Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Isra Mi’raj : antara Abu Bakar dan Aqidah Ahlussunnah


In kāna qāla dzālika laqad shadaqa, innī laushaddiquhu ‘alā ab’ada min dzālika
(Abu Bakar As-Shiddiq)

            Seperti yang sudah dibahas dalam peristiwa isra’ mi’raj sebelumnya, bahwa keduanya merupakan sebuah mukjizat yang tak mungkin terjadi, apalagi dibuat oleh makhluk Allah lainnya, dan tak dapat difikirkan oleh akal sempurna. Dalam malam yang begitu singkat, Allah telah memuliakan Rasul-Nya dengan sebuah rahasia yang sangat agung dan akan selalu diabadikan oleh seluruh umat muslim dipenjuru Dunia. Semua cuplikan dan rekaman peristiwa itu bisa kita putar dan rujuk pada al-Quran, riwayat-riwayat hadis sohih, dan kitab-kitab mu’tamad dalam peristiwa isra mi’raj – seperti al-Sirāj al-Wahhāj fī Qisshati al-Isrā wa al-Mi’rāj milik Syaikh Solih Jaffar, Fiqh al-Sīrah milik Imam Ramadhan al-Buthi, dan kitab-kitab lainnya.

Syaikh Solih Jaffar pun memberi peringatan akan ketidakmampuannya akal dalam menindak kejadian ini. Lihatlah,  bagaimana mungkin akal  dapat menangkap gambaran sebuah buraq,  yang katanya merupakan hewan tunggagan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal, dan dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam sepersekian detik, tentu ini bukanlah hal biasa pada umumnya yang sering dilihat. Begitupun kejadian selanjutnya, seperti  bertemunya Rasulullah SAW dengan para Nabi disetiap tingkatan langit,  , pertemuan dan perbincangan Rasulullah SAW  dengan Allah SWT hingga disyariatkannya Shalat lima waktu, dan juga kejadian lain yang terjadi pada isra’mi’raj, yang mana  merupakan hal yang tak bisa digapai oleh akal.

Kalau tidak seperti ini, maka apa perbedaan kita dengan kaum Quraisy dahulu. Mereka tertawa, bertanya-tanya, bahkan mengatakan Rasulullah sebagai pembohong dengan kabar isra dan mi’raj. Samapai dalam salah satu hadis, Rasulullah berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mendustakan perjalananku ke Baitul Maqdis, saya berdiri di hijr Ismail, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis kepadaku hingga saya memberitahu pada mereka tentang tanda-tandanya dan saya dapat melihatnya” (HR. Bukhori) .

Namun berbeda dengan Abu Bakar. Konsistensi untuk selalu percaya pada utusan Allah hadir pada lubuk dirinya. Dalam kitab Fiqih Sirah, Imam Buthi menceritakan bahwa Abu Bakar bahkan mengatakan dihadapan kaum Quraisy bahwa dirinya akan benar-benar percaya pada peristiwa yang lebih jauh dari ini (isra’ mi’raj). Lebih jelasnya ia mengatakan, “In kāna qāla dzālika laqad shadaqa, inni laushaddiquhu ‘ala ab’ada min dzālika”, tegas Abu Bakar. (lihat Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Siirah, Daar el-Fikr, Damaskus : 2015. Hal.124). Inilah mengapa gelar “al-Shiddiq” disandingkan pada namanya dan akan selalu diingat bagaimana kepercayaan yang kuat pada Rasulullah dalam peristiwa ini.

Sejatinya sebagi Muslim, tindakan Amirul Mukminin tersebut haruslah dicontoh pada sikap kita dalam menerima setiap khabar yang datang pada Rasulullah atas  kita semua. Apa yang telah sampai pada kita dari Rasulullah SAW adalah sesuatu yang benar dan tidak mungkin salah – karena salah satu sifat mustahil bagi para nabi dan rasul adalah berbohong (al-Kidzbu). Imam Ali R.A mengatakan bahwasanya jikalau Agama itu hanya dengan akal, niscaya yang dibasuh dari bagian khuf adalah bawahnya bukan bagian atasnya. Begitu juga dengan perintah Rasul untuk memakai penutup kepala saat memasuki kamar mandi. Imam Ba’isyan dalam Busyra al-Karīm mengatakan bawa ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengikuti perintah Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadis.

Dalam Aqidah ahlussunnah, yang menjadi inti dari seluruh pembahasan isinya dapat kita bagi menjadi tiga bagian – yang berkaitan dengan Tuhan (Ilāhiyyat), kenabian (Nubuwwāt), dan kabar dari wahyu (Sam’iyyāt/ghaibiyyāt). Ini semua dapat kita lihat pada literatur-literatur para ulama yang menulis dalam kitab dasar pada aqidah,  seperti  nazham aqidat al-‘awwam milik Imam Ahmad al-Marzuqi, Kubraa Yaqiiniyyat milik Imam Ramadhan al-Buthi, Aqidah Ahlussunnah milik Syaikh ‘Ali Jum’ah, Kharidat al-Bahiyyah milik Imam Al-Dardiri, dan kitab-kitab aqidah lainnya yang telah ditulis oleh ulama-ulama kita terdahulu.

Dalam kitabnya “Aqidatu Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah”, Syaikh ‘Ali Jum’ah mengatakan bahwa al-Sam’iyyat merupakan segala sesuatu yang hanya dapat kita imani atau percayai melalui  kabar yang terpercaya (kullu mā lā sabīla ila al-īmān illā ‘an tarīq al-Khabar al-Yaqīni).  Beliau juga menjelaskan bahwa percaya pada hal yang ghaib adalah asas dari sebuah ketaqwaan dan jalan masuk untuk beribadah kepada Allah SWT. Apabila kau telah meneguhkan padanya, maka kau adalah orang yang akan mendapatkan cahaya hidayah dari Allah SWT.  Sebagaimana yang telah Allah firmankan,  “...hudan lilmuttaqīn. Alladzīna yu’minūna bi al-ghaybi”.

Imam Buthi, Dalam Kubra Yaqīniyyat nya,  menjelaskan bahwa pembahasan ketiga, yaitu al-Ghaybiyyat atau al-Sam’iyyat tidaklah termasuk pada pembahasan bab Ilahiyyat ataupun Nubuwwat, karena keduanya bukan hanya dapat diimani dengan khabar yaqini, melainkan dengan akal sehat dan penalaran. Jadi yang merupakan contoh-contoh dari al-Ghaibiyyat adalah yang sampai kepada kita hanya melalui khabar yaqini, dan belum sempurna gambarannya, juga masih tertutup bagi kita semua. Seperti kabar tentang tanda-tanda terjadinya hari kiamat, dan apa-apa yang akan dilewati manusia setelah mereka wafat – mizan, shirat, jannah, naar, hisaab, padang mahsyar, dan lain sebagainya yang merupakan perkara-perkara yang tidak bisa diyakini dengan mendatangkan permisalannya sehingga dapat membayangkannya dengan cara qiyas. (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Kubrā Yaqīniyyāt al-Kauniyyāt Wujūd al-Khāliq wa Wadzīfat al-Makhlūq, Dār al-Fikr, Beirut : 2016, hal.301)

Selain Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, hari akhir, ataupun qadha dan qadar – yang termasuk dalam rukun iman yang enam, isra’ mi’raj merupakan salah satu yang menjadi pembahasan dalam contoh al-Sam’iyyat. Ini bisa kita buktikan pada nazhamAqiidatul Awam  milik Imam Ahmad al-Marzuqi. Setelah membahas semua yang berkaitan dengan Allah dan Rasul, beliau mencatumkan beberapa bait tentang isra’ mi’raj sebagai penutup pembahasan pada nazham tersebut,  yang mana juga menunjukkan bahwasanyaisra mi’raj termasuk dalam pembahasan al-Samiyyat.  

Pandangan ini pun dapat kita kuatkan dengan pendapat Imam Nasafi. Dalam kitabnya al-Aqaid al-Nasaafiyyah, beliau mengatakan bahwasanya seseorang dapat mengetahui sesuatu melalui tiga sumber, yaitu presepsi indra (idraak al-hawās), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq). 

Dr. Syamsuddin Arif, Direktur Eksekutif Institute for Study Islamic Thought and Civilizations (INSITSTS), dalam makalahnya “Prinsip-Prinsip Dasar Epistemologi Islam” berpendapat bahwa khabar sadiq adalah sumber yang tidak kalah penting, yang mana merupakan suatu hal yang berasal dari dan bersandar pada otoritas. Sumber khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (kalam Allah dan sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman. (Lihat Adian Husaini, et. Al, Filsafat Ilmu, GIP, Jakarta : 2013, hal.114-115).

Imam Nasafi membagi khabar sadiq menjadi dua, yaitu apa yang berdasarkan wahyu dan yang bukan. Gampangnya, dalam yang bukan wahyu, kabar tentang adanya presiden Soekarno pada zaman dahulu, misalnya, merupakan hal yang benar dan dipercaya. Karena kabar ini dikuatkan oleh banyak orang yang mana mereka semua tidak akan  sepakat untuk berbohong. Dalam yang berdasarkan wahyu, seperti contoh-contoh al-Sam’iyyat yang telah disebutkan dalam al-Quran dan hadis, begitupun isra’ dan mi’raj yang sedang kita bahas.

Jadi mudahnya, kita bisa mengatakan, “Kalau kabar yang bersumber pada manusia saja kita dapat mempercayainya, kenapa kabar yang bersumber langsung dari Allah SWT – yang maha mengetahui dan maha berkehendak, kita tidak mempercayainya”. Sama-sama hal yang gaib, namun berbeda sumbernya.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok Abu Bakar adalah kepercayaannya yang teguh pada Rasulullah SAW. Ia akan percaya pada semua yang disampaikan oleh Rasulullah. Begitupun kita, sebagai pengikut nabi Muhammad, kita haruslah percaya terhadap apa yang dikabarkan olehnya, baik berupa cerita, kisah, kabar hari akhir, maupun suatu hukum. Tentu dengan tidak gegabah dalam menentukan sebuah hukum, sehingga mudah mengkafirkan satu sama lain.

Dari ini semua dapat kita katakan bahwa pandangan ahlussunah sangat selaras dengan tindakan yang diambil oleh Abu Bakar As-Siddiq. Tanpa mengurangi rasa hormat dan ta’dzim, bisa kita katakan Abu Bakar adalah sunni yaitu Ahlussunnah, meskipun pada saat itu belum ada perbedaan pandangan dalam aqidah atau kita balik, bahwa ahlussunnah sangat selaras dengan pemikiran para sahabat. wallahu a’lam bisshowab.

                                                                                                       Kairo, Rabu 17 Mei 2016
                 



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia