Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Nasihat Penting dari Kediaman Imam Ghazali
Bisnis
Mei 03, 2018
Dalam majlis Sullam al-Munawraq kali ini, Syekh Husam Ramadhan, Pendiri Daar Imam Ghazali, menggunakan waktu kurang lebih satu jam guna memberikan untaian nasihat dan pesan penting kepada para muridnya.
Majlis yang biasanya dimulai dari jam setengah 5 sore, kini baru dimulai tepat jam 6 sore karena adanya hal penting darinya. Petikan mutiara nasihat yang indah, elok, nan bermanfaat, sayang kiranya jika hanya dinikmati oleh sebagian orang. Semoga tulisan ini bisa mewakili perkataannya agar dapat bermanfaat untuk semua.
Berawal dari permintaan salah seorang murid untuk mengadakan dauroh dalam ilmu sharaf, akhirnya ia pun tiba-tiba menyampaikan nasihat seputar manhaj dan kitab.
Manhaj
Menurutnya, dalam menjelaskan suatu disiplin ilmu, seorang guru harus mempunyai manhaj yang pas dan teratur, sehingga bisa menjadikan muridnya paham dalam ilmu tersebut dan dapat mengantarkan mereka dalam memahami ibarah yang ada pada sebuah buku, atau yang sering disebut fahm al-Ibaarah.
Manhaj di sini bukan hanya tentang kitab yang dipakai untuk mengajar, namun juga pilihan-pilihan pendapat, penjelasan, komentar, atau bahkan kritik yang disari dari berbagai kitab pendukung layaknya syarh dan hasyiyah ketika penjelasan di hadapan tolib.
Syekh Husam memberikan contoh dalam pembelajaran sullam munawroq. Dalam penjelasannya, ia sudah menyaring pendapat dari berbagai syarh dan hasyiyah yang sangat relevan dengan tingkat muridnya, sehingga nantinya para murid bisa benar benar faham saat merujuk pada sumbernya dan dapat memahami kitab di atas level tersebut.
Gampangnya gini, dalam menyampaikan penjelasan di hadapan muridnya, Ia terkadang memilih pendapat 'a' dari syarh Damanhuri, pendapat 'b' dari syarh malawwi, komentar 'c' dari hasyiyah Bajuri, dan kritik 'd' dari hasyiyah Quwaisni, dan pendapat-pendapat lainnya yang didatangkan dari berbagai kitab pendukung matan sullam. Selanjutnya itu semua disusun serapih dan se-relevan mungkin layaknya orang yang sedang meracik sebuah makanan agar dapat disantap dengan lezat oleh para tolib; tidak keasinan, pahit, dan tidak juga hambar, apalagi tak ada rasa, harus pas! Dan Inilah sebuah manhaj.
Kitab
Selanjutnya, ketika merujuk pada sumbernya, ia berpesan untuk tidak sembarang membaca hasyiyah atau syarh, karena itu semua harus dengan guru yang mengarahkan. "Kalian sebaiknya baca syarh malawwi dan hasyiyah Sobban, daripada harus membaca hasyiyah Bajuri. Karena Imam Bajuri hanya mengutip apa apa yang ada di kedua buku tersebut dengan ibarah yang beda," ujarnya sambil memberikan contoh.
Hal ini pun sering juga diperingatkan oleh Syekh Fauzi Konate, salah seorang pengajar nahwu di al-Azhar. Setiap memulai pelajaran, ia pasti menyebutkan buku syarh beserta hasyiyahnya untuk dibaca oleh para tolib. Namun tidak semuanya dibaca, ia pasti memilihkan sesuai tingkatan yang pas, karena pada dasarnya syarh dan hasyiyah mempunyai tingkatan yang berbeda.
Dalam majlis Qotrunnada ia menganjurkan untuk membaca Hasyiyah Suja'i, karena itu pas untuk level mubtadi. Jika sudah faham, naik ke hasyiyah Yasin atau Mujibunnida milik Imam Fakihi. Di samping itu, ia juga menganjurkan membaca hasyiyah Alusi untuk menambah penjelasan. Tapi yang justru ditekankan adalah hasyiyah Syuja’i.
Karena dalam penjelasannya, Syekh Fauzi akan merangkai serta menyusun pendapat dari kitab kitab tersebut, sehingga menghasilkan penjelasan yang menyeluruh. Terkadang ada pendapat Ibnu Hisyam itu sendiri, di satu sisi ada tambahan Hasyiyah Suja'i, dan terkadang dikeluarkannya komentar yang ada di Hasyiyah Yasin.
Beginilah manhaj Ilmi. Mereka semua tidak asal menyebutkan kitab, melainkan sudah memilah milih kitab yang cocok dan pas. Tidak hanya kitab, tp juga pendapat dan penjelasan yang relevan dengan murid nya.
"Maka dalam menjelaskam ilmu sharaf, sepertinya yg kalian minta, saya harus memilih pendapat atau syarh yang relevan atau pas dengan syarh Damanhuri, misalnya, sehingga kalian dapat memahami nya dengan baik. Kalau hanya memilih buku lantas mengajarkannya, itu adalah hal yang mudah saja," ujarnya.
Diakhir pembicaraannya, Syekh Husam memberikan sebuah nasehat, yang menurut saya jika dicermati dengan baik akan bermanfaat bagi para pelajar yang sedang bergulat dengan kitab-kitab turats. Nasihat ini saya coba riwayatkan secara makna dan selanjutnya akan saya coba jelaskan secara singkat.
"Tidak semua buku harus kalian baca atau kalian miliki. Kalian hanya butuh membaca berbagai Hasyiyah dan syarh kitab tertentu, itu sudah cukup"
"Memahami Dalaail I'Jaz adalah tugasnya Taftazani, tugas kalian adalah memahami Muktashar Maani atau Mutowwal milik Taftazani"
"Jika sudah menelaah dan memahami dengan baik, ini semua akan mengalir seperti halnya air yang mengalir dengan mudah"
"kalian tidak akan percaya, tiba2 kalian sudah dapat memahami Kaafiyah, Tashil, al-Kitab memahami Syamsiyah, Tahdzib, atau kitab2 pamungkas level yang sudah tinggi"
“Ini semua tidak lain dan tidak bukan agar kalian semua dapat memahami apa yang disampaikan ulama (fahm al-Ibaarah)."
Dari berbagai nasehat yang saya riwayatkan secara makna di atas, saya akan simpulkan.
Sederhananya gini, sebenarnya Syekh Husam ingin kita semua memahami dengan baik satu disiplin ilmu dengan syarh dan hasyiyahhnya. Karena di dalam hasyiyah, para ulama telah memberikan penjelasan, yang mana penjelasan itu diambil dari kitab2 induk. Inilah mengapa ia mengatakan bahwa memahami Dalaail ijaz adalah tugas Taftzani. Itu berarti jika kita dapat memahami Kitab Taftazani, secara tidak langsung kita bisa sampai ke kitab Dalail ijaz.
Begitupun dengan kitab2 lainnya. Pahami Matan Abi Syuja untuk sampai ke al-Um, syarh Jurumiyyah dan Alfiyyah untuk sampai ke Kaafiyah dan lain sebagainya, sesuai dengan manhaj setiap guru.
Dan secara tidak langsung Syekh Husam menjelaskan bahwa tidak sopan dong kalo langsung ke Quran dan hadis, padahal ulama sudah memberikan penjelasan untuk dapat memahami keduanya.
Syekh Husam juga menganjurkan utk tidak membebankan diri kita untuk membaca buku2 yang sekira nya tidak berkaitan dalam pemahaman. Bukannya tidak baik, itu baik! Ia memberikan contoh untuk tidak mempersulit diri kita untuk membaca karangan Imam Arrazi, yang bermuatan dalil dalil akal. Namun ia lebih menganjurkan untuk membaca karya Imam Bajuri, Imam Shawi, Imam Shabban, yang penuh dengan muatan pembelajaran dan nantinya kita dapat memahami apa yg diinginkan oleh Arrazi.
"Cukup dengan buku segini, yakni hawasyi dan semacamnya, kalian bisa mewakili beribu ribu kitab yang ada di rak kalian"
Ia ibarat kunci untuk membuka semua pintu yang ada. Ia ibarat kail untuk mendapatkan berbagai ikan yang banyak. Inilah penting nya sebuah guru, kitab, dan manhaj. Dan jika kalian ikuti ini semua sesuai jalannya, maka itu semua akan mengalir dengan sepertinya. Inilah mengapa beliau mengatakan bahwa Suatu saat kita akan kaget bahwa sudah bisa baca kitab2 yg mungkin dlu untuk memegangnya saja kita belum berani. Wallahu A'lam
*Tulisan ini disari dari majlis Sullam Munawraq bersama Syekh Husam Ramadhan pada Rabu, 2 Mei 2018 di Daar Imam Ghazali

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...