Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Sepiring Pengalaman Rektor UNIDA saat Belajar di Kairo
Bisnis
September 18, 2019
Oleh: Bana Fatahillah
(Mahasiswa UNIDA Gontor tahun Ajaran 2014-2015)
Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M. A, atau yang akrab disapa dengan pak Amal, merupakan Rektor Universitas Darussalam yang telah menyeselesaikan Magisternya di Darul Ulum Cairo University Mesir pada tahun 1987. Sebelum mendapatkan gelar MA di kairo, Pak Amal telah menyelesaikan S1 nya di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) pada 1973 dan IAIN Sunan Ampel Surabaya 1978.
Adapun gelar Ph.D nya ia raih di Universiti Malaya pada tahun 2006.
Pada selasa (17/9) kemarin, Guru Besar Akidah Filsafat tersebut menjumpai kami, para warga IKPM kairo, untuk sekadar bersilaturrahim dan berbincang santai. Dalam kunjungan kali ini beliau juga Ditemani Dr. Abdullah Hafidz Zaid yang menjabat sebagai Wakil rektor III UNIDA.
Sebagai pembuka, Pak Amal mengingatkan kita agar jangan sampai terjebak pada spesialisasi atau takhossus. Kalian, lanjut beliau, boleh mempunyai satu bidang yang ditekuni di sini. Tapi itu tidak menutup Kalian untuk mengetahui banyak hal di luar bidang Kalian. Apalagi wacana-wacana yang sedang hangat di masyarakat. Itu jangan sampai alpa dari Kalian.
Hal ini beliau sampaikan karena Pengalaman yang Ia rasakan sendiri. Sebagai contoh saja, dalam undangannya ke Kairo kali ini, beliau terbang ke Mesir untuk memenuhi undangan Kementrian Wakaf Pemerintah Mesir mengenai Konferensi ke-30 Dewan Tertinggi Urusan Agama. Konferensi tersebut mengangakat tema besar, "Fiqih Pembangunan Negara, Visi Yurisprudensi Modern"
"Kalau difikir-fikir, ini gak ada nyambunynya sama sekali dengan spesialisasi yang Saya geluti, yakni Akidah Falsafah ataupun ilmu Kalam," tutur putra Trimurti Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.
Tapi seperti itulah seharusnya jebolan Timur Tengah ataupun seorang akademisi. Minimal, kata beliau, wacana-wacana kontemporer seperti ekonomi, metodologi studi Islam, riset, tantangan pemikiran, itu jangan sampai Kalian tidak tau. Beliau juga bercerita bahwa dulu ada alumni gontor yang lulus dari Mesir dengan menguasai bidang Fikih. Tapi tatkala pulang, Ia justru disuruh membuat kurikulum bahasa arab untuk sebuah sekolah. Sebagai jebolan al-Azhar, ini adalah taruhan yang harus diladeni. Bukannya mundur dengan alasan: ini bukan bidang Saya.
Hal seperti ini diterapkan olehnya di UNIDA. Katanya, di Kampus yang ia bina tersebut, jurusan apapun yang dipilih oleh mahasiswanya, mereka harus bisa membuat khutbah Jum'at; bisa khutbah di depan orang banyak; bisa mandiri dsb. Dalam konteks ini, singkat Saya Pak Amal ingin para alumni Universitas Timur Tengah, apalagi al-Azhar, bisa mmenguasai ilmu yang bernama "ilmu masyarakat". Yang dengannya ia tidak hanya terjebak dengan spesialisasinya semata. Kalau anak UNIDA saja bisa, apalagi Kalian! sahut Pak Amal.
Tapi ini bukan berarti kita tidak mempunyai spesialisasi dalam suatu bidang. Sebab jika melihat jejak studi Profesor UNIDA yang satu ini, beliau memang sudah menekuni hidangan Akidah Filsafat sedari duduk di bangku S1. Sejumlah karya dan artikel yang dimuat di Jurnal pun semakin menunjukkan taringnya dalam bidang ini, termasuk Ilmu Kalam. Itu berarti, Kalau meminjam istilah Kyai Hasan, "punya spesialisasi itu penting. Tapi jangan yang penting punya spesialisasi" . Kira kira begitu.
Selanjutnya Pak Amal bercerita sedikit tentang pengalamannya sewaktu di Kairo. Katanya, beliau pernah tidak lulus satu tingkat ketika menjalani program Magister. Tapi itu hal yang biasa, ujar beliau. Sebab dulu, jika keluar pengumuman kelulusan, kategori yang ada di program magister (seringnya) hanya satu saja, yakni "tidak lulus". Justru yang wah itu Kalau ada yang lulus, bukan yang gak lulus. Karena gak lulus itu hal biasa waktu itu.
Beliau pun ditelpon oleh Ayahnya, yakni Pak Zar, Salah satu Trimurti Gontor. Mendengar kabar itu, pak Zar menyemangati anaknya dengan perkataan yang amat populer milik Thoriq bin Ziyad, "In Shabartum Alal Asyaqqi Qoliilan Fastamta'tum bil Arfahi Aladzzi Thawiilan" (Jika kau Hendak bersabar sejenak, niscaya kau akan menikmati kenikmatan yang tiada batasnya)
Saya ingat betul dengan pesan ayah waktu itu, ujar Pak Amal. Namun ironinya, kata Pak Zar, kalau saya tidak lulus lagi, Saya disuruh pulang kembali ke Indonesia dan disuruh menikah. Maka tidak ada jalan lain selain lulus dan kembali ke Indonesia dengan prestasi ini, kata Pak Amal. Disinilah beliau mengerahkan semua kemampuannya agar tidak jatuh ke lubang yang sama untuk keduakalinya.
Jargon Thariq bin Ziyad itu pun Ia jadikan motivasi terkuatnya.
Bagaimana mahasiswa saat itu tidak lulus, materi yang diberikan bukan hanya bersumber dari satu buku saja. Tapi dari berbagai kitab. Tidak cukup menelaah satu kitab saja. Harus bertumpuk-tumpuk kitab Ia telaah. Karena nya lah pak Amal membuat trik melalui "talkhisan" Agar dapat memudahkan menghafal pelajarannya. Sumber yang Ia kumpulkan pun segera dirangkumya dan dihafal dengan baik. Nantinya, ketika masa ujian datang, Ia pun tak perlu lagi melirik ke berbagai sumber itu. Namun cukup dengan talkhisan yang dibuatnya saja.
"Di ruangan ujian, tangan Saya udah Kaya Mau copot... Bagaimana tidak, kita mengerjakan satu mata pelajaran dengan durasi 3 jam tanpa henti. Dan alhamdulillah nya apa yang Saya rangkum itu sudah membekas di otak saya sehingga memudahkan saya untuk menjawab apa yang ada dalam soal" Ujar pak Amal.
Bahkan lucunya, kata Pak Amal, ada kawannya yang dari awal tidak pernah masuk perkuliahan karena sibuk dengan hal lain. Ia pun membaca rangkuman yang Pak Amal buat. Dan kalian tau? Ia ternyata lulus di mata kuliah tersebut, dan mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Pak Amal. Ini sungguh mengejutkan, kata Pak Amal. Dan saat beliau bercerita di bagian ini, hati Ssya berkata: ternyata fenomena semacam ini sudah ada sejak dulu ya! Hehe
Walhasil, beliau pun lulus program Magister setelah menyelsaikan Tesis nya. Ia senang karena Keluarganya amat bangga dengannya. Ia pun kembali ke Gontor sebagai Magister lulusan Darul Ulum Kairo. Betapa bangganya ayah saya pada waktu itu, sahut Pak Amal. Bagaimana tidak, sebab, katanya, Ia telah lulus dari kampus yang pernah juga meluluskan tokoh bernama Mahmud Yunus. Dan inilah mengapa pak Zar mengirimnya Darul Ulum bukan ke al-Azhar.
Di akhir pak Amal berpesan untuk selalu meningkatkan skill dalam berbahasa dan menulis. Tatkala mengadakan acara seminar, adakanlah dengan bahasa Arab atau inggris, ujar beliau. Sebab bahasa yang kalian dapat di perkuliahan dengan apa yang kalian asup di seminar sangatlah beda. Para Dosen pun kadang berbeda dalam memakai diksi dan bahasa dalam berbagai moment. Itulah mengapa penting bagi kalian mengasah bahasa Arab tersebut.
Di masyarakat nanti jangan hanya mengajar saja. Menulislah. Adakan riset. Cari hal baru. Bawa pemikiran dan temuan baru dari Azhar. Jangan hanya diam saja. Sebab, kata beliau, kalau kalian hanya diam saja, kalian ibarat mabniyyun alassukun (terpaku dalam keadaan diam). Terlebih jika kalian ingin masuk dunia perkampusan. Kalian, minimal, sudah menyiapkan artikel untuk dimuat di jurnal sebagai bekal kalian. Dan inilah yang beliau alami sejak dulu hingga dapat menduduki bangku rektor Dan menjadi guru Besar di UNIDA.
Darrasah, Kairo
Selasa, 18 September 2019

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...