Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Mengenal Keutamaan Rasul dalam Kitab “Bidayat al-Suul”
Bisnis
April 15, 2017
Mengenal Keutamaan Rasul dalam Kitab “Bidayat al-Suul”
Oleh : Bana Fatahillah
Jika pada abad ke-7 Imam Jamaluddin al-Isnawi mengarang “Nihayat
al-Suul” (akhir Permohonan), maka ketahuilah, bahwa satu abad sebelum itu –
sekitar tahun 600 H, Imam al-‘Iz ibn Abdil Azis bin Abdissalam (577-660 H) menulis
buku yang berjudul “Bidaayat al-Suul” (awal permohonan). Meski terlihat
seperti judul yang berkelanjutan, namun keduanya bukanlah kitab yang mempunyai isi
dan kandungan yang sama, karena pembahasannya pun kerap berbeda. Nihayat
al-Suul dibentuk untuk memperjelas isi kandungan dari Minhaj al-Wusuul
milik Imam Baidowi pada ilmu ushul, sementara Bidayat al-Suul ditulis
sebagai buku tersendiri yang menjelaskan keutamaan yang diberikan oleh Allah
pada Rasulullah SAW.
Pada Jum’at (14/04), setelah menunaikan shalat jumat tepatnya, rekan-rekan
azheema – ikhwan maupun akhwat – dari berbagai penjuru – berkumpul dan menyatu
dibawah atap teduh milik Masjid Sidi Rifai guna mengkaji buku yang berjudul Bidayat
al-Suul (lengkapnya : Bidayat al-Suul fii Tafdhiil al-Rasuul). Tepat
dihadapan kami, Al-Ustadz Zia ul Haq, duduk sebagai mentor yang menjelaskan pada kami setiap pemikiran Imam
al-‘Iz bin Abdussalam yang terkandung dalam kitab tersebut. Dengan diiringi
alunan sholawat, majlis kami terasa lebih dihujani naungan barakah.
Walaupun tidak sebesar kitab-kitab lain miliknya, Bidayat
al-Suul merupakan kitab kecil yang tidak
kalah bermanfaat bagi setiap yang mempelajarinya. “Buku ini adalah buku yang membahas
tentang keutamaan Rasulullah, yang mana mempunyai ruh yang kuat”, ujar ustadz
Zia. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya akan mengutip kalimat Imam Makudi dalam
muqoddimah syarh Ajrumiyyah miliknya, untuk memuji kitab ini. Ia mengatakan bahwasanya syarh tersebut
dibentuk dalam bentuk yang kecil namun bermuatan yang besar, hingga tidak ada
yang berpaling saat membacanya, serta tak ada seorangpun yang mencela dari kalangan
pendebat. (Fawada’na syarhan shogiir al-Jirm , Kabiir al-‘Ilm,, la yamalluhu
al-Naadzir wa la yadzummuhu al-Munaadzir).
Setelah menulis muqoddimah berupa basmalah, hamdalah, dan solawat
atas nabi, Imam al-‘iz langsung mengawali kitabnya dengan menyebutkan dua ayat
pada al-Quran yang menunjukkan pada keutamaan Rasulullah secara khusus dan
umum. Kedua ayat inilah yang nanti akan menjadi pembahasan utama pada buku ini.
Untuk yang pertama, ia menyebutkan ayat yang menunjukan adanya
keutamaan dan karunia Allah atas Rasulnya secara umum dan jelas (sorikh).
Ayat tersebut adalah : “...dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum
kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar” (QS
al-Nisaa : 113). Secara tidak langsung disini dikatakan bahwa setiap rasul
mendapatkan keutamaan disisi Allah SWT.
Adapun ayat kedua menerangkan bahwa karunia dan keutamaan Allah
yang diturunkan pada setiap nabinya dibedakan sesuai derajatnya – “Rasul-rasul
itu kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. diantara mereka
ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah
meninggikannya beberapa derajat” (QS al-Baqarah : 253). Inilah mengapa
dalam ayat tersebut disebutkan kisah Nabi Musa yang hendak bertemu Allah dan
juga Nabi Isa yang diberikan mukjizat.
Disinilah titik pembahasan yang akan diuraikan oleh Imam al-‘Iz
pada kitab Bidayat al-Suul – yaitu pada keutamaan yang diberikan oleh
Allah kepada Nabi Muhammad SAW dari para nabi lainnya. Sekitar empat puluh
lebih disebutkan oleh penulis, dari banyaknya aspek yang menjadikan Rasulullah
SAW lebih utama dari para nabi lainnya. Sekurangnya saya akan mencoba meringkas
menjadi lima bagian :
1) Nabi
Muhammad adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin seluruh keturunan nabi Adam. Sesuai
yang termaktub dalam hadis sohih yang berbunyi, “Ana sayyidu waladi adam
wala fakhr”. Imam al-‘Iz mengatakan bahwasanya pemimpin adalah ia yang mempunyai sifat dan akhlak
yang tinggi. Dan ini dapat dirasakan bahwasanya Rasulullah lebih utama dari
para nabi lainnya di Dunia dan Akhirat. Di Dunia, Rasulullah dimuliakan dari keutamaan sifatnya, yaitu Akhlak yang
sangat tinggi. Seperti yang Allah sebutkan dalam al-Quran, “wa innaka la’ala
khuluqin adzim”.
Adapun di akhirat, karena ganjaran yang dihisab adalah berdasarkan
akhlaq dan sifatnya, maka Rasulullahlah yang pantas menjadi orang pertama
diAkhirat kelak. Dan perkataan beliau bahwasanya ia sebagai pemimpin, bukanlah
nafsunya ataupun sebuah kesombongan. Maka dari itu kata “wa la fakhr”
hadir untuk menjelaskan bagi mereka yang
mencoba membuat tuduhan-tuduhan yang ada.
2) Nabi
Muhammad adalah satu-satunya nabi yang dipanggil oleh Allah dalam al-Quran
dengan panggilan “ya ayyuhannabiyyu” atau “yaa ayyuharrasuulu”. Tidak
pernah Allah memanggil langsung dengan namanya, seperti “ya Muhammad” atau “yaa
Ahmad”. Ini semua berbeda dengan para nabi lainnya, yang dikhitob oleh
Allah secara langsung. Seperti ayat-Nya
yang berbunyi : “ya yahya khudz
al-Kitaaba biquwwah”, “yaa Muusa inni anallah”, “yaa Nuuhu ihbith
bisalaamin”, “yaa Zakariyya inna nubasyyiruka...”, dan banyak ayat lainnya,
yang sama seperti ini.
Seperti yang kita ketahui, bahwasanya kedudukan orang yang
dipanggil dengan sebutan nama atau sifat yang diagungkan, akan lebih mulia
dibandingkan yang hanya dipanggil sebatas namanya. Dan ini sudah menjadi kebiasaan yang
tampak pada kita – mereka yang dipanggil
dengan sifat-sifat yang baik, adalah untuk meninggikan kedudukannya diantara
manusia lainnya.
3)
Rasulullah
mampu melakukan perbuatan, yang mana hal itu adalah mukjizat dari apa yang
telah dilakukan oleh nabi sebelumnya. Kalau Nabi Sulaiman bisa berbicara dengan
bangsa hewan dan jin, maka Rasulullah bisa berbicara dengan seluruh ciptaan
Allah, bukan hanya jin dan hewan.
Diceritakan bahwa Rasulullah mendengar tangisan sebuah batang pohon yang
akan ditebang dari asalnya, lantas berbincang dengannya. Bahkan Rasulullah pernah
menjawab salam dari sebuah batu yang mengucapkannya. Ingatkah keadaan Nabi
Ibrahim yang mana tidak kuat dengan cahaya Allah SWT, ketika ingin bertemu-Nya
di Gunung Sinai. Maka ketahuilah, bahwa Rasulullah bertatap dan berdialog langsung
dengan Allah di Sidratul Muntaha pada peristiwa Isra Mi’raj.
Jikalau nabi Isa mampu menyembuhkan orang yang buta, maka
Rasulullah dapat mengembalikan kembali mata yang terlepas dari bola mata, lalu
menyembuhkannya secara utuh ketika menolong salah satu umatnya dalam peperangan.
Cerita ini pun dapat kita temui di
banyak riwayat pada hadis-hadis sohih. Dan yang paling tampak, bahwasanya
Rasulullah mempunyai al-Quran sebagai Mukjizat yang masih eksis hingga saat
ini, berbeda dengan mukjizat para nabi lainnya, yang mana tidak bisa ditampakan
pada saat ini.
4)
Umat nabi Muhammad merupakan setengah dari penduduk
Surga. dan sisanya akan ditempati para umat dari para nabi terdahulu. bahkan
dikatakan bahwa Allah akan memasukkan70.000 orang umat Nabi Muhammad ke Surga
tanpa hisab. Dan dari banyaknya umat Rasulullah, maka banyak pula pahala dan
ganjaran dari perbuatan baik yang dilakukan oleh seluruh umatnya. Sesuai dengan
pesan Rasulullah, bahwasanya barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka
baginya pahala orang yang mengerjakan tersebut. Maka komparasi umat Rasulullah
dengan para nabi sebelumnya sudah bisa terlihat dengan jelas.
Diceritakan, bahwasanya pada saat malam
Isra Mi’raj, Nabi Musa menangis sedih karena melihat banyaknya umat Nabi
Muhammad yang masuk ke dalam surga dibanding umatnya. Dan Imam al-‘Iz
mengatakan bahwa nangis ini bukanlah karena adanya sifat dengki, melainkan
sifat sedih dan iba.
5) Nabi
Muhammad adalah salah satu syafaat pada hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda
: “al-Wasiilatu manzilatun fi al-Jannati laa yanbagi an takuuna illa
li’abdin min ‘ibaadillahi ta’aala, wa arju an akuuna hua, faman saala li al-Wasiilata,
hallat ‘alaihi al-Wasiilah”.
Setelah mengetahui banyaknya karunia dan keutamaan yang diberikan
oleh Allah SWT pada Rasul-Nya, kita tidak serta merta menafikan segala kemulian
yang diberikan kepada para nabi lainnya. sesuai dengan firman Allah yang
berbunyi “la nufarriqu baina ahadin min rusulih”. Dan semoga semua
keagungan nabi Muhammad SAW dari seluruh ahlaknya yang mulia, membuat kita
semakin ta’dzim dan menyontoh panutan kita semua. Tentu masih ada aspek lainnya
di samping lima poin ini. dan selengkapnya bisa merujuk langsung pada kitab Bidayat
al-Suul fi Tafdhii al-Rasuul. Wallahu
a’lam bisshowab.


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...