Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Mendalami Makna Al-Quran Lewat Ilmu Bayan
Ilmu Bayan merupakan satu diantara 3 tonggak balaghoh. Ulama mendefinisikannya dengan ilmu yang dengannya diketahui penyampaian satu makna dengan berbagai cara (īrād al-Ma’nā al-Wāhid bituruqin mukhtalifah).
“Berbagai cara”
yang dimaksud adalah tasybih, majaz dan kinayah yang merupakan tiga fokus utama
kajian ilmu bayan.
Kedermawanan Ahmad misalnya. Makna tersebut dapat
disampaikan dengan tiga cara itu. Anda tidak melulu mengatakan Muhammad orang
dermawan. Anda bisa katakan “Muhammad laksana lautan luas dalam memberi,” yang
merupakan tasybih. Atau majaz, “Saya tak paham lagi dengan malaikat satu ini”,
yakni Muhammad. Atau mengatakan dalam kinayah Muhammad ringan tangan, yakni
mudah memberi.
“Menebalkan” Makna
Secara ringkas ketiganya adalah bentuk kiasan. Peran mereka adalah “menebalkan” makna yang ingin disampaikan. Contohnya dalam tasybih, yang merupakan pilar pertama ilmu bahyan. Ia didatangkan untuk menguatkan makna lewat sebuah permisalan yang melahirkan imajinasi.
Khatib Al-Qazwini menulis: “Ia (tasybih) dapat melipatgandakan kekuatan makna dalam menggerakan jiwa kepada maksud yang dituju, baik pujian, celaan dan lainnya” (Al-Idhah fi Uluum Al-Balaaghah, hal. 164)
Ini penting dalam memahami Al-Quran. Coba perhatikan Al-Quran! Saat menyindir orang Yahudi yang diberikan kitab suci namun mengabaikannya. Allah permisalkan mereka dengan keledai yang dibebankan membawa sejumlah buku tebal. (Lihat Qs. 29: 41)
Dalam ayat lain, saat hendak menyampaikan kesia-siaan usaha
mereka yang menyembah selain Allah. Al-Quran permisalkan mereka layaknya laba-laba
yang bersusah payah membangun sarangnya. Namun hasilnya hanyalah sekedar sarang
yang lemah dan rapuh. (Lihat Qs. 62: 5)
Begitupun saat ingin menggabarkan musnahnya pasukan Gajah
lewat batu yang dibawa burung ababil. Al-Quran mempermisalkan pasukan gajah
layaknya daun-daun yang dimakan oleh ulat. (Lihat Qs. 105: 5)
Pun saat mensifati Kaum Tsamud yang tak patuh karena telah
menyembelih unta Nabi Sholeh. Setelah dikirimkan kepada mereka suara
menggelegar. Allah memberikan perumpamaan mereka seperti batang-batang kering
yang lapuk milik pembuat kandang ternak (fakānū kahasyīm Al-Muhtazhir). (Lihat
Qs. 54: 31)
Sampai sini coba tarik nafas terlebih dahulu. Siapapun
pasti bisa membayangkan rapuhnya sarang laba-laba; kedunguan keledai yang tidak
tau apa yang dibwanya; daun yang habis dimakan ulat; juga batang kering lapuk.
Lewat perumpamaan ini pembaca akan hanyut dalam
imajinasi yang dibangkitkan oleh Al-Quran. Imajinasi inilah yang –dikatakan sebelumnya—mampu
menebalkan dan menguatkan makna yang ingin disampaikan. Dalam bahasa anak zaman
sekarang, makna yang disampaikan lebih ngena atau lebih ber-damage.
“Itulah mengapa seseorang yang bertubuh besar lebih marah saat
diejek –maaf— seperti kuda nil. Dari pada disifati dengan gendut. Sebab
seseorang akan memvisualkan kuda nil yang besar dalam imajinasinya. Kemudian
imajinasi itu akan menebalkan makna “gendut”, sehingga lebih membekas dalam
hati dan menjadikan orang baper,” ujar saya saat mengajar bab
tasybih.
Musthafa Amin dalam Al-Balaghah Al-Wadhihah menyampaikan.
Semakin “jauh” permisalan yang didatangkan, atau katakanlah semakin anti-mainstream permisalan itu.
Maka semakin indahlah pesan yang disampaikan dalam hati. Inilah yang dilakukan Al-Quran.
Hebatnya, walaupun digiring pada permisalan yang
“jauh” tadi. Imajinasi yang dibangkitkan oleh Al-Quran bersifat orisinil berupa alam
nyata dan bersifat universal. Dalam arti tiap permisalan yang didatangkan dapat
dinikmati generasi demi generasi sepanjang masa, baik oleh orang Arab maupun
non-arab.
Contohnya adalah keledai dan sarang laba-laba tadi. Atau saat mempermisalkan orang kafir dan amalannya yang sia-sia layaknya orang dahaga yang tertipu dengan fatamorgana (Qs. An-Nur: 39). Atau seperti abu yang berhamburan karena ditiup angin kencang (Qs. Ibrahim: 18).
Permisalan ini bukan
permisalan biasa, atau dalam bahasa Musthafa Amin, permisalan yang “jauh”. Kendati
demikian siapapun tak sulit membayangkannya.
Membuat Makna Abstrak Menjadi Konrit
Selain membangkitkan imajinasi dan menghidupkan makna, satu pilar dalam ilmu bayan yaitu majaz, turut juga menjadikan makna yang abstrak menjadi konkrit.
Ini sebagaimana yang kita kenal dengan gaya bahasa personifikasi,
yaitu meletakan sifat-sifat insani kepada benda yang tidak bernyawa dan ide
yang abstrak. Hal ini membuat makna yang abstrak menjadi konkrit. Coba perhatikan
ayat berikut:
“(Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali
ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya
bertanya kepada mereka, “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang
kepadamu (di dunia)?” (Qs.
Al-Mulk: 8)
Anda seakan diberi gambaran neraka seperti makhluk besar, menakutkan, jago gulat, yang dadanya terbakar dengan
api kemarahan. Ia berdiri di hadapanmu dan memasang muka marah. Semua ini
sejatinya hendak meng-“konkritkan” makna huru-hara dan kengerian neraka yang bergejolak nanti.
Begitupun dengan tembok yang hendak jatuh dalam surat al-Kahfi (Jidaaran yuriidu an Yanqadda). Makna "hampir jatuhnya tembok" itu dipermisalkan seperti orang berakal yang hendak melakukan sesuatu tapi ia masih ragu. Permisalan ini selain membangkitkan imajinasi seseorang akan jatuhnya tembok. Juga turut membuat konkrit makna tersebut.
Dan masih banyak lagi contohnya, seperti Api yang memakan korban (Qs. 3: 183), sebelas bintang yang bersujud (Qs. 12:3) Al-Quran yang mengisahkan (Qs. 24: 67), matahari dan bulan yang berenang (Qs. 36: 40), subuh yang bernafas (Qs. 81: 17-18), neraka yang marah dan lain sebagainya (Qs. 67: 8).
Lagi-lagi ini semua hendak membangkitkan imajinasi pembaca, menghidupkan makna yang
dipermisalkan dan menkonkritkan makna yang abstrak. Pada akhirnya, teks al-Quran yang tak bernyawa itu, mampu tervisualkan dengan jelas dan melekat dalam sanubari.
Ungkapan yang Sopan
Ilmu bayan juga memberi pemahaman bahwa al-Quran sangat
sopan dalam perkata ayng dianggap tidak senonoh jika diungkapkan secara vulgar.
Ini bisa kita temukan pada bab kinayah.
Misalnya untuk mengungkapkan hubungan suami istri Al-Quran menggunakan lafadz “Dan aku belum disentuh oleh siapapun” (Qs. 3: 47), yaitu saat menceritakan kisah Maryam. Begitupun dengan lafadz "Jangan kamu campuri wanita kalian" (Walaa tubaasyiruuhunna) (Qs. 2: 187). Dengan ungkapan seperti ini, Al-Quran tidak menjadi kitab suci yang vulgar, yang tidak menjaga bahasanya.
Pada akhirnya ilmu bayan membuat seseorang berenang lebih dalam di
lautan makna al-Quran. Tidak bisa dipungkiri Al-Quran sangat banyak menggunakan gaya
bahasa bayan, dari tasybih, majaz dan kinayah. Maka sudah seharusnya kita
memahami ilmu ini jika hendak mentadabburi Al-Quran.
Selain itu, ilmu bayan juga bisa membantu seseorang
dalam goresan penanya. Ia tau kapan harus memakai permisalan. Kapan memakai
metafora (majaz), atau kinayah. Satu hari, saat ingin mengungkapkan diri yang tak
henti menangis saya menulis dalam sebuah puisi: “pipi ini layaknya ladang yang subur berkat siraman air mata kerinduan”. Begitupun “langkahmu pernah berlari namun tak
sesekali maju dan mundur tanpa arti” sebagai gambaran keraguan si dia.
Pada intinya ilmu bayan ini penting untuk dipelajari.
Dan alhamdulillah hari ini buku kecil ini, telah rampung dan resmi dipakai
untuk mengajar. Semoga bisa menjadi tangga untuk memahami buku balaghoh level
selanjutnya.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...