Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Haus dan Cinta Ilmu, Bawaan atau Ditanamkan?

 



Oleh: Bana Fatahillah

Pada Selasa, (30/5) saya mendampingi presentasi makalah santri di Ponpes Ar-Ridho Sentul. Tiga tema akan dibentangkan oleh tiga santri. Pertama terkait tuduhan seputar Qiraat Al-Quran. Kedua seputar tuduhan kepada Sayyidah Aisyah dan jawabannya. Ketiga tentang Syiah dan ajarannya dalam timbangan adab.

Sebagai bentuk pengenalan, saat sambutan saya jelaskan sedikit tentang At-Taqwa Depok. Para pendiri berikhtiyar untuk menjadikan adab sebagai basisnya. Dirumuskanlah kurikulum berbasis adab dengan mengedepankan pelajaran fardhu ain dari kifayah. Diantara materi fardhu ain tersebut adalah materi tulis menulis, sejarah dan tantangan pemikiran kontemporer.

“Materi itu menjadi wajib hari ini, dan inilah mengapa santri-santri bisa mempresentasikan makalahnya hari ini di hadapan kalian,” ujarku.

Seperti patung yang terdiam. Wajah dan tubuh saya tidak bergerak saat mereka menjelaskan isi makalahnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, saya bergumam dalam hati, “antum kok keren banget, sih! , kok bisa Kalian sekeren ini!?”

Mereka menjelaskan dengan lugas, tegas dan jelas. Saya hampir tidak melihat celah untuk   mengkritik. Mereka berhasil menguasai audience. Mengajak peserta berdialog di sela-sela pemaparannya. Bahkan sesekali memecah suasana hingga tawa lepas tiba-tiba. Sesekali terlihat rasa gugup dalam diri. Namun itu segera diatasi dan ditangani.

Jadilah Teladan

Ditengah-tengah pemaparan Al-Ustadz Fahmi, Pengasuh Pesantren Ar-Ridho bertanya membisiki saya, “ustadz, ini mereka dapat perkataan-perkataan ulama ini dari mana dan siapa yang kasih tau?” saya katakan bahwa mereka dibimbing dan diarahkan untuk membaca buku A, B dan C lalu diminta untuk menelaahnya.

Poin inilah yang ingin saya sorot, yaitu bagaimana santri –dalam bahasa anak zaman sekarang—bisa “segitunya” buat ilmu, alias cinta ilmu banget. Saya pernah membandingkan mereka dengan saya saat nyantri dulu. Hasilnya sangat berbeda. Mereka memiliki rasa cinta dan haus akan ilmu pengetahuan yang kuat.

Lalu saya coba amati, apa yang membuat mereka demikian? Apakah itu bawaan dalam diri? Sependek yang saya amati, tidak. Sebab mereka bisa seperti itu dengan pengarahan dan bimbingan. Hasilnya, tanpa paksaan mereka secara sadar bisa pergi ke Perpustakaan mencari buku. Menganalisa bacaan. Mencari referensi. Lagi-lagi semua adalah impact dari bimbingan guru.

Ketika meminta para santri untuk menulis dan membaca, itu bukan sebuah omong kosong belaka. Para guru di At-Taqwa sedari awal sudah menyontohkaa. Mereka menulis, membaca, menganalisa, cinta akan ilmu, buku, ulama juga menghormatinya. Setruman inilah yang menyambar dan merasuki diri santri.

Disinilah pentingnya para guru yang membimbing.. Mereka tidak boleh hanya memberikan teladan. Lebih dari itu mereka harus menjadi teladan. Inilah yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, dimana beliau menjadi teladan bagi para sahabatnya.

Ayat paling populer tentang ini adalah: "sungguh pada (diri) Rasulullah ada suri tauladan yang baik bagimu..." (Qs. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini turun saat perang Khandaq (Al-Ahzab). Kata ulama, perang khandaq dijadikan sorotan khusus terkait keteladanan Nabi yang harus kita ikuti. Dimana Nabi tidak hanya mengajarkan keteladanan tapi menjadi.

Sebab dalam peperangan itu Rasulullah benar benar turun bersama sahabat. Ikut Menggali parit. Ikut menghancurkan bebatuan dengan kapak. Bahkan ikut lapar bersama sahabatnya. Inilah yang dikatakan pepatah arab, lisan keadaan itu lebih fasih dari lisan perkataan (lisan al-Haal afshah min lisan al-Maqaal)

Perihal menjadi teladan juga bisa dilihat dalam kisah Hudaibiyyah. Ketika itu, Nabi SAW memerintahkan sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan memotong rambut dan kuku, meski batal mengunjungi Tanah Suci. Namun nasehat itu tak kunjung dilaksanakan.

Atas saran istrinya, Nabi pun keluar dan melakukan ibadah tersebut. Para sahabat pun melihat lalu mengikuti. Dalam riwayat diceritakan bahwa dalam sebuah perjalanan, para sahabat ingin memasak. Satu orang berkata akan berburu. Satu lagi menguliti. Satu lagi memasak. Lalu Nabi berkata "kalau gitu saya yang cari kayu bakar"

Benar Sungguh terdapat suri tauladan pada diri Nabi, allahumma sholli ala sayyidina muhammad.  

Para Guru, Mulailah Dari Dirimu

Banyak yang bertanya bagaimana menjadikan murid atau santri gemar membaca dan menulis. Maka jawabannya adalah mulailah dari dirimu sebagai guru.

Bagaimana hendak menjadikan murid gemar membaca jika gurunya tidak pernah membaca atau membawa buku.

Bagaimana ingin santri cinta ilmu, kalau gurunya, untuk membeli buku saja perlu istikharah berhari-hari. Yang lebih lucu, setelah beristikharah, ia minta potongan harga dari buku yang dibelinya.

Pada intinya, semua dimulai dari guru.

Manusia memang tidak diciptakan dengan kemampuan intelektual yang sama. Hal ini pun  harus kita amini. Namun itu tidak menjadikan alasan untuk kita tidak cinta ilmu. Seseorang yang menyadari kemampuannya tidak sepintar kawannya, tidak boleh merasa jauh dari ilmu. Mari renungi kembali pesan Baginda Nabi berikut:

“Jadilah orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan jangankanlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka”

Maka tidak ada alasan seorang guru untuk tidak menjadi teladan bagi muridnya terkait kecintaan akan ilmu. Guru itu digugu dan ditiru. Semua dimulai dari guru.

Pembelajaran di Kelas pun tidak boleh hanya sebatas transfer ilmu. Lebih dari itu, sebagaimana yang disampaikan Prof. Al-Attas, nilai itu harus ditanamkan (inculcation) kepada Murid. Aba sering menasihati, jika hanya mengajarkan syarat dan rukun shalat, Setan juga bisa. Namun untuk menanamkan murid cinta dan senang shalat, itu yang tidak bisa dilakukan Setan. Sekali lagi, guru harus memulai ini semua. Tentunya usahanya tidak boleh luput dari doa. 

Santri atau murid pintar bisa tidak cinta akan ilmu, jika tidak diarahkan. Sebaliknya, murid dengan kemampuan intelektual yang biasa, bisa haus dan cinta ilmu jika dibimbing dan ditanamkan adab yang baik. 

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

 

Ponpes At-Taqwa Depok
Rabu, 31 Mei 2023

 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia