Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Pijakan Bersejarah
Bisnis
Oktober 26, 2017
Negri
ini amatlah mulia. Konon, ia pernah menjadi saksi bisu para nabi yang
menyerukan kalimat Tauhid pada umatnya. Bukan hanya satu, dua ataupun tiga,
bahkan Baginda Rasulullah Saw. adalah keturunan salah seorang dari penduduk
Negri ini—jika ditarik garis keturunannya melalui Nabi Ismail, yaitu ibundanya
Siti Hajar. Dan salah satunya adalah Nabi Musa As., sang Kalimullāh. Ia lahir
pada dinasti bernama Fir’aun (julukan bagi raja Mesir saat itu), setelah Dinasti
Hulu-Hilir Sungai Nil berakhir. Lebih lengkapnya ia lahir dan dibesarkan oleh
Asiah, istri dari Fir’aun ke-18 bernama Rammesses II (read ; ramsis) setelah
ditemukannya tergenang di sungai Nil. Raja inilah yang nantinya ditenggelamkan
oleh Allah Swt. bersama pasukannya di Laut merah usai dibelah menjadi jalan
yang panjang oleh Nabi Musa.
Dalam
al-Quran, kisah nabi Musa As. Akan selalu kita jumpai, bahkan sering. Sampai-sampai
Allah mengabadikan surat bernama “al-Baqarah”, yang menjadi surat terpanjang
dalam al-Quran, karena peristiwa kaum Bani Israil atas Nabi Musa As. Nama nabi
“Musa” sangatlah banyak diceritakan oleh Allah dalam Al-Quran. Ia disebutkan
sebanyak 136 kali. Adapun Mesir, ia hanya disebutkan sebanyak lima kali. Dan
inilah yang membuat sahabat bernama Amru bin Ash bertekad untuk menaklukan
Mesir atas Ramawi. Bukan hanya karena ingin menguasai kemegahan negrinya, namun
nama “Mesir” adalah negri yang sudah ditorehkan oleh Allah dalam Kitab
suci-Nya.
Titik
yang menggandeng antara Nabi Musa dan Mesir adalah Bukit Sina (tūr sinā).
Dalam al-Quran bukit Sina sering disebut dengan “Tūr”, (wa rafa’nā
fauqakum aṭ-Ṭūr...) [QS ; An-Nisā :154], ataupun tur sina (wa
at-tīn wa az-zaitūn wa turisīnīn) [QS ; At-Tīn : 1-3]. Disanalah kita bisa
sedikit mentadabburi kisah Nabi Musa A.s kala diperintahkan oleh Allah Swt.
untuk menaiki sebuah bukit untuk mendapatkan wahyu-Nya yang pertama. Dengan
berat hati, ia harus meninggalkan kaumnya selama 40 hari. Oleh karenanya, pada
saat itu ia titipkan Bani Israil pada saudaranya, Nabi Harun As., seorang nabi yang
menemani Nabi Musa berhadapan dengan Fir’aun nantinya. Namun apalah arti sebuah
janji. Bani Israil tidak bisa memegang janji mereka, hingga mempersembahkan
seekor sapi sebagai tuhannya, lantas menyekutukan Allah Swt.
Kini bukit Sinai sudah banyak dikunjungi para
wisatawan mancanegara. Tempat ini sangatlah bersejarah untuk dikunjungi. Ia
menyimpan sebuah rahasia tiga unsur agama sekaligus ; Islam, Nasrani dan
Yahudi. Untuk semua cerita lengkapnya, bisa dirujuk kembali keberbagai kitab mu’tamad
tentang sejarah Thursina, atau membuka kembali tafsir-tafsir para ulama
akan sejarah tersebut. Karena beberapa masih berbeda pendapat akan letak
geografis Bukit Sina, namun banyak juga yang sudah mengkaji ulang.
Genap
memasuki hari Selasa (12/9/2017), Kami, kumpulan partikel-partikel ciptaan-Nya,
berhasil menginjakan kaki untuk pertama kalinya di Bukit penuh bersejarah ini. Kami
namai ini “Pijakan Bersejarah”. Hentakan
yang kami awali di gelapnya malam, hingga bergesernya bulan yang tergantikan
matahari, membuat kami terdiam dengan segala keagungan ciptaan-Nya. Dari
curamnya bukit, terjalnya bebatuan, dinginnya udara sang malam, memaksa hati kami untuk bertanya-tanya, “bagaimana ya
cara nabi Musa dulu berjalan melewati ini semua dengan sendirian”. Tepat saat matahari
memberi senyuman, Tursina menyapa kami semua dengan segala keindahannya. Inilah
pijakan bersejarah yang agung nan indah!
Kami
tak lupa kibarkan sepetak kain berwarna merah putih, sebagai simbol cintanya
kami pada Negri yang sudah lama tak dikunjungi, Indonesia. Juga secarik bendera
Merah Hijau Putih, yang selalu berkibar disamping bendera Indonesia, bendera
gontor. Kamis selaraskan keduanya menjadi suatu padanan yang sesuai, lalu kami
gempit dengan sebuah banner panjang bertuliskan “Azheema”, nama sebuah pemersatu
kebersamaan yang megah ini. Antara Gontor, Indonesia dan Azheema, semua adalah
satu kesatuan yang menjadi titik temu kami disini, Bukit Sinai.
Pada
hari ini juga, umur kami genap satu tahun menjadi mahasiswa Indonesia yang
belajar di Mesir. Tak terasa 365 hari sudah kami lewatkan masa-masa bersama
disini ; mengemban ilmu bersama, bekerja bersama, dan kelak kami juga akan
lulus bersama diwaktu yang tepat, amin. Tak lama kami berdiam di puncak bukit
ini. Sambil menikmati pemandangan seluruh alam Sinai, matahari pun semakin
menampakan wajahnya. Sambil bermunajat kepada sang kuasa dalam iringan zikir
yang terhimpit di bibir ini, kami langkahkan kaki ini untuk turun menyusuri
bukit tempat Nabi Musa mendapatkan wahyu. Potret kejadian ini akan berkenang
lama dalam sanubari kami, tidak hilang meski diterpa badai kencang. Sinaiku
akan selalu berkenang.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...