Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Pagelaran Empat Master ; Sebuah Nasehat Akan Perpisahan



            Bagi generasi kerlip lampu kamera  sekarang ini, sebuah “perpisahan” selalu dimaknai dan diisi dengan dengan hal-hal yang bersifat “senang-senang”, atau dikatakan tidak ada manfaat, jika ditinjau dari dimensi balik tirai. Dari yang hanya mencoret-coret seragam almamater dengan pilok atau semacamnya, sebuah pesta hidangan makananan dengan iringan musik yang dentumannya membuat jantung dagdigdug, sampai yang kebut-kebutan ria menyusuri jalanan hingga melakukan perbuatan keji diluar syariat Islam, berzina.   

            Tapi tidak dengan Sulthon el-Hasbi Rambe, remaja yang tumbuh dewasa pasca-reformasi dengan seikat tasbih dan mushaf digenggamannya. Genap seperempat windu mendapatkan didikan dari beranda ka’bah ilmu pengetahuan, udara dinginya pusat ulama terkemuka dunia, dan harmonisnya ajaran agama yang diajarkan disini, al-Azhar, ia harus berpisah dan bertolak meninggalkannya untuk kurun waktu yang lama demi  melanjutkan studinya ditanah kelahiran Nur al-Musthofa, Makkah al-Mukarromah. Apalah daya seorang anak yang hanya mampu berbakti dan membuat senang hati orangtuanya—sebagaimana yang Allah perintahkan dalam al-Qur’an, menjadi alasan terberat  kepergiaanya dari Negri para Nabi ini.    

            Semakin dekat dengan kepergiannya, bocah kelahiran danau toba ini membuat acara kecil-kecilan bertemakan, “wada’an dan sholawatan”—karena itu yang ditulisnya di whatsapp—dengan mengundang seluruh sahabat karibnya yang kebetulan bersatu dalam dua majlis keilmuan bernama “anwar al-Azhar” dan “al-Fawaaid al-Mardhiyyah”, juga teman-teman diluar grup tersebut yang dekat dengannya, seperti teman satu rumahnya. Ia tak lupa mengundang empat kandidat Master yang keilmuannya sudah tak diragui dan baru saja menyelesaikan ujian S2 nya di Azhar ; Zia ul Haq, Arief Assofi, Ahmad Miftahurrizqi, dan Umar Harras.

            Agenda perpisahan atau wada’an “ala mahasiswa al-Azhar” tentulah  berbeda dengan mereka yang disebutkan diatas, bahkan harus. Bukannya membuat adanya hirarki dalam sebuah acara perpisahan, namun ketika hadirnya tolak ukur dari segi mafaat dan mudhorrotnya, maka agenda yang lebih bermanfaat akan lebih tinggi derajatnya dalam kacamata Syariat. karena Rasulullah bersabda : “min husni islam al-ma’i tarkuhu maa laa ya’niihi. Pujian demi pujian kami lantunkan kepada sang baginda Nabi saw. lewat gemuruhnya irama qosidah beserta pembacaan sirahnya lewat simt al-Durar. Acara pun dilanjutkan dengan pagelaran empat master tersebut.    

            Empat orang inilah yang memporak-porandakan suasana dengan tajamnya nasehat-nasehat yang dilontarkan kepada kami, umumnya, dan Sulthon khususnya. Sebagai muqoddimah, Arief Assofi, menceritakan bahwa di Tarim, Yaman, seseorang tidak boleh menimba ilmu disana jika belum ada ridho dari kedua orangtuanya. Saudara dekatnya, misalnya, karena sudah sepuluh tahun belajar di Tarim bersama Habib Salim, salah satu saudara Habib Salim pun menyuruhnya pulang dan segera menikah. Namun dirinya tak diizinkan menikah sebelum menamatkan kitab “al-Minhaj”. Akhirnya kabar itu pun sampai pada Habib Salim, dan bertanyalah ia pada muridnya, “Apakah orang tuamu ridho kau masih belajar sampai saat ini”. saat dikabarkan ke Rumah, orang tuanya menyanggupkan dan meridhoi, dan akhirnya masih tetap melanjutkan studinya. 

            Untuk Nasehat di Madinah kelak, murid dari Habib Ahmad al-Maqdy ini menasehati agar Sulthon tidak teerlaru terang-terangan dengan label “Ahlussunnah”nya yang kebetulan bertentangan dengan mayoritas aqidah penduduk disana. “Talaqqi harus tetap berjalan. Disana masih banyak ulama-ulama Ahlussunnah yang membuka majlis-majlisnya, seperti Habib Zein. Namun jangan sampai terang-terangan. Banyak sudah kisah mahasiswa disana yang ditahan ijazahnya karena berbeda jalur dari jalannya”, tegas Arief.

            “Muqoddimah yang disampaikan Ustadz Arief ini bukan sekedar muqaddimah, bahkan ia sudah mencapai lubb al-kittab (isi kitab). Karena tidak sedikit dari para Ulama yang menamatkan pembahasan muqaddimah berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Syeikh Usammah pernah menghabiskan sebuah muqaddimah dari setelah zuhur sampai isya, lantas beliau berkata, “ini sesuai dengan kadar yang kalian punya”... Kalau saya ini, mungkin hanya sekedar bagian belakang-belakang kitab yang sudah tak terabaikan”, buka Rizqi, berusaha merendah diri dalam mengawali pembicaraanya.

            Dengan gaya-gaya turats yang sudah melekat pada dirinya, Rizqi memulai dengan menelisik kata “wada’an”. Menurut anak betawi ini, kata wada’ kurang tepat untuk acara Sulthon pada saat ini, dan yang tepat adalah “da’wa”. “Sejatinya bukan Sulthon yang meninggalkan mesir, tapi Madinahlah yang telah memanggilnya, yakni da’wat al-farh... Maka setibanya kau disana, berilah kebahagian tersebut pada yang telah memanggilmu—Ahlu Bait kota tersebut, Rasulullah saw. dengan panggilah kebahagian”, ujar Rizqi. Dan jika kata “wada’” yang dipakai, pertanyaannya adalah : “Sebenarnya, apakah Sulthon yang akan bersedih karena meninggalkan Mesir, atau Mesir yang harus bersedih dengan perginya Sulthon”.

             Salah satu murid Syeikh Fauzi ini dengan tegas menyatakan : “Salah satu sunnah yang dilakukan ulama-ulama besar terkemuka adalah sebuah rihlah ‘ilmiyyah. Lihatlah Imam Syafii yang mengembara dari Iraq, Makkah, Madinah, Khurasan, hingga ke Mesir, demi sebuah ilmu-ilmu dan pelajaran yang baru. Begitupun Imam Ghazali yang keluar dari Tuus, daerahnya sendiri hingga ke Jurjan dan berbagai tempat lainnya. Kelak, bukan Sulthon yang dipengaruhi dengan keadaan disana, justru ialah yang harus membawa risalah wasatiyyah Azhar ini disana—tentu tidak dengan terang-terangan seperti yang telah disampaikan oleh ustadz Arief diawal”.

“Meninggalkan apa yang kamu cintai demi mencari ridho kedua orangtuamu, tidak akan pernah salah dan justru lebih baik dari pada harus mengejar apa yang kau cintai, namun harus melukai hatinya”, tutup Rizqi.

  Selanjutnya Umar Harras. Tak banyak yang disampaikan olehnya. Sifat tawadhu beliau sangat terlihat kala membuka pembicaraan. “Kalau ustadz Arief muqoddimah kitab, lalu Ustadz Rizqi adalah isinya, mungkin saya ini hanya debu-debu kitab yang sudah tak berguna”, tutur Umar. Ia hanya menyampaikan poin tentang kehati-hatian diri saat berada disana kelak. Jangan terlalu menonjolkan Ahlussunnah kepada masyarakat sana, karena kelak akan menimbulkan perselisihan tajam.

Yang terakhir adalah Zia Ul Haq, mahasiswa S2 Ushuluddin asal Tegal. “Kalau Ustadz Arief berbicara sampai Tarim, Yaman, begitupun Ustadz Rizqi ke Khurasan, maka apalah saya ini yang hanya anak Tegal dan tak pernah kemana-mana”, ujar Zia, kami pun tertawa. Dalam Nasehatnya, Zia hanya menyampaikan dua poin. “Sulthon ini bukan hanya dipanggil ke Madinah, tapi justru ia menjadi tamu yang langsung diundang oleh Rasulullah saw.—karena tidak banyak dari mereka yang sudah mampu ke Madinah, tapi belum diundang oleh Rasulullah... maka kewajibanmu adalah menanamkan Rasulullah saw. pada dirimu dimanapun dan kapanpun, buat ia bangga dengan kedatanganmu. Temuilah ia sesampainya engkau disana, layaknya Imam Malik yang tak pernah meninggalkan Madinah demi cintanya dengan Baginda Nabi”, ungkap Zia.

Dan yang kedua, ia menghimbau Rambe untuk selalu bisa membawa manhaj Azhar disana kelak, meski tidak terang-terangan. Karena manhaj inilah yang sangat penting dalam membawa pemahaman seorang muslim dalam memahami Agama Islam.

Acara ini berlangsung khidmat dengan ditutup dengan ramah tamah, masakan ala Indonesia. Terakhir, sebagai temanmu yang sedang menulis ini, semoga Azhar selalu menjadi kiblat nomor satumu dalam segi keilmuan. Jangan lupakan kami, karena setidaknya perpisahan selalu mengajarkan sedikit banyak arti sebuah kenangan. Jika ada waktu luang, berkunjunglah kesini. Ceritakan pada kami betapa indahnya Masjid Nabawi dan betapa ramainya makam Rasulullah saw. Kami juga tak akan lupa untuk bercerita apa yang sedang terjadi di teras Masjid Azhar. Semoga ukhuwah kita tidak hanya sampai disini, bahkan sampai jannaj-Nya kelak. Amiin.

Temanmu-

Bana Fatahillah








Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia