Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Warna-Warni Kru Latansa

Doc: Foto saat sidang Redaksi pertama di sekretariat ikpm lama. 

Oleh: B-F

Membaca dan menulis adalah nafas mutlak bagi seorang akademisi.  Jika membaca diibaratkan seperti kegiatan menangkap hewan buruan, maka menulis adalah tali yang akan mengikat hewan buruan tersebut. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi satu sama lain. Membaca dan menulis dapat dimulai dari hal-hal yang paling terdekat dan tak usah terburu-buru. Sesorang bisa dilihat dari apa yang ia baca dan apa yang ia tuliskan. Dalam hal ini La Tansa, media perekat umat usungan IKPM cabang Kairo berusaha menjadi sarana yang menggabungkan dua nafas penting seorang akademisi, membaca dan menulis.

Tema-tema yang digaungkan di setiap edisinya  seapik mungkin dikemas melalui rubrik-rubrik yang menarik namun tetap berjiwa akademisi. Gagasan yang dituangkan mengundang pembaca untuk membaca lebih jauh serta menelaahnya ke lautan ilmu yang terhampar. Artinya, La Tansa berusaha menjadi ‘alat pancing’ yang memantik semangat membaca. Apa yang dibaca oleh pembaca bukanlah produk yang muncul secara tiba-tiba. Ia melalui sekian rangkaian proses yang cukup rumit; sidang redaksi, proses penulisan, proses penyuntingan, proses desain grafis, percetakan, dan pemasaran. Di sinilah para kru yang berada di balik layar La Tansa mendapatkan 2 manfaat sekaligus, membaca dan menulis, bahkan melebar pada pengalaman berorganisasi.

Berdiri di atas perahu jurnalistik bukanlah hal mudah. Siapapun yang berada di dalamnya dituntut untuk bisa menganalisa kebutuhan pembaca yang sepersekian detik saja bisa berubah haluan dan arahnya. Setalah didapatkan materi yang layak dan sesuai untuk pembaca, dibutuhkan kerja sama tim dalam melakukan inovasi agar materi tersebut lahir menjadi kombinasi yang cantik. Di sinilah La Tansa merangkul para kru nya untuk saling berbagi, mengungkap rasa, menyatukan ide dan menyamakan langkah agar sumbangsih pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan mendapatkan penerimaan yang luas.

Pada tulisan kali ini, penulis tidak ingin membahas sebuah tema, melainkan ingin membahas warna-warni di tubuh Latansa. Latansa tidak akan hidup hanya dengan Pemred, pinum atau lainnya, ia akan hidup dengan seluruh bagian anggotanya. Dalam tahap menghidupkan majalah yang diambang nafasnya, kami (kru Latansa) berusaha sedemikian mungkin untuk meletakkan hembusan baru bagi Latansa.

Saya terlanjur bangga dan jatuh cinta kepada kru latansa tahun ini. Bukan ingin berlebihan atau apapun, tapi dalam realitanya, salah satu yang menarik perhatian saya adalah, mereka tak pernah kehabisan ide untuk mencanangkan tulisannya ke dalam majalah di bawah tema apapun itu. Mereka semua menjiwai setiap tulisan yang mereka racik. Setiap tulisan yang dihadirkan sangat relevan dengan karakteristik penulis.

Sebagai contoh, mereka yang bergulat dengan logika berfikir, tulisannya akan digiring ke dalam permasalahan beraroma filsafat, maka hadirlah tulisan dengan judul-judul seperti; “Dilektika Turats, Makna Kebahagiaan, Benar yang Tidak baik, dll. Mereka yang condong ke dunia tasawuf akan membawa tulisannya ke dalam hembusan-hembusan ala sufi dalam tema apapun. Belum lagi mereka-mereka yang terus mengikuti wacana-wacana keislaman, maka tulisannya akan terus diberikan titik-titik penting dari ide-ide dan gagasan tersebut.

Sungguh atmosfer keilmuan yang membanggakan. Di tengah hausnya zaman akan kelahiran cendekiawan-cendekiawan muda penerus, La Tansa menjadi salah satu saksi bisu bahwa masih ada celah bumi yang dijejali orang-orang yang membaca. Membaca yang mereka lakukan bukanlah kegiatan biasa, karena hasil bacaan tersebut dapat direalisasikan ke dalam buah pemikiran yang ekstensif. Membaca yang mereka lakukan adalah salah satu cara untuk mewujudkan amanah ilmu, sehingga setiap bait dari tulisan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Karakteristik setiap kru La Tansa tidak mungkin saya paparkan semua di sini. Namun mereka yang jeli dan memperhatikan, akan menemukan bahwa kontruksi keilmuan seorang penulis akan berpengaruh besar pada hasil tulisannya. Inilah yang saya temukan pada tubuh La Tansa. Shibghah para penulisnya sangat kental.

Saya paham betul betapa terkadang beberapa kru berjibaku membolak-balik buku beratus-ratus lembar agar hasil tulisannya memiliki nyawa yang secara akrab mampu bersua dengan para pembaca. Mereka bahkan bersedia untuk memutar otak mencari narasumber yang bisa memperkuat opini-opininya.

Tidak ada kata-kata yang dapat saya haturkan selain apresiasi tertinggi  kepada segenap gru karena telah memberikan warna yang indah pada empat edisi majalah La Tansa tahun ini. Besar harapan saya bahwa segenap kru serta segala jerih payahnya mampu bermetamorfosis menjadi gaungan nyata semangat kebangkitan umat.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia