Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Konsep Kepemimpinan dalam Islam Menurut al-Mawardi : Dari Urgensi Hingga Perannya


Konsep Kepemimpinan dalam Islam Menurut  al-Mawardi
: Dari Urgensi Hingga Perannya

Oleh : Bana Fatahillah

            Belakangan ini, diskursus  permasalahan seputar  kepemimpinan merupakan sesuatu yang masyhur dikalangan masyarkat. Sejak beredarnya berita, serta munculnya kasus-kasus yang terkait  isu-isu pada kepemimpinan, masyarakat mulai kecewa dan gelisah atas keberadaan pemimpin yang memimpinnya. Alhasil, mereka rindu dan selalu berharap hadirnya para pemimpin muslim terdahulu yang telah sukses memimpin umat islam- layaknya  Umar bin Khattab, yang dijuluki sebagai pemimpin paling adil se-Dunia, Umar bin Abdul Azis, Muhammad II, dan pemimpin muslim lainnya yang menjadi daftar nominasi pemimpin unggul dalam islam.

Firman Allah yang berbunyi, “Yaa ayyuhalladziina aamanu athii’u Allaha wa Rasuulahu wa uli al-Amri minkum”, adalah suatu petunjuk bahwasanya kehadiran seorang pemimpin ditengah-tengah manusia, sebagai makhluk yang hidup secara sosial dan majemuk adalah hal yang wajib. Karena pada sejatinya, tidak ada manusia yang hidup dalam keadaan sendiri di dunia  ini- dan  dikala hidup berdampingan dengan manusia lainnya, harus ada salah satu yang dijadikan pemimpin agar tidak adanya perselesihan.  

            Maka dari itu, urgensi adanya  suatu pemimpin dalam masyarakat, merupakan hal yang wajib menurut akal dan syariat.  Wajib secara akal, yakni keberadaan pemimpin ditengah masyarakat akan meniadakan tindakan-tindakan kezoliman, perselisihan diantara masyarakat. Jikalau tidak ada, maka siapa yang akan mengatur mereka dalam kehidupan yang majemuk dan sosial. Adapun wajib secara syariat, bahwasanya pemimpin inilah yang kelak akan menegakkan hukum-hukum dan syariat islam disuatu masyarakat. Merekalah yang mempunyai wewenang kuat untuk memberikan hukum dan menindak dikalangan masyarakat. Dilain sisi, pemimpin adalah orang yang paling dekat pada doa yang diijabah dan amalan yang diberi pahala. Salah seorang  sastrawan Arab mengatakan  :
إن أقرب الدعوات من الإجابة دعوة السلطان الصالح وأولى الحسنات بالأجروالثواب أمره ونهيه في وجوه   المصالح فهذه اثار السلطان في أحوال الدنيا وماينتظم به أمورها.                                                                                                      (من كتاب ادب الدنيا والدين للإمام الماوردي)
“Sesungguhnya doa-doa yang mudah dikabulkan adalah doa para pemimpin yang saleh. Dan kebaikan-kebaikan yang paling utama dan akan diberi ganjaran adalah perintah dan larangan pemimpin yang saleh demi terwujudnya sebuah kemaslahatan. Maka inilah pengaruh adanya pemimpin dalam keadaan Dunia dan apa yang mengaturnya dari segala perintahnya.

Ini semua adalah apa yang telah dipaparkan oleh Imam abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi  (972-1058 H), seorang ulama Basrah  bermadzhab Syafii, dengan merujuk pada  kitabnya al-Ahkam al-Sultoniyyah dan Adab al-Dunya wa al-Diin. Hidup di era yang penuh suasana politik, yaitu pada masa Daulah Abasiyyah, membuat al-Mawardi lebih matang dengan pemikiran pemikiran akan siasat politik. Buku-buku yang dikarang olehnya masih dijadikan rujukan dalam politik kepemimpinan dunia hingga saat ini, terutama al-Ahkam al-Sultoniyyah yang telah diterjemahkan banyak keberbagai bahasa. Selain itu, banyak buku-buku masyhur karangan al-Mawardi, yang diantaranya, Qowaanin al-Wizarah wa Siyasah al-Mulk, Adab al-Dunya wa al-Diin, dan Nasihat al-Mulk.  
            Dalam kitabnya Adab al-Dunya wa al-Diin, al-Mawardi mengatakan bahwasanya pemimpin yang berdaulat merupakan salah satu asas pokok terwujudnya kemaslahatan Dunia. Ia mengatakan, untuk mewujudkan ketertiban dunia yang teratur dan tertata dengan baik, kita harus menerapkan enam asas pokok, yaitu : (1) Agama yang dianut (al-Diin mutba’), (2) Pemimpin yang berdaulat (Sulton Qaahir), (3) Keadilan bagi seluruh rakyat (Adlun Syaamil), (4) kemanan dan ketentraman (amnun), (5) Negri yang subur (Khasbun daarun), (6) Cita-cita yang luhur (amaalun fasiih). (lihat al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Diin, Daar Iqro, Beirut : 1986, hal.148)  

            Menurut al-Mawardi, urgensi adanya seorang pemimpin merupakan hal untuk menopang kemaslahatan dunia. Kita tidak bisa seenaknya khusuyuk dengan urusan akhirat dan menafikan dunia begitu saja. Justru dengan mengimbangi keduanyalah hidup ini akan lebih tercipta. Karena dunia inilah yang menjadi perantara kita kepada akhirat. Seperti yanng dikatakan oleh Imam Ghazali, “al-Dunya mazra’at al-Aakhirah”. Al-Mawardi juga mengutip syair Abdullah bin Mu’taz yang berbunyi, “al-Mulku bi al-Diin yabqa, wa al-Diinu bi al-Mulki yuqawwi” (kepemimpinan yang berlandaskan agama akan kekal. Dan agama yang dilaksanakan dalam ke pemimpinan akan memperkuatnya).

Dalam muqoddimahnya pada kitab Adab al-Dunya wa al-Diin al-Mawardi juga mengingatkan : “sesuatu yang paling besar derajatnya dan kepentingannya serta paling besar nilai manfaatnya adalah menegakkan dan meluruskan kehidupan beragama dan kehidupan dunia, serta menyeimbangkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Karena dengan tegaknya agama, ibadah dapat dilaksanakan dengan baik. Dan dengan tercapainya kebaikan dunia, kebahagiaan akan terasa sempurna”. (Ibid, hal.5)

            Menjadi seorang pemimpin, bukanlah sebuah kedudukan ataupun jabatan  yang harus dibanggakan, melainkan sebuah amanat besar yang akan dipertanggungjawabkan kelak di Akhirat. Allah berfirman “tsumma latusalunna yaumaidzin ‘aan al-Naa’im.  Seorang pemimpin bukanlah seorang yang tugasnya sekedar memerintah layaknya bos- duduk  dikursi menatap komputer, memakai baju dinas,  dan bersantai-santai menunggu laporan rakyat. Tugas mereka semua juga bukan sekedar memperhatikan hal-hal sepele seperti macet, banjir, harga sayur, ataupun pembagian sembako masyarakat.

Pada hakikatnya, manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah, tidaklah terbentuk dari jasad semata, melainkan beserta ruh. Bahkan Buya Hamka mengatakan, “Sesunggguhnya engkau dikatakan manusia karena jiwamu, bukan jasadmu (fainnaka bi al-Ruuhi la bi al-Jismi insaanun). Lalu, kalau tugas pemimpin hanya sebatas ruang lingkup dalam hal duniawi, mana asupan rohani yang diberikan olehnya untuk rakyat.  Inilah mengapa Imam Mawardi, dalam dua kitabnya, al-Ahkam al-Sulthaniyyah dan adab al-Dunya wa al-Diin menyatakan secara jelas bahwa hal yang harus dilakukan pemimpin pertama kali adalah “hifzu al-Diin” menjaga agama.

Al-Mawardi mengatakan bahwa pada umumnya,  tugas pemimpin islam  adalah menjaga kepentingan agama, urusan negara, dan umat. Jika kita merujuk kepada dua buku yang disebutkan diatas, al-Mawardi memang menekankan pada pemerintah untuk mejaga urusan agama. Baik dari aqidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak dan budi pekerti masyarakatlah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena ini merupakan hal yang sangat penting. Bukan hanya masalah sandang, pangan dan papan sebagai hal yang  penting, namun permasalahan agama tersebut lebih penting. jangan sampai berat sebelah, sehingga menciptakan kehidupan yang tidak seimbang seperti yang disebutkan diatas.

Dalam hal ini, sebenarnya bisa kita kategorikan pada semua pemimpin. Baik pemimpin rumah tangga, yaitu ayah, pimpinan perusahaan, kantor, pabrik, sekolah,atau yang lainnya untuk memperhatikan dan menjaga permasalahan agama rakyatnya. Seorang ayah, sebelum mengajarinya berbagai hal pada anaknya, hendaknya ia mengajarinya akan islam dan kewajiban sebagai orang islam, seperti mengenalkan rukun islam dan iman, mengajarkan sholat, dan mempraktekkan berwudhu, karena itu adalah adab yang baik. Begitu juga pemimpin lainnya.

            Setelah menjaga permasalahan agama, barulah pemimpin memperhatikan hal-hal terkait permasalahan negara. Selanjutnya, al-Mawardi menuliskan bahwa pemimpin harus menjaga keamanan umum agar manusia dapat melakukan perjalanan dengan aman, tidak terancam jiwa dan hartanya, serta menegakkan pidana bagi mereka yang melanggar secara adil, agar hukum-hukum Allah terjaga dengan baik, serta hak-hak manusia dapat dipenuhi.

Selain ini semua, masih banyak yang disampaikan oleh al-Mawardi akan peran dan kewajiban seorang pemimpin. Pelajaran yang dapat diambil adalah, bahwasanya kepemimpinan seseorang bukan perkara yang sepele, ini adalah sebua tanggung jawab yang besar. Bahkan al-Mawardi menuliskan bahwasanya yang menjadi pemimpin bukanlah sembarang orang, melainkan ia harus memenuhi berbagai syarat yang ada. Diantaranya ia harus menguasai ilmu agama agar dapat berijtihad pada suatu permasalahan. Ini artinya, tidak bisa sembarangan orang bisa menjadi pemimpin.

Namun dewasa ini, semua berebut ingin bisa duduk dikursi kepemimpinan. Tanpa memandang cara dan agama, semua berbuat semau mereka hingga melanggar aturan yang ditetapkan oleh agama. nasihat-nasihat al-Mawardi akan kempemimpinan sepertinya harus dikembangkan dan dikaji lebih dalam  ditengah ramainya dunia politik sat ini. Pemahaman al-Mawardi secara maksimal serta pengamalannya dapat merubah konsep kepemimpinan di era ini. wallahu a’lam bisshowab.
           


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia