Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

53 Tahun Menjadi Ayah dan Guru



Oleh: Bana Fatahillah

Waktu masih SD, ketika ingin berangkat ke sekolah, saya melihat aba ada di salah satu stasiun tv lokal sedang duduk dan berbicara dengan segelintir orang. Karena masih sangat dini, saya tidak berfikir perihal topik pembicaraan, siapa panel bicaranya, dari kelompok apakah pembicara tersebut atau apapun itu, tapi yang saya pikirkan adalah "Bagaimana cara aba bisa masuk ke dalam layar tv yang sangat kecil ini sehingga dapat muncul di hadapan saya"

Hampir setiap hari saya melihat aba menggunting sebuah koran dan ditempelkannya di kertas hvs kosong lalu dibundelnya menjadi satu. Di meja belajarnya pun banyak sekali tumpukan map tebal berisikan klipingan koran yang bersejajar dengan komputer miliknya. Lagi-lagi, karena masih bocah, saya tak bertanya banyak hal, meski di satu waktu saya pernah ikut bantu menempelkannya, karena memang hal tersebut merupakan kegiatan yang digemari oleh anak-anak pada umurnya.

Rumah kita, yang menyatu dengan sekolahan, sering sekali dikunjungi banyak orang; terkadang terdengar suara tawa yang amat keras, terkadang juga terdengar perbincangan serius layaknya bos dan anak buahnya yang sedang membicarakan rahasia perusahaannya. Dan jika ditanya, jawaban umi saat itu hanya satu, yakni mereka itu "tamu aba" atau "temen aba". Saya bahkan dulu pernah bertanya-tanya, tamu ataupun teman aba ini sebenarnya punya rumah ga sih, kok lama banget di sininya.

Saat masih kecil saya tahu aba itu sering ngetik di komputer, jadi saya sering sekali menemukan buku yang covernya ada tulisan nama aba. Salah satu bukunya adalah "Gus Dur Kau Mau Ke Mana?", karena memang buku ini ditaruh di rak dekat kamar saya dan selalu saya lewati, jadi masih ingat sampai sekarang. Selain buku itu ada juga buku kecil bertuliskan "Habibi, Soeharto dan Islam". Mungkin hanya dua buku itu yang saya tau ketika masih kecil.

Setelah satu tahun meninggalkan kami dengan alasan melanjutkan kuliahnya, akhirnya kami pun ikut aba ke Malaysia pada tahun 2002, tepatnya saat saya masih kelas dua SD, untuk ikut menetap di sana dalam waktu yang cukup lama.

Di negri Jiran tersebut, saya bertemu teman-teman aba yang akrab dengan panggilan om Hamid, om Adnin, om Arifin, om Henri, dll nya. Tapi lagi-lagi karena masih duduk di bangku kelas 2 sd, saya tidak pernah menyadari bisa dekat dengan mereka semua, yang saat ini mungkin dirujuk oleh banyak aktivis dan Mahasiswa lokal ataupun internasional. Waktu itu saya cuma bisa berinteraksi dengan anak-anak mereka untuk main benteng, main kartu, baca komik, dll. Terkadang bahkan saya tidak suka dengan mereka semua, sebab jika kumpul bersama aba banyak dari mereka yang merokok yang asapny membuat saya terbatuk-batuk. Ah dasar anak kecil!

Di Malaysia, aba pun masih dengan kebiasaan lamanya, yakni bermesraan dengan komputer miliknya. Terkadang saya diusir dari kursi komputer saat lagi asik-asiknya main 'pinball', salah satu permainan yang seru bagi kami anak-anak 90-an yang sudah berinteraksi dengan komputer pada masa itu. Pagi, siang ataupun malem aba pasti melakukan hal yang sama. Jika penat dengan komputernya, terkadang aba mulai tengkurep sambil menyoret kitab yang dibacanya dengan pulpen ataupun pensil. Begitulah kesehariannya di Malaysia.

Saat itu yang saya tau aba kuliah di sebuah universitas bernama ISTAC, dengan guru besarnya yang bernama Prof. Al-Attas. Tapi sekali dua kali nama Prof. Wan pernah terdengar di telinga ini. Namun lagi lagi saat itu diri ini tak pernah tau perihal bangunan tersebut ataupun sosok tersebut, yang mana itu semua adalah hal yang akan menjadi sejarah bagi umat Islam nantinya, khususnya bagi budaya melayu.

Saat masuk pondok, saya masih belum memahami banyak kehidupan yang aba jalani. Banyak orang membicarakannya dalam berbagai topik pembicaraan, namun tidak sekali saya harus berusaha memahami pembahasan mereka dan ikut nimbrung serta menanggapi omongannya agar terkesan nyambung dengan pembahasan yang terkait dengan aba.

Saya pun coba menelisik pembahasan mereka dengan membaca kitab-kitab milik aba dengan berbagai judulnya, seperti "Penyesatan Opini", "Tinjauan Historis Yahudi, Kristen, dan Islam", "Wajah Peradaban Barat" serta novel andalan miliknya yang berjudul KEMI. Tapi itu semua belum menjadi titik yang dapat memahamkan saya akan banyak hal, karena di pondok saya jarang sekali berkenalan dengan materi-materi seperti itu, di samping aba hanya memberikan pengantar akan hal tersebut.

Puncaknya adalah setelah saya lulus dari pondok. Setelah banyak menimba ilmu di berbagai tempat, saya baru paham jalan yang selama ini ditempuh aba, meski belum sepenuhnya. Pada Desember 2015 kemarin, aba menggelar acara HARLAH 50 TAHUN di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Di sana aba me-launching 5 kitab terbarunya, sekaligus memberikan nasehat pada orang-orang yang hadir. Entah mengapa di hari itu saya mengeluarkan air mata karena harus berbicara tentang aba di depan banyak orang. Sepertinya saat itu saya baru memahami akan banyak hal tentang aba.

                                        * * *

Tak disangka ternyata di tahun ini pemuda kelahiran 17 Desember 1965 tersebut sudah menginjak umur yang ke-53. Saya yang semakin tumbuh dewasa pun mulai mengerti apa yang pernah aba lakukan atau sampaikan kepada saya.

Kini saya paham kenapa dulu aba selalu menyimpan klipingan koran, apa saja yang dilakukan aba dengan komputernya, kenapa tamu-tamu tersebut datang dan berdialog bersama aba. Seakan saya merasakan itu semua di hari ini. Bahkan terkadang saat ini saya, yang dengan penuh kesombongan dan pongahnya, sesekali pernah mengkritik sikap dan kebijakan yang pernah diambil aba. Memang dasar anak tak tau diri!

Tapi itu semua tidaklah mengurangi hormat saya pada aba. Aba merupakan seorang guru yang telah mengajarkan banyak hal pada saya dengan metode yang amat apik. Terkadang dengan nasehat, terkadang dengan perbuatannya yang tak sadar penuh dengan pembelajaran, atau bahkan dengan langsung mengajar layaknya guru di sekolah.

Ia adalah guru nahwu saya yang pertama sebelum siapapun. Tiap pagi kami diberikan kosakata bahasa arab beserta artinya sekaligus dikenakan apa itu Isim, Fiil, dan harf. Aba adalah guru sejarah terbaik yang pernah saya temukan. Setiap perjalanan mudik ke kampung, aba pasti bercerita tentang peristiwa sejarah penting, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Indonesia.

Dalam hal ini ia menjadi guru layaknya guru di sekolah pada umumnya. Di sisi lain, ia sering memberikan nasehat  yang muatannya berisikan  rahasia yang baru terbongkar di kemudian hari

Dulu saya pernah disuruh membantu membersihkan dan menyusun buku-buku di perpustakaan aba. Saat itu ia mengatakan, "ban suatu saat nanti kamu yang akan baca semua buku ini,"  ujar aba sambil menunjuk ke arah salah satu rak buku. Dari dulu, aba tidak pernah perhitungan kalau masalah membeli buku. Bahkan di Malaysia, ia rela mengeluarkan ratusan ribu demi membeli kitab, meski kita tahu pada saat itu ekonomi kita tidaklah baik. Inilah mengapa di rumah banyak sekali kitab-kitab klasik yang banyak orang sudah tidak memilikinya. Akhirnya saat ini saya paham apa maksud dari ini semua.

Sampai sekarang saya masih sering diajak aba ke masjid atau ke kampus tempat ia mengajar dan mengisi materi pengajian. Di sana saya belajar langsung bagaimana teknisi praktek ilmu khitabah (baca: khutbah), dari bagaimana menyampaikan materi, menyesuaikan materi yang disampaikan, dan lain sebagainya.

Selain ke sana, aba juga sering mengajak saya bersilaturrahim kepada guru-guru dan seniornya. Ia pernah mengatakan, "duduknya kamu dengan bertatap muka dengan guru-guru kamu satu jam, itu dapat melebihi perkuliahanmu dua semester."
Dan Nasehat ini pun masih saya amalkan hingga saat ini.

Aba tidak pernah perhitungan dalam memberi. Aba juga tidak pernah bingung soal uang ataupun harta. Bahkan ia pernah bercerita, bahwa sebelum menikah dulu, ia tidak ada tabungan atau simpanan uang sedikit pun. Aba selalu percaya dengan rizki yang diatur oleh Allah terhadapnya. Katanya, jangan pernah bingung soal rizki, insyaallah Allah sudah mengatur itu smua.

Belum lama ini saya ditanya. "ban kamu di kairo ga ada rencana nyari uang" saya jawab, "seandainya kerjaan bana di media-media di mesir diupah, kayanya bana ga usah minta uang lagi sama aba". Ia pun membalas, "yaudah kamu fokus belajar aja. Kalo emang itu semua ga di bayar di dunia, insyaallah dibayar di akhirat kelak," ujarnya.

Satu yang selalu ditekankan aba sampai saat ini," adab". Dulu Saya pernah dilempar pake makanan karena mengambil makanan yang jauh dari saya. Dulu kabel  tv kami pernah digunting karena ulah saya yang kurang berkenan di hatinya. Bahkan sampai saat ini saya masih terus tersindir karena kurangnya kepekaan saya terhadap lingkungan sekitar, seperti mematikan lampu, buang sampah, merapihkan baju, dll. Umi pun sampai menggerutu, "kalau ngurusin diri sendiri saja belum bisa, bagaimana mau ngurusin orang lain"

53 tahun sudah aba menjadi sosok ayah sekaligus guru bagi saya. Apa yang saya lihat di umur 8 tahun, kini menjadi pembelajaran berharga bagi saya diumur 21 tahun ini. Ternyata benar, belajar tak mesti duduk di bangku sekolah. Terlalu banyak nasehat dan pembelajaran yang aba sampaikan pada saya, dan keluarga saya.

Semoga di umur 53 ini aba senantiasa diberikan kesehatan dan senantiasa memberikan manfaat bagi orang banyak. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan di sisa umurnya yang ada. Dan semoga Allah dapat memanjangkan umurnya sampai ia dapat melihat anaknya yang malas ini sukses di kemudian hari dan dapat membanggakannya. Amiin amin ya rabbal Alamin.

Selamat Ulang Tahun yang ke-53
Dari Anakmu,
Bana Fatahillah

(Kairo, 17 Desember 2018)




Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia