Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Memuliakan Al-Qur'an, Bagaimana?






Pada hakikatnya memuliakan al-Qur’an itu bukan hanya sebatas dalam momentum nuzulul Qur'an, karena sejatinya al-Quran adalah kitab sucisyang harus dimuliakan setiap waktunya.

Ramai orang mengatakan, selain menghafal dan membacanya, kita memuliakan al-Qur’an dengan mentadabburi isi dan kandungannya; yang penuh muatan pesan kalam Ilahi yang dikemas dengan gaya bahasa dan ta'bir yang indah.

Allah pun mengingatkan dalam firman-Nya :
"Jika sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya" (QS. An-Nisa)

Lantas jika demikian adanya, bagaimana seharusnya kita mentadabburi isi dan kandungan dari al-Quran tersebut, sehingga kita dianggap telah memuliakannya?

Bagi sebagian orang,  untuk dapat memahami isi dan kandungan al-Quran, kita mestilah merujuk terjemahan ayat yang tertera pada al-Quran terjemah. Dalam hal ini sebenar saya terpaksa setuju, karena jujur dalam beberapa ayat yang susah dipahami, terkadang saya membaca terjemahan arti dari ayat tersebut, dan itu cukup membantu, walaupun tidak sepenuhnya.

Bahkan dalam menghafal alquran, jujur saya lebih terbantu saat melihat terjemahan dari suatu ayat dibandung harus menghafalnya dengan mengulang-ulang,  dan ini tidak bisa saya nafikan.

Namun ada hal penting yang harus diingat. Jika hanya sebatas dengan terjemahan, dimana letak mukjizat atau kefasihan alquran yang katanya orang orang arab dahulu tidak bisa mendatangkan sepertinya.

Dan jika hanya sebatas terjemahan,  bagaimana kita bisa merasakan keindahan uslub, gaya bahasa, padanan kalimat, pemilihan kata, yang mana dengannya bisa menundukkan orang sekaliber Umar bin Khattab, yang saat itu dinilai sangat keras dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Orang arab jahiliyyah pun yang notabennya ahli dalam sastra arab harus tunduk dan mengakui keindahan bahasa yang terdapat pada al-Quran.

Dan jika hanya dengan terjemahannya, untuk apa para ulama membuat berbagai disiplin ilmu sebagai bentuk khidmah pada al-Quran. Bahkan mereka harus berbeda pendapat dalam satu ayat, bahkan satu kata,  yang mana itu semua tidak mungkin  tertera dalam alquran terjemah.

Ternyata Kuncinya adalah pada bahasa arab. Karena persoalan terjemah lekat sekali hubungannya dengan pemahaman bahasa.
Maka dari itu, untuk lebih dapat mentadabburi serta merenungkan isi al-Quran, alangkah baiknya kita menelisik apa apa yang ada dalam pembahasan bahasa arab; baik dari gramatika, morfologi, fonologi, balaghoh, dsb. Karena sejatinya dengan bahasa arablah alquran diturunkan.

Perkataan ini bukanlah omong kosong, asma (asal mangap) ataupun asbun (asal bunyi). Hal Ini pun juga dinyatakan oleh Ibnu Hisyam, seorang ahli dan pakar dalam nahwu asal Mesir. Dalam masalah ini, Ibnu Hisyam mengatakan bahwa, asas pertama untuk memahami makna isi al-quran dan hadis nabi adalah Ilmu I'rab, yaitu ilmu nahwu. (lihat muqoddimah Mughni Labib an Kutub al-Aarib)

Perkataan ini ia buktikan dalam beberapa karyanya, salah satunya buku berjudul Syudzur Dzahab. Dalam buku tersebut Ibnu Hisyam mengatakan bahwa dalam setiap permasalahan nahwu yang akan dibahas di buku ini akan langsung ia datangkan contoh dan misalnya langsung ayat alquran.

Singkatnya adalah, Ibnu Hisyam ingin menjelaskan bagaimana kita benar benar dapat memahami kandungan isi alquran lewat kaidah nahwu, karena dengannya lah tersimpan berbagai makna dalam satu kata atau kalimat. Serta dengannyalah kita dapat mengetahui kedudukan setiap kata yang tersusun dalam kalimat, seperti tujuan I'rab itu sendiri.

Contoh kecilnya adalah penggunaan makna dalam huruf jar (preposition), yang mana al-Quran terjemah tidak bisa mengungkapkan itu lewat bahasannya. Kapan huruf waw (و)  menjadi isti'naf, hal, atau athaf, dsb. Kapan huruf ba (ب) menjadi istianah, sababiyyah, mushohabah, ziyadah dsb.

Sejatinya Ini semua  adalah sedikit yang diberikan oleh seorang Ibnu Hisyam sebagai ahli nahwu. Di sana ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dan pelajari agar dapat mentadabburi isi kalam ilahi. Balaghah misalnya,  yang dapat menunjukkan padanan kalimat. Atau  sharaf, agar dapat mengetahui makna yang terkandung dalam pembentukan kata.

Sekali lagi, ini semua bertujuan untuk memuliakan al-Quran sebagaimana adanya. Maka jangan berbangga terlebih dahulu jika dapat memahami suatu ayat dari terjemahannya, khususnya ayat ayat mutasyabihat, karena masih banyak makna yang terkandung yang kita belum mengetahuinya. Ini semua kembali lagi bagaimana kita ingin benar benar dapat mentadabburi sebuah kitab suci.

Bahkan sikap untuk kembali kepada alquran dan hadis pun harus kita pertanyakan. Jika bukan dengan ilmu ilmu yang tertera di atas, maka dengan apa kita dapat memahami alquran?  Dengan terjemahannya?

Maka dalam momentum nuzulul quran ini, marilah kita sama sama mempelajari berbagai ilmu agar benar benar dapat memahami isi dan kandungan alquran,  sehingga dengan itu kita dapat memuliakan al-Quran disamping membaca dan menghafalnya.
Jika belum sampai pada tahap memahami seluruh isinya setidaknya kita ada di jalan ini semua. Wallahu a'lam bisshawab.

Darrasah, Kairo
Sabtu, 18 Ramadhan 1439 H

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia