Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Bagaimana Riwayat Hafs ‘an Ashim bisa Tersebar Luas?
Sadar atau tidak bacaan al-Quran yang Anda baca saat ini –atau orang
Indonesia secara umum– adalah riwayat Hafs ‘an Ashim. Tidak hanya di Indonesia
tapi juga di penjuru dunia. Hal ini bisa Kalian buktikan dengan menyocokan
bacaan yang diajarkan guru-guru Kalian dengan bacaan yang tertera dalam riwayat Hafs. Tentu akan sama. Yang menjadi pertanyaan, dari
sepuluh qiraat mutawatir yang ada, kenapa riwayat Hafs sangat mencuat dan mampu tersebar secara masif seperti saat ini? Mari
kita telusuri.
Imam Ashim dan Dua Perawinya
Berbicara Imam Hafs berarti berbicara sosok Imam Ashim. Sebab darinyalah seorang Hafs mengambil bacaan al-Qurannya.
Dalam ilmu Qiraat ada sepuluh imam yang sangat Masyhur yang disepakati
oleh ulama qira’at bahwa bacaan mereka bersambung sanadnya ke Baginda Nabi.
Diantara kesepuluh tersebut ada imam bernama Ashim bin Abi Najud (w. 127 H),
seorang Imam Qiraat asal Kufah. Bacaan Imam Ashim inilah yang kemudian
diriwayatkan oleh dua perawinya, Hafs bin Sulaiman Al-Mughirah (w. 180 H) dan
Syu’bah Abu Bakar bin Al-‘Ayyasy (w. 193 H).
Sanad Hafs dari Ashim berujung kepada sahabat Ali bin Abi Thalib.
Sementara bacaan Syu’bah dari Ashim berujung kepada sahabat Abdullah bin
Mas’ud. Mungkin ada yang bertanya, kenapa bisa berbeda padahal mereka berdua
mempunyai guru yang sama. Hal ini karena rentetan sanad kedunya, tepatnya setelah
imam Ashim, berbeda. Hafs mendapat jalur Abu Abdurrahman Al-Sullami dari Ali
bin Abi Thalib sampai Nabi. Adapun Syu’bah bersambung ke jalur Zirr bin Hubaisy
lalu ke Ibnu Masud sampai ke Nabi.
Namun dari kedua perawi itu, kenapa Imam Hafs yang justru menyebar luas. Sebagian ulama mengatakan karena masa mengajar Hafs sangat lama dan tempat dimana ia mengajar sangatlah strategis, sehingga melahirkan banyak murid. Itulah mengapa Hafs bisa lebih mendunia dan banyak dipakai riwayatnya.
Kapan dan Bagaimana Riwayat Hafs ‘an Ashim Akhirnya Tersebar Luas?
Ghanim Qadury Hamd, seorang ulama pakar Qira’at asal Iraq dalam salah satu tulisannya berkata, bahwa riwayat Hafs memang bacaan paling populer banyak dipakai di penjuru dunia. Namun terkait kapan qiraat ini menjadi Primadona diantara qiraat lainnya, ia tidak bisa memastikan. Dari bukti-bukti tertulis, Ghanim menyimpulkan bahwa setidaknya riwayat ini mencuat sekitar 6-7 abad yang lalu. Hal ini ia dapatkan dari perkataan ulama seperti Abu Hayyan dalam tafsirnya Bahrul Muhiit:
“Abu Hayyan dalam kitabnya Bahrul Muhiit, ketika sedang membicarakan riwayat Warsy dari Nafi’ berkata: itu adalah riwayat yang tersebar di Negri kami yakni Andalus dan kami mempelajarinya dari kantor/sekolah. Dan saat berbicara tentang qiraat Ashim: ia adalah bacaan yang tersebar di penduduk Negri Iraq”
Perkataan Abu Hayyan ini tidak hanya untuk menentukan kapan mulainya tersebar qiraat Hafs. Bagi Ghanim hal ini juga penting untuk membantah pendapat yang mengatakan bahwa Turki Utsmani lah yang telah
berperan penting dalam tersebarnya riwayat Hafs ‘an Ashim karena mewajibkan
bacaan al-Quran dengan riwayat ini. Padahal
Abu Hayyan sendiri yang hidup di abad ke 8 di Andalus sudah mendengar qiraat Ashim.
Itu artinya qiraat ini sudah tersebar jauh sebelum kekhilafahan Turki Utsmani.
Hingga pada akhirnya riwayat Hafs pun tersebar luas seantreo dunia. Bahkan mushaf yang pertama kali dicetak di kota Hamburg, German, tahun 1694 M/1106 H diterbitkan dengan bacaan Hafs an Ashim. Ini artinya para penerbit Mushaf di Hamburg tentu melihat terlebih dahulu kecenderungan masyarakat Islam saat itu. Kalau bukan karena tersebarnya qiraat Hafs maka tidak mungkin percetakan berani mencetaknya dengan bacaan Hafs.
Adapun terkait faktor tersebarnya riwayat Hafs, Kyai Ahsin Sakho, seorang Pakar dan Ahli Qiraat Indonesia dalam kitabnya Membumikan Ulumul Quran menjelaskan, bahwa hal ini dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama adalah faktor alamiah, yakni riwayat tersebut mengalir dan menyebar dengna sendirinya. Yang kedua faktor ilmiah, yakni kajian tentang materi/kaidah riwayat Hafs, atau aspek historis dan lainnya. diantaranya:
1. Dari segi materi ilmiah, yakni kaidah-kaidah ilmu qiraat yang dipakai,
riwayat Hafs relatif mudah dibaca bagi oran yang non-arab. Diantaranya dalam qiraat
Hafs tidak banyak bacaan imalah kecuali pada bacaaan (مجرها) di surat Hud. Hal ini berbeda
dengan bacaan Syu’bah yang juga murid dari gurunya, dimana bacaannya terdapat --walaupun tidak banyak-- bacaan imalah. Dan juga dalam membaca Mad Muttashil dan Munfashil, bacaan Hafs
terutama dalam thariq Syathibiyyah tidak terlalu panjang sebagaimana bacaan Warsy
dan Hamzah yang membutuhkan nafas panjang. Dan kaidah lainnya dimana riwayat Hafs terbilang mudah dibaca.
2. Tersebarnya riwayat Hafs di pusat kota yaitu Kufah dan Baghdad yang
merupakan ibu kota negara dan pusat aktivitas ilmiah, sehingga penyebarannya
relatif lebih mudah dan sangat masif. Belum lagi setelah itu Hafs pergi ke
Makkah, kiblat kaum muslimin yang banyak dihuni mukimin dari berbagai penjuru
dunia dan mengajar al-Quran disana. Karenanya bisa dibayangkan pengaruh
bacaannya kepada para pendatang di Makkah.
3. Imam Hafs mempunyai jam mengajar yang cukup lama. Sebagaimana dikatakan
oleh Imam Jazariy bahwa murid-muridnya bertebaran di berbagai tempat. Bahkan
Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa banyak orang-orang yang ahli qiraat yang
mencukupkan dengan bacaan Hafs saja tidak yang lainnya, seperti Ahmad bin Sahl
Al-Asynaani Al-Baghdadi. Berbeda dengan Syu’bah yang tidak bergitu lama
mengajar.
4. Hafs dianggap sebagai perawi Imam Ashim yang sangat piawai dan
menguasai bacaan gurunya. Sebagaimana Hafs adalah murid yang sangat setia
kepada gurunya Imam Ashim.
5. Peranan para qari, guru, imam shalat, dan radio, kaset, televisi juga
sangat berpengaruh terhadap penyebaran riwayat hafs. Kita tau bahwa rekaman
suara al-Quran pertama di dunia Islam adalah suara Mahmud Khalil Al-Hushari atas
inisiatif Labib Sa’id. Dan rekaman ini menggunakan riwayat Hafs thariq
Syathibiyyah. Suara ini yang tersebar ke seluruh dunia, turut mengangkat bacaan
Hafs.
6. Ghanim Qadury juga menyebutkan dengan melansir dari kitab Tarikh Al-Quran karya Muhammad Thahir Kurdy bahwa penulis Mushaf yang sangat terkenal pada masa Pemerintahan Turki Utsmani adalah Al-Hafiz Usman (1.110 H). Penulis ini sepanjang hidupnya telah menulis mushaf dengan tangannya sendir sebanyak 25 mushaf. Dari mushaf yang diterbitkan inilah riwayat Hafs menyebar ke seantreo negri.
Dari poin ini Yai Ahsin memberi catatan bahwa terdapat hubungan antara keahlian menulis mushaf dan khat yang indah bisa menjadi unsur yang signifikan dalam penyebaran suatu riwayat. JIka kemudian Turki Utsmani mencetak mushaf sendiri dan menyebarkannya tentu akan menambah pesatnya riwayat Hafs.
7. Diluar sejumlah penyebab yang zahir atas tersebarnya riwayat Hafs, disana
juga ada faktor maknawi, atau faktor “keberkahan” pada sosok Hafs. Unsur-unsur
Spiritual pada diri Imam Hafs seperti kesalehan, keikhlasan, ketekunana, pengorbanan Hafs dalam
mengabdi kepada Al-Quran turut menjadi penyebab tersebarnya satu riwayat.
Dengan menyebarnya riwayat Hafs, kedudukan Al-Quran dan juga
orisinalitasnya semakin kokoh dan meyakinkan. Biarpun banyak musuh Islam yang
mencoba menyerang keotentikan al-Quran melalui lafadznya, misalnya, maka hal
itu akan terbantahkan dengan kuatnya bacaan al-Quran yang sudah tertanam dalam
hati umat Islam di dunia, salah satunya lewat tersebarnya riwayat Hafs.
Dan meredupnya riwayat lain bukan berarti meredupnya kemutawatiran satu
bacaan. Bacaan-bacaan tersebut masih kokoh kemutawatirannya sebab telah diakui
oleh para pakar dan Ahli Qiraat. Dan Umat Islam pun tidak diwajibkan membaca
dengan semua bacaan yang pernah diajarkan oleh Nabi kepada sahabatnya, sebab Allah
ingin memudahkan umatnya dari segala kesulitan. Wallahu a’lam bi al-Shawab
Depok, 22 Mei 2022

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...