Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Sekadar Ucapan Kecil Untuk mba Gita dan mas Hawariyyun



Oleh: Bana Fatahillah
(Pelajar di Al-Azhar Kairo)

Teruntuk mba Gita dan Mas Hawariyyun (saya ga tau nama aslinya) yang saya hormati.

Saya ini bukan siapa-siapa dibandingkan kalian berdua, yang hampir setiap gerak gerik nya diikuti oleh para follower dan fans nya, sebab kalian berdua telah dicap sebagai publik figur dimata masyarakat yang senantiasa memberikan pengaruh bagi orang banyak. Disini saya tidak akan condong kepada siapapun, melainkan saya akan coba sedikit mengupas gagasan mba dan mas nya, kemudian mencoba mencari titik dimana kita akan bertemu, sehingga tidak ada yang perlu diperdebatkan antara kalian berdua beserta pengikut kalian.

                                         * * *
Mungkin pertama saya akan mulai dari mba gita dulu, sebab jika dilihat sekilas, mba ini yang mulai ngipas apinya terlebih dahulu meski tidak adanya unsur kesengajaan.  Saya tau maksud mba itu baik, Ingin coba mendamaikan para penganut agama agar tidak saling cekcok satu sama lain. Akhirnya statemen 'setiap agama itu baik'  pun keluar dari mulut mba beserta suami.

Perlu diketahui, gagasan mba ini bukan hal baru di kalangan para aktivis Islam, khususnya yang bergulat dengan Sepilis dan pemikiran Islam di awal abad ke-21. Ini bukannya berarti saya nuduh mba liberal, seperti yang mba bilang di media sosial, tapi gagasan ini sudah ada yang mendahului sebelum mba.  Di zaman Orba, Cak Nur sudah melontarkan gagasan tersebut dengan tujuan agar para penganut agama bisa melihat agama lainnya dengan amat terbuka, luwes, dan tidak saling menyalahkan, hingga kita pun mengenal sebuah jargon yang berbunyi "teologi inklusif cak Nur" padahal sebenarnya itu bukan inklusif, tapi pluralis.

Gagasan tersebut diucapkan dan disebarkan dengan tujuan tidak adanya klaim kebenaran bagi penganut agama, hingga mengatakan 'agama saya lah yang paling benar' atau yang  terkenal dengan istilah "truth claim". Akhirnya para penganut agama digiring untuk mengompromi ajaran agama lain, agar tidak merasa benar sendiri dengan agamanya.

Dan dalam ranah keimanan, hal ini tidak bisa kita terima, sebab sebagai pengantut agama, Islam khususnya, kita harus bersaksi dan mengakui bahwa Agama Islam lah satu satunya yang paling benar, sebab di al-Quran Allah pun tegas dalam hal ini. Kata kata ini bukan saya comot dari pendapat Hawariyyun, tapi inilah hakikat sejatinya.

Nah, adapun perkataan 'setiap agama itu baik' itu sudah tentu, pasti, dan benar, karena tidak ada agama di dunia ini yang datang dengan gaduh, kacau, atau mengundang pertumpahn darah, seperti yang mba bilang di video mba. Jadi hal itu tidak sepatutnya diucapkan, karena memang tidak ada faedahnya, dan yang ada malah akan memicu konflik, seperti yang mba alami sekarang.

Bukan kalimat itu sebenarnya yang saya garis bawahi, tapi penggiringan opini yang timbul dari kalimat itulah yang sedikit disorot sehingga sebagian orang menganggap itu hal yang benar, seraya berkata "Oh benar juga ya, kita seharusnya jangan sok benar sendiri".

Jadi intinya, kata kata 'semua agama itu baik' itu benar, dan juga kata kata 'semua agama itu benar menurut penganutnya'  itu juga benar. Tapi ini tidak usah dijadikan konsumsi publik, sebab yang akan terjadi adalah opini yang mengatakan jangan ada klaim 'paling benar' di antara penganut agama. Kalimat ini nantinya justru akan menggoyahkan keimanan kita, dengan anggapan bahwa bukan hanya Islam yang paling benar. Dan saya kira mungkin ini bisa dipahami.

Selanjutnya, kalau mba bilang untuk apa membongkar-bongkar isi agama lain untuk mengetahui kebenaran agama Islam, itu statemen yang agak kurang bisa diterima. Abad ke 5 hijriyyah, Imam Syahrastani, seorang ulama dari Iran telah menulis kitab berjudul 'Milal Wa Nihal'  yang membahas berbagai ideologi agama dan membeberkan semua kepercayaannya serta melakukan komparasi antara satu dan lain. Kalau perkataan mba itu benar, lantas untuk apa para pakar dan aktivis islam mempelajari Ilmu perbandingan agama (muqoranah adyan), kristologi. Untuk apa para aktivis Islam melakukan riset ke sana sini untuk meneliti ideologi teologi yahudi, dll. Bahkan sejak di Aliyah dulu pelajaran ini sudah saya konsumsi, dengan artian ini memang pembahasan bagi para pemerhati dalam bidang ini. Kalo memang itu untuk diri mba sendiri, silahkan, tapi kembali lagi, jangan dijadikan konsumsi publik.

Ketahuilah, tujuan mempelajari hal tersebut bukan hanya untuk memperteguh keimanan kita, atau untuk membuktikan agama kita itu yang paling benar, tidak. Di antara tujuan mempelajari hal tersebut adalah sebagai Khazanah keilmuan antar-agama yang telah disebutkan dalam al-Quran, sepertihalnya yahudi dan nasrani.

Dan juga jika suami Mba tidak suka dengan pembahasan antara dua agama yang saling menjelekkan, saya kira memang tidak ada yang modelnya seperti ini. Jika pun ada itu berarti oknum, karena permaslahan akidah itu bukan sembarang pembahasan yang bisa diumbar di mana mana,  apalagi kepada orang di luar agama kita. Sejauh apapun kita berdebat dengan orang di luar agama kita, kita tidak akan bertemu dititik apapun dalam akidah, ini sudah saya rasakan saat duduk di salah satu bangku kuliah di Indo. Sebab hidayah itu hak preogratif Allah, kita tidak bisa memaksakannya.

Mungkin kita bisa bertemu, namun di luar hal hal pembahasan akidah. Lagu favorit, misalnya, atau klub bola yang sama. Namun itu mungkin hanya sekilas penglihatan saja. Karena jika ingin ditelisik lagi, kita akan berbeda dalam cara pandang terhadap sesuatu, atau yang biasa disebut Islamic Worldview, yaitu cara pandang seorang muslim  terhadap apapun.

Saya senang lihat video-video menarik mba Gita di German. Sosok mba yang berjilbab itu menjadi inspirasi banyak muslimah untuk turut bisa belajar di luar negri dengan tetap membawa jati diri seorang muslimah. Mba pun memberi pelajaran berharga pada mereka, yakni meski belajar di Eropa, jati diri muslimah tetap mba pegang dengan jilbab yang mba pakai. Salah satu teman saya di kairo senang sekali dengan mba. Sampai sampai ia putar ulang video2 mba yang ada di youtube.

Tapi pendek saya, untuk masalah ini sebaiknya tidak usah dibicarakan, karena hanya akan menuai konflik. Saya tau niat mba baik. Saya tau mba Ingin para penganut agama bisa bersifat lunak, lentur, dan tidak keras terhadap agama lainnya. Saya tau mba kecewa dengan praktek sikap keagamaan yang ada, khususnya setelah maraknya istilah "hijrah". Tapi begitulah manusia, kita tidak ada yang sama, kita berbeda-beda. Saya lebih setuju jika topik pembicaraan mba itu dijadikan pembahasan kelompok belajar atau grup diskusi ilmiah, bukan menjadi konsumsi publik seperti yang mba buat. Saya suka pembahasan hijrah yang mba sampaikan, dan saya pun kerap memikirkan hal itu. Tapi sepertinya di titik ini mba sudah offside. Maaf ya mba.

Saran saya kepada mba dan suaminya, teruslah belajar banyak hal dalam khazanah Islam. Untuk suami Mba, Setelah menjadi muslim, anda tidak ada tuntutan untuk membeberkan kesalahan agama lama anda, justru makin kuatkan lagi ajaran Islam dengan terus belajar berbagai syariat Islam yang penuh dengan keindahan. Kira kira itu yang bisa saya sampaikan.

Selanjutnya Untuk mas Hawariyyun. Semoga kita bisa bertemu dan saling berkenalan satu sama lain, karena jujur saya ingin bertemu dengan mas nya dan berdialog banyak hal seputar topik hangat yang sedang terjadi.

Langsung saja, Pertama, sebagai aktivis dakwah (mungkin itu sebutan yang sering diucapkan orang bagi sosok seperti mas) kita itu harus bersifat lemah lembut kepada objek dakwah. Kalo diliat liat, orang yang mas counter ini juga figur dakwah kaula muda lo, bukan lawan debat yang harus mas jatuhkan semua Gagasannya.

Pasti mas pernah dengar kisah al-Ma'mun, salah seorang khalifah Bani Abbasiyyah, yang kala itu dinasehati oleh penasehat dengan cara yang tidak baik. Al-Ma'mun pun mengabaikannya, lantas berkata: "Wahai pemuda, ketahuilah bahwa Allah pernah mengirim orang yang lebih baik dari dirimu untuk menasihati orang yang lebih buruk dari diriku, tapi apa, justru Allah memerintahkannya untuk berkata yang lembut dan tidak menyakiti. Orang itu adalah Nabi Musa dan Harun terhadap Firaun.

bukan berarti mas itu tidak berlemah lembut. Ini Mungkin karna masih banyak orang yang menganggap cara seperti itu kurang pas,  sehingga mas dinilai seperti itu. Jikalau pun pas, mungkin retorika serta intonasi mas agak kurang diterima. Dan ingat, Mas itu jangan sok ga peduli sama kritik orang lain lo, sebab mas itu diikuti dan ditiru orang banyak. Pertanyaannya, kenapa mas ga datang ke orangnya atau via pribadi, hingga tidak menggiring follower mas untuk turut menghujat mba Gita.

Selanjutnya, mas itu harus hati hati juga dengan perkataan mas. Di video berdurasi satu menit itu saya mendengar statemen yang amat menantang. Mas bilang kalo bisa datangkan kesalahan dalam al-Quran mas akan pindah ke agama lain. Saya kira kita harus hati hati juga. Saya bisa saja datangkan berbagai permasalahan yang bisa goyahkan mas dari keotentikan al-Quran, dari gramatika bahasa arab misalnya atau berkaitan dengan turunnya al-Quran itu sendiri. Dan kalau mas ga bisa jawab, saya sih ga ada maslah. Masalahnya kalau yang nanya ini orang yang sudah bergulat dengan permainan orientalis dan mas skakmat di tangan mereka, mas yakin mau keluar dari Islam sebagaimana janji mas, atau mau nelen ludah sendiri?

Ya, mungkin mas akan bilang 'yang benar harus dikatakan benar, yang salah ya salah' tapi di bagian mana mba Gita itu salah. Kalaupun salah, mungkin ada cara lain untuk mengkritik dia, misalnya dengan membuat tulisan atau surat terbuka atau semacamnya sehingga bisa terlihat jiwa akademisinya, tidak sekedar teriak teriak di media sosial. Ini metode yang sering sekali dipakai oleh ulama ulama kita. Dan saya yakin media dakwah itu tidak sebatas video saja kok, ada yang lain juga. Bahkan kalau mas mau, permaslahan mba gita itu bisa mas jadikan satu judul buku sendiri. Itupun jika mas mau terus meneliti dan belajar permaslahan terkait gagasan milik mba gita.

Kalau mas tidak terima dengan pembahasan hijrah milik mba Gita, mungkin mas bisa buat video panjang atau tulisan bertemakan hijrah; bagaimana konsep hijrah yang benar, apa tujuan dari berhijrah, dll nya sehingga ini semua terlihat akademisinya sebagai kaum terpelajar.

Jujur, kalau bukan karena mas dan kehendak Allah, saya pun tidak tau adanya pembahasan seperti ini dan menimbulkan banyak pendapat. Di mana perkataan mba Gita yang mengindikasikan adanya penghinaan terhadap agama lain. Coba mas pahami lagi apa maunya mba Gita, mungkin dengan hati yang lebih lapang, mas akan bisa lebih menerima. Atau mungkin emosi mas pada saat melihat video itu tidak stabil, jadi berkumpulah peluru peluru itu untuk membidik  gagasan mba Gita.

Jika dilihat lihat, video mas sebelum sebelumnya itu sangat bagus, bahkan teman teman saya yang kuliah di Indonesia senang sekali dengan semangat mas dalam medan dakwah. Tapi untuk yang kali ini, mas dihujani berbagai kritik. Ini bukan karena mba Gita itu banyak fans nya sehingga mas lebih dihujani kritikan, tapi karena memang dalam video ini para penonton kurang bisa menikmati indahnya Islam dengan kritikan yang mas buat. Kira kira itu yang bisa saya sampaikan.

Saya itu suka sekali dengan video-video mas di medsos. Sebab tidak banyak lo yang berani blak-blakan kaya mas. Saya acungi jempol, sebab mas bisa menyihir banyak pemuda untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik. Tapi dalam hal ini, sepertinya mas agak melampaui batas, sehingga saya pun agak kurang suka. Jadi maaf ya mas.

                                        * * *

Mas, mba, kalimat kalimat ini saya tulis dengan maksud biar sama sama terbuka. Saya tidak ada rasa benci kepada kalian berdua. Saya mohon maaf kalo terlihat seperti menggurui, atau sok bijak, tapi inilah realita yang kita hidupi yaitu penuh dengan masukan dari berbagai pihak.

Mas, mba,
Suatu hari saya ingin bisa berdialog dengan kalian berdua di negri ini. Di sini ada sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan banyak rahasia ajaran Islam. Di sini kalian berdua akan diajari betapa indahnya ajaran Islam, tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain. Di sini kalian akan menemukan sosok yang amat lemah lembut. Disini juga kalian akan tau apa makna dan maksud dari toleransi terhadap satu sama lain itu.

Dan dari pemaparan singkat di atas, saya kira kalian berdua sudah tau di titik mana kalian akan bertemu. Kalian itu pegiat dakwah kaum muda yang menjadi sorotan umat muda muslim di Indonesia. Kalau sosoknya saja sudah cekcok seperti ini, gimana dengan pengikutnya. Kasian senior senior kalian dari kalangan aktivis dakwah yang senantiasa mengokohkan kebersamaan dan persatuan umat Islam. Kalian seakan merusak bangunan yang mereka coba buat sebelum kalian hadir di medan tempur ini. Cobalah saling melengkapi satu sama lain. Yang satu tidak usah memancing, yang satu lagi juga tidak usah berlebihan.

Diakhir saya katakan, Jika suatu hari tulisan ini sampai di tangan kalian, saya dengan senang hati menunggu jawaban serta kritikan kalian. Sebagai orang yang biasa biasa saja, tentu akan senang sekali bisa digubris oleh kalian berdua yang dalam tanda kutip mempunyai pengaruh di kalangan masyarakat Indonesia.
Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, kalau ada yang kurang berkenan di hati, saya minta maaf yang sebesar besarnya. Semoga bisa diterima dan dimaafkan.
Terima kasih

Saudaramu,
Bana Fatahillah
Di tulis pada musim dingin di Kairo, 29 Desember 2018

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia