Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Harlah 5 Tahun Rumah Tahfidz Mesir
Bisnis
Februari 15, 2020
Bagi sebuah organisasi atau instansi 5 tahun masih sangatlah dini. Ibarat seorang anak, ia masih tergolong balita yang belum mampu berpikir secara paripurna. Meski ia sudah mampu membedakan setiap sesuatunya dan mengenal orang sekitarnya.
Kini Rumah Tahfidz Mesir (RTM) memasuki umurnya yang ke lima sejak 8 November 2014. Namun harlah milad kali ini diundur dari waktu biasanya yakni 10 November menjadi ke 13 Februari atau setelah termin 1 karena beberapa hal. Kendati demikian momentum jni tetaplah 'terasa' meski diselenggarakan dilain waktu.
Dalam milad kali ini saya mengingatkan bahwa maju atau suksesnya sebuah lembaga atau instansi, seperti RTM ini, bukan dilihat dari aspek materil, seperti megahnya bangunan, lengkapnya inventarisasi, atau yang lainnya. Akan tetapi sejauh mana lembaga tersebut mencapai visi, misi, serta cita-cita para pendirinya.
Aspek inilah yang terkadang alpa dari banyak lembaga atau instansi. Padahal justru aspek inilah yang menjadi kunci utama kenapa lembaga itu didirikan.
Karenanya, untuk mengukur maju dan suksesnya RTM ini, kita harusnya bertanya bagaimana RTM 5 tahun ini. Apalagi dalam momentum milad, yang mana tidak seharusnya kita bereuforia terlalu berlebihan dalam milad kali ini, namun lebih banyak ke muhasabah. Coba kita tanyakan: 5 tahun ini sudah apa? Sebagai sebuah instansi RTM ini sudah sejauh mana? Apakah sudah selaras dengan cita-cita didirikannya.
Itu sejumlah pertanyaan untuk lembaganya, atau RTM nya. Sementara untuk warga di dalamnya, kita seharusnya juga bertanya: sudah sejauh mana kita dari cita-cita RTM? Sudahkah kita menjadi seperti apa yang diinginkan para pendiri dan pembimbing di dalamnya? Atau justru kita sudah jauh melenceng dari itu semua? Mari kita jawab pertanyaan ini dalam diri masing-masing!
Perkataan saya di atas dikuatkan oleh guru kami, al-Ustadz Azwar Anas selaku pembimbing RTM. Benar kata Bana! Begitu ujarnya. Ia mengibaratkan, 5 tahun ini seperti orang yang lulus dari kuliah s1 al-azhar ditambah dengan daurul lughohnya. Dan yang saya tangkap, maksud beliau dari permisalan ini adalah: RTM ini harusnya sudah matang di umurnya yang kelima, sebagaimana mahasiswa al-azhar yang lulus setelah 5 tahun. Bukan masih meraba-raba 'mau kemana' atau 'mau ngapain'.
Ustadz Azwar turut berpesan untuk terus mandiri dalam menjalani kehidupan di RTM ini. Dalam artian tidak melulu bertumpu pada dirinya atau pembimbing lainnya. Sebab, katanya, saya mungkin saja akan pergi suatu saat atau bahkan dipanggil oleh Allah, dan nantinya RTM malah punah. Padahal RTM ini ada karena Kalian semua, ada sebelum saya ada di dalamnya. Dan karena RTM ini dari, oleh dan untuk Kalian.!!
Mendengar ini saya jadi teringat pesan Kyai Hasan. Beliau pernah berujar bahwa siapapun masinisnya kelak kereta harus berjalan di atas rel nya. Siapapun pembimbingnya RTM ini harus tetap ada. Sebab umur sebuah lembaga itu luhur dan jauh lebih panjang dari umur para pendirinya. Jasad para pendiri boleh sudah tiada, tapi karya tangan mereka harus tetap kokoh di atas pondasi atau rel yang paten.
Terlepas dari itu semua, Milad kali ini kami adakan sedikit —atau bisa dikatakan banyak— lebih berbeda dari tahun sebelumnya. Jika 4 tahun lalu milad diselenggaralakan dalam satu malam atau dua hari (seperti pada milad ke-3), maka kali ini kami buat dalam berbagai rentetan acara. Di antaranya khataman 30 juz dari saudara Karim, Dauroh Kitab Tajwid, Lomba Futsal antar Rumah Tahfidz se-Masisir, dan terakhir malam Puncak Milad.
Jujur, yang membuat saya berani adakan ini karena ada dari kita yang akan baca 30 juz.
Perlu diketahui baca 30 juz bilghoib adalah cita-cita guru kami di RTM yang belum terealisasi sejak lama. Dan alhamdulillah sekarang terwujudkan. Meski sudah pernah menamatkannya di Indonesia dulu, tapi setidaknya khataman Karim ini membakar semangat kita semua untuk bisa sepertinya.
Bagi saya pun ini pemandangan baru. Jujur saya baru lihat orang baca 30 juz dalam waktu dua hari —mana lancar lagi. Setidaknya itu pukulan bagi kami, saya khususnya, bahwa “bisa kok! Itu buktinya ada yang bisa!!”
Intinya saya selaku penanggun jawab RTM di 2020 ini merasa senang karena bisa menyelenggarakan ini semua. Dan tentunya ini semua kembali pada Allah Swt. Sebagaimana firmannya "Alaa ilallahi tashiirul umur" Dan "wa ilaihi yurja'ul amru kulluhu". Semoga RTM dapat terus memberikan manfaat bagi masisir di kemudian hari.
Darrosah, Kairo
Sabtu, 15 Februari 2020
Sabtu, 15 Februari 2020
Bana Fatahillah
(Ketua RTM 2020)
(Ketua RTM 2020)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...