Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Kuncinya ada di Sudut Pandang
Bisnis
Juli 26, 2020
Kemarin, Sabtu (25/7), saya diminta mengisi semacam kelas menulis untuk kontributor baru website bacalatansa.com. Agar tidak terlalu formal saya jadikan forum tersebut dialog komunikatif, kebetulan pesertanya juga adik-adik kelas yang gak jauh umurnya dari saya. Hal ini agar tidak terkesan menggurui dan dapat menguntungkan semua pihak baik saya maupun mereka. disatu sisi mereka dapat maklumat yang saya sampaikan begitupun sebaliknya, saya bisa dapat hal baru dari mereka.
Berbekal dari pengalaman selama menulis, saya sampaikan bahwa hal pertama yang harus dicamkan sebelum menulis adalah mencari sudut pandang. Sudut pandang adalah hal yang akan mengantarkan seorang penulis pada step selanjutnya seperti judul, outline atau bahkan isi tulisan tersebut. Bagi saya ia ibarat satu pondasi yang harus dikuatkan oleh penulis sebelum membangun tulisannya. Jika hal tersebut sudah didapatkan maka kedepannya akan mudah.
Gampangny seperti ini. Jika tema yang akan kalian angkat adalah seputar maulid Nabi Muhammad, maka tentukanlah: dari sudut mana kalian akan menulis dibawah tema besar itu. Dari sini akan hadir berbagi tulisan dengan sudut pandang yang berbeda. Si A mungkin akan mengangkat tentang “Bentuk Cinta pada Nabi” si B akan mengangkat “hukum merayakan maulid” dan si C akan membahas seputar “Sejarah Perayaan maulid” dan tulisan lainnya dengan pembahasan yang beragam. Dan Inilah yang saya maksud dengan sudut pandang itu; sudut atau sisi yang ia ambil dari sebuah tema besar. Atau gampangnya ia ibarat angel bagi seorang potograpy yang mengambil satu objek dari berbagai sisi.
Namun ada satu yang harus diperhatikan: sebisa mungkin, sekali lagi sebisa mungkin, sudut pandang yang kalian ambil adalah sudut pandang yang tidak/jarang terpikirkan oleh orang lain. bagaimana bisa tau kalau itu juga dipikirkan orang lain? Kata salah senior saya dulu, hal pertama yang terbesit dibenak kita tentang suatu hal maka itulah yang biasanya menjadi sudut pandang yang terlintas diorang banyak juga.
Sebagai contoh tiga pembahasan tentang maulid Nabi di atas bagi saya adalah pembahasan mainstream yang biasa terbesit dibanyak orang. Lihatlah dipencarian google, kalian akan banyak temukan tulisan dengan corak seperti itu. maka boba keluarlah dari ‘pikiran biasa’ Anda dan berfikirlah diluar ke-mainstream-an orang-orang. Dengan itu kalian akan mendapatkan satu pembahasan yang tidak terpikirkan orang-orang atau bisa jadi andalah orang pertama yang menuliskan tema tersebut. Inilah sudut pandang yang baik dalam sebuah tulisan. Sebab tulisan yang bagus itu bukan hanya yang ngalir dibaca, tapi yang beda dari yang lain. begitu kata orang-orang bijak
Sebagai contoh, pada hari santri 2 tahun kemarin saya menulis sebuah artikel dengan judul Memaknai hari santri lewat Film Taqdim. Disana saya meresensi film berjudul Taqdim karya salah satu alumni Gontor. Film pendek ini menceritakan berisikan sebuah perjuangan sebuah santri dalam menyelesaikan studinya sehingga bisa merepresentasikan sosok santri. Sebab saya tau tulisan-tulisan seperti Resolusi Jihad (yang melatarbelakangi hari santri), atau semangat santri secara historis akan bertaburan dimedia media bahkan sudah banyak. Maka untuk keluar dari hal tersebut saya berusaha menggambarkan santri lewat sebuah film. Dan kebetulan juga saat itu film berjudul the santri yang menuai kontroversi dikabarkan akan rilis pada hari santri. Karenanya selain ingin membahas santri dari film ini saya juga ingin mengangkat film Taqdim ke khalayak ramai sekaligus ingin berasumsi “film ini lebih santri dari film santri lainnya l!!”
Kembali pada pembahasan sudut pandang, karenanya, kalau sudut pandang ini sudah dibangun, maka hal-hal selanjutnya seperti judul, pembahasan dllnya akan mudah. Kalian tinggal tentukan judul beserta outline tulisan yang menjadi lantai-lantai selanjutnya dari pondasi yang sudah dibuat. Dan saran saya buatlah judul semenarik mungkin yang jika orang pertama kali melihatnya langsung ingin membacanya. Tidak perlu alay bin lebay, yang penting ‘memikat’, sekalipun tidak bisa maka yang biasa saja yang menggambarkan isi tulisan Kalian.
Setelah menentukan judul, saran saya lagi, buatlah semenarik mungkin paragraf pertama ditulisan kalian. Selain judul, paragraf pertama tak kalah penting. Ya namanya pertama harus yang berkesan, jika pada pandangan pertama saja sudah bosenin maka bagaimana selanjutnya. hal ini bisa kalian buka dengan fakta, pertanyaan, metafora, atau sebuah frasa yang langsung menghantam jantung pembahasan. Artinya ketika memlihat paragraf pertama tersebut pembaca sudah tergambar apa yang ingin dibahas. Tapi tidak masalah jika ingin memakai mukaddimah, yang penting jangan bertele-tele. Kasian nanti orang keburu bosen.
Kalau untuk masalah isi dan penutup itu terserah kalian. Yang penting tajamkan analisanya dan kerucutkan pembahasannya. Jangan bertele-tele atau melebarkan pembahasan kemana-mana. Inget, fokus satu! Untuk penutup bisa kalian variasikan; boleh memberikan kesimpulan tulisan, sebagaimana yang banyak adanya, atau Kalian berikan sebuah pertanyaan retorik (istifham inkari) yang seakan mau tidak mau pembaca harus mengiyakan argumentasi milik Kalian. Seperti kalimat, “dari apa yang saya paparkan, apakah benar kalau perayaan Maulid Nabi itu dilarang?” titik.
Terakhir, yang tak kalah penting juga menulislah dengan lepas! Jangan terlalu terkungkung dengan aturan-aturan dalam menulis atau takut dengan berbagai kritikan terhadap tulisan Kalian, khususnya bagi pemula. Lepaskan imajinasi kalian, menulislah layaknya berdialog dengan diri Kalian sendiri. Dan setelah tulisan itu rampung maka mintalah teman Kalian untuk mengoreksi. Sebab biasanya seseorang itu lebih jago mencari kesalahan orang lain ketimbang kesalahannya sendiri. Jadi mintalah bantuan pada teman atau senior Kalian.
Selamat menulis dan semoga bermanfaat!
Gamaleyya, Kairo
Ahad, 26 Juli 2020

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...