Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Pagelaran Empat Master ; Sebuah Nasehat Akan Perpisahan
Bisnis
Agustus 17, 2017
![]() |
Bagi generasi kerlip lampu kamera sekarang ini, sebuah “perpisahan” selalu dimaknai dan diisi dengan dengan hal-hal yang bersifat “senang-senang”, atau dikatakan tidak ada manfaat, jika ditinjau dari dimensi balik tirai. Dari yang hanya mencoret-coret seragam almamater dengan pilok atau semacamnya, sebuah pesta hidangan makananan dengan iringan musik yang dentumannya membuat jantung dagdigdug, sampai yang kebut-kebutan ria menyusuri jalanan hingga melakukan perbuatan keji diluar syariat Islam, berzina.
Tapi tidak dengan
Sulthon el-Hasbi Rambe, remaja yang tumbuh dewasa pasca-reformasi dengan seikat
tasbih dan mushaf digenggamannya. Genap seperempat windu mendapatkan didikan
dari beranda ka’bah ilmu pengetahuan, udara dinginya pusat ulama terkemuka
dunia, dan harmonisnya ajaran agama yang diajarkan disini, al-Azhar, ia harus berpisah
dan bertolak meninggalkannya untuk kurun waktu yang lama demi melanjutkan studinya ditanah kelahiran Nur
al-Musthofa, Makkah al-Mukarromah. Apalah daya seorang anak yang hanya
mampu berbakti dan membuat senang hati orangtuanya—sebagaimana yang Allah
perintahkan dalam al-Qur’an, menjadi alasan terberat kepergiaanya dari Negri para Nabi ini.
Semakin dekat
dengan kepergiannya, bocah kelahiran danau toba ini membuat acara kecil-kecilan
bertemakan, “wada’an dan sholawatan”—karena itu yang ditulisnya di whatsapp—dengan
mengundang seluruh sahabat karibnya yang kebetulan bersatu dalam dua majlis
keilmuan bernama “anwar al-Azhar” dan “al-Fawaaid al-Mardhiyyah”,
juga teman-teman diluar grup tersebut yang dekat dengannya, seperti teman satu
rumahnya. Ia tak lupa mengundang empat kandidat Master yang keilmuannya sudah
tak diragui dan baru saja menyelesaikan ujian S2 nya di Azhar ; Zia ul Haq,
Arief Assofi, Ahmad Miftahurrizqi, dan Umar Harras.
Agenda perpisahan
atau wada’an “ala mahasiswa al-Azhar” tentulah
berbeda dengan mereka yang disebutkan diatas, bahkan harus. Bukannya membuat
adanya hirarki dalam sebuah acara perpisahan, namun ketika hadirnya tolak ukur dari
segi mafaat dan mudhorrotnya, maka agenda yang lebih bermanfaat akan lebih
tinggi derajatnya dalam kacamata Syariat. karena Rasulullah bersabda : “min
husni islam al-ma’i tarkuhu maa laa ya’niihi. Pujian demi pujian kami lantunkan
kepada sang baginda Nabi saw. lewat gemuruhnya irama qosidah beserta pembacaan
sirahnya lewat simt al-Durar. Acara pun dilanjutkan dengan pagelaran
empat master tersebut.
Empat orang inilah
yang memporak-porandakan suasana dengan tajamnya nasehat-nasehat yang
dilontarkan kepada kami, umumnya, dan Sulthon khususnya. Sebagai muqoddimah,
Arief Assofi, menceritakan bahwa di Tarim, Yaman, seseorang tidak boleh menimba
ilmu disana jika belum ada ridho dari kedua orangtuanya. Saudara dekatnya,
misalnya, karena sudah sepuluh tahun belajar di Tarim bersama Habib Salim,
salah satu saudara Habib Salim pun menyuruhnya pulang dan segera menikah. Namun
dirinya tak diizinkan menikah sebelum menamatkan kitab “al-Minhaj”. Akhirnya
kabar itu pun sampai pada Habib Salim, dan bertanyalah ia pada muridnya,
“Apakah orang tuamu ridho kau masih belajar sampai saat ini”. saat dikabarkan
ke Rumah, orang tuanya menyanggupkan dan meridhoi, dan akhirnya masih tetap
melanjutkan studinya.
Untuk Nasehat di
Madinah kelak, murid dari Habib Ahmad al-Maqdy ini menasehati agar Sulthon
tidak teerlaru terang-terangan dengan label “Ahlussunnah”nya yang kebetulan
bertentangan dengan mayoritas aqidah penduduk disana. “Talaqqi harus tetap
berjalan. Disana masih banyak ulama-ulama Ahlussunnah yang membuka
majlis-majlisnya, seperti Habib Zein. Namun jangan sampai terang-terangan.
Banyak sudah kisah mahasiswa disana yang ditahan ijazahnya karena berbeda jalur
dari jalannya”, tegas Arief.
“Muqoddimah yang
disampaikan Ustadz Arief ini bukan sekedar muqaddimah, bahkan ia sudah mencapai
lubb al-kittab (isi kitab). Karena tidak sedikit dari para Ulama yang
menamatkan pembahasan muqaddimah berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Syeikh
Usammah pernah menghabiskan sebuah muqaddimah dari setelah zuhur sampai isya,
lantas beliau berkata, “ini sesuai dengan kadar yang kalian punya”... Kalau
saya ini, mungkin hanya sekedar bagian belakang-belakang kitab yang sudah tak
terabaikan”, buka Rizqi, berusaha merendah diri dalam mengawali pembicaraanya.
Dengan gaya-gaya
turats yang sudah melekat pada dirinya, Rizqi memulai dengan menelisik kata
“wada’an”. Menurut anak betawi ini, kata wada’ kurang tepat untuk acara
Sulthon pada saat ini, dan yang tepat adalah “da’wa”. “Sejatinya bukan
Sulthon yang meninggalkan mesir, tapi Madinahlah yang telah memanggilnya, yakni
da’wat al-farh... Maka setibanya kau disana, berilah kebahagian tersebut
pada yang telah memanggilmu—Ahlu Bait kota tersebut, Rasulullah saw. dengan
panggilah kebahagian”, ujar Rizqi. Dan jika kata “wada’” yang dipakai,
pertanyaannya adalah : “Sebenarnya, apakah Sulthon yang akan bersedih karena
meninggalkan Mesir, atau Mesir yang harus bersedih dengan perginya Sulthon”.
Salah satu murid Syeikh Fauzi ini dengan tegas
menyatakan : “Salah satu sunnah yang dilakukan ulama-ulama besar terkemuka
adalah sebuah rihlah ‘ilmiyyah. Lihatlah Imam Syafii yang mengembara
dari Iraq, Makkah, Madinah, Khurasan, hingga ke Mesir, demi sebuah ilmu-ilmu
dan pelajaran yang baru. Begitupun Imam Ghazali yang keluar dari Tuus,
daerahnya sendiri hingga ke Jurjan dan berbagai tempat lainnya. Kelak, bukan
Sulthon yang dipengaruhi dengan keadaan disana, justru ialah yang harus membawa
risalah wasatiyyah Azhar ini disana—tentu tidak dengan terang-terangan seperti
yang telah disampaikan oleh ustadz Arief diawal”.
“Meninggalkan apa yang kamu cintai demi mencari ridho kedua
orangtuamu, tidak akan pernah salah dan justru lebih baik dari pada harus mengejar
apa yang kau cintai, namun harus melukai hatinya”, tutup Rizqi.
Selanjutnya Umar Harras. Tak banyak yang
disampaikan olehnya. Sifat tawadhu beliau sangat terlihat kala membuka
pembicaraan. “Kalau ustadz Arief muqoddimah kitab, lalu Ustadz Rizqi adalah
isinya, mungkin saya ini hanya debu-debu kitab yang sudah tak berguna”, tutur
Umar. Ia hanya menyampaikan poin tentang kehati-hatian diri saat berada disana
kelak. Jangan terlalu menonjolkan Ahlussunnah kepada masyarakat sana, karena
kelak akan menimbulkan perselisihan tajam.
Yang terakhir adalah Zia Ul Haq, mahasiswa S2 Ushuluddin asal
Tegal. “Kalau Ustadz Arief berbicara sampai Tarim, Yaman, begitupun Ustadz
Rizqi ke Khurasan, maka apalah saya ini yang hanya anak Tegal dan tak pernah
kemana-mana”, ujar Zia, kami pun tertawa. Dalam Nasehatnya, Zia hanya
menyampaikan dua poin. “Sulthon ini bukan hanya dipanggil ke Madinah, tapi
justru ia menjadi tamu yang langsung diundang oleh Rasulullah saw.—karena tidak
banyak dari mereka yang sudah mampu ke Madinah, tapi belum diundang oleh
Rasulullah... maka kewajibanmu adalah menanamkan Rasulullah saw. pada dirimu
dimanapun dan kapanpun, buat ia bangga dengan kedatanganmu. Temuilah ia
sesampainya engkau disana, layaknya Imam Malik yang tak pernah meninggalkan
Madinah demi cintanya dengan Baginda Nabi”, ungkap Zia.
Dan yang kedua, ia menghimbau Rambe untuk selalu bisa membawa
manhaj Azhar disana kelak, meski tidak terang-terangan. Karena manhaj inilah
yang sangat penting dalam membawa pemahaman seorang muslim dalam memahami Agama
Islam.
Acara ini berlangsung khidmat dengan ditutup dengan ramah tamah,
masakan ala Indonesia. Terakhir, sebagai temanmu yang sedang menulis ini,
semoga Azhar selalu menjadi kiblat nomor satumu dalam segi keilmuan. Jangan
lupakan kami, karena setidaknya perpisahan selalu mengajarkan sedikit banyak
arti sebuah kenangan. Jika ada waktu luang, berkunjunglah kesini. Ceritakan
pada kami betapa indahnya Masjid Nabawi dan betapa ramainya makam Rasulullah
saw. Kami juga tak akan lupa untuk bercerita apa yang sedang terjadi di teras
Masjid Azhar. Semoga ukhuwah kita tidak hanya sampai disini, bahkan sampai
jannaj-Nya kelak. Amiin.
Temanmu-
Bana Fatahillah


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...