Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Selamat Datang Kembali Guru Besar Tafsir dan Ilmu Al-Quran Al-Azhar
Hari ini, Sabtu 29 Juli 2023, Prof. Dr. Muhammad Salim Abu Ashi, Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Pakar Ilmu Syariat akan tiba di Jakarta. Ini merupakan Rihlah Ilmiah
kedua beliau di Indonesia. Selama satu bulan kedepan sejumlah majlis seperti Seminar
Ilmiah, Dauroh kitab, juga majlis-majlis zikir akan digelar di sejumlah daerah.
Sosok yang lahir di Mesir
pada 20 Maret 1962 ini merupakan produk tulen
Al-Azhar, Kairo. Sejak belia hingga lulus Profesor ia setia duduk di bangku
pendidikan Al-Azhar. Bahkan sampai hari ini beliau masih
mengajarkan sejumlah disiplin ilmu kepada para pelajar Al-Azhar. Dari ilmu alat
seperti nahwu, balaghoh, mantiq dan ushul fikih. Hingga ilmu al-Quran juga
sejumlah karya yang ditulis olehnya.
Uniknya, Mantan Dekan Pascasarjana Universitas Al-Azhar ini aktif dalam merespon wacana kontemporer yang beredar. Sejumlah tuduhan yang
dilontarkan oleh para musuh Islam, seperti orientalis dan misionaris dijawab
dalam sejumlah karyanya. Termasuk juga jawaban atas kelompok ekstrimis yang
menarik Islam terlalu ke Kanan. Sosoknya selalu menasehati, bahwa dengan ilmunya, seorang
pelajar jangan hanya “bersemedi di gua”. Ia harus merespon dan membela saat
agamanya diusik.
Silakan baca buku berjudul
Tanziih Al-Quran an al-Mathain, Maqaalaat fi Al-Ta’wiil, Manaasyi’
Al-Dalaalah, Asy’ariyyun Ana juga Islaam Al-Siyaasii. Disana Anda
akan menemukan kebenaran apa yang saya katakan barusan. Bahwa Syekh Salim,
dengan kepakarannya itu, turut merespon sejumlah tuduhan baik yang dilontarkan kepada
Islam baik dari ekstem kiri maupun kanan.
Kepakarannya dalam sejumlah disiplin ilmu membuatnya mampu mengajar dan
menejelaskan berbagai kitab dalam lintas disiplin ilmu juga lintas levelnya. Inilah
mengapa meski
bermadzhab Hanafi dalam Fikih, beliau turut mampu mengajarkan ushul fikih milik
Jumhur, bahkan sudah mengajar kitab selevel Al-Luma’ dan Al-Mushtashfa
karya Al-Ghazali.
Ini semua, selain Taufiq
dari Allah Swt juga ketekunannya dalam belajar. Kedekatan dengan sejumlah Guru turut
mempengaruhinya kematangan beliau dalam ilmu. Diantara guru yang membersamai
Syekh Salim adalah adalah: Syaikh muhammad Zakiyudin
Ibrahim (w. 1998 M), Syaikh Ahmad Fahmi Abu
Sunnah Al-Hanafi (w. 2003 M), Syaikh Muhammad Said
Ramadhan Al-Buthi Al-Syafi’i (w. 2013 M) Syaikh
Ibrahim Abdurrahman Kholifah
(w. 2013 M),
Syaikh Abu An-Nur Zuhair
(w. 2015 M), Syaikh Nuruddin Itr Al-Hasani (w. 2020 M)
Karyanya berjumlah puluhan. Di antara yang terbesar adalah Al-Mushtashfa fi Ulum Al-Quran, yang merupakan hasil riset dari sejumlah buku ulumul quran yang ia kumpulkan lebih dari 30 tahun. Di tahun ini beliau telah menulis dua buku penting. Pertama Al-Waraqat fi Tasaubiha al-Jadiid, sebuah terobosan baru atas matan al-Waraqat. baca di sini: https://fatahillahbn.blogspot.com/2023/02/baju-baru-al-waraqat.html
Kedua, buku Al-Madkhal ila Al-Uluum Al-Aqliyyah, sebuah buku pengantar bagi siapapun yang ingin masuk ke dalam ilmu pemikiran. Buku ini akan dikaji di Ponpes Qotrun Nada, Depok, pada 30 Juli 2023. Juga buku lainnya seperti Laa Ya’tuuna Bimitslihi yang membahas seputar I’jaz al-Quran yang akan dibahas di Lombok. Juga Asy’ariyyun Ana, yang akan dibahas dibedah dan dikaji di Riau.
Diantara pesan yang sering disampaikan adalah perihal
keikhlasan juga ketekunan dalam belajar. Seorang pelajar, katanya, jangan
sampai tujuan belajarnya karena ingin dilihat atau tujuan duniawi. Syekh Salim
mengingatkan bahwa mereka yang berkutat dengan ilmu syariat merupakan orang
pilihan juga sebuah kepercayaan. Karenanya jangan sampai mengkhianati amanat itu
dengan menggapainya bukan karena Allah.
Ia kerap mengutip hikmah Ibnu Athaillah yang berbunyi:
Semua amalanmu hanyalah sebuah “forma” (gerakan) yang hidup, adapun ruhnya
adalah keberadaan keikhlasan di dalamnya. Ibarat sebuah jasad, amalanmu seperti
menuntut ilmu dan lainnya, hanyalah sebuah “forma”, seperti membaca, menulis
dan mengajar. Rasa Ikhlas lah yang merupakan ruh yang menghidupkan amalan itu,
layaknya jasad yang dihidupkan oleh ruh.
Terkait ketekunan, beliau selalu mengingatkan untuk mengulangi
apa yang sudah dipelajari. Sebagaimana nasihat beliau kepada para muridnya di
Kairo, dalam mengulangi pelajaran ada tiga tahapan. Pertama membaca apa yang
hendak dipelajari dalam sebuah majlis. Kedua mendengarkan dan mencatat apa yang
disampaikan. Ketiga, berdiskusi bersama teman terkait materi yang dipelajarinya.
Terkait poin ketiga, Syekh Salim sangat menekankannya.
Tidak sekali beliau menasihati yang kira-kira isinya, “Diskusikan apa yang
telah kamu pelajari bersama kawan. Perdengarkan hafalanmu di hadapannya. Bahkan
andai temanmu tidak ada, maka berdiskusilah dan berbicaralah pada tembok yang
ada di hadapanmu”
Jika sudah tekun dalam belajar dan menjernihkan
hatinya, maka sungguh saat mungkin seseorang menjadi seorang alim besar.
Begitu pesannya.
Silakan nantikan setiap kajiannya.
.jpeg)


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...