Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mengenal Keutamaan Rasul dalam Kitab “Bidayat al-Suul”


Mengenal Keutamaan Rasul dalam Kitab “Bidayat al-Suul”

Oleh : Bana Fatahillah

Jika pada abad ke-7 Imam Jamaluddin al-Isnawi mengarang “Nihayat al-Suul” (akhir Permohonan), maka ketahuilah, bahwa satu abad sebelum itu – sekitar tahun 600 H, Imam al-‘Iz ibn Abdil Azis bin Abdissalam (577-660 H) menulis buku yang berjudul “Bidaayat al-Suul” (awal permohonan). Meski terlihat seperti judul yang berkelanjutan, namun keduanya bukanlah kitab yang mempunyai isi dan kandungan yang sama, karena pembahasannya pun kerap berbeda. Nihayat al-Suul dibentuk untuk memperjelas isi kandungan dari Minhaj al-Wusuul milik Imam Baidowi pada ilmu ushul, sementara Bidayat al-Suul ditulis sebagai buku tersendiri yang menjelaskan keutamaan yang diberikan oleh Allah pada Rasulullah SAW.

Pada Jum’at (14/04), setelah menunaikan shalat jumat tepatnya, rekan-rekan azheema – ikhwan maupun akhwat – dari berbagai penjuru – berkumpul dan menyatu dibawah atap teduh milik Masjid Sidi Rifai guna mengkaji buku yang berjudul Bidayat al-Suul (lengkapnya : Bidayat al-Suul fii Tafdhiil al-Rasuul). Tepat dihadapan kami, Al-Ustadz Zia ul Haq, duduk sebagai mentor yang  menjelaskan pada kami setiap pemikiran Imam al-‘Iz bin Abdussalam yang terkandung dalam kitab tersebut. Dengan diiringi alunan sholawat, majlis kami terasa lebih dihujani naungan barakah.

Walaupun tidak sebesar kitab-kitab lain miliknya, Bidayat al-Suul merupakan kitab kecil  yang tidak kalah bermanfaat bagi setiap yang mempelajarinya. “Buku ini adalah buku yang membahas tentang keutamaan Rasulullah, yang mana mempunyai ruh yang kuat”, ujar ustadz Zia. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya akan mengutip kalimat Imam Makudi dalam muqoddimah syarh Ajrumiyyah miliknya, untuk memuji kitab ini.  Ia  mengatakan bahwasanya syarh tersebut dibentuk dalam bentuk yang kecil namun bermuatan yang besar, hingga tidak ada yang berpaling saat membacanya, serta tak ada seorangpun yang mencela dari kalangan pendebat. (Fawada’na syarhan shogiir al-Jirm , Kabiir al-‘Ilm,, la yamalluhu al-Naadzir wa la yadzummuhu al-Munaadzir).

Setelah menulis muqoddimah berupa basmalah, hamdalah, dan solawat atas nabi, Imam al-‘iz langsung mengawali kitabnya dengan menyebutkan dua ayat pada al-Quran yang menunjukkan pada keutamaan Rasulullah secara khusus dan umum. Kedua ayat inilah yang nanti akan menjadi pembahasan utama pada buku ini.  

Untuk yang pertama, ia menyebutkan ayat yang menunjukan adanya keutamaan dan karunia Allah atas Rasulnya secara umum dan jelas (sorikh). Ayat tersebut adalah : “...dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar” (QS al-Nisaa : 113). Secara tidak langsung disini dikatakan bahwa setiap rasul mendapatkan keutamaan disisi Allah SWT.

Adapun ayat kedua menerangkan bahwa karunia dan keutamaan Allah yang diturunkan pada setiap nabinya dibedakan sesuai derajatnya – “Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat” (QS al-Baqarah : 253). Inilah mengapa dalam ayat tersebut disebutkan kisah Nabi Musa yang hendak bertemu Allah dan juga Nabi Isa yang diberikan mukjizat.

Disinilah titik pembahasan yang akan diuraikan oleh Imam al-‘Iz pada kitab Bidayat al-Suul – yaitu pada keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dari para nabi lainnya. Sekitar empat puluh lebih disebutkan oleh penulis, dari banyaknya aspek yang menjadikan Rasulullah SAW lebih utama dari para nabi lainnya. Sekurangnya saya akan mencoba meringkas menjadi  lima bagian :

    1)     Nabi Muhammad adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk menjadi  pemimpin seluruh keturunan nabi Adam. Sesuai yang termaktub dalam hadis sohih yang berbunyi, “Ana sayyidu waladi adam wala fakhr”. Imam al-‘Iz mengatakan bahwasanya pemimpin  adalah ia yang mempunyai sifat dan akhlak yang tinggi. Dan ini dapat dirasakan bahwasanya Rasulullah lebih utama dari para nabi lainnya di Dunia dan Akhirat. Di Dunia, Rasulullah dimuliakan  dari keutamaan sifatnya, yaitu Akhlak yang sangat tinggi. Seperti yang Allah sebutkan dalam al-Quran, “wa innaka la’ala khuluqin adzim”.

Adapun di akhirat, karena ganjaran yang dihisab adalah berdasarkan akhlaq dan sifatnya, maka Rasulullahlah yang pantas menjadi orang pertama diAkhirat kelak. Dan perkataan beliau bahwasanya ia sebagai pemimpin, bukanlah nafsunya ataupun sebuah kesombongan. Maka dari itu kata “wa la fakhr” hadir untuk  menjelaskan bagi mereka yang mencoba membuat tuduhan-tuduhan yang ada.

    2)  Nabi Muhammad adalah satu-satunya nabi yang dipanggil oleh Allah dalam al-Quran dengan panggilan “ya ayyuhannabiyyu” atau “yaa ayyuharrasuulu”. Tidak pernah Allah memanggil langsung dengan namanya, seperti “ya Muhammad” atau “yaa Ahmad”. Ini semua berbeda dengan para nabi lainnya, yang dikhitob oleh Allah  secara langsung. Seperti ayat-Nya yang berbunyi :  “ya yahya khudz al-Kitaaba biquwwah”, “yaa Muusa inni anallah”, “yaa Nuuhu ihbith bisalaamin”, “yaa Zakariyya inna nubasyyiruka...”, dan banyak ayat lainnya, yang sama seperti ini.

Seperti yang kita ketahui, bahwasanya kedudukan orang yang dipanggil dengan sebutan nama atau sifat yang diagungkan, akan lebih mulia dibandingkan yang hanya dipanggil sebatas namanya.  Dan ini sudah menjadi kebiasaan yang tampak  pada kita – mereka yang dipanggil dengan sifat-sifat yang baik, adalah untuk meninggikan kedudukannya diantara manusia lainnya.

      3)      Rasulullah mampu melakukan perbuatan, yang mana hal itu adalah mukjizat dari apa yang telah dilakukan oleh nabi sebelumnya. Kalau Nabi Sulaiman bisa berbicara dengan bangsa hewan dan jin, maka Rasulullah bisa berbicara dengan seluruh ciptaan Allah, bukan hanya jin dan hewan.  Diceritakan bahwa Rasulullah mendengar tangisan sebuah batang pohon yang akan ditebang dari asalnya, lantas berbincang dengannya. Bahkan Rasulullah pernah menjawab salam dari sebuah batu yang mengucapkannya. Ingatkah keadaan Nabi Ibrahim yang mana tidak kuat dengan cahaya Allah SWT, ketika ingin bertemu-Nya di Gunung Sinai. Maka ketahuilah, bahwa Rasulullah bertatap dan berdialog langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha pada peristiwa Isra Mi’raj.

Jikalau nabi Isa mampu menyembuhkan orang yang buta, maka Rasulullah dapat mengembalikan kembali mata yang terlepas dari bola mata, lalu menyembuhkannya secara utuh ketika menolong salah satu umatnya dalam peperangan.  Cerita ini pun dapat kita temui di banyak riwayat pada hadis-hadis sohih. Dan yang paling tampak, bahwasanya Rasulullah mempunyai al-Quran sebagai Mukjizat yang masih eksis hingga saat ini, berbeda dengan mukjizat para nabi lainnya, yang mana tidak bisa ditampakan pada saat ini.

     4)      Umat nabi Muhammad merupakan setengah dari penduduk Surga. dan sisanya akan ditempati para umat dari para nabi terdahulu. bahkan dikatakan bahwa Allah akan memasukkan70.000 orang umat Nabi Muhammad ke Surga tanpa hisab. Dan dari banyaknya umat Rasulullah, maka banyak pula pahala dan ganjaran dari perbuatan baik yang dilakukan oleh seluruh umatnya. Sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwasanya barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka baginya pahala orang yang mengerjakan tersebut. Maka komparasi umat Rasulullah dengan para nabi sebelumnya sudah bisa terlihat dengan jelas.
Diceritakan, bahwasanya pada saat malam Isra Mi’raj, Nabi Musa menangis sedih karena melihat banyaknya umat Nabi Muhammad yang masuk ke dalam surga dibanding umatnya. Dan Imam al-‘Iz mengatakan bahwa nangis ini bukanlah karena adanya sifat dengki, melainkan sifat sedih dan iba.

     5)   Nabi Muhammad adalah salah satu syafaat pada hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda : “al-Wasiilatu manzilatun fi al-Jannati laa yanbagi an takuuna illa li’abdin min ‘ibaadillahi ta’aala, wa arju an akuuna hua, faman saala li al-Wasiilata, hallat ‘alaihi al-Wasiilah”.

Setelah mengetahui banyaknya karunia dan keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT pada Rasul-Nya, kita tidak serta merta menafikan segala kemulian yang diberikan kepada para nabi lainnya. sesuai dengan firman Allah yang berbunyi “la nufarriqu baina ahadin min rusulih”. Dan semoga semua keagungan nabi Muhammad SAW dari seluruh ahlaknya yang mulia, membuat kita semakin ta’dzim dan menyontoh panutan kita semua. Tentu masih ada aspek lainnya di samping lima poin ini. dan selengkapnya bisa merujuk langsung pada kitab Bidayat al-Suul fi Tafdhii al-Rasuul.  Wallahu a’lam bisshowab.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia