Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Pijakan Bersejarah



                Negri ini amatlah mulia. Konon, ia pernah menjadi saksi bisu para nabi yang menyerukan kalimat Tauhid pada umatnya. Bukan hanya satu, dua ataupun tiga, bahkan Baginda Rasulullah Saw. adalah keturunan salah seorang dari penduduk Negri ini—jika ditarik garis keturunannya melalui Nabi Ismail, yaitu ibundanya Siti Hajar. Dan salah satunya adalah Nabi Musa As., sang Kalimullāh. Ia lahir pada dinasti bernama Fir’aun (julukan bagi raja Mesir saat itu), setelah Dinasti Hulu-Hilir Sungai Nil berakhir. Lebih lengkapnya ia lahir dan dibesarkan oleh Asiah, istri dari Fir’aun ke-18 bernama Rammesses II (read ; ramsis) setelah ditemukannya tergenang di sungai Nil. Raja inilah yang nantinya ditenggelamkan oleh Allah Swt. bersama pasukannya di Laut merah usai dibelah menjadi jalan yang panjang oleh Nabi Musa.

                Dalam al-Quran, kisah nabi Musa As. Akan selalu kita jumpai, bahkan sering. Sampai-sampai Allah mengabadikan surat bernama “al-Baqarah”, yang menjadi surat terpanjang dalam al-Quran, karena peristiwa kaum Bani Israil atas Nabi Musa As. Nama nabi “Musa” sangatlah banyak diceritakan oleh Allah dalam Al-Quran. Ia disebutkan sebanyak 136 kali. Adapun Mesir, ia hanya disebutkan sebanyak lima kali. Dan inilah yang membuat sahabat bernama Amru bin Ash bertekad untuk menaklukan Mesir atas Ramawi. Bukan hanya karena ingin menguasai kemegahan negrinya, namun nama “Mesir” adalah negri yang sudah ditorehkan oleh Allah dalam Kitab suci-Nya.

                Titik yang menggandeng antara Nabi Musa dan Mesir adalah Bukit Sina (tūr sinā). Dalam al-Quran bukit Sina sering disebut dengan “Tūr”, (wa rafa’nā fauqakum aṭ-Ṭūr...) [QS ; An-Nisā :154], ataupun tur sina (wa at-tīn wa az-zaitūn wa turisīnīn) [QS ; At-Tīn : 1-3]. Disanalah kita bisa sedikit mentadabburi kisah Nabi Musa A.s kala diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menaiki sebuah bukit untuk mendapatkan wahyu-Nya yang pertama. Dengan berat hati, ia harus meninggalkan kaumnya selama 40 hari. Oleh karenanya, pada saat itu ia titipkan Bani Israil pada saudaranya, Nabi Harun As., seorang nabi yang menemani Nabi Musa berhadapan dengan Fir’aun nantinya. Namun apalah arti sebuah janji. Bani Israil tidak bisa memegang janji mereka, hingga mempersembahkan seekor sapi sebagai tuhannya, lantas menyekutukan Allah Swt.

                 Kini bukit Sinai sudah banyak dikunjungi para wisatawan mancanegara. Tempat ini sangatlah bersejarah untuk dikunjungi. Ia menyimpan sebuah rahasia tiga unsur agama sekaligus ; Islam, Nasrani dan Yahudi. Untuk semua cerita lengkapnya, bisa dirujuk kembali keberbagai kitab mu’tamad tentang sejarah Thursina, atau membuka kembali tafsir-tafsir para ulama akan sejarah tersebut. Karena beberapa masih berbeda pendapat akan letak geografis Bukit Sina, namun banyak juga yang sudah mengkaji ulang.

                Genap memasuki hari Selasa (12/9/2017), Kami, kumpulan partikel-partikel ciptaan-Nya, berhasil menginjakan kaki untuk pertama kalinya di Bukit penuh bersejarah ini. Kami namai ini “Pijakan Bersejarah”.  Hentakan yang kami awali di gelapnya malam, hingga bergesernya bulan yang tergantikan matahari, membuat kami terdiam dengan segala keagungan ciptaan-Nya. Dari curamnya bukit, terjalnya bebatuan, dinginnya udara sang malam, memaksa  hati kami untuk bertanya-tanya, “bagaimana ya cara nabi Musa dulu berjalan melewati ini semua dengan sendirian”. Tepat saat matahari memberi senyuman, Tursina menyapa kami semua dengan segala keindahannya. Inilah pijakan bersejarah yang agung nan indah!

                Kami tak lupa kibarkan sepetak kain berwarna merah putih, sebagai simbol cintanya kami pada Negri yang sudah lama tak dikunjungi, Indonesia. Juga secarik bendera Merah Hijau Putih, yang selalu berkibar disamping bendera Indonesia, bendera gontor. Kamis selaraskan keduanya menjadi suatu padanan yang sesuai, lalu kami gempit dengan sebuah banner panjang bertuliskan “Azheema”, nama sebuah pemersatu kebersamaan yang megah ini. Antara Gontor, Indonesia dan Azheema, semua adalah satu kesatuan yang menjadi titik temu kami disini, Bukit Sinai. 

                Pada hari ini juga, umur kami genap satu tahun menjadi mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir. Tak terasa 365 hari sudah kami lewatkan masa-masa bersama disini ; mengemban ilmu bersama, bekerja bersama, dan kelak kami juga akan lulus bersama diwaktu yang tepat, amin. Tak lama kami berdiam di puncak bukit ini. Sambil menikmati pemandangan seluruh alam Sinai, matahari pun semakin menampakan wajahnya. Sambil bermunajat kepada sang kuasa dalam iringan zikir yang terhimpit di bibir ini, kami langkahkan kaki ini untuk turun menyusuri bukit tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu. Potret kejadian ini akan berkenang lama dalam sanubari kami, tidak hilang meski diterpa badai kencang. Sinaiku akan selalu berkenang.                   
               

                  

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia