Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Isra Mi’raj : antara Abu Bakar dan Aqidah Ahlussunnah
Bisnis
Mei 17, 2017
“In kāna qāla dzālika laqad shadaqa, innī laushaddiquhu ‘alā
ab’ada min dzālika”
(Abu Bakar As-Shiddiq)
Seperti yang sudah
dibahas dalam peristiwa isra’ mi’raj sebelumnya, bahwa keduanya merupakan
sebuah mukjizat yang tak mungkin terjadi, apalagi dibuat oleh makhluk Allah
lainnya, dan tak dapat difikirkan oleh akal sempurna. Dalam malam yang begitu
singkat, Allah telah memuliakan Rasul-Nya dengan sebuah rahasia yang sangat
agung dan akan selalu diabadikan oleh seluruh umat muslim dipenjuru Dunia.
Semua cuplikan dan rekaman peristiwa itu bisa kita putar dan rujuk pada
al-Quran, riwayat-riwayat hadis sohih, dan kitab-kitab mu’tamad dalam
peristiwa isra mi’raj – seperti al-Sirāj al-Wahhāj fī Qisshati al-Isrā wa
al-Mi’rāj milik Syaikh Solih Jaffar, Fiqh al-Sīrah milik Imam
Ramadhan al-Buthi, dan kitab-kitab lainnya.
Syaikh Solih Jaffar pun memberi peringatan akan ketidakmampuannya
akal dalam menindak kejadian ini. Lihatlah,
bagaimana mungkin akal dapat menangkap
gambaran sebuah buraq, yang katanya
merupakan hewan tunggagan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari
bighal, dan dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam sepersekian detik,
tentu ini bukanlah hal biasa pada umumnya yang sering dilihat. Begitupun
kejadian selanjutnya, seperti bertemunya
Rasulullah SAW dengan para Nabi disetiap tingkatan langit, , pertemuan dan perbincangan Rasulullah SAW dengan Allah SWT hingga disyariatkannya Shalat
lima waktu, dan juga kejadian lain yang terjadi pada isra’mi’raj, yang mana merupakan hal yang tak bisa digapai oleh
akal.
Kalau tidak seperti ini, maka apa perbedaan kita dengan kaum Quraisy
dahulu. Mereka tertawa, bertanya-tanya, bahkan mengatakan Rasulullah sebagai
pembohong dengan kabar isra dan mi’raj. Samapai dalam salah satu hadis,
Rasulullah berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mendustakan perjalananku ke Baitul
Maqdis, saya berdiri di hijr Ismail, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis
kepadaku hingga saya memberitahu pada mereka tentang tanda-tandanya dan saya
dapat melihatnya” (HR. Bukhori) .
Namun berbeda dengan Abu Bakar. Konsistensi untuk selalu percaya
pada utusan Allah hadir pada lubuk dirinya. Dalam kitab Fiqih Sirah, Imam Buthi
menceritakan bahwa Abu Bakar bahkan mengatakan dihadapan kaum Quraisy bahwa
dirinya akan benar-benar percaya pada peristiwa yang lebih jauh dari ini (isra’
mi’raj). Lebih jelasnya ia mengatakan, “In kāna qāla dzālika laqad shadaqa,
inni laushaddiquhu ‘ala ab’ada min dzālika”, tegas Abu Bakar. (lihat
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Siirah, Daar el-Fikr, Damaskus
: 2015. Hal.124). Inilah mengapa gelar “al-Shiddiq” disandingkan pada
namanya dan akan selalu diingat bagaimana kepercayaan yang kuat pada Rasulullah
dalam peristiwa ini.
Sejatinya sebagi Muslim, tindakan Amirul Mukminin tersebut haruslah
dicontoh pada sikap kita dalam menerima setiap khabar yang datang pada
Rasulullah atas kita semua. Apa yang
telah sampai pada kita dari Rasulullah SAW adalah sesuatu yang benar dan tidak
mungkin salah – karena salah satu sifat mustahil bagi para nabi dan rasul adalah
berbohong (al-Kidzbu). Imam Ali R.A mengatakan bahwasanya jikalau Agama
itu hanya dengan akal, niscaya yang dibasuh dari bagian khuf adalah
bawahnya bukan bagian atasnya. Begitu juga dengan perintah Rasul untuk memakai
penutup kepala saat memasuki kamar mandi. Imam Ba’isyan dalam Busyra
al-Karīm mengatakan bawa ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengikuti
perintah Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadis.
Dalam Aqidah ahlussunnah, yang menjadi inti dari seluruh pembahasan
isinya dapat kita bagi menjadi tiga bagian – yang berkaitan dengan Tuhan (Ilāhiyyat),
kenabian (Nubuwwāt), dan kabar dari wahyu (Sam’iyyāt/ghaibiyyāt).
Ini semua dapat kita lihat pada literatur-literatur para ulama yang menulis
dalam kitab dasar pada aqidah,
seperti nazham aqidat
al-‘awwam milik Imam Ahmad al-Marzuqi, Kubraa Yaqiiniyyat milik Imam
Ramadhan al-Buthi, Aqidah Ahlussunnah milik Syaikh ‘Ali Jum’ah, Kharidat
al-Bahiyyah milik Imam Al-Dardiri, dan kitab-kitab aqidah lainnya yang
telah ditulis oleh ulama-ulama kita terdahulu.
Dalam kitabnya “Aqidatu Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah”, Syaikh
‘Ali Jum’ah mengatakan bahwa al-Sam’iyyat merupakan segala sesuatu yang hanya
dapat kita imani atau percayai melalui kabar yang terpercaya (kullu mā lā sabīla
ila al-īmān illā ‘an tarīq al-Khabar al-Yaqīni). Beliau juga menjelaskan bahwa percaya pada hal
yang ghaib adalah asas dari sebuah ketaqwaan dan jalan masuk untuk beribadah
kepada Allah SWT. Apabila kau telah meneguhkan padanya, maka kau adalah orang
yang akan mendapatkan cahaya hidayah dari Allah SWT. Sebagaimana yang telah Allah firmankan, “...hudan lilmuttaqīn. Alladzīna yu’minūna
bi al-ghaybi”.
Imam Buthi, Dalam Kubra Yaqīniyyat nya, menjelaskan bahwa pembahasan ketiga, yaitu al-Ghaybiyyat
atau al-Sam’iyyat tidaklah termasuk pada pembahasan bab Ilahiyyat
ataupun Nubuwwat, karena keduanya bukan hanya dapat diimani dengan
khabar yaqini, melainkan dengan akal sehat dan penalaran. Jadi yang merupakan
contoh-contoh dari al-Ghaibiyyat adalah yang sampai kepada kita hanya
melalui khabar yaqini, dan belum sempurna gambarannya, juga masih tertutup bagi
kita semua. Seperti kabar tentang tanda-tanda terjadinya hari kiamat, dan
apa-apa yang akan dilewati manusia setelah mereka wafat – mizan, shirat,
jannah, naar, hisaab, padang mahsyar, dan lain sebagainya yang merupakan
perkara-perkara yang tidak bisa diyakini dengan mendatangkan permisalannya
sehingga dapat membayangkannya dengan cara qiyas. (Muhammad Sa’id Ramadhan
al-Buthi, Kubrā Yaqīniyyāt al-Kauniyyāt Wujūd al-Khāliq wa Wadzīfat
al-Makhlūq, Dār al-Fikr, Beirut : 2016, hal.301)
Selain Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, hari akhir, ataupun qadha
dan qadar – yang termasuk dalam rukun iman yang enam, isra’ mi’raj merupakan salah
satu yang menjadi pembahasan dalam contoh al-Sam’iyyat. Ini bisa kita
buktikan pada nazhamAqiidatul Awam milik
Imam Ahmad al-Marzuqi. Setelah membahas semua yang berkaitan dengan Allah dan
Rasul, beliau mencatumkan beberapa bait tentang isra’ mi’raj sebagai penutup
pembahasan pada nazham tersebut, yang
mana juga menunjukkan bahwasanyaisra mi’raj termasuk dalam pembahasan
al-Samiyyat.
Pandangan ini pun dapat kita kuatkan dengan pendapat Imam Nasafi.
Dalam kitabnya al-Aqaid al-Nasaafiyyah, beliau mengatakan bahwasanya
seseorang dapat mengetahui sesuatu melalui tiga sumber, yaitu presepsi indra (idraak
al-hawās), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb),
dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq).
Dr. Syamsuddin Arif, Direktur Eksekutif Institute for Study Islamic
Thought and Civilizations (INSITSTS), dalam makalahnya “Prinsip-Prinsip Dasar
Epistemologi Islam” berpendapat bahwa khabar sadiq adalah sumber yang
tidak kalah penting, yang mana merupakan suatu hal yang berasal dari dan
bersandar pada otoritas. Sumber khabar sadiq, apalagi dalam urusan
agama, adalah wahyu (kalam Allah dan sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan
diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila)
sampai ke akhir zaman. (Lihat Adian Husaini, et. Al, Filsafat Ilmu, GIP,
Jakarta : 2013, hal.114-115).
Imam Nasafi membagi khabar sadiq menjadi dua, yaitu apa yang
berdasarkan wahyu dan yang bukan. Gampangnya, dalam yang bukan wahyu, kabar
tentang adanya presiden Soekarno pada zaman dahulu, misalnya, merupakan hal
yang benar dan dipercaya. Karena kabar ini dikuatkan oleh banyak orang yang
mana mereka semua tidak akan sepakat
untuk berbohong. Dalam yang berdasarkan wahyu, seperti contoh-contoh al-Sam’iyyat
yang telah disebutkan dalam al-Quran dan hadis, begitupun isra’ dan mi’raj yang
sedang kita bahas.
Jadi mudahnya, kita bisa mengatakan, “Kalau kabar yang bersumber
pada manusia saja kita dapat mempercayainya, kenapa kabar yang bersumber
langsung dari Allah SWT – yang maha mengetahui dan maha berkehendak, kita tidak
mempercayainya”. Sama-sama hal yang gaib, namun berbeda sumbernya.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok Abu Bakar adalah kepercayaannya
yang teguh pada Rasulullah SAW. Ia akan percaya pada semua yang disampaikan
oleh Rasulullah. Begitupun kita, sebagai pengikut nabi Muhammad, kita haruslah
percaya terhadap apa yang dikabarkan olehnya, baik berupa cerita, kisah, kabar
hari akhir, maupun suatu hukum. Tentu dengan tidak gegabah dalam menentukan
sebuah hukum, sehingga mudah mengkafirkan satu sama lain.
Dari ini semua dapat kita katakan bahwa pandangan ahlussunah sangat
selaras dengan tindakan yang diambil oleh Abu Bakar As-Siddiq. Tanpa mengurangi
rasa hormat dan ta’dzim, bisa kita katakan Abu Bakar adalah sunni yaitu
Ahlussunnah, meskipun pada saat itu belum ada perbedaan pandangan dalam aqidah
atau kita balik, bahwa ahlussunnah sangat selaras dengan pemikiran para sahabat.
wallahu a’lam bisshowab.
Kairo, Rabu 17 Mei 2016

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...