Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Sayyidah Aisyah RA; Antara Pujian dan Tuduhan

 

Oleh: Bana Fatahillah, Lc

Dewasa ini siapa yang tidak kenal Sayyidah Aisyah. Baik Muslim, Non-Muslim, anak kecil, remaja, dewasa, mengenal sosok yang dijuluki Humairah ini, meskipun tidak secara detail. Terlebih saat booming-nya lagu berjudul Aisyah yang dinyanyikan sebagai lagu religi, nama Aisyah terus terangkat dan disebut dimana-mana.

Beliau lahir tahun ke-7 sebelum hijrah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah pernah berkata, “Rasulullah Saw menikahiku ketika aku berumur enam tahun dan kemudian hidup bersamaku ketika aku berusia sembilan tahun” dalam riwayat lain dikatakan Nabi mulai hidup bersama Aisyah pada bulan Syawal setelah perang Badar tahun ke-2. 

Cahaya Islam telah menyelimuti Aisyah sejak lahir. Kedua orangtuanya merupakan sahabat yang masuk islam pada generasi awal. Ayahnya, Abu Bakar Ra adalah sahabat pilihan yang mendapat gelar al-Shiddiq. Sementara ibunya, Ummu Rumman adalah diantara sosok wanita hebat yang menemani perjalanan dakwah suaminya.

Aisyah adalah sosok jenius. Pasca suaminya wafat, yakni Baginda Nabi Saw, para sahabat mendatanginya dalam setiap permasalahan baik yang bersifat publik ataupun domestik. Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Ra pernah berkata, “Tidaklah kami—para sahabat Rasulullah Saw—menghadapi suatu masalah berkaitan dengan hadis, lalu kami datang bertanya pada Aisyah, kecuali setelah itu kami mendapatkan pengetahuan baru darinya”

Saksi bisu kejeniusan Aisyah ialah karya Al-Zarkasyi yang berjudul Al-Ijaabah Li’iraadi ma Istadrakathu A’isyah ala Al-Shahaabah. Buku ini menghimpun sejumlah komentar sekaligus koreksian yang diberikan Aisyah terhadap sejumlah riwayat sahabat. Al-Zarkasyi turut menyebutkan keistimewaan Aisyah dibanding sahabat lain karena telah banyak melakukan verifikasi (tashih) atas pemahaman dan periwayatan yang menjadi rujukan sebagian sahabat.

Walhasil, lewat gerakan ilmiahnya ini para ulama menggadang-gadang Aisyah sebagai panutan perempuan dalam ranah Ilmiah. Ini pelajaran untuk para muslimah untuk terus belajar, sebab ia mempunyai figur perempuan agung yang cinta dan haus akan ilmu.   

Aisyah Ra juga disebut sebagai wanita yang unggul dalam bahasa. Selain kontennya yang tajam, ia juga  memiliki perkataan yang sangat fasih dan bijak. Hal ini diakui oleh semua yang menulis biografi Aisyah. Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Musa bin Thalhah mengatakan, “Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang lebih fasih daripada Aisyah”. Muhammad bin Sirrin meriwayatkan bahwa al-Ahnaf bin Qais pernah berkata, “aku pernah mendengar Khutbah Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dan  para khalifah lain hingga saat ini, tidaklah aku mendengar ceramah seseorang yang paling jelas dan paling baik dibanding yang kudengar dari Sayyidah Aisyah” (lihat Sayyidah Aisyah Ummahat al-Mukminin, hal. 81)

Diantara contoh perkataannya yang fasih adalah untaian kata yang ia lontarkan saat ayahnya wafat:

... فلقَدْ كنت للدنيا مُذِلًّا بإدبارك عنها، وللآخرة معزًّا بإقبالك عليهَا. وَلَئِنْ كان أجلّ الحوادثَ بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم رُزْؤُكَ، وأَعْظَمَ المصائب بعده فقدُكَ، إن كتاب الله ليعِدُ بِحُسْنِ الصبرِ عنك حسْنَ العِوَضِ منكَ.....

“Sunnguh Engkau telah merendahkan dunia dan berpaling darinya. Dan kau memuliakan akhirat serta memusatkan seluruh hidupmu untuk meraih kebaikan akhirat. Wahai Ayah, kalau peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah kematianmu maka kitab Allah menghibur dengan kesabaran dan menggantikan dengan yang baik selainmu.

Tidak hanya akalnya yang tajam, hatinya pun sangat lembut seperti perangainya. Ia adalah sosok yang ahli ibadah, wara’, dan zuhud. Dirinya banyak menjalankan ibadah sunnah, puasa sunnah, shalat sunnah dan lain sebagainya. Dalam sebuah riwayat dikatakan saat membaca Surat al-Azhab ayat 33 yang bercerita tentang nasihat untuk perempuan Nabi, beliau menangis sampai membasahi jilbabnya.

Terkait sifat wara dan zuhudnya, suatu hari Muawiyyah pernah menghadiahkan untuk Aisyah pakaian, uang dan aneka barang hadiah lainnya. Ketika Aisyah keluar dan melihat semua itu ia menangis dan berkata, Rasulullah Saw tidak pernah mendapati semua ini” kemudian ia membagikan  semua itu sampai tak tersisa sedikitpun. Pernah juga diberikan sejumlah kantong anggur. Dan hal yang sama dilakukan juga terhadap pemberian itu. Rasa-rasanya sifat wara sayyidah Aisyah ini perlu direnungkan oleh para muslimah hari ini yang banyak hidup ditengah harta yang melimpah.

Tidak hanya akhlaknya yang indah, Aisyah pun memiliki paras yang cantik. Rasulullah sangat mencintainya. Keberadaannya pernah membuat para istri Nabi terbakar api cemburu. Suatu hari, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah bercerita, “Dulu orang orang terbiasa memberikan hadiah kepada Nabi ketika berada di rumahku. Kemudian beberapa istri Nabi yang lain berkumpul di rumah Ummu Salamah dan memintanya untuk mengatakan pada Rasulullah, agar mengatakan tidak memberikan hadiah saat dirumah Aisyah saja. Namun di mana saja sesuai dengan gilirannya saat itu. Komentar itu ternyata tidak direspon oleh Nabi. Dan ketika Ummu Salamah menyampaikan yang ketigakalinya, Rasulullah Saw berkata:

يا أم سلمة لا تؤذيني في عائشة، فإنه والله ما نزل عليّ الوحي وأنا في لحاف امرأة منكن غيرها

“Wahai Ummu Salamah, jangalah engkau sakiti aku dalam urusan Aisyah. Sebab, demi Allah tidak ada wahyu yang turun kepadaku saat aku berada dalam selimut seorang istri diantara kalian kecuali dia”

Namun yang perlu dicatat sifat cemburu ini bukan berarti para istri Nabi saling bersaing satu sama lain seaka mereka saling bersaing dan berebut perhatian Rasul. Sebab kecemburuan adalah fenomena alami dan wajar terjadi. Dan itu sama sekali tidak menafikan kemuliaan serta kesucian para ummul mukminin. Keistimewaan Aisyah tidak menjadi halangan bagi Nabi dalam berbuat adil terhadap istri-istrinya. Banyak hadis yang menuturkan bagaimana Rasulullah selalu berlaku adil terhadap istrinya, salah satinya kebiasaan Rasulullah untuk mengundi di antara istri beliau untuk memutuskan siapa yang akan menemaninya dalam sebuah perjalan. Inilah yang perlu diperhatikan.

Pusaran Tuduhan dan Cacian

Dibalik berbagai pujian indah ini, Nama anggun Aisyah ternyata tak lepas dari sejumlah tuduhan,  khususnya dari orientalis. Tujuan mereka selain ingin mendiskreditkan Islam, juga menjatuhkan orang-orang disekitar tokoh Sentral Umat Islam, yaitu Nabi Muhammad. Walhasil berbagai tuduhan dilontarkan kepada Sayyidah Aisyah tanpa ada rasa malu sedikitpun.

Diantaranya tuduhan yang paling populer adalah persoalan pernikahan Sayyidah Aisyah. Mereka menganggap hal ini menyalahi norma yang ada saat ini dan merupakan penyimpangan seksual. Untuk hal ini sudah saya jawab silakan baca disini https://hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2022/06/13/231602/sekali-lagi-soal-pernikahan-nabi-dan-sayyidah-aisyah.html

Atau tuduhannya sebagai feminis bisa dibaca disini: https://hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2020/04/14/181746/perlukah-meberi-label-feminis-pada-sayyidah-aisyah-ra.html

Memang, tuduhan seperti ini bukanlah hal baru bagi Sayyidah Aisyah. Pasalnya saat hidup di Madinah dulu ia telah mendapat tuduhan gembong munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul dalam Peristiwa bernama Hadiits al-Ifk. Peristiwa itu cukup membuat geger umat Muslim. Bahakn sejumlah para sahabat mengiyakan hoax yang disebarkan kaum munafiq. Sampai pada akhirnya Allah Swt membebaskan Aisyah dengan ayatnya yang tegas, sebagaimana dalam surat Al-Nur.

Namun tuduhan itu ternyata belum berakhir. Ia dikaji dan dilestarikan oleh para musuh Islam saat ini. Syekh Al-Buthi menyebut fenomena tuduhan hadits al-Ifki kontemporer sebagai “Warisan Ibnu Salul. Menurutnya yang diperjuangkan Ibnu Salul itu sejatinya juga merupakan tujuan setiap orang yang gemar menyebarkan kabar dusta dari dulu hingga saat ini.

Tidak hanya itu namun juga tuduhan adanya kebencian dalam diri Aisyah terhadap Ali bin Abi Thalib  karena pendapatnya dalam menyikapi peristiwa bohong (hadits al-Ifk) saat itu. Pun kebencian pada Ali Ra kepada Aisyah sehingga memiliki sikap yang seolah tak berpihak. Syekh Al-Buthi menjelaskan bahwa tuduhan ini murni lahir dari gaya Barat yang menerapkan metodologi Psikoanalisis dalam pembacaan sejarah.  Metode ini dipakai untuk membaca sejarah dari sisi kejiwaan para tokoh yang terlibat di dalamnya, tujuannya untuk meneguhkan analisis psikologis untuk memahami apa yang ada di balik suatu peristiwa.

Maka dikatakan, bahwa tidak ada indikator apapun yang membuat Aisyah membenci Ali Ra, begitupun sebaliknya. Bahkan tidak ada riwayat yang mengatakan hal demikian. Kalaupun ia harus membenci Ali, seharusnya Aisyah lebih tidak sua kepada Hasan bin Tsabit dan beberapa orang yang saat itu turut menyebarkan berita dusta tersebut. Namun pada kenyataannya Aisyah tidaklah membenci Hasan dan lainnya. dalam suatu Shahih Bukhari dikatakan bahwa Urwah berkata, “Aku mencela Hasan di hadapan Aisyah, namun Aisyah justru berkata, Jangan mencelanya karena ia adalah juru bicara Rasulullah Saw”. 

Tidak hanya itu, ternyata Ibnu Salul mewariskan satu tuduhan yang dikembangkan oleh musuh Islam hari ini. Dalam salah satu kitab Tafsir tokoh Syiah, dikatakan yang pada intinya sejatinya Aisyah tidak perlu dibebaskan dengan ayat apapun, dan Rasulullah tidak perlu khawatir. Sebab saat itu telah turun ayat yang menjelaskan tentang qadzaf yaitu orang yang menuduh orang berzina haruslah mendatangkan empat saksi. Artinya, ketika tuduhan itu datang ke Aisyah dan tidak ada satu saksi pun maka tuduhan itu –seharusnya– otomatis-tertolak.

Secara eksplisit pendapat ini mengarahkan bahwa Rasulullah seakan melupakan syariatnya sendiri ditengah kegelisahannya.

Sebagai bantahan Syekh AL-Buthi memberi catatan bahwa Rasul tidaklah lupa apalagi tidak tau. Beliau mengetahui bahwa menurut ketentuan syariat istrinya bebas dari hukuman dan tidak boleh ada sanksi apapun. Jangankan empat saksi, satu saksi pun saat itu tidak ada. Namun bukan persoalan itu yang membuatnya resah dan gelisah. Keresahan itu karena –sekali lagi karena—masalah tersebut telah merusak kesatuan umat dan berpotensi menghancurkan struktur sosial yang tengah dibangunnya, juga keresahan yang dialami orang pada umumnya. Yaitu jika pada akhirnya gosip yang tersebar itu akan berujung pada sebuah kebenaran—kendati beliau mengetahui ketidakbersalahan istrinya. Dan itulah kenapa saat turun 10 ayat dari surat al-Nur yang membebaskan Aisyah tadi tuduhan, Rasul sangat tenang dan gembira.

Perkataan mereka ini memang terlihat manis namun beracun. Coba perhatikan. Saat dikatakan bahwa Aisyah telah terbebas secara syariat dari ketentuan hukuman zina karena tidak ada empat saksi. Seakan mereka tengah mengatakan bahwa sangat mungkin –atau ada potensi—Aisyah melakukan kekejian itu hanya saja tidak ada saksi atas hal tersebut. Jadi pendapat mereka ini sesungguhnya hanyalah pembelaan Ibnu Salul dengan kabar dustanya.

Tuduhan terakhir yang telah sampai kepada Sayyidah Aisyah adalah, bahwasanya dirinya merupakan sosok istri pembangkang. Kisah yang dijandikan landasannya adalah perkataan Aisyah saat Rasulullah menikahi Zainab binti Jahsy dan ketika lahir Ibrahim dari Mariyah Qibtiyyah. Yang pertama Aisyah berkata, “Menurutku Tuhanmu mempercepat keinginanmu…”, dan kedua ia berkata “aku tidak melihat antara dirimu dan anak ini”

Maka kita katakan kepada orang-orang yang menulis ini, dua perkataan Aisyah diatas sama sekali tidak menunjukan adanya pembangkangan atau perlawanan. Yang pertama, justru Aisyah sedang memuji seuaminya. Sebab sedari awal Rasul ingin sekali menikahi dan serumah dengan perempuan yang memberikan dirinya untuk Nabi. Hingga datanglah Zainab bin Jahsy Ra. Maka dari mana bentuk  pembangkangan itu? 

Adapun yang kedua, disamping riwayatnya yang lemah, kita pun tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa itu adalah bentuk pembangkangan. Sebab sebagai orang yang berakal, ketika ada seorang anak yang lahir dan dikatakan “kok tidak mirip” itu bisa diartikan sebuah gurauan. Begini, apakah ketika saya mengatakan kepada seorang anak, “kok lebih mirip om nya sih” itu berarti saya menganggap ibunya telah berzina dengan om nya? atau ketika seorang anak dikatakan tidak mirip dengan ayahnya,  itu berarti ayahnya telah berzina? Kan tidak. Itu hanyalah bentuk senda gurau di ruang keluarga. Kendati demikian, riwayatnya pun lemah sehingga tidak bisa dijadikan tumpuan.

Tentu masih banyak lagi tuduhan yang dilontarkan ke Aisyah Ra. Namun sebagai orang mukmin, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak pantas untuk mengamini tuduhan ini semua. Sebab istri nabi, sebagaimana dalam al-Quran, adalah ummahat al-Mukminin yang diibaratkan sebagai ibu kita. akankah kita menghina ibu kita sendiri?

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Depok, 17 Agustus 2022

*Materi ini disampaikan dalam Kajian Online Instagram bersama @deaaulia1 dalam tema “Sayyidah Aisyah, Antara Pujian dan Tuduhan” pada 16 Agustus 2022

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia