Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Ngaji Kitab Al-Munqidz min Al-Dhalal (2): Apakah Teolog atau Filosof?


Melanjutkan ngaji kitab Munqidz min Al-Dhalal bersama Dr. Syamsuddin Arif. Setelah membaca khutbah Al-Ghazali terkait pergolakan dirinya dalam mencari kebenaran kita pun disajikan dengan pemaparan selanjutnya terkait pengklasifikasian al-Ghazali terhadap para pencari kebenaran. 

Al-Ghazali mengklasifikasikan para pencari kebenaran menjadi empat golongan; Teolog (Mutakallim), Filosof, Bathiniyyah dan Sufi. Ia pun menyusuri satu persatu kelompok tersebut dengan mengkaji dan meneliti berbagai doktrin yang mereka sampaikan. Dan berikut dua diantara 4 kelompok tersebut yang dipaparkan Dr. Syam pada Ahad (27/9) kemarin. 

Teolog (Mutakallim)

Tujuan dibentuknya ilmu kalam adalah untuk membentengi akidah ahlussunnah dari tipu daya pelaku bid’ah. Sebab melalui lisan Rasul-Nya Allah telah menyampaikan akidah yang bendar demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Namun akidah itu tercemari oleh para pelaku bid’ah dengan segaala tipu dayanya, dan disinilah peran ahli teolog berperan. 

Yang menjadi catatan, menurut Dr. Syam, bid’ah disini bukan yang sering disalahpahami oleh masyarakat sekarang yakni hal-hal furuiyyah, melainkan sejumlah pendapat keliru yang dilontarkan Syi’ah, Bathiniyyah, Jahmiyyah, Muattilah, dsb. “Yaaa dalam kontek modern, paham seperti feminisme, pluralisme, liberalisme adalah bid’ah-bid’ah pemikiran saat ini,” ujar beliau. 

Namun yang membuat al-Ghazali kurang tertarik dengan kalam –sekalipun ia menulis sejumlah karya didalamnya– adalah disiplin kalam yang tidak lagi terfokus pada wilayah kajiannya. Pun juga dengan sikap mutakallim yang hanya sibuk dengan premis-premis/hipoteses untuk mematikan lawan; memfokuskan diri pada pola argumentasi yang sifatnya kontradiktif sehingga lawan mati kutu; atau terlampau jauh membahas hal-hal diluar kalam seperti pembahasan subtansi (jauhar) dan aksidensi (‘aradh) yang mana bukan inti dan maksud dari Kalam itu sendiri. 

Al-Ghazali pun akhirnya merasa ilmu kalam baginya belum cukup untuk mengobatinya. (falam yakunil kalaam fi haqqii  kaafiyan wa laa lidaa’Illadzi kuntu asyukkuhu syaafiyan) (hal. 57, Dar Minhaj)

“Mungkin bagi sebagian orang metode seperti sangatlah memuaskan, tapi karena ini dalam konteks mencertiakan tentang diriku, maka aku belumlah puas. Sebab setiap obat memilik dosis yang berbeda sesuai dengan pasiennya masing2, berapa banyak obat yang memberi kesembuhan pada satu pasien tapi justru membawa penyakit bagi pasien lainnya” ujar al-Ghazali 

Ahli Filsafat (Filosof)

Sebelum megnuraikan filsafat beserta doktrinnya, al-Ghazali memberi sebuah peringatan penting. Menurutnya seseorang baru bisa mengkrtitik kekeliruan suatu ilmu apabila sudah berada di puncak ilmu tersebut dan menyetarai para pakar di dalamnya. Atau bahkan bisa mendatangkan hal-hal yang tidak dibahas oleh mereka. Dan dalam konteks ini al-Ghazali telah membuktikannya.   

Al-Ghazali  mempelajari filsafat tanpa seorang guru selama kurang lebih dua tahun. Ia mempelajarinya secara otodidak ditengah kesibukannya mengajar di Baghdad. Dari hasil penelitiannya itu al-Ghazali tidak memukul rata semua filosof. Menurutnya mereka semua berbeda beda, ada yang bisa diterima ada yang tidak. Dan secara garis al-Ghazali membagi filosof menjadi tiga madzhab besar: ateis (Dahriyyun), Naturalis (Thabi’iyyun) dan Metafisik (Ilahiyyun). 

Pertama al-Dahriyyun (Atheisme). Mereka adalah satu aliran filsafat yang tidak percaya adanya sang Pencipta. Menurut kelompok ini alam berjalan dengan sendirinya melalui proses alam, begitupun manusia yang ada dan tiada dengan sendirnya.  

Kedua, al-Thabi’iyyun (Naturalisme). Satu  aliran filsafat yang konten kajiannya terfokus pada hal-hal fisik dan kasat mata. Mereka banyak meneliti anatomi tubuh manusia, struktur tubuh makhluk hidup, sehingga membuat mereka menginsyafi bahwa ini semua tidak terjadi dengan sendirinya melainkan ada satu designer yang apik. Inilah yang membedakan mereka dengan kelompok pertama, al-Dahriyyun.  

Namun sayangnya mereka berhenti pada titik itu saja, mereka tidak mempercayai akhirat dan hari kebangkitan. Mereka juga mengingakari adanya dualisme badan, jiwa dan raga. Artinya jika manusia itu mati maka matilah jiwa dan raganya. (fazhannu annal quwwatal aaqilah minal insaan taabia’tun limizzajihi aidhan, wa annaha tabtulu bibutlaani mizaajihi). Dua kelompok ini disebut al-Ghazali sebagai zindiq. 

Ketiga, Ilahiyyun (Metafisika). Kelompok ini datang belakangan sehingga banyak mengkrtitik dua kelompok sebelumnya, Dahriyyun dan Thobi’iyyun. Socrates, Plato dan Aristoteles merupakan sederet filsuf yang tergolong didalamnya. Dan menurut  Dr. Syam lewat sejumlah pemikirannya mereka cukup menguntungkan kaum muslim, walaupun bukan berarti mereka selamat dari belenggu kekufuran. 

Objektif bukan berarti menolak semuanya (total rejection) atau menerima semuanya (total acception), melainkan menginsyafi mana yang benar dan menolak mana yang salah. Inilah yang dilalkukan al-Ghzali terhadap doktrin para filsuf. Karenanya ia membagi doktrin yang dibawakan mereka menjadi 3 bagian; (i) yang harus dikafirkan (qismun yajibut takfir bihi), (ii) yang harus dikatkan sesat (yajibut tabdi’ bihi), dan (iii) bagian yang tidak perlu diinkari (la yajibu inkaaruhu ashlan).


Lingkup Kajian Filsafat

Secara garis besar kajian filsafat meliputi enam hal,  yaitu: Matematika (riyaadiyyah), logika (mantiiqiyyah), fisika (thobi’iyyah), metafisika (ilaahiyyah), politika (siyaasiyyah) dan etika (khuluqiyyah) 

Pada prinsipnya al-Ghazali tidaklah antipasti terhadap ilmu-ilmu ini. Sebab itu semua tidaklah memiliki implikasi terhadap agama baik secara negative ataupun positif. Artinya mempelajari matematika, misalnya, bukanlah syarat seseorang beragama, begitupun juga menolak ilmu ini bukan berarti syarat anda dikatakan beragama. Dengan makna lain, mempelajarinya atau tidak ya boleh-boleh saja. 

Namun al-Ghazali menyesali sikap sebagian orang Islam yang anti terhadap ilmu ini atau bahkan sampai mengharamkannya. Ia juga mengkhawatirkan beberapa dampak yang akan diperoleh seseorang tatkala mengkaji ilmu-ilmu ini. 

Sebagai contoh orang yang mengamati matematika secara mendalam, kata al-Ghazali, akan meyakini bahwa pembuktian matematika amatlah kokoh dan logis. Akhirnya mereka mendewakan semua pakar matematika dan memberikan semua otoritas ilmu kepadanya. Sampai-sampai menanyakan perihal agama pada pakar matematika. Padahal kata al-Ghazali tidak begitu, sebab manusia sangat terbatas kemampuannya sehingga bisa menguasai semua bidang.  

Begitupun kajian mantiq (andai dikaji oleh orang awam) yang dikhawatirkan dapat mendewakan kelogisan mantiq sehingga menganggap bahwa orang yang logis itu keren sekalipun ia kafir, sebab kekafirannya pun pasti logis. 

Al-Ghazali agak melantangkan suaranya pada kajian metafisika (ilaahiyyat).ia telah megnuraikan kekeliruan yang dismpaikan oleh para filsuf khususnya dalam kajian ini dalam kitabnya Tahafutul Falaasifah. Setelah meneliti pembahasan metafisik para filusuf, ia berkesimpulan bahwa diantara 20 permasalahan, mereka jatuh pada kesesatan pada  17 masalah dan sampai pada kekufuran pada 3 permasalahan (bisa lihat langsung ke kitab tahaafut). 

Bana Fatahillah

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia