Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Mewanti Cara Berfikir Cacat di Atas Mimbar Jum’at

 

Jum’at kemarin, 14 Juli 2023 saya diminta menemani Gus Yusron khutbah Jum’at. Karena jarak yang cukup jauh, kami berangkat dari Pesantren Mahasiswa (PESMA) Al-Hikam Depok pukul 10.30.

Di mobil kami berbincang banyak hal. Salah satunya tema logical fallacy. Di tengah pembicaraan, Putra K.H. Hasyim Muzadi tersebut berkata, “Bana, khutbah tentang Logical Fallacy sepertinya menarik”.

Saya membatin bahwa Gus Yusron hanya bercanda, atau sebatas saran untuk saya. Rasanya tidak mungkin beliau sampaikan tema itu di mimbar. Sebab umumnya materi khutbah seorang Kyai adalah hal-hal yang menyentuh jiwa. Terlebih sosok Gus Yusron yang sudah membersamai kitab Hikam Ibnu Athaillah bersama santrinya.

Seketika saya kaget. Ternyata materi itulah yang disampaikan di khutbahnya. Di Masjid Tarqiyah Taqwa di Gedung Telkomsel, Alumni Gontor 2005 itu memberikan 4 macam kesalahan berfikir.

Sebelumnya, logical fallacy adalah satu kesalahan dalam menyusun logika berfikir yang tepat ke dalam sebuah argumen. Ada banyak macam kesalahan berfikir. Dalam Khutbah yang singkat itu, Gus Yusron memberikan empat.

Pertama adalah Ad hominem. Ringkasnya ini adalah jenis sesat fikir yang menyerang kebenaran dengan menyerang pribadi lawan. Makhluk pertama yang melakukan kesalahan berfikir ini, kata Gus Yusron, adalah Iblis.

Saat enggan sujud kepada Nabi Adam, Iblis mengeluarkan alasan bahwa dirinya diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Padahal perintah itu adalah antara Iblis dan Allah. Namun ia justru menyerang pribadi Adam dengan memabandingkan proses penciptaannya.

Terkait ini, saya (penulis), pernah mendengar dari Guru di mesir, Syekh Kahila, bahwa Iblis sejatinya telah salah melakukan komparasi. Sebab nyatanya unsur api tidaklah lebih baik dari tanah. Karenanya, kata Syekh Kahilah, Iblis adalah makhluk pertama yang keliru saat membuat permisalan, atau yang dikenal dengan qiyaas ma’al Faariq.

Logical fallacy kedua adalah Burden of Proof. Ketika mendengar istilah ini, saya membatin “ini bener-bener khutbah anti-mainstream. Jarang-jarang khutbah jumat pakai istilah inggris yang asing seperti ini”. 

Ringkasnya kecacatan logika ini ingin berkata, jika Anda berargumen lantas lawan bicara Anda tidak bisa membantah argumen Anda, itu artinya Anda otomatis benar dan lawan bicara Anda salah.

Kasus Al-Zaytun misalnya. Jika di hadapan para pembela PG Anda tidak bisa membuktikan kesalahannya. Maka itu bukan berarti pembelaan itu benar sehingga PG tidak bersalah, dan Andalah yang bersalah. Sebab bisa jadi Anda tidak punya bukti yang kuat untuk membuktikan adanya kesalahan itu.

Di atas mimbar Gus Yusron memisalkan dengan bantahan kaum Nabi Nuh dalam surat Hud: Mereka berkata, “Wahai Nuh, sungguh engkau telah berbantah dengan kami dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka, datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan jika kamu termasuk orang-orang yang benar.

Kaum Nabi Nuh merasa, saat bukti tidak bisa didatangkan itu artinya Nabi Nuh salah sementara merekalah yang benar. Padahal ini adalah salah satu kesalahan dalam berfikir.

Terkait ini, ada satu kaidah yang sering diingatkan guru kami, Syekh Salim Abu Ashi: “Adamul Wujdaan la yalzaam minhu adamul Wujudd” atau “Adamud Daliil la yastalzimu Adamul madluul”.

Yang pada intinya, bahwa ketidakberadaan sesuatu secara fisik, tidak memastikan ketidak beradaannya secara wujud. Sebab berapa banyak hal yang tidak bisa kita buktikan keberadaannya secara fisik, namun kita meyakini keberadaannya secara “dzat”.

Yang ketiga, adalah genetic fallacy, yaitu apabila seseorang mendasarkan argumennya pada asal-usul dari satu hal dan mengambil generalisasi satu hal itu untuk menganalisa hal yang lain. Beliau menyontohkan apabila seorang awam berdebat dengannya, lantas beliau berkata, “Saya anaknya tokoh fulan lo, sementara Anda siapa dan tau apa soal Agama?”

Ada satu lagi tapi saya lupa. Maklum, terlalu khusyuk mendengarkan khutbah membuat mata tunduk tiba-tiba. Usai khutbah beliau mengingatkan pada saya bahwa materi seperti ini kadang dibutuhkan. Khususnya mendekati suasana pilpres 2024. "Agar orang makin waras, Ban" begitu ujarnya. 

Topik lain juga kami perbincangkan saat pulang. Dari hal serius, seperti ketidak setujuan Gus Yusron atas penerjemahan hadis sohih menjadi “hadis sahih” (dalam bahasa indonesia) sampai soal komunitas iguana.

Pembicaraan mengalir begitu saja. Mungkin karena kami memiliki banyak kesamaan, seperti almamater yang sama: Gontor, IIQ, juga kuliah di luar negri. Atau guru-guru yang sama. Meskipun begitu, adab dan sopan santun harus dijaga. Bukan karena satu almamater Anda bisa seenaknya dalam bersikap dan berbicara. Ini banyak terjadi di kalangan para Alumni kami. 

Depok, 15 Juli 2023

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia