا والدين للإمام الماوردي)
“Sesungguhnya doa-doa yang mudah dikabulkan
adalah doa para pemimpin yang saleh. Dan kebaikan-kebaikan yang paling utama
dan akan diberi ganjaran adalah perintah dan larangan pemimpin yang saleh demi
terwujudnya sebuah kemaslahatan. Maka inilah pengaruh adanya pemimpin dalam
keadaan Dunia dan apa yang mengaturnya dari segala perintahnya.
Ini semua adalah apa yang telah dipaparkan oleh Imam abu Hasan Ali
bin Muhammad bin Habib al-Mawardi (972-1058
H), seorang ulama Basrah bermadzhab
Syafii, dengan merujuk pada kitabnya al-Ahkam
al-Sultoniyyah dan Adab al-Dunya wa al-Diin. Hidup di era yang penuh
suasana politik, yaitu pada masa Daulah Abasiyyah, membuat al-Mawardi lebih
matang dengan pemikiran pemikiran akan siasat politik. Buku-buku yang dikarang
olehnya masih dijadikan rujukan dalam politik kepemimpinan dunia hingga saat
ini, terutama al-Ahkam al-Sultoniyyah yang telah diterjemahkan banyak
keberbagai bahasa. Selain itu, banyak buku-buku masyhur karangan al-Mawardi, yang
diantaranya, Qowaanin al-Wizarah wa Siyasah al-Mulk, Adab al-Dunya wa
al-Diin, dan Nasihat al-Mulk.
Dalam kitabnya Adab
al-Dunya wa al-Diin, al-Mawardi mengatakan bahwasanya pemimpin yang berdaulat
merupakan salah satu asas pokok terwujudnya kemaslahatan Dunia. Ia mengatakan, untuk
mewujudkan ketertiban dunia yang teratur dan tertata dengan baik, kita harus
menerapkan enam asas pokok, yaitu : (1) Agama yang dianut (al-Diin mutba’),
(2) Pemimpin yang berdaulat (Sulton Qaahir), (3) Keadilan bagi seluruh
rakyat (Adlun Syaamil), (4) kemanan dan ketentraman (amnun), (5)
Negri yang subur (Khasbun daarun), (6) Cita-cita yang luhur (amaalun
fasiih). (lihat al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Diin, Daar Iqro, Beirut
: 1986, hal.148)
Menurut al-Mawardi,
urgensi adanya seorang pemimpin merupakan hal untuk menopang kemaslahatan
dunia. Kita tidak bisa seenaknya khusuyuk dengan urusan akhirat dan menafikan
dunia begitu saja. Justru dengan mengimbangi keduanyalah hidup ini akan lebih tercipta.
Karena dunia inilah yang menjadi perantara kita kepada akhirat. Seperti yanng
dikatakan oleh Imam Ghazali, “al-Dunya mazra’at al-Aakhirah”. Al-Mawardi
juga mengutip syair Abdullah bin Mu’taz yang berbunyi, “al-Mulku bi al-Diin
yabqa, wa al-Diinu bi al-Mulki yuqawwi” (kepemimpinan yang berlandaskan
agama akan kekal. Dan agama yang dilaksanakan dalam ke pemimpinan akan
memperkuatnya).
Dalam muqoddimahnya pada kitab Adab al-Dunya wa al-Diin al-Mawardi
juga mengingatkan : “sesuatu yang paling besar derajatnya dan kepentingannya
serta paling besar nilai manfaatnya adalah menegakkan dan meluruskan kehidupan
beragama dan kehidupan dunia, serta menyeimbangkan kebaikan dunia dan kebaikan
akhirat. Karena dengan tegaknya agama, ibadah dapat dilaksanakan dengan baik.
Dan dengan tercapainya kebaikan dunia, kebahagiaan akan terasa sempurna”.
(Ibid, hal.5)
Menjadi seorang
pemimpin, bukanlah sebuah kedudukan ataupun jabatan yang harus dibanggakan, melainkan sebuah
amanat besar yang akan dipertanggungjawabkan kelak di Akhirat. Allah berfirman
“tsumma latusalunna yaumaidzin ‘aan al-Naa’im. Seorang pemimpin bukanlah seorang yang
tugasnya sekedar memerintah layaknya bos- duduk dikursi menatap komputer, memakai baju dinas, dan bersantai-santai menunggu laporan rakyat. Tugas
mereka semua juga bukan sekedar memperhatikan hal-hal sepele seperti macet,
banjir, harga sayur, ataupun pembagian sembako masyarakat.
Pada hakikatnya, manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan
oleh Allah, tidaklah terbentuk dari jasad semata, melainkan beserta ruh. Bahkan
Buya Hamka mengatakan, “Sesunggguhnya engkau dikatakan manusia karena jiwamu,
bukan jasadmu (fainnaka bi al-Ruuhi la bi al-Jismi insaanun). Lalu,
kalau tugas pemimpin hanya sebatas ruang lingkup dalam hal duniawi, mana asupan
rohani yang diberikan olehnya untuk rakyat. Inilah mengapa Imam Mawardi, dalam dua
kitabnya, al-Ahkam al-Sulthaniyyah dan adab al-Dunya wa al-Diin
menyatakan secara jelas bahwa hal yang harus dilakukan pemimpin pertama kali
adalah “hifzu al-Diin” menjaga agama.
Al-Mawardi mengatakan bahwa pada umumnya, tugas pemimpin islam adalah menjaga kepentingan agama, urusan
negara, dan umat. Jika kita merujuk kepada dua buku yang disebutkan diatas,
al-Mawardi memang menekankan pada pemerintah untuk mejaga urusan agama. Baik
dari aqidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak dan budi pekerti masyarakatlah
yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena ini merupakan hal yang sangat
penting. Bukan hanya masalah sandang, pangan dan papan sebagai hal yang penting, namun permasalahan agama tersebut
lebih penting. jangan sampai berat sebelah, sehingga menciptakan kehidupan yang
tidak seimbang seperti yang disebutkan diatas.
Dalam hal ini, sebenarnya bisa kita kategorikan pada semua
pemimpin. Baik pemimpin rumah tangga, yaitu ayah, pimpinan perusahaan, kantor,
pabrik, sekolah,atau yang lainnya untuk memperhatikan dan menjaga permasalahan
agama rakyatnya. Seorang ayah, sebelum mengajarinya berbagai hal pada anaknya,
hendaknya ia mengajarinya akan islam dan kewajiban sebagai orang islam, seperti
mengenalkan rukun islam dan iman, mengajarkan sholat, dan mempraktekkan
berwudhu, karena itu adalah adab yang baik. Begitu juga pemimpin lainnya.
Setelah menjaga
permasalahan agama, barulah pemimpin memperhatikan hal-hal terkait permasalahan
negara. Selanjutnya, al-Mawardi menuliskan bahwa pemimpin harus menjaga
keamanan umum agar manusia dapat melakukan perjalanan dengan aman, tidak
terancam jiwa dan hartanya, serta menegakkan pidana bagi mereka yang melanggar
secara adil, agar hukum-hukum Allah terjaga dengan baik, serta hak-hak manusia
dapat dipenuhi.
Selain ini semua, masih banyak yang disampaikan oleh al-Mawardi
akan peran dan kewajiban seorang pemimpin. Pelajaran yang dapat diambil adalah,
bahwasanya kepemimpinan seseorang bukan perkara yang sepele, ini adalah sebua
tanggung jawab yang besar. Bahkan al-Mawardi menuliskan bahwasanya yang menjadi
pemimpin bukanlah sembarang orang, melainkan ia harus memenuhi berbagai syarat
yang ada. Diantaranya ia harus menguasai ilmu agama agar dapat berijtihad pada
suatu permasalahan. Ini artinya, tidak bisa sembarangan orang bisa menjadi
pemimpin.
Namun dewasa ini, semua berebut ingin bisa duduk dikursi kepemimpinan.
Tanpa memandang cara dan agama, semua berbuat semau mereka hingga melanggar
aturan yang ditetapkan oleh agama. nasihat-nasihat al-Mawardi akan
kempemimpinan sepertinya harus dikembangkan dan dikaji lebih dalam ditengah ramainya dunia politik sat ini. Pemahaman
al-Mawardi secara maksimal serta pengamalannya dapat merubah konsep
kepemimpinan di era ini. wallahu a’lam bisshowab.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...